Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

with tag "about-franchise"
Blog post
06 Nov'23

Menjual Pengalaman & Peluang …

Ada dua lelucon yang menginspirasi tulisan ini: Penglamaan Yup, bukan typo. “Penglamaan” itu berbeda dengan pengalaman. Menduduki suatu jabatan dalam waktu belasan tahun, tapi setiap hari hanya menjalani rutinitas tanpa ada permasalahan yang berarti, merupakan suatu “penglamaan”. Menduduki suatu jabatan dalam waktu kurang dari 3 tahun, tapi melewati beragam permasalahan dan menjadi bagian yang menyelesaikan permasalahan, itu adalah “pengalaman”. Ketukan seharga $1,000 Kisah berikut ini belum saya temukan sumber asli kejadiannya, tapi menarik untuk direnungkan. Suatu kapal yang sangat besar mendadak mogok di tengah lautan. Beruntung tidak ada ombak besar dan cuaca masih bersahabat. Perusahaan pemilik kapal menghubungi jasa perawatan mesin yang kemudian mengirim teknisi ke posisi kapal tersebut. Teknisi memeriksa dengan teliti, kemudian mengetukkan palu di beberapa titik tertentu. Tak lama kemudian mesin kapal tersebut berfungsi kembali dengan baik. Tagihan dilayangkan ke Perusahaan pemilik kapal ini: $1,000, tidak termasuk transportasi menuju lokasi kapal. Bagian Keuangan Perusahaan bertanya kepada pimpinan dan awak kapal, apa yang dilakukan oleh teknisi tersebut. “Hanya mengetukkan palu di beberapa titik, mungkin sekitar lima titik”. Bagian Keuangan menghubungi Perusahaan Jasa yang mengirimkan teknisi, dan menanyakan rincian biaya $1,000 tersebut terdiri dari apa saja, dengan rencana hendak melakukan negosiasi, “Mengapa hanya beberapa ketukan saja biayanya $1,000?” Perusahaan Jasa menjawab,”Biaya mengetuk di titik permasalahan $20. Biaya mencari dan menemukan titik permasalahan $980”. Franchise & Pengalaman Franchisor atau Pemberi Waralaba itu menjual pengalaman (dan pengetahuan) yang sudah terakumulasi sekian tahun sehingga franchisee (penerima waralaba) tidak perlu melewati kesalahan yang sama, dan dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan cepat dan efektif. Tentu pengalaman setiap franchisor berbeda-beda, itu sebabnya ada franchisor yang biaya-biaya waralabanya terlihat rendah, ada pula yang terlihat tinggi. Ujung-ujungnya kita harus melihat bigger picture, yaitu peluang laba usahanya bagaimana, dengan memperhatikan asumsi-asumsi bisnisnya. Pastikan asumsi-asumsi bisnisnya sesuai dengan pengalaman franchisor, bukan temuan simulasi di atas kertas belaka. Ada franchisor yang bertahan cukup lama, sudah buka ratusan outlet tapi ternyata yang tutup mencapai 30% hingga lebih dari 50%. Kalau jualan mereka memamerkan jumlah outlet yang sudah dibuka, tapi mereka enggan membahas jumlah outlet yang masih atau sedang beroperasi. Ini ironis. Jangan-jangan franchisor seperti ini tidak memiliki pengalaman tapi “penglamaan”. Akhir-akhir ini, muncul pihak-pihak yang memiliki banyak merek, belasan bahkan puluhan merek. Tapi merek-merek ini banyak yang terbengkalai. Mereka tidak serius membangun merek dan bisnis yang ditawarkan kepada pemilik modal, melainkan hanya menjual “paket usaha” dan cenderung hit & run. Beberapa orang bahkan memberi label pada fenomena ini sebagai “franchise scam”.   Kesimpulannya: Bedakan pengalaman dengan “penglamaan”. Membeli franchise itu membeli pengalaman dan peluang laba usaha. Bedakan peluang usaha dengan “paket usaha”. Bedakan antara jumlah outlet yang pernah dibuka dengan jumlah outlet yang beroperasi. Hati-hati dengan fenomena “franchise scam”. Asumsi-asumsi bisnis harus sesuai pengalaman atau kinerja historis existing outlets. Biaya-biaya waralaba antara beberapa merek itu “tidak apple-to-apple”.

Read More (530 views)
Blog post
04 Okt'23

Jalan Berliku IKEA ke Indones…

IKEA masuk ke Indonesia melalui PT Hero Supermarket Tbk. Ya, perusahaan yang menutup puluhan gerai hypermarket GIANT ini seolah melakukan pivot dan mengerahkan sumber dayanya ke IKEA. Menarik sekali kehadiran waralaba IKEA ini, karena saya mengikuti liku-liku dan perdebatan yang berkembang, mulai dari permasalahan sengketa mereknya hingga kekhawatiran terjadinya dominasi pasar alias monopoli, dan besarnya arus impor produk yang akan dijual di jaringan raksasa retail mebel dan perlengkapannya ini. Dilansir dari berita Tempo, penandatanganan kesepakatan antara IKEA dan HERO dilakukan pada tanggal 22 Maret 2012. Tapi pembukaannya 15 Oktober 2014. Sengketa Merek IKEA Dilansir dari laman Januar Jahja & Partners, Inter IKEA Systems B.V. mengajukan pendaftaran merek IKEA di Indonesia untuk kelas 20 dan 21. Pada tanggal 9 Oktober 2006 persetujuan untuk kelas 21 diperoleh, namun entah mengapa persetujuan untuk kelas 20 didapat empat tahun kemudian, yaitu pada tanggal 27 Oktober 2010. Diduga karena khawatir ada masalah dengan tidak adanya kegiatan usaha terkait merek ini sejak pendaftaran mereknya, maka pada bulan Maret 2012 IKEA mengajukan pendaftaran kembali merek ini di kelas 20 dan 21, yang kemudian mendapat persetujuan di bulan September 2014. Di tahun 2013 ternyata ada gugatan terhadap sertifikat merek yang telah mendapat persetujuan di tahun 2006 dan tahun 2010 tersebut oleh PT Ratania Khatulistiwa yang hendak mendaftarkan merek “IKEA INTAN KHATULISTIWA ESA ABADI”. Meski PT Ratania memenangkan gugatannya, IKEA Indonesia tetap memperoleh persetujuan atas merek yang didaftarkan pada tahun 2012 tersebut. Operasional IKEA akhirnya menggunakan dasar hukum persetujuan merek yang didaftarkan di tahun 2012 dan diperoleh persetujuannya di tahun 2014 itu. Banjirnya Produk Impor Kekhawatiran terhadap banjirnya produk impor selalu menjadi issue yang menarik untuk digaungkan dalam menghadapi rencana kehadiran merek kuat global yang berpotensi mendominasi salah satu segmen pasar di suatu negara (yup, bukan hanya Indonesia, tapi India juga menjadi negara yang sulit diterobos oleh merek ini). IKEA butuh waktu 5 tahun persiapan dan negosiasi untuk bisa masuk ke India. Salah satu drama di balik jalan terjal di negara ini adalah target jumlah 30% produk lokal dari seluruh produk yang dijual di IKEA India. Pada tahun 2020, IKEA India yang buka di tahun 2018 ini mengaku akan berupaya untuk belanja sampai 50% tapi tidak dijelaskan target waktunya (sumber: India Times). Melansir berita di India Times, pada tahun 2015 belanja IKEA mencapai 3% dengan nilai 315 juta Euro. Mereka menargetkan peningkatan 2x lipat, yaitu menjadi 630 juta Euro pada tahun 2020. IKEA mencoba meyakinkan pemerintah, IKEA sudah membeli produk dari Indonesia sejak 1990-1992. Dari laman Tempo tahun 2012, diberitakan bahwa produsen yang menjadi pemasok IKEA ada yang berlokasi di Solo (sejak 2007). Selain itu ada pula pemasok dari kota Semarang. Mungkin ada pula dari kota-kota lainnya. Pada tahun 2017, IKEA menyampaikan kepada Tempo bahwa total belanja IKEA dari Indonesia mencapai 8% dari total belanja jaringan IKEA di seluruh dunia (belum saya temukan informasi nilai nominalnya). Kekuatiran Produsen Lokal & Kemitraan Kehadiran merek global memang selalu membuat produsen lokal ketar-ketir menghadapi persaingan. Biasanya pemerintah mendorong merek global untuk membina mitra UMKM menjadi pemasok yang memenuhi kualitas sesuai persyaratan. IKEA India membina pengrajin karpet level rumahan hingga menjadi skala industri, sebagai pemasok toko mereka. Hal serupa dilakukan oleh KFC Indonesia yang membina kemitraan dengan para peternak ayam sebagai pemasok KFC. Tentu kemitraan di sini berbeda dengan kemitraan yang digabung-gaungkan sebagai alternatif dari pola kerja sama waralaba yang belum memenuhi persyaratan waralaba.  

