Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

Blog post
30 Jan'23

Low Price Battle Ala Mixue

Siapa yang tidak kenal dengan Mixue? Nama yang akhir-akhir ini sering kita dengar bukan? Ya baru-baru ini Mixue membuat gempar masyarakat Indonesia dengan pertumbuhan gerainya yang begitu signifikan, tak heran banyak netizen Indonesia bahkan membuat lelucon di media sosial. Menyandang brand yang sedang viral, karena harga murah dan cabangnya yang terus bertambah secara signifikan, maka timbul pertanyaan dari masyarakat. “Bagaimana Mixue bisa menjual produknya dengan harga sangat murah? Apa rahasia mereka bisa grow secepat itu?”. Sejarah Mixue Dilansir dari laman resminya, Mixue didirikan pada tahun 1997 oleh Zhang Hongchao yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa. Berawal Zhang Hongchao yang mendapatkan modal sekitar 4000 Yuan (setara Rp7.000.000) untuk membuat es krim (sundae) di kawasan Zhengzhou - Provinsi Henan, China.  Baru tahun 2000 Zhang Hongchao membuka toko pertamanya dan memutuskan membuat es krim yang enak namun dengan harga murah dibawah rata-rata. Pada tahun 2007, Mixue secara resmi mengubah model bisnisnya ke franchising model dengan kurang lebih 1 bulan setelahnya ada 27 cabang baru di China. Bisnis Model Mixue Kesuksesan Mixue tentu tak lepas dari sosok Zhang sang founder yang melihat segmen pasar es krim di China yang menyasar kalangan menengah ke atas, Zhang justru memilih menargetkan specific customer yang berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Setelah Mixue menjadi franchising model, Zhang sadar bahwa jika ia terus-menerus menjual produknya dengan harga murah maka besar kemungkinan tidak akan profitable. Dari situlah muncul ide mengubah bisnis Mixue berupa penjualan bahan baku dan equipment, artinya Mixue akan fokus terhadap Supply Chain.  Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Utomo Njoto, pakar waralaba Indonesia. Menurutnya, “mengenai harga murah, kita bisa memilih medan perang harga bila kita menguasai supply chain, dengan biaya operasional yang sangat rendah, dan harga barang modal yang sangat rendah pula”. (Sayangnya banyak orang terjebak ikut perang harga tanpa menguasai 2 hal tersebut). Ide tersebut didukung dengan strategi bisnis Economies of Scale. Apa itu? Dikutip dari Ekrut, Economies of Scale adalah “suatu konsep yang menggambarkan situasi di mana biaya produksi per unit menjadi lebih hemat ketika volume produksi meningkat. ”Artinya jika Anda memiliki fixed cost Rp100 juta/bulan dan mampu memproduksi 1000 es krim, sehingga biaya produksi per es krim sebesar Rp100 ribu. Jika perusahaan dapat memproduksi 1500 es krim, maka biaya produksinya per es krim adalah Rp66,6 ribu yang artinya harga modalnya semakin murah. Supaya supply chain management tersebut dapat berjalan, maka sistem franchise yang dilakukan Mixue adalah menjadikan gerai Mixue tersebut hak milik franchisee, namun untuk menjual es krim dan minuman, franchisee diharuskan membeli bahan baku dan equipment dari pusat.  Mixue memiliki value proposition harga yang sangat murah untuk produknya dengan target customer middle to low income ke negara-negara tier 3, tier 4 dan mass market, maka dari itulah Mixue merambah gerainya ke negara ASEAN salah satunya adalah Vietnam pada tahun 2018 disusul Indonesia pada tahun 2020. Tak heran kenapa growth dari Mixue sangat cepat selain dari strategi bisnis, pemilihan target pasar adalah kuncinya. Chart Model Strategi Bisnis Mixue “Extreme low cost low price strategy”, kalimat yang sepertinya akan terus identik dengan Mixue apabila kita belajar strategi yang diterapkan perusahaan es krim ini. Strateginya kira-kira seperti gambar dibawah ini: Detail lengkapnya kurang lebih sebagai berikut: Mixue mencari Large volume (franchisee) yang hanya bisa didukung bisnis model franchise. Harga biaya produksi lebih murah karena diterapkannya Economies of Scale, sehingga mereka dapat memperkuat supply chain dan logistik yang dimiliki.  Dengan biaya produksi yang lebih murah, mereka berani menerapkan extreme low price untuk produknya. Branding  dengan menjual produk harga yang murah akan menarik minat lebih banyak konsumen, sehingga mereka mampu untuk menambah lebih banyak franchisee.  Berdasarkan laporan dari YouTube Raymond Chin, pendapatan Mixue pada bulan Maret - Juni 2022. Sebagian besar justru diperoleh dari Ingredients sebesar 72,16%, kemudian 15,55% dari packaging, dan sisanya dari penjualan es krim dan lain-lain. Dan karena hal itulah Mixue bisa disebut sebagai perusahaan supply chain, bukan perusahaan FnB seperti yang kita tahu. Bagaimana menurut Anda? Apakah kira-kira masih ada strategi bisnis dari Mixue yang belum disebutkan? Sangat menarik memang jika kita membahas brand satu ini, apalagi ada beberapa pendapat yang mempertanyakan kemampuan Mixue untuk bertahan dalam jangka panjang di pasar Indonesia? Benarkah Mixue ini hanya sekedar trend?   Sumber: Economies of Scale Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Keutungan Melakukannya               Mixue Bicheng Co., Ltd.               Belajar Strategi Mixue Dominasi Franchise FnB - Raymond Chin

Read More (26 views)
Blog post
16 Jan'23

Too Good To Be True, But Could Be…

Pertanyaan apa saja yang harus Anda tanyakan bila menemukan penawaran-penawaran yang terlihat "too good to be true" seperti ini? *Catatan: "too good to be true" can be true, but usually IT IS too good to be true. Berikut ini 3 (tiga) pertanyaan yang paling mendasar: 1. Angka-angka ini diambil dari outlet di lokasi yang mana? 2. Outlet di lokasi itu sudah berjalan berapa tahun? 3. Minta kejelasan lagi mengenai outlet di lokasi tersebut: Berapa omsetnya setahun, Berapa profitnya, Berapa "total modal" yang dibutuhkan kalau buka outlet baru dengan kondisi seperti yang di lokasi itu. Selanjutnya, bila benar ada lokasi yang kinerjanya sesuai dengan klaim tersebut, Anda harus memeriksa karakteristik lokasi yang hendak Anda ajukan, apakah memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi mereka. Cara terbaik untuk meminimalkan risiko kegagalan adalah membuka cabang di lokasi yang memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi yang sudah TERBUKTI sukses. Sedikit tambahan, bila jawaban untuk pertanyaan nomor 2 adalah sudah lebih dari 5 tahun, Anda perlu cek omset outlet mereka yang baru buka 1-2 tahun, jangan-jangan omsetnya beda jauh.  

