Strategi “Crowd Follows Crowd”
Fenomena “crowd follows crowd” ini biasa digambarkan seperti kerumunan penjual obat pinggir jalan yang menarik (kerumunan) orang-orang yang lewat, sehingga kerumunan makin banyak jumlah orangnya. Dalam prakteknya, sering kali mayoritas kerumunan pertama adalah figuran, kelompok teman-teman si penjual obat.
Fenomena ini kemudian menjadi strategi yang diadopsi banyak pihak. Kemampuan menciptakan crowd (kerumunan) menjadi ketrampilan yang sangat dicari. Perkembangan media sosial digital turut mendorong adopsi strategi ini. Jumlah followers, likes, dan views menjadi parameter yang mendongkrak nilai seorang influencer. Bersamaan dengan trend ini, muncul pula praktek akun palsu, jual beli followers, dan sebagainya.
Dalam waralaba dan kemitraan, fenomena adopsi strategi ini terlihat masif juga. Beberapa merek memamerkan jumlah outlet atau jumlah gerobak yang sudah dibuka. Beberapa di antaranya saya ketahui tutup hingga 50%, sehingga dalam pameran franchise saya biasa menanyakan, ”Berapa jumlah outlet yang masih beroperasi saat ini?” Pada umumnya mereka menjawab, “Wah saya kurang tahu.” Valid sih, karena mereka memang hanya tenaga sales, dan mereka tidak mungkin diberitahu angka yang akan membuat mereka tidak pede berjualan.
Beware, hati-hati!
Saya melihat trend adopsi strategi ini makin masif di tahun 2022-2023. Brand owner atau pemilik merek yang dananya kuat berlomba membuka gerai sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, menciptakan crowd mereknya. Sampai titik tertentu, potential investors berlomba-lomba memburunya.
Tampaknya ada jumlah outlet tertentu yang membuat orang merasa tidak perlu memeriksa dengan teliti peluang dan risiko suatu merek bisnis kemitraan dan waralaba, seolah jumlah ratusan menjadi stempel pembenaran low risk hingga anti-rugi. Salah satunya adalah merek es krim “pencari ruko kosong”.
Sesungguhnya tidak ada yang keliru dengan strategi crowd follows crowd, apabila crowd terbentuk sesuai fundamental bisnisnya. Indomaret dan Alfamart misalnya, memang harus mengejar dengan cepat jumlah outlet yang dibutuhkan untuk menopang biaya operasional gudang atau Distribution Centre (DC) mereka di satu wilayah. Tampaknya sustainability dua merek ini cukup tinggi.
Penyimpangan dalam penerapan strategi crowd follows crowd terjadi ketika pemilihan lokasi menjadi tidak selektif lagi, hanya mengejar jumlah outlet belaka – selain mengejar keuntungan di muka (selisih paket waralaba dengan nilai konkrit/tangible peralatan dan perlengkapannya, atau biaya waralaba di muka).
Beberapa merek terlihat tumbuh sangat cepat, menarik minat banyak orang, kemudian beramai-ramai tutup outlet (biasanya di tahun kedua dan ketiga) karena lokasi dan manajemen pemilik merek tidak mendukung sustainability bisnis tersebut.
Figuran
Sering nonton video penawaran yang memamerkan antrian panjang di suatu outlet? Hal ini bisa jadi fakta, karena progam promosi yang heboh saat pembukaan outlet, tapi bisa juga settingan dengan figuran-figuran untuk pembuatan video tersebut.
Pernah lewat suatu outlet yang banyak kendaraan di parkiran, tapi ketika masuk outletnya terlihat sepi? Kendaraan-kendaraan itu memang sengaja diparkir untuk memancing orang masuk, karena outlet yang sepi biasanya membuat orang ragu untuk masuk.
Pelajaran apa yang bisa diperoleh dari contoh-contoh di atas? Sikap hati-hati dan kritis sangat dibutuhkan bila anda tidak mau terjerumus ke dalam jebakan strategi crowd follows crowd.
Ijinkan saya menutup artikel ini dengan slogan yang berulang kali saya sampaikan: “Kecerobohan itu BUKAN risiko bisnis.”