Read More (440 views)
Blog post
19 Feb'23

Burger King, Franchising dan …

Apakah Anda mendengar bahwa Kopi Janji Jiwa melakukan “buy back”? Setelah saya telusuri di mesin pencari “google”, ternyata tidak ada berita resmi mengenai buy back ini. Bahkan di bulan November 2022 masih ada berita di kanal berita tempo.co mengenai cara daftar franchise (atau kemitraan?) Janji Jiwa. Konon perusahaan pembiayaan (venture capital maupun private equity) kurang menyukai skema franchising, karena dalam franchising yang diakui sebagai omset franchisor hanya royalti dan biaya awal waralaba. Tentu saja ada pengecualian pada franchisor yang berperan ganda sebagai supplier, karena terdapat penghasilan dari kegiatan memasok produk ke franchisee. Dalam hal ini margin keuntungan retail tetap tidak dapat dicatatkan ke dalam pembukuan franchisor. Apakah benar perusahaan pembiayaan kurang menyukai skema franchising? Sesungguhnya, semua perusahaan yang dipersepsi kuat permodalannya, dan memiliki kemampuan mengelola sumber daya manusia untuk ekspansi dan operasional bisnisnya akan lebih menyukai membuka sendiri cabang bisnisnya. Hal ini merupakan hukum alam. Bukan hanya franchising yang dihindari, perusahaan pembiayaan pun akan dihindari. Mengapa harus bermitra dengan pihak lain yang mungkin suatu saat akan menghadapi selisih paham? Sewa Imbal Hasil (Revenue Sharing) Meski demikian, ada kondisi tertentu yang bisa memaksa pemilik suatu bisnis untuk bermitra. Misal ada pihak yang memiliki lokasi sangat strategis tapi tidak mau menjual atau menyewakan lokasi tersebut. Ia hanya mau kerja sama berupa sewa imbal hasil berdasarkan revenue sharing, dengan pertimbangan ia bisa memperoleh hasil di atas rata-rata biaya sewa properti di area tersebut. Arus Kas Perusahaan pembiayaan sebenarnya tidak 100% anti dengan franchising. Banyak franchisor di Amerika yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan pembiayaan (baca: Private Equity). Mengapa mereka tetap melakukan franchising kalau mereka memiliki sumber pendanaan yang berlimpah? Selain factok manajemen (distribusi) risiko dan pengelolaan SDM yang lebih sederhana, jawabannya adalah arus kas. Selain memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh biaya awal waralaba (upfront franchise fee), franchising memindahkan kebutuhan permodalan untuk membuka bisnis tersebut kepada franchisee. Tentu hal ini sangat besar dampaknya terhadap arus kas perusahaan/bisnis tersebut. Kisah Burger King Terkait konteks franchising dan private equity, perjalanan bisnis Burger King adalah salah satu yang menarik untuk disimak. Berdiri di pertengahan tahun 1953 dengan merek Insta Burger King, menurut Wikipedia, di tahun 1959 bisnis ini dibeli oleh dua franchisee mereka wilayah Miami, Florida karena mengalami kesulitan keuangan. Duo-franchisee ini melakukan restrukturisasi, mengganti merek menjadi Burger King, dan dalam waktu 8 tahun berhasil membuka 250 cabang di seluruh wilayah Amerika Serikat. Pada tahun 1967 duo-franchisee ini, James McLamore dan David R. Edgerton, menjual bisnisnya kepada Pillsbury Company. Peralihan kepemilikan masih berlanjut, diikuti oleh kemerosotan kinerja, hingga pada tahun 2002 bisnis ini dibeli oleh TPG Capital dari pemilik terakhirnya Diageo. TPG bergerak cepat melakukan perbaikan hingga di tahun 2006 melakukan Langkah go public yang dianggap sukses luar biasa. Namun segala upaya untuk meningkatkan kinerja Burger King ini terhambat oleh krisis keuangan sepanjang tahun 2007-2010. Di sisi lain, pesaingnya ternyata lebih baik kinerjanya di masa krisis tersebut. Kinerja yang terus menurun akhirnya memaksa TPG Capital menjual bisnis Burger King ke perusahaan lain, yaitu 3G Capital, di tahun 2010. Pada tahun itu pula Burger King melengserkan diri (go private) dari lantai bursa New York Stock Exhange setelah melantai selama 4 tahunan. Mengapa 3G Capital mengambil langkah go private? Konon karena tidak ingin dibebani kewajiban-kewajiban disclosure sebagai perusahan publik dalam mengambil langkah-langkah perbaikan (perombakan besar) yang hendak dilakukan. Di tahun 2012 ternyata 3G Capital sudah melantai kembali ke bursa, hingga sekarang. Saat ini saham Burger King berada di bawah bendera Restaurant Brands International (RBI) dengan kode QSR. 3G Capital menggunakan RBI untuk bisnis kuliner global mereka yaitu: Burger King, Tim Hortons, dan Popeye’s Chicken. Dari uraian mengenai Burger King tersebut, dapat dipahami bahwa tidak semua perusahaan pembiayaan menghindari atau tidak menyukai franchising.