Read More (50 views)
Blog post
16 Des'22

CRM, Strategi Loyalnya Customer

Pernahkah Anda ketika selesai berbelanja online di suatu aplikasi e-commerce atau web marketplace, kemudian  menerima notifikasi berupa informasi pesanan Anda sedang diproses?, atau notifikasi berupa promo? Jika iya maka Anda telah terkena strategi CRM (Customer Relationship Management). Sebenarnya apa itu CRM? Mari kita simak penjelasan berikut! Pengertian CRM Dikutip dari Populix, CRM adalah strategi bisnis bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya di berbagai aspek dengan melakukan proses olah data pelanggan menggunakan bantuan aplikasi. Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan CRM dibidang marketing semakin fleksibel dan dinamis sesuai target customer yang dituju. Di era yang tech-savvy ini, untuk mengakomodasi kebutuhan CRM yang kompleks disediakan berbagai  tool CRM yang disebut e-CRM. e-CRM digunakan oleh beberapa perusahaan besar untuk mengetahui intensi, minat serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa e-CRM yang dapat meningkatkan profit bisnis Anda: Salesforce Zoho SugarCRM HubSpot CRM Vtiger Freshsales Qontak Dan sebenarnya masih banyak lagi tools CRM yang lain baik berbayar atau bahkan free services yang dapat Anda gunakan. Hubungan Marketing Funnel Dengan CRM CRM tidak bisa lepas dari Marketing Funnel, yang menjelaskan beberapa tahapan bagi audiens sebelum melakukan transaksi atau pembelian produk/jasa yang ditawarkan. Proses tahapan-tahapan inilah yang nantinya akan dideskripsikan lebih detail di Customer Lifecycle Journey.  Marketing Funnel tipe AIDA   Jika Anda perhatikan, gambar marketing funnel di atas merupakan marketing funnel tipe AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yang sebelumnya pernah dibahas sebelumnya di artikel: Memahami Marketing Funnel Kurang Dari 5 Menit! Dalam gambar berbentuk corong tersebut, diketahui bahwa 1000 leads yang diperoleh nantinya akan terus berkurang sesuai dari intensi kebutuhan audiens. Nah, menjaga “intensi audiens” inilah yang harus dipertahankan agar audiens mau membeli produk Anda dengan cara membuat campaign. Jadi, dalam bentuk marketing funnel di atas CRM berfungsi sebagai strategi campaign yang mampu mengkonversi traffic audience yang diperoleh hingga menjadi loyal customer. Sistem Kerja CRM Sistem kerja CRM seringkali digambarkan dalam bentuk diagram alur yang dikenal dengan Customer Lifecyle Journey. Pada dasarnya, proses tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu reach, acquisition, conversion, retention, dan loyalty. Singkatnya, Customer Lifecycle Journey dapat menguraikan secara lengkap langkah-langkah yang akan diambil pelanggan saat mereka masuk ke flow penjualan sesuai 5 proses yang sudah disebutkan. Ini tentu akan membantu tim marketing perusahaan dalam menentukan (decision making) campaign, produk, promo, dan konten apa yang sesuai dengan behavior dan kebutuhan pelanggan.   Customer Lifecycle Journey   Gambar di atas merupakan contoh simulasi siklus CRM perusahaan X (katakanlah) RedDoorz berupa flowchart yang saya buat, mari kita urai satu-persatu: 1. Awareness Tahapan awareness disini merupakan salah satu proses dari Reach. Untuk mendapatkan Reach, tentu kita butuh traffic audience dari berbagai channel, seperti social media ads, Google ads, social media organic, dan blog. Umumnya untuk bisnis yang baru, menjalankan social media secara organik (feed Instagram, FB, artikel blog) sudah cukup untuk menarik calon customer apabila strategi konten Anda tepat dengan kebutuhan audience. 2. Consideration (Leads) Reach menjadi tidak berguna apabila Anda tidak berusaha menggaet pelanggan (acquire). Oleh karenanya, dibutuhkan semacam ajakan atau call to action di iklan Anda. Pada gambar di atas tahapan consideration hingga leads merupakan proses dari Acquisition untuk memperoleh potential customer. Berdasarkan gambar diatas, sebelum audience memasuki fase consideration, strategi perusahaan adalah dengan menjalankan ads berupa promo first time offer bagi audience yang belum mengenal RedDoorz. Setelah memasuki tahap consideration, audience baru akan mendapatkan push notification penawaran dari promo tersebut sehingga sebagian audience nantinya akan melakukan sign up dan menjadi leads (potential customer). 3. Buyer Setelah menjadi leads (mengisi form nama, email, dll) audience pasti akan mendapatkan kiriman email berupa “welcome email” atau mungkin email yang berisi keuntungan apabila menggunakan aplikasi RedDoorz . Email-email tersebut berfungsi untuk mendorong audiens melakukan Conversion dan menjadi buyer. Tahap ini mulai dibutuhkan yang namanya menjaga hubungan dengan pelanggan. Pastikan pelanggan puas dengan produk dan jasa Anda, pastikan Anda untuk meminta feedback dari pelanggan untuk meng-improve produk dan layanan Anda. 4. Loyal Fase ketika audience sudah menjadi buyer atau new customer, dibutuhkan strategi marketing berkelanjutan untuk mendorong pelanggan tersebut melakukan transaksi kembali, proses inilah yang disebut Retention. Contohnya adalah seperti menawarkan membership subscription supaya mendapatkan penawaran promo terbaik dan email special offer untuk transaksi selanjutnya. Catatan, tentu dalam membuat campaign penawaran harus didukung dengan copy yang menarik dan sesuai interest pelanggan, jika tidak, tentu saja pelanggan akan tidak peduli dengan offer yang Anda berikan.  Setelah pelanggan merasa tertarik dengan campaign retention yang ditawarkan dan merasa puas akan produk atau layanan yang Anda berikan, maka akan tercipta “Loyalty” dari customer. Loyalty akan sangat amat terasa penting karena akan membuat pelanggan tetap menggunakan produk Anda setelah melakukan konversi. 5. Churn Rate Churn rate lebih dikenal sebagai pelanggan yang tidak melakukan aktivitas apapun terhadap produk dan layanan yang Anda tawarkan selama beberapa waktu lamanya. (tergantung jenis bisnis dan umumnya 3 bulan sejak transaksi terakhir). Tahapan ini sebenarnya terpisah dari 5 proses penting CRM yang sudah kita pelajari. Namun, churn rate sangat berguna sebagai database pelanggan yang pernah menggunakan atau melakukan transaksi di bisnis Anda. Ketika pelanggan sudah tidak aktif, maka akan fatal apabila Anda hanya melepasnya saja. Ya, Anda harus melakukan pendekatan dengan treatment khusus untuk pelanggan yang sudah tidak terhubung dengan bisnis Anda. Seperti menawarkan fitur layanan baru, special offer, atau seperti kasus gambar diatas kita bisa menawarkan diskon re-book rooms untuk user yang pernah menggunakan aplikasi RedDoorz. Itulah beberapa hal fundamental terkait penggunaan CRM sebagai strategi marketing yang ampuh untuk menciptakan sebuah loyalitas pelanggan. Selanjutnya mungkin kita akan membahas lebih advance dan spesifik terkait e-CRM dan media yang digunakan seperti SMS, email, push notif, dan WhatsApp.  Jadi bagaimana? Apakah Anda telah menerapkan CRM untuk bisnis Anda?   Sumber: Startup Studio Indonesia                Glints                Hubspot

