Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Ciri-Ciri Autopilot Yang Sukses


Autopilot merupakan metode dalam menjalankan waralaba yang cukup praktis

Istilah “autopilot” telah menjadi trend dalam gimmick untuk menjual waralaba. Akhir-akhir ini cukup banyak pihak yang menawarkan peluang bisnis yang autopilot, dalam pameran franchise maupun social media seperti facebook dan Instagram. Autopilot tersebut diberi makna, “ketika Anda jalan-jalan, bisnis Anda bisa tetap beroperasi.”

Apa saja yang perlu Anda ketahui tentang “autopilot” ini?

 

Franchisor yang Berpengalaman

Istilah “autopilot” ini mungkin cocok untuk bisnis yang operated by franchisor (dijalankan oleh franchisor). Dalam hal ini, kualitas autopilot ini sangat bergantung pada jam terbang franchisor.

Autopilot ini sebenarnya memiliki konsekuensi yang lumayan tinggi bagi franchisor yang menjadi operator-nya. Akurasi laporan keuangan merupakan salah satu konsekuensi logis dari janji autopilot. Di sisi lain, rendahnya kualitas pengawasan bisa berakibat pada terjadinya kehilangan barang, rendahnya mutu pengelolaan stok barang, hingga perilaku tidak disiplin dari para pegawai. Franchisor yang menjanjikan autopilot harus mampu meminimalkan terjadinya hal-hal tersebut.

Saat artikel ini ditulis, ada banyak “fraud” dalam penggunaan istilah autopilot terkait waralaba dan penghasilan pasif. Pihak yang menawarkan “iming-iming” autopilot ternyata tidak memiliki jam terbang, dan masih sedang melewati kurva belajar alias trial and error.

Akibatnya pemilik modal yang jadi korban, karena harus menyuntikkan dana tambahan ketika bisnis yang dijanjikan autopilot dengan passive income ini mengalami kerugian.

 

Masa Kritis 2 Minggu Pertama

Seorang pebisnis restoran yang cukup berpengalaman mengatakan bahwa dua minggu pertama setelah pembukaan gerai merupakan masa kritis. “Anything can happen,” ia menjelaskan. Artinya sebaik apapun persiapan opening atau launching itu, seringkali terjadi hal-hal yang tidak terduga, sehingga keputusan yang cepat dan tepat harus segera diambil saat “peristiwa luar biasa” itu terjadi. 

Untuk itu, ia akan melakukan pengawasan ketat selama dua minggu pertama. Hal ini ia lakukan dengan hadir secara fisik maupun dengan meminta laporan setiap hari dari manager yang bertugas, atau mengawasi melalui internet CCTV.

Ada pula minimarket yang bercerita bahwa pada saat opening yang disertai promo besar-besaran biasanya mereka menyediakan tambahan mesin kasir (POS) dan SDM, serta team leader. Jadi kehadiran atau keterlibatan langsung tim manajemen yang memiliki jam terbang tinggi sangat dibutuhkan dalam 2 minggu pertama setelah opening.

 

Masa Kritis 1-2 Tahun

Ada pendapat bahwa suatu bisnis memerlukan waktu 1-2 tahun untuk menemukan konfigurasi tim kerja yang tepat. Dalam 1-2 tahun pertama ini biasanya terjadi keluar masuk pegawai. Hal ini dapat terjadi karena pegawai yang tidak disiplin, tidak memenuhi target kinerja penilaian, pegawai tersebut digantikan, mengundurkan diri, atau bahkan ia menghilangkan diri alias kabur begitu saja.

Saya menyebut ini sebagai masa kritis 1-2 tahun. Dalam konteks autopilot, tentu masa kritis ini harus mendapatkan perhatian lebih. Sistem yang baik tidak bisa berjalan tanpa SDM yang tepat.

 

Turbulence

Masa kritis tersebut di atas bisa berulang kembali, jika konfigurasi tim yang sudah baik ini berubah karena dibajak pihak lain atau leader dan/atau salah satu dari mereka mengundurkan diri. Situasinya mungkin menjadi lebih sulit ketika anggota baru susah masuk ke dalam ‘lingkungan’ tim lama yang suah solid itu.

Kondisi masa sulit susulan ini diibaratkan turbulence dalam suatu penerbangan, di mana pilot biasanya harus mengambil alih kendali dari autopilot kembali ke tangan pilot. Kalau dibiarkan autopilot, maka risiko atau bahaya menjadi sangat besar.

 

Kebocoran

Ada pula pendapat bahwa perusahaan yang besar, yang seolah sudah autopilot melalui kepemimpinan para profesional, seringkali banyak kebocoran dan korupsi di dalamnya. Hal kebocoran tersebut bisa saja benar, kalau sistem autopilot itu tidak memiliki prosedur kontrol dan budaya melaksanakan audit yang ketat.

Sistem autopilot yang baik biasanya memiliki titik-titik crosscheck yang cermat, ketat dan komprehensif, untuk mengantisipasi hal-hal negatif ini. Pesawat dengan autopilot dilengkapi dengan dashboard yang harus diperhatikan oleh pilot, agar intervensi pilot bisa segera dilakukan ketika dashboard terlihat tidak wajar.

Jadi, jangan sembarangan menawarkan autopilot dan jangan sembarangan percaya lalu membeli penawaran autopilot.