Read More (1021 views)
Blog post
30 Jan'23

Low Price Battle Ala Mixue

Siapa yang tidak kenal dengan Mixue? Nama yang akhir-akhir ini sering kita dengar bukan? Ya baru-baru ini Mixue membuat gempar masyarakat Indonesia dengan pertumbuhan gerainya yang begitu signifikan, tak heran banyak netizen Indonesia bahkan membuat lelucon di media sosial. Menyandang brand yang sedang viral, karena harga murah dan cabangnya yang terus bertambah secara signifikan, maka timbul pertanyaan dari masyarakat. “Bagaimana Mixue bisa menjual produknya dengan harga sangat murah? Apa rahasia mereka bisa grow secepat itu?”. Sejarah Mixue Dilansir dari laman resminya, Mixue didirikan pada tahun 1997 oleh Zhang Hongchao yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa. Berawal Zhang Hongchao yang mendapatkan modal sekitar 4000 Yuan (setara Rp7.000.000) untuk membuat es krim (sundae) di kawasan Zhengzhou - Provinsi Henan, China.  Baru tahun 2000 Zhang Hongchao membuka toko pertamanya dan memutuskan membuat es krim yang enak namun dengan harga murah dibawah rata-rata. Pada tahun 2007, Mixue secara resmi mengubah model bisnisnya ke franchising model dengan kurang lebih 1 bulan setelahnya ada 27 cabang baru di China. Bisnis Model Mixue Kesuksesan Mixue tentu tak lepas dari sosok Zhang sang founder yang melihat segmen pasar es krim di China yang menyasar kalangan menengah ke atas, Zhang justru memilih menargetkan specific customer yang berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Setelah Mixue menjadi franchising model, Zhang sadar bahwa jika ia terus-menerus menjual produknya dengan harga murah maka besar kemungkinan tidak akan profitable. Dari situlah muncul ide mengubah bisnis Mixue berupa penjualan bahan baku dan equipment, artinya Mixue akan fokus terhadap Supply Chain.  Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Utomo Njoto, pakar waralaba Indonesia. Menurutnya, “mengenai harga murah, kita bisa memilih medan perang harga bila kita menguasai supply chain, dengan biaya operasional yang sangat rendah, dan harga barang modal yang sangat rendah pula”. (Sayangnya banyak orang terjebak ikut perang harga tanpa menguasai 2 hal tersebut). Ide tersebut didukung dengan strategi bisnis Economies of Scale. Apa itu? Dikutip dari Ekrut, Economies of Scale adalah “suatu konsep yang menggambarkan situasi di mana biaya produksi per unit menjadi lebih hemat ketika volume produksi meningkat. ”Artinya jika Anda memiliki fixed cost Rp100 juta/bulan dan mampu memproduksi 1000 es krim, sehingga biaya produksi per es krim sebesar Rp100 ribu. Jika perusahaan dapat memproduksi 1500 es krim, maka biaya produksinya per es krim adalah Rp66,6 ribu yang artinya harga modalnya semakin murah. Supaya supply chain management tersebut dapat berjalan, maka sistem franchise yang dilakukan Mixue adalah menjadikan gerai Mixue tersebut hak milik franchisee, namun untuk menjual es krim dan minuman, franchisee diharuskan membeli bahan baku dan equipment dari pusat.  Mixue memiliki value proposition harga yang sangat murah untuk produknya dengan target customer middle to low income ke negara-negara tier 3, tier 4 dan mass market, maka dari itulah Mixue merambah gerainya ke negara ASEAN salah satunya adalah Vietnam pada tahun 2018 disusul Indonesia pada tahun 2020. Tak heran kenapa growth dari Mixue sangat cepat selain dari strategi bisnis, pemilihan target pasar adalah kuncinya. Chart Model Strategi Bisnis Mixue “Extreme low cost low price strategy”, kalimat yang sepertinya akan terus identik dengan Mixue apabila kita belajar strategi yang diterapkan perusahaan es krim ini. Strateginya kira-kira seperti gambar dibawah ini: Detail lengkapnya kurang lebih sebagai berikut: Mixue mencari Large volume (franchisee) yang hanya bisa didukung bisnis model franchise. Harga biaya produksi lebih murah karena diterapkannya Economies of Scale, sehingga mereka dapat memperkuat supply chain dan logistik yang dimiliki.  Dengan biaya produksi yang lebih murah, mereka berani menerapkan extreme low price untuk produknya. Branding  dengan menjual produk harga yang murah akan menarik minat lebih banyak konsumen, sehingga mereka mampu untuk menambah lebih banyak franchisee.  Berdasarkan laporan dari YouTube Raymond Chin, pendapatan Mixue pada bulan Maret - Juni 2022. Sebagian besar justru diperoleh dari Ingredients sebesar 72,16%, kemudian 15,55% dari packaging, dan sisanya dari penjualan es krim dan lain-lain. Dan karena hal itulah Mixue bisa disebut sebagai perusahaan supply chain, bukan perusahaan FnB seperti yang kita tahu. Bagaimana menurut Anda? Apakah kira-kira masih ada strategi bisnis dari Mixue yang belum disebutkan? Sangat menarik memang jika kita membahas brand satu ini, apalagi ada beberapa pendapat yang mempertanyakan kemampuan Mixue untuk bertahan dalam jangka panjang di pasar Indonesia? Benarkah Mixue ini hanya sekedar trend?   Sumber: Economies of Scale Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Keutungan Melakukannya               Mixue Bicheng Co., Ltd.               Belajar Strategi Mixue Dominasi Franchise FnB - Raymond Chin

Read More (2277 views)
Blog post
02 Sep'22

75% Franchisor Hilang Setelah…

  Beberapa fakta yang mengejutkan pernah mengguncang dunia waralaba di tahun 2010-an, yaitu: Dalam waktu 10 tahun terdapat 75% franchisor yang menghilang dari waralaba. Dua merek waralaba cukup terkenal mencatat tingkat gagal bayar SBA Loan (semacam Kredit Usaha Kecil) lebih dari 35%. Beberapa merek waralaba yang kurang terkenal (di Amerika) bahkan mencatat tingkat gagal bayar SBA Loan sekitar 60% hingga 80%.   75% menghilang?, sebenarnya ada apa dengan waralaba dibalik fakta ini?. Mari kita simak penjelasan berikut ini.   Scott Shane, seorang dosen dan peneliti di Amerika, pernah mengingatkan, “Riset akademis menunjukkan bahwa sejumlah tiga per empat dari franchisor yang baru (new franchisors) berhenti menawarkan waralaba setelah sepuluh tahun diwaralabakan.” Meski demikian, euforia waralaba dan entrepreneurship telah menutup rapat informasi penting ini. Informasi ini mulai terkuak lebar karena terjadi kehebohan berupa tingginya tingkat gagal bayar SBA Loan berbasis waralaba. Informasi yang dipublikasikan mengenai SBA Loan menunjukkan bahwa gagal bayar Subway hanya 4% sementara Blimpie mencapai 37%. Angka ini segera dipertanyakan oleh para pengamat, apakah ini murni faktor merek atau ada faktor lain. Meski persentase itu dibandingkan dengan jumlah gerai dari merek yang bersangkutan yang mengambil kredit SBA Loan (bukan terhadap gabungan seluruh merek waralaba yang mengambil kredit SBA Loan, artinya bukan terhadap jumlah seluruh gerai merek tersebut), persentase yang tinggi menunjukkan anggapan bahwa waralaba memiliki tingkat risiko kegagalan yang lebih rendah daripada non-waralaba patut dipertanyakan.  Ini fakta yang mengerikan, meski datanya terbatas pada SBA Loan di Amerika Serikat. Tingkat gagal bayar kredit waralaba di tahun 2004-2006 ternyata 10% lebih tinggi daripada bisnis independen (non-waralaba). Bagaimana dengan Indonesia?, untuk Indonesia dulu sampai sekarang, masih belum ada publikasi serta data resminya.   Kelompok Berisiko Tinggi Beberapa pengamat menduga tingginya gagal bayar SBA Loan di bisnis waralaba dikarenakan pihak-pihak yang mengajukan kredit ke SBA Loan adalah pihak yang berisiko tinggi dan tidak berhasil mendapat pinjaman konvensional dari bank umum. Bila benar mereka yang gagal bayar ini merupakan kelompok berisiko tinggi, maka hal ini mencerminkan bahwa ada yang kurang pas pada proses seleksi calon franchisee oleh para franchisor. Apalagi ketika dibandingkan dengan yang non-waralaba ternyata tingkat kegagalannya lebih tinggi yang waralaba. Di Indonesia, belum ada publikasi resmi mengenai tingkat gagal bayar kredit waralaba. Tahun 2011 pemerintah meluncurkan program pembiayaan untuk waralaba dengan bunga rendah melalui LPDB (Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir) di bawah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Mudah-mudahan program yang ditujukan untuk mengurangi jumlah pengangguran ini tepat sasaran, tidak mengalir ke merek franchise yang tidak kompeten, dan seleksi calon penerima dananya dilakukan dengan ketat sehingga tidak jatuh pada kelompok berisiko tinggi. Secara kasat mata kita melihat cukup banyak bisnis gerobakan yang ditawarkan sebagai BO akhirnya tidak beroperasi, bahkan yang mereknya terkenal sekalipun. Kita juga menyaksikan pula beberapa bisnis non-gerobak dengan merek waralaba akhirnya tutup, entah karena salah lokasi atau salah kelola.   Franchisee Salah Kelola Satu hal yang bisa menjadi faktor penyebab kegagalan franchisee adalah salah kelola. Akhir-akhir ini saya menjumpai cukup banyak franchisor yang kerepotan menghadapi franchisee yang kurang disiplin dalam mengelola keuangan bisnisnya. Ada franchisee bisnis retail mengambil kredit mobil dengan cicilan Rp5 jutaan ketika bisnisnya mulai membukukan arus kas bersih bulanan sekitar Rp5 jutaan. Akibatnya, ketika arus kas bersihnya tidak berhasil menembus angka Rp5 juta, kelengkapan stok barangnya terganggu sehingga omset dan arus kas bersihnya terus mengalami penurunan. Adalagi beberapa franchisee retail yang lupa diri melihat besarnya uang tunai penjualan retailnya. Ia menggunakan sebagian besar hasil penjualan itu untuk keperluan pribadi, padahal seharusnya ia menyisihkan uang modal untuk membeli barang kembali alias melengkapi stock barangnya. Mengingat besarnya risiko salah kelola ini, sangat disarankan kepada para franchisor, yang franchiseenya memperoleh kucuran bantuan permodalan LPDB, untuk mengawasi dengan ketat keuangan franchisee selama 3 tahun pertama agar pengembalian pinjaman ini lebih terjamin.   Kompetensi Manajemen Franchisor Beberapa pihak yang lain berargumentasi bahwa tingginya tingkat gagal bayar di Amerika tersebut dikarenakan Resesi Ekonomi yang melanda Amerika Serikat.  Meski demikian, ternyata SBA Loan memiliki 2 versi laporan terkait pengembalian kredit yang diberikan: “Top 100 Merek Waralaba Terbaik” dan “Top 100 Merek Waralaba Terburuk”. Artinya, gagal bayar ini bukan sekedar faktor resesi ekonomi, melainkan kompetensi manajemen franchisor dan franchisee yang bersangkutan. Masa-masa sulit hampir pasti pernah dialami oleh bisnis mana pun juga. McD misalnya pernah mengalami masalah serius dan kritis sekitar tahun 2002. Larry Light, konsultan dan mantan Chief Marketing Officer McDonald’s, menyingkap fakta bahwa ketika ia bergabung dengan McDonald’s di bulan September 2002, harga saham perusahaan ini anjlok dari nilai tertinggi USD 45.31 di bulan Maret 1999 menjadi USD 17.66. Harga saham ini terus merosot hingga sekitar USD 13 pada bulan Maret 2003. McD berhasil melewati masa-masa kritis tersebut. Harga saham McDonald’s melejit dari sekitar USD 13 di tahun 2003 menjadi sekitar USD 32 di akhir tahun 2005. Selama periode Januari-Mei 2011 saham McD bergerak di atas USD 70. Bahkan sejak pertengahan Mei hingga awal Juni nilainya bertengger di atas USD 80.   Owner Operator Secara umum, menurut Scott Shane, franchisor baru yang mewajibkan owner operator dengan keterlibatan 100% memiliki tingkat kegagalan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan investor pasif. Tingkat keberhasilan owner operator ini memang membutuhkan seleksi franchisee yang ketat, karena bila yang lolos seleksi ternyata tidak becus mengelola maka yang terjadi adalah sebaliknya: malapetaka bagi gerai franchisee tersebut (dan bagi seluruh jaringan waralaba bila kesalahannya menyangkut kepuasan pelanggan dan mengganggu citra merek waralaba tersebut). Bayangkan suatu rumah makan “Bakso XYZ”. Seorang pelanggan baru pertama kali masuk ke sana. Ia mengeluh kepada manager yang ternyata franchisee yang owner operator, “Kuahnya mengandung terlalu banyak lada.” Owner operator menjawab dengan santai, ”Memang standarnya begitu.” Pelanggan tersebut langsung memiliki persepsi bahwa “Bakso XYZ” bukan bakso yang sesuai dengan selera dia. Kemungkinan besar ia tidak akan mau masuk ke gerai “Bakso XYZ” di lokasi lainnya.   Ujian 5 dan 10 Tahun Tampaknya usia 5 dan 10 tahun akan menjadi batu ujian bagi para franchisor. Beberapa sumber menyatakan, dalam waktu 10 tahun terdapat 75% franchisor yang gagal, dan separuh dari mereka sebenarnya sudah gagal dalam waktu kurang dari 5 tahun. Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 2011 saya pernah mempelajari Direktori Waralaba SWA tahun 2005. Dari “42 Merek Waralaba Lokal yang tercatat dalam 1 tahun terakhir”, saya menengarai sekitar 22 merek tidak terlihat lagi di tahun 2011 tersebut. Selain itu terdapat sekitar 6 merek yang masih ada, tapi tidak lagi menawarkan waralabanya. Di bidang makanan dan restoran, beberapa merek tidak terlihat lagi karena gagal menjaga standar kualitas dan persepsi rasa untuk mereknya. Yang lainnya ada yang menghilang karena tidak mampu mengembangkan model bisnisnya untuk berkembang lebih jauh, adapula yang tidak berhasil tinggal landas waralabanya (kurang peminat). Di tahun 2022 majalah Infobrand Indonesia me-release daftar merek waralaba dan kemitraan yang sudah dikonfirmasi masih menawarkan kerja sama waralaba/kemitraan. Jumlahnya hanya sekitar 500 merek. Padahal di tahun 2011 majalah Franchise Indonesia pernah menerbitkan data sekitar 2000 merek untuk direktori waralaba/kemitraan mereka. Semoga informasi tersebut di atas membuka wawasan kita semua. Waralaba (dan BO alias “Business Opportunity” yang mirip waralaba) bukan resep atau jalan pintas sukses yang mudah. Tidak ada jaminan keberhasilan. Jadi, telitilah sebelum membeli atau menginvestasikan dana anda ke dalam bisnis waralaba.        