Read More (151 views)
Blog post
15 Des'22

Mengenal Kosakata Digital Marketi…

Apa yang Anda harapkan dari bisnis Anda? Ya seringkali ketika kita membuka bisnis terutama waralaba satu hal yang terbesit adalah menghasilkan revenue (pendapatan) semaksimal mungkin. Namun, bagaimana cara Anda untuk mencapai tujuan tersebut? Salah satu caranya adalah “Digital Marketing”, dengan arus perkembangan teknologi yang cepat dan maraknya penggunaan internet mengubah behavior masyarakat dalam mencari informasi dengan menggunakan smartphone/android. Maka dari itulah strategi digital marketing dibutuhkan untuk memasarkan produk/service yang Anda tawarkan. Sebelum belajar lebih jauh tentang Digital Marketing, alangkah baiknya Anda kenali terlebih dahulu kosakata berikut yang beberapa dikutip dari RevoU : A Ads/Iklan - Cara pemasaran yang dilakukan dengan mengiklankan (ads) produk/layanan dari brand. A/B Testing - Metode perbandingan 2 versi (campaign, ads dll) satu dengan yang lainnya untuk menentukan performance mana yang lebih baik. Affiliate Marketing - Model advertising dimana perusahaan membayar pihak ketiga untuk menghasilkan traffic dan membawa audiens ke produk perusahaan. B Backlink - Link dari suatu website yang merujuk ke halaman website lain/website Anda.  Brand Awareness - Istilah marketing yang menggambarkan sejauh mana konsumen mengenali suatu produk atau merek. Browser - Software yang mengakses dan menampilkan halaman atau file yang ada di World Wide Web.  Buyer Persona - Gambaran semi-fiksi pelanggan ideal yang diciptakan berdasarkan market research dan data riil terkait pelanggan yang sudah ada. C Call to Action (CTA) - Kalimat ajakan kepada audiens untuk melakukan suatu tindakan yang kita inginkan. Campaign - Aktivitas untuk mempromosikan produk brand dalam jangka waktu tertentu. Carousel - Fitur di media sosial yang memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto atau video dalam satu postingan. Click-through Rate (CTR) - Presentase seseorang yang mengeklik link ads. (Formula: Jumlah klik/Impression)  Content Pillar - Pondasi agar konten perusahaan memiliki identitas dan menjadi keseluruhan strategi konten media sosial bisnis. Conversion - Audiens yang telah melakukan tindakan berdasarkan Call to Action (CTA) yang telah Anda buat. Cost per Click (CPC) - Biaya yang dibayarkan setiap seseorang mengeklik iklan. (Formula: Total Biaya ads/klik)  Cost per Lead (CPL) - Biaya yang dibayarkan setiap mendapatkan leads atau user potensial baru. (Formula: Total biaya ads/Total Leads) Cost per thousand Impressions (CPM) - Biaya yang dibayarkan setiap seribu impression dari ads. (Formula: (Total biaya ads/Impressions) x 1000) Crawl - Proses bot atau spiderbot mengunjungi website, mengambil konten, dan mengindeks sehingga situs web tersebut dapat dengan mudah ditemukan di Search Engine. Customer Journey - Seluruh pengalaman yang dialami customer saat berinteraksi dengan perusahaan/brand dan membantu perusahaan dalam memahami customer lebih baik. D Direct Marketing - Pemasaran yang dilakukan dengan memanfaatkan jalur komunikasi dan distribusi langsung ke konsumen tanpa perantara. Domain - Bagian dari alamat web (URL) yang digunakan untuk mencari lokasi suatu website atau halaman dari website. E Email Marketing - Salah satu strategi yang memanfaatkan media email untuk mempromosikan produk serta digunakan dalam menarik pelanggan. Endorse - Strategi marketing yang melibatkan publik figur dan orang-orang terkenal seperti content creator serta influencer dengan basis pengikut yang masif. Engagement Rate -  Persentase pengguna yang berinteraksi dengan sebuah konten. G Google Ads - Layanan online advertising yang disediakan Google untuk menargetkan audiens, mengarahkan traffic ke website, dan meningkatkan kunjungan in-store. I Impression - Jumlah beberapa kali konten atau iklan muncul. K Key Performance Indicator (KPI) - Serangkaian metrik pengukuran kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan.  Keywords - Kata-kata yang ditargetkan pemilik website, bisa berupa ads/organik. L Landing Page - Salah satu laman web yang ditargetkan untuk menarik audiens agar melakukan tindakan tertentu. Leads - Orang-orang yang tertarik dengan produk/jasa brand dan memiliki potensi besar untuk menjadi pelanggan. Lead Generation - Kegiatan dan proses yang dilakukan untuk menemukan calon pelanggan dan informasi kontak mereka (nama, email, alamat, perusahaan, dll) M Metrics - Indikator untuk mengukur dan melacak keberhasilan usaha digital marketing brand. O Organik - Cara pemasaran yang dilakukan secara gratis atau tanpa ada biaya. P Personal Branding - Proses menciptakan citra atau image diri seorang individu. Platform - Hardware atau software yang menggerakkan suatu aplikasi atau layanan. R Reach - Total jumlah orang yang melihat sebuah konten/iklan. Return On Investment (ROI) - Ukuran kinerja yang digunakan untuk menghitung efisiensi atau profitabilitas suatu investasi bisnis. S Search Engine Marketing (SEM) - Salah satu channel marketing berbayar yang juga menggunakan platform search engine seperti SEO. Search Engine Result Page (SERP) - Halaman web yang ditampilkan search engine (seperti Google, Bing, dsb) setelah pengguna mengetik query di platform mereka. T Trendjacking - Strategi dengan memanfaatkan kejadian atau meme yang sedang viral untuk promosi/komunikasi yang berbeda kepada audience. Traffic - Jumlah total pengunjung website U User Experience (UX) - Keseluruhan perjalanan yang dilalui pengguna saat mereka menggunakan suatu produk. User Interface - Elemen visual yang berguna untuk menghubungkan pengguna (user) dengan sistem teknologi. Beberapa istilah di atas merupakan istilah yang sering diucapkan di bidang digital marketing, saat ini banyak perusahaan B2B maupun B2C berlomba-lomba dan berinvestasi di dunia digital marketing, sudah saatnya bagi Anda untuk berinvestasi di bidang ini.   Sumber: Revoupedia

Read More (153 views)
Blog post
21 Nov'22

Yield 35% Ternyata Hanya 15%?