Read More (1179 views)
Blog post
14 Jul'22

Plus Minus Urun Dana atau Cro…

Crowd Funding! Sebelum anda menempatkan dana anda melalui crowdfunding (urun dana), sebaiknya Anda pahami dulu plus minusnya. Ada 4 Jenis Urun Dana Hingga saat ini, tampaknya hanya ada 4 jenis urun dana, yaitu: 1. Berbasis Ekuitas, atau penyertaan saham (saham biasa dan saham syariah). 2. Berbasis Pinjaman, seperti utang, berupa obligasi, atau sukuk. 3. Berbasis Reward, atau hadiah 4. Berbasis Donasi, atau sumbangan. Gabungan antara jenis pertama dan kedua akhir-akhir ini dikenal sebagai Securities Crowd Funding (SCF), sementara jenis pertama saja kemudian disebut sebagai Equity Crowd Funding. Contoh SCF banyak kita jumpai seperti Bizhare, Santara, LandX. Jenis ketiga, yaitu berbasis hadiah, biasanya dilakukan dalam rangka rintisan bisnis untuk membuat prototype yang kemudian imbalannya berupa hak untuk menerima prototype produk tersebut. Contoh jenis ini sepertinya belum ada di sini. Yang sangat terkenal di luar negeri adalah kickstarter.com. Jenis keempat, sebagaimana namanya, pada umumnya bertujuan untuk penggalangan dana donasi. Contoh yang gencar berpromosi di sini adalah kitabisa.com. Plus Minus Ulasan mengenai plus minus dalam artikel ini hanya akan membahas jenis pertama dan jenis kedua, alias SCF. Belok sebentar, kita akan membahas perbedaan kepemilikan aset dalam saham syariah dan sukuk. Sebenarnya sukuk itu semacam obligasi, tapi karena obligasi itu bersifat utang dan berbunga, maka bentuk syariahnya menjadi sukuk dan bersifat kepemilikan aset. Kepemilikan aset dalam sukuk bersifat temporer, sesuai jangka waktu perjanjiannya. Sedangkan saham syariah tidak berjangka waktu, sesuai AD/ART PT tersebut. Kelebihan atau sisi plus dari SCF antara lain sesuai namanya, setiap orang bisa ikut urun dana mulai dari nilai terkecil yang ditetapkan oleh yang mencari dana melalui SCF. Risiko Ikut Urun Dana Secara umum risiko ikut urun dana adalah kalau perusahan yang mencari dana tersebut kemudian kinerjanya kurang baik. Tentu semua menyadari bahwa ini adalah risiko bisnis. Permasalahannya, kita harus menunggu periode 6 bulanan untuk menjual saham yang kita beli melalui ECF/SCF itu, sementara kalau di saham reguler kita bisa segera menjual saham yang buruk kinerjanya, asal belum terjebak di level saham gocap. Tentu saja menjual saham yang kinerjanya tidak baik di ECF/SCF bisa saja bernasib sama dengan saham gocap, alias tidak ada pembeli. (Ada rumor bahwa penerbit saham di ECF/SCF ada yang menjanjikan buy back, mungkin dalam % tertentu dari nilai awalnya, tapi saya belum menemukan konfirmasi tertulis mengenai hal ini). Upaya penulis menelusuri issue buy back terkait urun dana ini (sampai saat artikel ini ditulis) hanya menemukan adanya jaminan atau kewajiban buy back kepada penerbit saham yang menggunakan pola urun dana, apabila semula penerbit saham menerapkan pola syariah kemudian berubah menjadi konvensional (bukan syariah). Likuidasi Bila mengikuti aturan regulasi Perseroan Terbatas, tentu solusi ketika penerbit mengalami kesulitan arus kas adalah menerbitkan saham baru dan pemilik saham lama akan mengalami dilusi atau penurunan persentase kepemilikan modal. Itu kalau ada yang mau membeli saham tambahan yang diterbitkan. Jika tidak ada pembelinya, maka solusi terakhir adalah likuidasi. Nah terkait likuidasi, hak pemegang saham adalah yang terakhir dibayarkan setelah para pemberi utang atau pemilik piutang terhadap perusahaan yang menerbitkan saham melalui ECF/SCF ini. Dari sisi ini, tentu SCF berupa obligasi lebih diuntungkan dibandingkan saham. Status sukuk yang tidak persis sebagai utang, melainkan diakui sebagai kepemilikan aset temporer (sesuai jangka waktu sukuk) mungkin diprioritaskan alias diperlakukan seperti obligasi. Meski demikian, nilainya tergantung hasil likuidasi aset-aset yang ada. Franchising & Crowd Funding Bila Anda berniat membeli franchise dengan crowfunding, atau membuka cabang dengan crowdfunding, selain faktor-faktor di atas anda perlu mencermati biaya-biaya yang timbul. Biaya yang dibebankan oleh perusahaan urun dana biasanya berkisar antara 5%-10% dari nilai total dana yang terkumpul. Ini akan menjadi beban tambahan terhadap biaya awal waralaba. Bila Anda berniat “ikut” urun dana menanamkan modal urunan untuk membeli franchise, perlu kehati-hatian dan perhitungan yang cermat. Tips saya: pahami plus minusnya, sebagaimana yang sudah diuraikan di atas. Selanjutnya, pastikan (1) proyeksi keuangannya dapat dipercaya, (2) mereknya mampu mendatangkan penjualan sesuai target, dan (3) tim manajemen operasionalnya nanti mampu menjalankan operasional sehari-hari dengan baik sehingga target-target bisa tercapai. * Bila ada informasi tambahan yang dapat melengkapi pemahaman terkait urun dana ini, Anda bisa kirim email ke admin@klikfranchise.com Crowd Funding! Sebelum Anda menempatkan dana Anda melalui crowdfunding (urun dana), sebaiknya anda pahami dulu plus minusnya.  

Read More (1037 views)
Blog post
07 Jul'22

Franchise Consultant, Package…

  Ada 3 perbedaan mendasar dari 3 peran berikut ini. Saat ini mungkin mereka semua Anda kenal sebagai "Franchise Consultant" Franchise Consultant Konsultan franchise menjelaskan bagaimana seharusnya franchise (dan kemitraan) dijalankan, menjelaskan rambu-rambu mengenai kriteria atau parameter kesiapan bisnis Anda dalam menawarkan franchise atau kemitraan. Konsultan franchise juga membantu mengarahkan Anda untuk menjadikan bisnis Anda memenuhi parameter atau mencapai kriteria tersebut. Tugasnya mengidentifikasi hal-hal yang perlu diantisipasi, meminimalkan kekeliruan dan konflik dengan franchisee/mitra. Franchise Broker Broker franchise membantu Anda menjual franchise dan/atau kemitraan. Idealnya franchise broker menjual franchise/kemitraan yang memenuhi persyaratan atau parameter kesiapan tersebut di atas. Tapi bisa saja franchise broker menawarkan franchise/kemitraan yang belum memenuhi kriteria sebagai franchise/kemitraan yang siap atau layak. Misinya hanya berjualan, alias mencarikan investor. Franchise Packager Franchise packager berperan untuk membantu membuat bisnis Anda "bisa" dan "menarik" untuk ditawarkan sebagai waralaba atau kemitraan. Berbeda dengan peran franchise consultant, "bisa" di sini bukan berarti benar-benar memenuhi kriteria kesiapan/kelayakan untuk menawarkan waralaba atau kemitraan. Seringkali target penjualan yang ditampilkan dalam simulasi merupakan hasil simulasi, bukan kinerja historis. Misi dari franchise packager adalah menghasilkan suatu paket penawaran yang "menarik" ... semua klien dianggap memenuhi syarat untuk menawarkan waralaba/kemitraan. Franchising bukan sekedar menawarkan bisnis yang kemasannya menarik. Penawaran franchise memang perlu (1) kemasan yang menarik, tapi harus disertai dengan (2) akumulasi pengalaman yang berharga dalam menjalankan bisnis, termasuk keluar dari keadaan yang sulit, dan (3) tim yang kompeten dalam memberikan support operasional kepada franchisee. Akumulasi pengalaman dan kompetensi tim tersebut diharapkan menjadi faktor pendukung untuk mewujudkan peluang sukses bisnis tersebut di lokasi yang diajukan oleh franchisee.  