YIELD SEMU Ada iklan yang menawarkan investasi bisnis kuliner di suatu lokasi dengan "Indikasi Yield" sebesar 35%. Makna yield 35% adalah modal investasi Rp1 juta bisa menghasilkan Rp350 ribu setahun. Menurut saya "yield" ini SEMU. Mengapa?   1.Indikasi Yield Berarti Menurut Data Historis Data historis yang digunakan tentu mengacu pada satu (1) lokasi tertentu. Dalam hal ini, beda lokasi beda kinerja. Penyebabnya terutama karakteristik lokasi. Kita perlu mendapatkan lokasi yang digunakan untuk mendukung klaim yield 35% ini, karena lokasi yang ditawarkan belum tentu memiliki kesamaan karakteristik dalam hal kepadatan penduduk, jumlah traffic orang lewat, kebiasaan belanja, selera cita rasa makanan/minuman, dan beberapa hal lainnya dengan lokasi yang digunakan untuk klaim indikasi yield yang 35% itu. Selain faktor karakteristik lokasi, perbedaan kinerja bisa dikarenakan beda kualitas SDM dan pengelolaan operasional lainnya. 2. Tidak Likuid Karena merupakan investasi Securities Crowd Funding, modal Rp1 juta itu tidak bisa dicairkan, kecuali per 6 bulan ada yang mau membelinya. Inilah perbedaan antara saham biasa di lantai bursa IDX dengan saham urun dana (Securities Crowd Funding). Jual beli saham perusahaan yang terdaftar di IDX bisa kapan saja, asal cocok harga alias ada yang cari. Itu sebabnya saham yang banyak dan sering ditransaksikan disebut saham yang likuid. Saham bisnis riil (bisnis sendiri) juga sama, modal awal alias "pokok"-nya tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang tunai. Tapi kalau ada yang berminat jual beli, dan memenuhi syarat sesuai kesepakatan alias AD/ART kalau berbentuk badan hukum, maka transaksi jual beli saham kepemilikan bisa dilakukan kapan saja. Jadi, bila Anda hendak berinvestasi di bisnis riil, atau Securities Crowd Funding (dulu dikenal, sebagai Equity Crowd Funding atau ECF), maka Anda perlu tahu fakta ini: investasi ini merupakan asset yang tidak likuid alias tidak mudah dicairkan kembali menjadi uang tunai. 3. Yield Ini Semu Nah, karena tidak likuid, saya menganggap hasil investasi yang diterima sebagai yield semu. Bila investasi franchise dengan jangka waktu 5 tahun, maka yield 35% itu sebenarnya hanya sekitar 15%. Kalau 10 tahun, maka yield itu menjadi 25%. Memang ada nilai aset bekas, tapi tidak likuid. Kalau bukan property, maka nilai aset bekas dalam pembukuan pun mungkin sudah nol dalam kurun waktu 5-10 tahun. Kesimpulannya, yield bisnis riil dan crowdfunding sangat berbeda bila dibandingkan dengan yield investasi di pasar saham lantai bursa IDX.   Catatan: a. Meski nilai bukunya nol, aset tersebut tetap produktif. b. Yield 35% ini masih berpotensi jadi lebih rendah karena biasanya laba yang dibagikan hanya sebagian, misal 80%, untuk dana cadangan perawatan dan penggantian aset yang rusak. c. Apakah yield semu 35% bisa menjadi lebih dari 35%? Bisa, apabila nilai aset yang dijual ternyata lebih besar dari nilai modal yang disetorkan. d. Baca juga blog saya sebelumnya yang berjudul "Beda Mindset Investasi Vs Bisnis".     

Read More (199 views)
Blog post
07 Okt'22

Sales Naik Tapi Profit Turun?

Diskon promosi merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan. Namun demikian, bila tidak cermat akan terjadi fenomena “sales naik, profit turun”. Sales & Profit Saat membicarakan target sales, kita harus selalu melengkapinya dengan target profit. Hal tersebut untuk mencegah “salah fokus” dalam upaya meningkatkan profit dengan promosi dan/atau diskon penjualan gede-gedean yang menyebabkan gross profit tergerus signifikan. Contoh (Perhatikan tabel di bawah!): Bila HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah 45% dari kita sebut juga gross sales, atau harga semula atau price list. Tabel kiri menjelaskan jika tidak pernah diskon. Tabel kanan menunjukkan dampak dari diskon 20% all items, apabila net sales tidak ada peningkatan. Gross profit semula yang mencapai Rp5,5 juta turun menjadi Rp4,375 juta Menarik untuk disimak, bahwa nilai gross sales (yaitu volume atau quantity produk terjual) yang sudah meningkat 25% agar nilai net sales bisa tetap sama dengan kondisi net sales ketika tidak ada diskon. Namun peningkatan gross sales ini tidak mampu mengembalikan nominal gross profit yang semula adalah Rp5,5 juta. Peningkatan gross sales bermakna “peningkatan quantity” produk yang terjual, bila tidak ada praktik menaikkan harga semula alias price list sebelum memberikan diskon promosi. Itu sebabnya, HPP di sebelah kiri adalah Rp4.500.000,- dan HPP di sebelah kanan adalah Rp5.625.000,-. Hal ini dikarenakan persentase HPP dihitung dari gross sales (price list) produk yang terjual. Hati-hati dengan perhitungan persentase HPP dari net sales. Ketika ada diskon 20%, maka HPP terhadap net sales ikut meningkat persentasenya. Di tabel sebelah kiri HPP vs net adalah 45%, namun di sebelah kanan HPP vs net menjadi 56,25% Target Sales Ketika Diskon Promosi Kita harus menemukan nilai nominal net sales minimum (saat diskon promosi 20%) yang mampu memberikan kontribusi gross profit senilai Rp5,5 juta. Ternyata nominal net sales yang sudah 120% dari nominal net sales bila tidak ada diskon belum mampu menghasilkan kontribusi gross profit Rp5,5 juta tersebut. Net sales perlu naik menjadi 126% (dari Rp10 juta menjadi Rp12,6 juta), dan secara quantity peningkatan penjualan yang dibutuhkan ternyata 57,5% (dari Rp10 juta menjadi Rp15,75 juta). Strategi Diskon Promosi Strategi diskon promosi biasanya dilakukan untuk menjaga pencapaian penjualan ketika trend pola konsumsi sedang menurun. Kadang peningkatan target quantity penjualan (berdasarkan angka gross sales) bisa dicapai, kadang tidak. Masalah klasik terkait diskon promosi ini adalah berapa omset (net sales) yang dapat diraih kalau tidak ada diskon promosi?, Seberapa anjlok net sales ini? Jadi, strategi diskon promosi kadang memang “harus” dilakukan, dan untuk menjaga nilai gross profit. Selain upaya upselling & cross selling, biasanya dilakukan diskon terbatas pada produk tertentu, atau waktu tertentu. Tujuannya adalah, agar nilai % diskon promosi keseluruhannya menjadi lebih kecil dari 20%.   Baca Juga: Beda Up Selling vs Cross Selling                     Cross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan Semoga informasi tersebut di atas dapat membantu kita untuk menjaga profitabilitas bisnis kita semua.

Read More (445 views)
Blog post
25 Sep'22

Ciri-Ciri Autopilot Yang Sukses

Istilah “autopilot” telah menjadi trend dalam gimmick untuk menjual waralaba. Akhir-akhir ini cukup banyak pihak yang menawarkan peluang bisnis yang autopilot, dalam pameran franchise maupun social media seperti facebook dan Instagram. Autopilot tersebut diberi makna, “ketika Anda jalan-jalan, bisnis Anda bisa tetap beroperasi.” Apa saja yang perlu Anda ketahui tentang “autopilot” ini?   Franchisor yang Berpengalaman Istilah “autopilot” ini mungkin cocok untuk bisnis yang operated by franchisor (dijalankan oleh franchisor). Dalam hal ini, kualitas autopilot ini sangat bergantung pada jam terbang franchisor. Autopilot ini sebenarnya memiliki konsekuensi yang lumayan tinggi bagi franchisor yang menjadi operator-nya. Akurasi laporan keuangan merupakan salah satu konsekuensi logis dari janji autopilot. Di sisi lain, rendahnya kualitas pengawasan bisa berakibat pada terjadinya kehilangan barang, rendahnya mutu pengelolaan stok barang, hingga perilaku tidak disiplin dari para pegawai. Franchisor yang menjanjikan autopilot harus mampu meminimalkan terjadinya hal-hal tersebut. Saat artikel ini ditulis, ada banyak “fraud” dalam penggunaan istilah autopilot terkait waralaba dan penghasilan pasif. Pihak yang menawarkan “iming-iming” autopilot ternyata tidak memiliki jam terbang, dan masih sedang melewati kurva belajar alias trial and error. Akibatnya pemilik modal yang jadi korban, karena harus menyuntikkan dana tambahan ketika bisnis yang dijanjikan autopilot dengan passive income ini mengalami kerugian.   Masa Kritis 2 Minggu Pertama Seorang pebisnis restoran yang cukup berpengalaman mengatakan bahwa dua minggu pertama setelah pembukaan gerai merupakan masa kritis. “Anything can happen,” ia menjelaskan. Artinya sebaik apapun persiapan opening atau launching itu, seringkali terjadi hal-hal yang tidak terduga, sehingga keputusan yang cepat dan tepat harus segera diambil saat “peristiwa luar biasa” itu terjadi.  Untuk itu, ia akan melakukan pengawasan ketat selama dua minggu pertama. Hal ini ia lakukan dengan hadir secara fisik maupun dengan meminta laporan setiap hari dari manager yang bertugas, atau mengawasi melalui internet CCTV. Ada pula minimarket yang bercerita bahwa pada saat opening yang disertai promo besar-besaran biasanya mereka menyediakan tambahan mesin kasir (POS) dan SDM, serta team leader. Jadi kehadiran atau keterlibatan langsung tim manajemen yang memiliki jam terbang tinggi sangat dibutuhkan dalam 2 minggu pertama setelah opening.   Masa Kritis 1-2 Tahun Ada pendapat bahwa suatu bisnis memerlukan waktu 1-2 tahun untuk menemukan konfigurasi tim kerja yang tepat. Dalam 1-2 tahun pertama ini biasanya terjadi keluar masuk pegawai. Hal ini dapat terjadi karena pegawai yang tidak disiplin, tidak memenuhi target kinerja penilaian, pegawai tersebut digantikan, mengundurkan diri, atau bahkan ia menghilangkan diri alias kabur begitu saja. Saya menyebut ini sebagai masa kritis 1-2 tahun. Dalam konteks autopilot, tentu masa kritis ini harus mendapatkan perhatian lebih. Sistem yang baik tidak bisa berjalan tanpa SDM yang tepat.   Turbulence Masa kritis tersebut di atas bisa berulang kembali, jika konfigurasi tim yang sudah baik ini berubah karena dibajak pihak lain atau leader dan/atau salah satu dari mereka mengundurkan diri. Situasinya mungkin menjadi lebih sulit ketika anggota baru susah masuk ke dalam ‘lingkungan’ tim lama yang suah solid itu. Kondisi masa sulit susulan ini diibaratkan turbulence dalam suatu penerbangan, di mana pilot biasanya harus mengambil alih kendali dari autopilot kembali ke tangan pilot. Kalau dibiarkan autopilot, maka risiko atau bahaya menjadi sangat besar.   Kebocoran Ada pula pendapat bahwa perusahaan yang besar, yang seolah sudah autopilot melalui kepemimpinan para profesional, seringkali banyak kebocoran dan korupsi di dalamnya. Hal kebocoran tersebut bisa saja benar, kalau sistem autopilot itu tidak memiliki prosedur kontrol dan budaya melaksanakan audit yang ketat. Sistem autopilot yang baik biasanya memiliki titik-titik crosscheck yang cermat, ketat dan komprehensif, untuk mengantisipasi hal-hal negatif ini. Pesawat dengan autopilot dilengkapi dengan dashboard yang harus diperhatikan oleh pilot, agar intervensi pilot bisa segera dilakukan ketika dashboard terlihat tidak wajar. Jadi, jangan sembarangan menawarkan autopilot dan jangan sembarangan percaya lalu membeli penawaran autopilot.

Read More (519 views)
Blog post
17 Sep'22

Wajib Tahu, 5 Jenis Outlet

Bila Anda membangun bisnis yang mengandalkan banyak outlet alias jaringan outlet, mungkin anda perlu memahami 5 macam outlet berikut ini.   1. Pilot Outlet Pilot outlet adalah gerai yang pertama kali berdiri. Biasanya gerai ini merupakan prototype pertama sebagai perwujudan dari ide bisnis Anda. Pilot outlet biasanya memiliki keunikan yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam mengungkap kisah sejarah bisnis Anda. Bisnis roti bakar dengan merek Yakun Kaya Toast di Singapura misalnya, dalam beberapa publikasinya menampilkan foto outlet pertamanya yang tradisional, dengan kakek pendiri yang membakar sendiri roti bakarnya. Outlet pertama Bebek Goreng pak Ndut di Kartosuryo misalnya, saat awal franchising mempertahankan layanan tradisional dan tidak mengikuti SOP yang menyajikan layanan yang terkesan formal. Design-nya juga tetap dipertahankan, analoginya adalah wilayah cagar budaya yang tetap menampilkan beberapa aspek orisinal.   2. Model Outlet Model outlet dikenal juga sebagai prototype outlet. Meski demikian, ini bisa berbeda dengan prototype pertama. Disebut model outlet karena outlet ini merupakan acuan dalam menduplikasi outlet yang hendak dibangun di kemudian hari. Model outlet bisa terdiri dari beberapa model, biasanya terkait luas area ruang usaha atau gerainya. Misal model 1 ruko, model 2 ruko, model 3 ruko.   3. Flagship Outlet Gerai Flagship adalah gerai yang lokasinya sangat strategis, banyak dilihat orang, biasanya di lokasi-lokasi sebagai berikut: Di lokasi non-tradisional: bandara, stasiun kereta api, lokasi wisata Ruko di jalan raya utama, atau jalan protokol Di dalam mall, di titik lokasi yang strategis Selain high traffic, gerai flagship biasanya juga highly visibile alias mudah terlihat oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Gerai flagship harus mempertimbangkan pula profil target pasarnya. Traffic tinggi sebaiknya mayoritas merupakan target pasarnya. Gerai flagship sebaiknya bukan milik franchisee. Karena faktor lokasi yang bagus, biasanya terlalu mahal harga sewanya sehingga gerai ini mengalami kerugian. Namun karena lokasinya yang strategis, asalkan tidak terlalu sepi, franchisor dapat menganggap keterlambatan pengembalian modal (bahkan kerugian) ini sebagai biaya promosi.   4. Trial Outlet Ketika akan meluncurkan produk baru, sangat disarankan agar produk itu tidak langsung tersedia di semua outlet. Franchisor sebaiknya memilih satu atau beberapa outlet yang memenuhi kriteria yang cocok untuk mengukur acceptance dari target market terhadap produk baru Anda.   5. Special Outlet Yang dimaksud dengan special outlet adalah outlet yang mendapat perlakuan istimewa dan tidak mengikuti standar design yang menjadi identitas merek Anda. McD misalnya, sekitar tahun 1997, ketika  standar design-nya masih dominan merah dan kuning, memiliki outlet yang sangat berbeda. Outlet ini bernuansa hijau, dengan ornamen bunga-bunga. Yang berwarna merah kuning hanya logo McD. Semoga pemahaman mengenai 5 jenis outlet ini dapat memperkaya strategi pengembangan jaringan gerai Anda.