Read More (1319 views)
Blog post
24 Jun'22

Bisnis dengan Pertumbuhan Eks…

Tren pertumbuhan bisnis sedang dan sudah bergeser dari linear menjadi eksponensial. Pertumbuhan linear, yang disebut pula pertumbuhan incremental, cukup puas dengan peningkatan 10-20% per tahun, meski sebagian mungkin mampu membukukan pertumbuhan lebih dari 20% per tahun. Sebaliknya pertumbuhan eksponensial berbicara tentang peningkatan 10x lipat. Mark Bonchek bahkan menggambarkan dalam Harvard Business Review bahwa pola pikir eksponensial adalah bagaimana menambah input 100% dan menghasilkan output 1000%. Bila bisnis dengan pertumbuhan incremental harus mengendalikan pertumbuhannya agar tidak melebihi kemampuan supply dari mesin produksinya. Sebaliknya, bisnis dengan dengan pertumbuhan eksponensial tidak perlu melakukan hal tersebut. Dalam hal ini platform digital memindahkan sumber daya dari “mesin industri” yang memiliki keterbatasan menjadi “jaringan” (network) seluas-luasnya. Hal itulah yang dipraktekkan oleh para pemain bisnis aplikasi seperti eBay, Amazon, serta nama-nama beken akhir-akhir ini seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Sebelum gelombang platform digital, beberapa upaya untuk tumbuh melewati kapasitas supply mesin produksi adalah dengan cara pemberian (menjual) lisensi, waralaba, dan upaya-upaya produksi dengan cara maklon (produksi di pabrik pihak lain). Lisensi Tingginya biaya penelitian R&D mendorong praktek pemberian lisensi. Pabrik farmasi yang menemukan suatu formula dapat segera memberikan lisensi produksi dan pemasaran kepada pihak lain dengan imbalan royalti. Biasanya lisensi ini diberikan untuk wilayah pemasaran yang tidak mengganggu potensi pasar dari pabrik pemberi lisensi tersebut. Pemberian lisensi yang lainnya, yang lebih banyak dikenal, adalah lisensi design karakter kartun yang dipasang di berbagai produk. Gambar karakter Mickey Mouse dari Disney misalnya, banyak dijumpai terpasang pada botol minum anak-anak. Perusahaan yang hendak memasang gambar karakter Mickey Mouse pada botol minuman yang diproduksinya harus membayar royalti kepada Disney. Dengan strategi lisensi seperti ini, Disney berpotensi mengecap pertumbuhan yang hampir tanpa batas, karena tidak ada unsur mesin produksi di pihak Disney. Waralaba Beberapa ikon waralaba kelas dunia seperti McD dan KFC memiliki tingkat pertumbuhan gerai yang luar biasa tinggi. Setiap tahunnya mereka dapat menambah jumlah gerai hingga puluhan ribu. Alfamart dan Indomaret saja bisa menambah gerai hingga seribu lebih dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, yaitu mereka menerapkan strategi kemitraan dengan para pemasok sehingga terlepas dari kendala mesin produksi, dan mereka menawarkan peluang waralaba kepada para investor sehingga terlepas dari kendala permodalan. Platform Digital Pertumbuhan eksponensial memang lebih sering dikaitkan dengan fenomena bisnis digital seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Dalam konteks platform digital ini, bisnis yang tumbuh secara eksponensial digambarkan harus mencari sesuatu yang “berbeda”, bukan sekedar menjadi “lebih baik”. Memang tidak mudah menemukan sesuatu yang “berbeda” ini. Siapa menyangka layanan serba gratis seperti Facebook, Google, dan Youtube akhirnya meraup belanja iklan yang sangat besar untuk membiayai bisnis mereka dan menghasilkan laba usaha yang signifikan? Salah satu platform digital lokal Indonesia, Tokopedia, memiliki konsep unik. Mereka tidak memungut komisi dari pembeli dan penjual. Kebijakan ini tentu meninggalkan pertanyaan di benak kita, bagaimana perusahaan ini membiayai operasional hariannya? Masih misterius memang, seperti apa strategi jangka panjang untuk sumber pendapatan Tokopedia ini. Hingga saat ini Tokped, demikian nickname mereka, masih mengandalkan modal yang disuntikkan oleh para pemodalnya yang dikenal sebagai modal ventura. Ada beberapa sumber pemasukan yang resmi dipublikasikan, seperti gold merchant dan TopAds. Adapula yang berspekulasi bahwa sebenarnya ada bagi hasil dari jasa kurir pengiriman. Yang pasti, saat ini tampaknya Tokopedia belum membukukan laba usaha yang signifikan. Menurut Mark Bonchek, pendiri dan CEO (Chief Epiphany Officer) dari Shift Thinking, para pebisnis seringkali harus mampu merasa nyaman dengan “ketidakpastian” di tahap awal bisnisnya, dengan catatan ia harus mampu menjaga visi jangka panjangnya, walau kadang tidak ada gambaran yang jelas mengenai rencana pertumbuhannya akan menjadi seperti apa di kemudian hari. Incremental vs Exponential Thinking   Menyimak kurva yang disajikan Mark Bonchek, terlihat bahwa dibutuhkan kesabaran dan visi jangka panjang, yang kadang bisa saja merupakan “perjudian besar”. Bahkan di tengah perjalanannya bisa saja pesaing masuk dengan konsep lebih baik, sebelum pertumbuhan eksponensialnya tercapai. Friendster tanpa disangka-sangka tersisihkan oleh Facebook. Ketergusuran bisa pula terjadi di awal atau di tengah pertumbuhan eksponensial suatu bisnis. Yahoo secara perlahan namun pasti tergusur oleh Google. Sebagaimana saran prinsip positioning untuk membangun kategori produk baru, Airbnb tampaknya melenggang hampir tanpa pesaing yang signifikan karena lambatnya pemain lain masuk kategori ini, kecuali di Tiongkok. Pertengahan 2016 dikabarkan Airbnb memiliki listing sebanyak 2 juta di seluruh dunia, namun hanya 30 ribuan yang berlokasi di Tiongkok. Kompetitor utamanya, Tujia, listingnya mencapai 420 ribu lokasi. Satu lagi kompetitor di Tiongkok, Mayi,  mengklaim memiliki listing sebanyak 300 ribu lokasi. Negara tirai bambu ini memang menjadi momok bagi para kampiun bisnis asal Amerika. Dari bisnis waralaba, tersiar kabar bahwa KFC (Yum) dan McD akhirnya memutuskan untuk keluar dari kepemilikan bisnis di negeri tirai bambu tersebut, menjual sahamnya kepada mitra lokalnya. Di bisnis digital, konon eBay tergagap-gagap menghadapi Alibaba di sana. Uber pun memilih untuk merger dengan pesaingnya di sana, Didi Chuxing. Mengamati kurva dari Mark Bonchek, mungkin dapat disimpulkan bahwa bisnis digital seperti Go-jek, Grab, Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan beberapa Apps lokal Indonesia belum memasuki tahap pertumbuhan eksponensial. Mereka semua masih sedang “membangun” menuju pertumbuhan. Gugur Sebelum Berkembang Untuk bersaing di bisnis dengan pertumbuhan eksponensial sebagaimana yang diungkap dalam kurva tersebut, kita memahami bahwa persaingannya membutuhkan nafas panjang, khususnya dari sisi keuangan. Kehadiran Go-jek sempat melahirkan Blu-jek dan Lady-jek serta mungkin masih ada jek-jek yang lain. Situs belanja online juga tidak luput dari peristiwa gugurnya pemain sebelum tumbuh berkembang secara eksponensial. Rakuten Belanja Online yang diluncurkan 2011 akhirnya tutup di awal 2016 lalu. Sementara itu, menurut kompas.com, situs belanja online multiply.co.id yang bermula dari jejaring sosial mengibarkan bendera putih di tahun 2013, hanya berselang 2 tahun dari tahun peluncurannya sebagai situs jual beli online yang mengusung konsep “social shopping”. Tampaknya bisnis dengan pertumbuhan eksponensial akan membutuhkan kehadiran banyak pemodal ventura, yang konon masih langka di Indonesia. Pemodal ventura yang mendanai Apps lokal masih didominasi oleh pemodal ventura dari luar negeri, seperti SoftBank, Sequoia Capital, Vertex Ventures, Farallon, Northstar, dan beberapa nama yang mungkin terdengar asing di telinga kita. (Jakarta, April 2017)

Read More (881 views)
Blog post
13 Jun'22

Berapa Biaya Franchise Alfama…

Kalau diminta menyebutkan 3 minimarket yang ada di benak Anda, mungkin salah satunya akan keluar nama Alfamart. Alfamart telah menjelma menjadi minimarket favorit masyarakat Indonesia yang sudah memiliki banyak sekali cabang. Alfamart didirikan oleh Djoko Susanto pada tahun 1989 dan berada dibawah naungan PT Alfaria Trijaya, Tbk. Minimarket ini menjadi pesaing terberat Indomaret dan telah memiliki lebih dari 10.000 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini sesuai dengan laporan dari Katadata, yang menyatakan Alfamart telah menduduki peringkat kedua dalam hal jumlah cabang. Meski telah memiliki begitu banyak cabang, hal tersebut tak membuat Alfamart puas. Alfamart terus menambah jumlah cabangnya termasuk ke mancanegara. Cabang pertamanya di mancanegara terdapat di Manila, Filipina pada tahun 2014. Sampai saat ini Alfamart telah memiliki ratusan cabang di mancanegara. Harga Franchise Alfamart Bersumber dari Waralaba Alfamart, setidaknya ada beberapa paket waralaba yang tersedia untuk calon investor yang hendak menjadi franchisee-nya.  Source: https://waralaba.alfamart.co.id/ Dari masing-masing keempat paket franchise diatas, di dalamnya sudah termasuk: Franchise Fee sebesar Rp45 juta untuk 5 tahun Biaya instalasi listrik Peralatan gerai dan air conditioner Cash register dan sistem informasi ritel Shop sign dan polesign Perizinan gerai Promosi dan persiapan pembukaan gerai Perlu Anda ketahui, bahwa biaya di atas belum termasuk ke dalam sewa lokasi. Yang mana sewa lokasi merupakan salah satu komponen biaya terbesar di dalam pembukaan bisnis. Anda bisa melakukan riset kecil-kecilan mengenai pasaran biaya sewa di tempat Anda. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan nilai yang paling mendekati.  Selain itu, ada baiknya untuk Anda menyiapan biaya modal kerja di luar total biaya awal tadi. Perbandingan Franchise Alfamart vs Indomaret Tidak lengkap rasanya jika mengetahui biaya franchise Alfamart, namun tidak mengetahui biaya kompetitornya. Berikut adalah beberapa perbandingan Alfamart dan Indomaret dari segi biaya. Perlu diingat kembali, bahwa biaya di atas belum termasuk sewa lokasi dan modal kerja awal. Jika ditambahkan sewa lokasi dan modal kerja awal sudah pasti lebih besar lagi. Dengan estimasi dana awal sebesar itu, bagaimana proyeksi keuntungannya? Sayangnya Alfamaret & Indomaret tidak merilis hal tersebut di laman resminya. Bagaimana Cara Memiliki Franchise Alfamart? Dilansir dari laman resmi franchise Alfamart, berikut 4 langkah yang dapat Anda lakukan untuk memiliki Alfamart. Usulan lokasi Anda bisa melakukan usulan pendaftaran lokasi Alfamart melalui laman www.alfamartku.com. Proposal & persetujuan Membuat proposal yang mencakup kajian potensi usulan lokasi, gambar kerja, RAB, dan proyeksi keuangan. Perjanjian waralaba Merupakan tahap di mana kedua belah pihak saling menyetujui hak & kewajiban masing-masing. Kedua belah pihak harus melakukan tanda tangan sebelum grand opening dan berbagai persiapan lainnya dilakukan. Grand opening Setelah terjadi penyetujuan perjanjian waralaba, maka Alfamart Anda sudah bisa diproses dan grand opening bisa segera dilakukan. Bagaimana? Apakah Anda tertarik menjadi bagian dari jaringan minimarket terbesar di Indonesia? Jika Anda tertarik, Anda bisa langsung mendaftarkan diri di sini dan menyiapkan ajuan lokasi Anda. Semoga berhasil!