Read More (348 views)
Blog post
02 Sep'22

75% Franchisor Hilang Setelah 10 …

  Beberapa fakta yang mengejutkan pernah mengguncang dunia waralaba di tahun 2010-an, yaitu: Dalam waktu 10 tahun terdapat 75% franchisor yang menghilang dari waralaba. Dua merek waralaba cukup terkenal mencatat tingkat gagal bayar SBA Loan (semacam Kredit Usaha Kecil) lebih dari 35%. Beberapa merek waralaba yang kurang terkenal (di Amerika) bahkan mencatat tingkat gagal bayar SBA Loan sekitar 60% hingga 80%.   75% menghilang?, sebenarnya ada apa dengan waralaba dibalik fakta ini?. Mari kita simak penjelasan berikut ini.   Scott Shane, seorang dosen dan peneliti di Amerika, pernah mengingatkan, “Riset akademis menunjukkan bahwa sejumlah tiga per empat dari franchisor yang baru (new franchisors) berhenti menawarkan waralaba setelah sepuluh tahun diwaralabakan.” Meski demikian, euforia waralaba dan entrepreneurship telah menutup rapat informasi penting ini. Informasi ini mulai terkuak lebar karena terjadi kehebohan berupa tingginya tingkat gagal bayar SBA Loan berbasis waralaba. Informasi yang dipublikasikan mengenai SBA Loan menunjukkan bahwa gagal bayar Subway hanya 4% sementara Blimpie mencapai 37%. Angka ini segera dipertanyakan oleh para pengamat, apakah ini murni faktor merek atau ada faktor lain. Meski persentase itu dibandingkan dengan jumlah gerai dari merek yang bersangkutan yang mengambil kredit SBA Loan (bukan terhadap gabungan seluruh merek waralaba yang mengambil kredit SBA Loan, artinya bukan terhadap jumlah seluruh gerai merek tersebut), persentase yang tinggi menunjukkan anggapan bahwa waralaba memiliki tingkat risiko kegagalan yang lebih rendah daripada non-waralaba patut dipertanyakan.  Ini fakta yang mengerikan, meski datanya terbatas pada SBA Loan di Amerika Serikat. Tingkat gagal bayar kredit waralaba di tahun 2004-2006 ternyata 10% lebih tinggi daripada bisnis independen (non-waralaba). Bagaimana dengan Indonesia?, untuk Indonesia dulu sampai sekarang, masih belum ada publikasi serta data resminya.   Kelompok Berisiko Tinggi Beberapa pengamat menduga tingginya gagal bayar SBA Loan di bisnis waralaba dikarenakan pihak-pihak yang mengajukan kredit ke SBA Loan adalah pihak yang berisiko tinggi dan tidak berhasil mendapat pinjaman konvensional dari bank umum. Bila benar mereka yang gagal bayar ini merupakan kelompok berisiko tinggi, maka hal ini mencerminkan bahwa ada yang kurang pas pada proses seleksi calon franchisee oleh para franchisor. Apalagi ketika dibandingkan dengan yang non-waralaba ternyata tingkat kegagalannya lebih tinggi yang waralaba. Di Indonesia, belum ada publikasi resmi mengenai tingkat gagal bayar kredit waralaba. Tahun 2011 pemerintah meluncurkan program pembiayaan untuk waralaba dengan bunga rendah melalui LPDB (Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir) di bawah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Mudah-mudahan program yang ditujukan untuk mengurangi jumlah pengangguran ini tepat sasaran, tidak mengalir ke merek franchise yang tidak kompeten, dan seleksi calon penerima dananya dilakukan dengan ketat sehingga tidak jatuh pada kelompok berisiko tinggi. Secara kasat mata kita melihat cukup banyak bisnis gerobakan yang ditawarkan sebagai BO akhirnya tidak beroperasi, bahkan yang mereknya terkenal sekalipun. Kita juga menyaksikan pula beberapa bisnis non-gerobak dengan merek waralaba akhirnya tutup, entah karena salah lokasi atau salah kelola.   Franchisee Salah Kelola Satu hal yang bisa menjadi faktor penyebab kegagalan franchisee adalah salah kelola. Akhir-akhir ini saya menjumpai cukup banyak franchisor yang kerepotan menghadapi franchisee yang kurang disiplin dalam mengelola keuangan bisnisnya. Ada franchisee bisnis retail mengambil kredit mobil dengan cicilan Rp5 jutaan ketika bisnisnya mulai membukukan arus kas bersih bulanan sekitar Rp5 jutaan. Akibatnya, ketika arus kas bersihnya tidak berhasil menembus angka Rp5 juta, kelengkapan stok barangnya terganggu sehingga omset dan arus kas bersihnya terus mengalami penurunan. Adalagi beberapa franchisee retail yang lupa diri melihat besarnya uang tunai penjualan retailnya. Ia menggunakan sebagian besar hasil penjualan itu untuk keperluan pribadi, padahal seharusnya ia menyisihkan uang modal untuk membeli barang kembali alias melengkapi stock barangnya. Mengingat besarnya risiko salah kelola ini, sangat disarankan kepada para franchisor, yang franchiseenya memperoleh kucuran bantuan permodalan LPDB, untuk mengawasi dengan ketat keuangan franchisee selama 3 tahun pertama agar pengembalian pinjaman ini lebih terjamin.   Kompetensi Manajemen Franchisor Beberapa pihak yang lain berargumentasi bahwa tingginya tingkat gagal bayar di Amerika tersebut dikarenakan Resesi Ekonomi yang melanda Amerika Serikat.  Meski demikian, ternyata SBA Loan memiliki 2 versi laporan terkait pengembalian kredit yang diberikan: “Top 100 Merek Waralaba Terbaik” dan “Top 100 Merek Waralaba Terburuk”. Artinya, gagal bayar ini bukan sekedar faktor resesi ekonomi, melainkan kompetensi manajemen franchisor dan franchisee yang bersangkutan. Masa-masa sulit hampir pasti pernah dialami oleh bisnis mana pun juga. McD misalnya pernah mengalami masalah serius dan kritis sekitar tahun 2002. Larry Light, konsultan dan mantan Chief Marketing Officer McDonald’s, menyingkap fakta bahwa ketika ia bergabung dengan McDonald’s di bulan September 2002, harga saham perusahaan ini anjlok dari nilai tertinggi USD 45.31 di bulan Maret 1999 menjadi USD 17.66. Harga saham ini terus merosot hingga sekitar USD 13 pada bulan Maret 2003. McD berhasil melewati masa-masa kritis tersebut. Harga saham McDonald’s melejit dari sekitar USD 13 di tahun 2003 menjadi sekitar USD 32 di akhir tahun 2005. Selama periode Januari-Mei 2011 saham McD bergerak di atas USD 70. Bahkan sejak pertengahan Mei hingga awal Juni nilainya bertengger di atas USD 80.   Owner Operator Secara umum, menurut Scott Shane, franchisor baru yang mewajibkan owner operator dengan keterlibatan 100% memiliki tingkat kegagalan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan investor pasif. Tingkat keberhasilan owner operator ini memang membutuhkan seleksi franchisee yang ketat, karena bila yang lolos seleksi ternyata tidak becus mengelola maka yang terjadi adalah sebaliknya: malapetaka bagi gerai franchisee tersebut (dan bagi seluruh jaringan waralaba bila kesalahannya menyangkut kepuasan pelanggan dan mengganggu citra merek waralaba tersebut). Bayangkan suatu rumah makan “Bakso XYZ”. Seorang pelanggan baru pertama kali masuk ke sana. Ia mengeluh kepada manager yang ternyata franchisee yang owner operator, “Kuahnya mengandung terlalu banyak lada.” Owner operator menjawab dengan santai, ”Memang standarnya begitu.” Pelanggan tersebut langsung memiliki persepsi bahwa “Bakso XYZ” bukan bakso yang sesuai dengan selera dia. Kemungkinan besar ia tidak akan mau masuk ke gerai “Bakso XYZ” di lokasi lainnya.   Ujian 5 dan 10 Tahun Tampaknya usia 5 dan 10 tahun akan menjadi batu ujian bagi para franchisor. Beberapa sumber menyatakan, dalam waktu 10 tahun terdapat 75% franchisor yang gagal, dan separuh dari mereka sebenarnya sudah gagal dalam waktu kurang dari 5 tahun. Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 2011 saya pernah mempelajari Direktori Waralaba SWA tahun 2005. Dari “42 Merek Waralaba Lokal yang tercatat dalam 1 tahun terakhir”, saya menengarai sekitar 22 merek tidak terlihat lagi di tahun 2011 tersebut. Selain itu terdapat sekitar 6 merek yang masih ada, tapi tidak lagi menawarkan waralabanya. Di bidang makanan dan restoran, beberapa merek tidak terlihat lagi karena gagal menjaga standar kualitas dan persepsi rasa untuk mereknya. Yang lainnya ada yang menghilang karena tidak mampu mengembangkan model bisnisnya untuk berkembang lebih jauh, adapula yang tidak berhasil tinggal landas waralabanya (kurang peminat). Di tahun 2022 majalah Infobrand Indonesia me-release daftar merek waralaba dan kemitraan yang sudah dikonfirmasi masih menawarkan kerja sama waralaba/kemitraan. Jumlahnya hanya sekitar 500 merek. Padahal di tahun 2011 majalah Franchise Indonesia pernah menerbitkan data sekitar 2000 merek untuk direktori waralaba/kemitraan mereka. Semoga informasi tersebut di atas membuka wawasan kita semua. Waralaba (dan BO alias “Business Opportunity” yang mirip waralaba) bukan resep atau jalan pintas sukses yang mudah. Tidak ada jaminan keberhasilan. Jadi, telitilah sebelum membeli atau menginvestasikan dana anda ke dalam bisnis waralaba.        