Read More (938 views)
Blog post
06 Jun'22

8 Sebab Utama Kegagalan Bisni…

  Dirangkum dari franchisedirect.com, ada 8 sebab utama kegagalan bisnis franchise. Ada 4 faktor franchisor (1-4) dan 4 faktor franchisee (5-8). *Saya menambahkan keterangan, versi saya sendiri. Training & support tidak memadai, entah karena kejar setoran agar bisa buka sebanyak-banyaknya, atau memang tim nya kurang kompeten, atau franchisor sedang melewati learning curve dan masa sulitnya. Bisnis dan franchise model yang relatif baru, belum teruji oleh waktu. Biasanya ini karena hype sesaat. Contoh ekstrimnya ais kepal milo. Pasarnya tidak cukup besar untuk mengimbangi biaya-biayanya. Ini kekeliruan yang klasik, dan menjadi faktor utama kegagalan mayoritas start-up yang dilanda gelombang PHK maupun gulung tikar saat ini. Menghasilkan produk adalah satu hal, menjual dan menghasilkan uang yang cukup dari produk itu adalah hal lain yang tidak kalah penting. Franchisor bubar, karena memang tidak memiliki komitmen jangka panjang pada bisnisnya, atau sebagai akibat dari kesulitan keuangan. Di Amerika sendiri ada beberapa franchisor yang menyatakan bangkrut karena terlalu banyak utang, tapi seringkali terselamatkan karena biasanya ada perusahaan lain yang mengambil-alih. Selain itu bisa juga franchisor sekedar mengurangi jumlah tim sehingga sistem support memburuk. Modal kerja pas-pasan, karena informasi franchisor yang banyak hidden cost, atau memang franchisee-nya yang memaksakan diri. Tidak realistis dalam menyusun proyeksi bisnis, karena menelan mentah-mentah semua target dan asumsi yang dipublikasikan franchisor (padahal ini untuk wilayah lain), atau membuat asumsi dan target yang terlalu optimistis dan tidak sesuai keadaan wilayah lokasinya. Tidak tunduk pada sistem franchisor. Ini biasanya bisa diminimalisir jika seleksi franchisee dan tim operasionalnya cukup ketat. Orang-orang yang super kreatif, dan sulit tunduk pada sistem yang baku, memang tidak cocok menjadi franchisee. Tidak fokus. Tidak sedikit franchisee yang menjadikan investasi franchise-nya sebagai bisnis kedua, sehingga kurang mendapat perhatian dan mudah dikelabui pegawainya (kehilangan barang maupun uang tunai). Di sisi lain adapula franchisee yang mengalihkan laba operasional (atau lbh parah lagi: omset) di bisnis franchise nya untuk bisnis lainnya yang sedang kesulitan arus kas. Akibatnya, bisnis franchise yang sebenarnya bagus jadi bermasalah juga. Semoga bermanfaat!

Read More (853 views)
Blog post
02 Jun'22

Mau Beli Franchise? Tanyakan …

Langsung saja, berikut ini 8 pertanyaan cerdas yang wajib anda tanyakan kepada franchisor sebelum membeli franchise. Sudah punya berapa outlet? Butuh modal berapa rupiah? Dengan modal segitu, omset rata-rata sebulan berapa rupiah? Dengan omset segitu, “profit bersih” nya bisa berapa rupiah? Yang bisa mencapai omset dan profit segitu lokasinya di mana? Ada berapa lokasi yang omsetnya bisa segitu? Butuh waktu berapa bulan untuk outlet-outlet itu mencapai omset segitu? Apakah ada franchisee yang boleh saya ajak bicara? (minta contact-nya) Kalkulator Franchise Untuk bisa menggunakan kalkulator franchise, sebenarnya diperlukan informasi tambahan sebagai berikut: Berapa nilai rupiah HPP atau COGS atau harga modal untuk omset segitu? Berapa nilai rupiah biaya operasional-nya bila tidak termasuk depresiasi? Berapa nilai rupiah rata-rata setiap transaksinya? Bila angka-angka itu valid, seharusnya Omset – HPP – Biaya Operasional = Profit Bersih. Masukkan angka-angka itu ke dalam kolom form kalkulator franchise di klikfranchise.com, maka Anda dapat memeriksa kewajaran klaim omsetnya, demikian juga dengan balik modalnya. STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba) Bisnis yang ditawarkan sebagai franchise di wilayah Indonesia, wajib punya STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba), dan wajib memberikan waktu sekitar 2 minggu kepada calon franchisee-nya untuk mempelajari prospektus penawaran waralaba. Bila tidak memiliki STPW, biasanya mereka istilah legal yang digunakan untuk perjanjian kerja sama adalah kemitraan. Suka Keseharian Bisnisnya Satu hal lagi yang penting, bila franchise-nya bukan investor pasif, maka Anda harus suka keseharian bisnisnya. Hobi saja tidak cukup, tapi Anda harus menyukai keseharian bisnisnya, jangan sampai bosan, apalagi stress. Keseharian bisnis ini contohnya adalah menyangkut mengelola pegawai dan menangani keluhan pelanggan.

Read More (983 views)
Blog post
23 Mei'22

4 Hidden Cost yang Calon Fran…

Aspek keuangan merupakan aspek yang sangat krusial dalam bisnis. Terbukti, permasalahan yang sering timbul dalam memulai dan mengembangkan bisnis seringkali adalah persoalan keuangan. Berkaitan dengan aspek keuangan, bagi Anda yang hendak membuka gerai waralaba atau kemitraan namun dengan budget yang minim, ada baiknya Anda membaca artikel ini sampai tuntas. Karena pada artikel ini akan membahas biaya-biaya “tersembunyi” apa saja yang akan muncul jika Anda menjadi franchisee. Tentu ketika ingin membuka gerai waralaba atau kemitraan ada biaya awal waralaba yang wajib kita bayarkan kepada franchisor. Namun tahukah Anda, selain biaya awal waralaba tersebut, masih ada lagi biaya-biaya yang harus anda siapkan. Antara lain: 1. Biaya Survei Lokasi Meski terdengar sepele dan tidak seberapa, biaya survei lokasi berpotensi menjadi batu sandungan menuju gerai pertama Anda. Karena di dalam komponen biaya ini Anda mungkin tidak cukup sekali-dua kali mengamati lokasi Anda. Selain itu menurut Guidant Financial, di sana juga ada biaya perjalanan untuk mendatangi kantor pusat/perwakilan merek yang hendak Anda beli. Biaya ini akan cukup memberatkan apabila kantor tersebut memang jauh dari lokasi Anda dan tidak menerima kesepakatan secara online. Jadi, bagi Anda yang memang memiliki budget relatif terbatas, biaya-biaya tersebut tentu harus Anda masukkan ke dalam list komponen biaya. 2. Biaya Distribusi Biaya ini berkaitan dengan pengiriman dan penyimpanan barang. Biasanya yang paling merasakan dampak dari biaya ini adalah franchisee yang bergerak di bidang makanan dan minuman (f&b), karena bisnis f&b bergantung dengan masa pakai bahan baku. Biaya pengiriman akan semakin “terasa” apabila jarak lokasi supply bahan bakunya berjauhan dengan lokasi gerai Anda, karena di sana ada biaya pengiriman yang tidak sedikit dan akan terus terjadi selama Anda menjadi franchisee. Selain biaya pengiriman, akan ada juga biaya maintenance bahan bakunya, seperti biaya listrik yang digunakan, dan pembelian peralatan pendukung (seperti kulkas, dll). Apabila biaya-biaya tersebut berkaitan langsung dengan jumlah produksi Anda, maka Anda perlu memasukkannya ke dalam komponen HPP (Misal: bahan baku Tahu untuk bisnis Tahu Crispy). 3. Biaya Rekrutmen dan Pelatihan Kita semua tahu bahwa keunggulan dari bisnis franchise adalah bisnisnya dapat diduplikat. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menduplikasi bisnis franchisor adalah menurunkan keterampilannya kepada franchisee lewat rekrutmen dan training yang disediakan. Pada segmen ini, Anda perlu perhatikan pada saat kesepakatan awal, apakah biaya rekrutmen dan training sudah include ke dalam biaya awal waralaba? Jika memang belum, maka Anda perlu memasukkan komponen ini ke dalam komponen biaya Anda. Lebih dari itu, apakah bentuk pelatihannya berkelanjutan? Jika memang iya, Anda perlu memasukkannya lagi ke dalam komponen biaya Anda. 4. Biaya Kunjungan Audit Ini merupakan biaya yang opsional, bergantung pada bagaimana kebijakan franchisor Anda nantinya. Jika dibebankan kepada franchisee, berarti Anda wajib mempersiapkannya. Oleh karena itu, mengamati tiap butir perjanjian waralaba menjadi hal yang sangat penting supaya Anda bisa melakukan kalkulasi yang akurat. Namun bila gerai yang ingin Anda beli masih di tahap usaha kemitraan gerobakan atau kontainer yang berada disamping minimarket, Anda mungkin belum membutuhkannnya. Tetapi jika gerai yang ingin Anda buka sudah di tahap lanjut yang notabene lebih besar dan keuangannya sudah tidak bisa dikelola secara tradisional, Anda perlu menyiapkan budgeting untuk biaya tim accountant & audit.