Read More (402 views)
Blog post
31 Agu'22

SOP Saja Tidak Cukup!


Memiliki SOP atau Pedoman Operasional saja tidak cukup untuk menjaga kualitas produk dan layanan bisnis kita. Bila Anda merasa sudah memiliki SOP yang baik, namun kondisi di lapangan seringkali tidak konsisten, maka kita perlu memeriksa kekurangannya ada di mana.   Pedoman Operasional Pedoman Operasional biasanya berisi informasi mengenai Who does What, How & Why (siapa melakukan apa, bagaimana caranya, dan mengapa harus dilakukan dengan cara seperti itu). Tentu saja dalam How itu bisa muncul unsur Where dan/atau When (di mana dilakukannya, dan/atau kapan harus dilakukan).   Seleksi Sumber Daya Manusia Pedoman Operasional yang sudah disusun dengan sangat baik akan mandul bila seleksi Sumber Daya Manusia dilakukan asal-asalan. Seleksi SDM sangat memengaruhi hasil dari program pelatihan suatu perusahaan. Kualitas SDM yang buruk tentu menyulitkan proses pelatihan, sekaligus mengakibatkan output hasil pelatihannya tidak maksimal.   Pelatihan SDM Seleksi yang sudah dilakukan dengan baik harus ditindaklanjuti dengan program pelatihan yang baik dan benar. Kinerja yang baik, kualitas produk dan layanan yang baik, sangat ditentukan oleh kombinasi antara seleksi dan pelatihan SDM.   Supervisi Bagian terakhir namun tidak kalah pentingnya adalah mekanisme dan pelaksanaan supervisi atau pengawasan yang konsisten. Dalam melaksanakan supervisi, biasanya dilakukan audit terhadap seluruh aspek operasional: kebersihan, pelayanan, kualitas produk, dan sebagainya. SOP dan tugas melakukan stock take atau stock opname misalnya, perlu diperiksa ulang secara random untuk memastikan pelaksanaannya sudah dilakukan dengan benar oleh staff di outlet. Beberapa bisnis menerapkan mystery shopper, yaitu mengirim pembeli yang ditugaskan untuk melakukan penilaian tanpa sepengetahuan tim atau staff di outlet. Jadi, SOP saja tidak cukup. Untuk menghasilkan kinerja yang konsisten dan maksimal, kita membutuhkan satu paket lengkap yaitu, SOP, Seleksi SDM, Pelatihan SDM, dan Supervisi.

Read More (282 views)
Blog post
22 Agu'22

Wilayah Proteksi Waralaba

  Wilayah proteksi waralaba (franchise territory) adalah topik hangat yang tak ada habisnya dalam pembicaraan mengenai waralaba. Hal ini menjadi makin seru ketika yang dibicarakan adalah fenomena Indomaret dan Alfamart yang terlihat tidak memiliki pola terkait wilayah proteksi.   Bukan Proteksi Pasar Hal terpenting yang harus dipahami terkait dengan wilayah waralaba adalah bahwa proteksi itu bukan proteksi pasar, melainkan proteksi tidak adanya gerai sejenis dalam wilayah yang didefinisikan sebagai wilayah proteksi. Pelanggan bisa saja menyeberang ke gerai di lain wilayah. Hal ini dapat terjadi sekedar karena sedang melintas, atau karena kualitas layanan yang dirasakan berbeda. Alasan yang terakhir ini seharusnya tidak terjadi. Franchisor perlu menjaga standar kualitas layanan ini.   Kecukupan Pasar Salah satu pertimbangan penting terkait wilayah proteksi adalah kecukupan pasar. Meski demikian, perhitungan mengenai “pasar” ini tidak selalu mengacu pada jumlah penduduk sekitar. Beberapa lokasi memiliki karakteristik pelanggan yang bukan penduduk sekitar, artinya orang yang melintas di sana, misalnya restoran dalam mall. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pemahaman mengenai jumlah pelanggan dan/atau angka penjualan dan/atau angka estimasi EBITDA yang dibutuhkan untuk menjadikan bisnis di lokasi tersebut layak atau menarik sebagai suatu investasi bisnis. Salah satu minimarket pernah menyebutkan angka penjualan rata-rata Rp10 juta per hari sebagai acuan kelayakan investasi bisnis di suatu lokasi. Bagaimana dengan bisnis Anda?   Semangat Berjaringan Konflik antara franchisor dengan franchisee dalam hal wilayah waralaba biasanya disebabkan karena kurangnya semangat berjaringan di benak franchisee. Selain itu, bisa juga dikarenakan ambisi franchisor untuk memiliki gerai sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan kecukupan pasar yang dibutuhkan oleh franchisee. Kedua faktor ini berakar pada satu kata,“keserakahan”. Diperlukan keseimbangan antara kebutuhan franchisor dalam membangun merek dan gerai sebanyak mungkin, dengan kecukupan pasar yang dibutuhkan oleh franchisee.   Radius, atau … Metode paling populer untuk menentukan batasan wilayah proteksi adalah penggunaan istilah “radius sekian kilometer”. Metode ini rawan konflik, karena batasannya seringkali kurang jelas. Apalagi bila diukur dari pencatatan kilometer mobil atau motor. Metode terbaik adalah batasan ruas jalan, rel kereta api, jembatan layang, dan landmark lainnya. Perkiraan radius dapat digunakan sebagai langkah awal. Selanjutnya, pelajarilah jumlah penduduk dan jumlah traffic yang akan menjadi pasar Anda, kemudian tentukan batas-batasnya dengan jelas. Batas-batas administratif Kelurahan, Kecamatan, atau Kabupaten/Kotamadya mungkin dapat digunakan karena lebih clear batasannya. Khusus untuk gerai di dalam mall, umumnya wilayah proteksi hanya di dalam areal lokasi gedung mall tersebut. Jadi, gerai di luar mall biasanya mengecualikan area mall dalam definisi wilayah waralabanya (tergantung kesepakatan).   Tanpa Wilayah Proteksi Mungkinkah suatu waralaba tanpa wilayah proteksi?, meski tidak umum, jawaban saya adalah “mungkin saja”. Hal ini tergantung posisi tawar franchisor lebih tinggi terhadap franchisee. Ada beberapa alasan yang dapat membuat franchisor tidak memberikan wilayah proteksi. Kebutuhan untuk memiliki gerai sebanyak-banyaknya merupakan salah satu alasan yang paling umum dijumpai. Asalkan franchisor mempertimbangkan kecukupan pasar sebagaimana telah diuraikan di atas, maka kebijakan tersebut sah-sah saja menurut saya. Alasan lainnya adalah antisipasi perubahan atau pertumbuhan jumlah penduduk di wilayah tersebut di tengah-tengah jangka waktu waralaba. Beberapa franchisor memutuskan untuk memperkecil wilayah proteksi ketika perpanjangan perjanjian waralaba, karena perubahan kependudukan ini. Tentu saja franchisee yang bersangkutan seyogyanya diberi kesempatan (prioritas) untuk membuka gerai di wilayah yang semula merupakan wilayah proteksinya.   Semoga penjelasan tersebut bermanfaat bagi anda semua.  

Read More (370 views)
Blog post
17 Agu'22

Perlindungan Non-Kompetisi Bagi F…

  Klausul-klausul perjanjian waralaba biasanya memberikan perlindungan bagi franchisor. Salah satunya adalah klausul mengenai pernyataan komitmen franchisee untuk tidak berkompetisi dengan franchisor, atau lebih spesifiknya dengan bisnis waralaba milik franchisor.   Bukan Sekedar HKI Franchisor berhak mendapat perlindungan non-kompetisi karena franchisee telah mendapatkan informasi strategi pemasaran, promosi, branding, pengelolaan SDM, hingga sistem administrasi dan pengelolaan biaya untuk menjalankan bisnis tersebut. Selain itu, franchisee memiliki informasi rahasia seperti angka penjualan, produk paling laku dan produk yang kurang laku, daftar pemasok, harga beli yang diberikan oleh pemasok, dan sebagainya. Jadi bukan sekedar HKI. Oleh karena itu, komitmen non-kompetisi biasanya melibatkan unsur kerahasiaan informasi, sehingga komitmen ini tidak hanya mengenai larangan kepemilikan langsung maupun tidak langsung suatu bisnis yang berkompetisi dengan bisnis franchise, tapi mencakup pula larangan memberikan informasi, dan memberikan konsultasi kepada bisnis yang berpotensi berkompetisi dengan bisnis franchisor.   Non-kompetisi Harus Spesifik Harus diakui, klausul atau pasal perjanjian mengenai non-kompetisi kadang memang merugikan franchisee ketika dibuat terlalu luas. Misal, seseorang membeli waralaba restoran pizza, tidak selayaknya dilarang masuk bisnis restoran ayam goreng.   Brian Loffredo menuliskan opininya di LinkedIn sebagai berikut: …, franchisees need to consider their exit strategies when entering into a franchise relationship and need to make sure any restrictions are clearly defined and as narrowly drawn as possible. For example, a pizza franchisee with dreams to stay in the food industry will want to make sure his restrictions are not so broad as to preclude the sale of chicken wings or participation in full-service restaurants. A window cleaning franchise will want to make sure his restrictions will not preclude handyman services or general contracting. Given the potentially crippling effect of many restrictions, it makes sense for franchisees to clarify their obligations early, and before entering into a franchise relationship. https://www.linkedin.com/pulse/franchise-non-compete-agreements-enforceable-brian-loffredo/   Selain bidang usahanya, di beberapa negara atau daerah ada ketentuan bahwa wilayah non-kompetisi dan batasan waktu pasca-pengakhiran perjanjian waralaba-nya juga perlu spesifik. Berikut ini satu contoh lagi yang berlaku di Amerika, dikutip dari Greensfelder : The court found that a two-year restriction was enough time for the franchisor to protect its legitimate business interest. The court further found that ten miles was a reasonable geographic limit because ten miles was the approximate distance a customer is willing to travel for the franchisor’s products. The court held that the franchisee was violating the non-compete clause by operating a business similar to franchisor’s business in the same location where the franchisee previously operated his franchise business. Ketentuan mengenai lingkup bidang usaha, wilayah, dan batasan waktu pasca-pengkahiran ini bersifat relatif dan berbeda dari negara atau daerah yang satu dengan yang lainnya.   Negosiasi Klausul ini memang dapat dinegosiasikan berdasarkan kondisi tertentu. Apotek K-24 misalnya, meski pada prinsipnya tidak menyediakan ruang negosiasi terhadap klausul ini, memberikan kebijakan khusus ketika ada Rumah Sakit yang hendak mengubah layanan pembelian obat yang semula untuk keperluan pasien internal menjadi layanan apotek untuk umum. Tentu saja kebijakan ini diberikan dengan batasan yang cukup ketat. Larangan non-kompetisi sebagai apotek yang melayani umum tetap berlaku. Kelonggaran diberikan dalam bentuk kembali menjadi layanan penyediaan obat untuk pasien internal Rumah Sakit.   Perluasan Lini Produk Hal pelik dari definisi bisnis yang spesifik ini adalah ketika terjadi perluasan lini produk. Bila semula franchisor adalah restoran pizza kemudian mengembangkan produk ayam goreng sebagai salah satu menunya, maka akan ada potensi benturan kepentingan ketika franchisee pizza ini kemudian sudah menjadi franchisee ayam goreng merek lain. Dalam praktek, hal ini memang sulit dihindarkan, namun penting sekali bagi franchisor dan franchisee untuk membuat jelas dari awal mengenai kemungkinan perluasan lini produk ini, bagaimana kedua pihak akan bersikap nanti.    

Read More (230 views)