Read More (695 views)
Blog post
11 Mei'22

Kupas Tuntas Beda Waralaba, L…

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa penawaran kemitraan dan BO seringkali menggunakan istilah waralaba? Mengapa beberapa merek menyebutkan bahwa kerja samanya adalah pemberian lisensi, dan perjanjiannya disebut sebagai Perjanjian Lisensi? Ciri-ciri Waralaba Ciri-ciri bisnis waralaba atau franchise adalah: (1) terjadi penggunaan bersama dari merek milik Pemberi Waralaba oleh Penerima Waralaba, (2) ada standar operasional dan pengendalian (Quality Control) yang signifikan oleh Pemberi Waralaba, (3) ada Kegiatan Pemasaran yang terpusat atau dikoordinir oleh Pemberi Waralaba, dan (4) ada Biaya intangible (tidak berwujud barang) yang dibayar bulanan dan/atau di muka kepada Pemberi Waralaba atau pihak lain sebelum Bisnis mulai beroperasi.   Regulasi Waralaba Regulasi waralaba di Indonesia mewajibkan bahwa pemilik Bisnis yang hendak menawarkan kerja sama waralaba untuk mendaftarkan prospektus penawaran waralabanya ke Kementerian Perdagangan agar mendapatkan ijin berupa Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) sebagai Pemberi Waralaba. Persyaratannya antara lain harus sudah membukukan laba usaha dalam 2 tahun terakhir, memiliki keunikan, memiliki dokumentasi standar operasional yang sudah tertulis, memiliki sistem support seperti pelatihan, dan khusus untuk usaha skala menengah laporan keuangan 2 tahun terakhirnya wajib teraudit oleh auditor independen. Regulasi yang ketat ini mengakibatkan beberapa pebisnis yang hendak menawarkan waralaba akhirnya menggunakan istilah lain, seperti Lisensi, BO, dan Kemitraan. Waralaba vs Lisensi Yang terjadi dalam Lisensi adalah penggunaan merek (dan/atau unsur Hak Kekayaan Intelektual yang lainnya: hak cipta, design, dsb.) dan pembayaran royalti kepada Pemberi Lisensi. Contoh sederhana adalah Pemberian Lisensi gambar Mickey Mouse (MM). Penerima Lisensi diberi hak menggunakan atau memasang gambar MM di botol minuman, namun untuk kegiatan dan strategi pemasaran botol minuman itu sepenuhnya dilakukan oleh Penerima Lisensi. Meski demikian, biasanya Pemberi Lisesi memiliki hak untuk memeriksa materi promosi dan kualitas produk yang hendak dijual oleh Penerima Lisensi. Selain Lisensi Hak Cipta atas karya design seperti karakter MM tersebut, pembelian lisensi biasanya kita jumpai dalam bisnis farmasi. Penulisan “under license” di kotak kemasan obat adalah contoh kerja sama dalam bentuk pemberian lisensi. Dalam konteks waralaba, pemilik merek yang sudah terbit sertifikatnya tapi belum memenuhi syarat pendaftaran STPW biasa dijumpai menggunakan istilah Perjanjian Lisensi Merek. Berbeda dengan pemberian lisensi, Pemberi Waralaba McD misalnya, akan menyusun kegiatan dan strategi pemasaran untuk seluruh jaringan waralabanya. Penerima Waralaba dapat mengajukan proposal kegiatan pemasaran lokal, yaitu khusus outlet yang bersangkutan, atau untuk area tertentu. Selain itu format bisnis, tim manajemen dan organisasi dari Penerima Waralaba harus mengikuti standar yang sudah disusun oleh Pemberi Waralaba. Satu hal yang wajib diperhatikan adalah, sebelum HKI resmi terdaftar dalam bentuk terbitnya sertifikat (Merek, Paten, Hak Cipta, dsb), kita tidak berhak menyebut kerja sama kita sebagai Pemberian Lisensi. BO (Business Opportunity) dan Kemitraan BO dipahami sebagai penawaran kerja sama yang belum teruji keberhasilannya, meski sebenarnya penawaran Kerja sama BO seyogyanya sama dengan waralaba, yaitu sudah teruji mampu menghasilkan laba usaha. Jadi, BO seharusnya sudah seperti waralaba tapi tidak mendaftarkan diri sebagai waralaba. Kemitraan biasa digunakan pula untuk kerja sama BO, karena istilah “mitra” yang menjadi sebutan bagi investor yang membeli BO.   Salah satu kekurangan dari BO dan kemitraan biasanya berupa tidak adanya Quality Control (QC), karena biaya yang dibebankan kepada mitra BO tidak memenuhi skala ekonomis untuk keperluan QC ini. Tentu hal ini memiliki konsekuensi berupa risiko tidak standarnya kualitas produk dan layanan di jaringan bisnis yang menggunakan pola BO tapi menyertakan merek tertentu. Terkait masalah tidak adanya QC, saya sering menganjurkan penjualan BO berupa paket usaha ini dilakukan tanpa menyertakan merek. Bila ingin menampilkan merek, cukup dengan menyertakan merek sebagai identitas bahan baku saja seperti Blue Band di berbagai outlet yang menjual “terang bulan”. Istilah “kemitraan” itu sendiri memiliki makna yang sangat luas, mencakup bentuk kerja sama join venture (JV), inti-plasma, keagenan, waralaba, dan sewa imbal hasil, sebagainya. Persepsi Masyarakat Meski memiliki perbedaan yang cukup hakiki seperti uraian di atas, persepsi masyarakat mengenai waralaba, lisensi BO dan kemitraan relatif tidak ada perbedaan. Dalam praktek, hal ini sebenarnya tergantung pada konsistensi pemilik merek. Mungkin saja penawarannya adalah lisensi dan BO atau kemitraan, tapi esensi kerja samanya benar-benar memenuhi ciri-ciri waralaba sebagaimana yang diuraikan di atas. Di sisi lain, bisa juga mengaku waralaba tapi tidak menjalankan benar ciri-ciri waralaba tersebut. Kesimpulannya, pembeli alias calon investor, calon mitra, atau calon franchisee harus menggali sendiri mengenai hal-hal yang akan diimplementasikan dalam kerja sama tersebut.

Read More (1022 views)
Blog post
28 Apr'22

5 Langkah Mudah Menjadi Franc…

Ingin punya bisnis tapi belum memiliki pengalaman? Anda bisa memilih franchise sebagai alternatifnya. Model bisnis ini cocok bagi Anda yang belum memiliki pengalaman karena dapat memperkecil tingkat risiko. Mengapa tingkat risikonya lebih kecil? Karena model bisnis franchise memungkinkan Anda menjalankan bisnis milik pihak lain yang sudah berhasil berikut dengan merek dan sistemnya. Selain itu, franchisor (pemilik merek) juga akan memberi support dan pelatihan kepada franchisee (pihak lain yang menggunakan merek franchisor). Jadi, jika anda adalah seorang: Yang ingin berbisnis namun belum mempunyai pengalaman Karyawan yang ingin memiliki pendapatan sampingan Calon pensiunan yang ingin memiliki pendapatan tambahan di masa pensiun Maka Anda wajib mengikuti terus artikel kali ini untuk mengetahui bagaimana caranya menjadi franchisee. #1 Cari Peluang Franchise/Kemitraan yang Anda Minati Salah satu miskonsepsi terbesar tentang industri franchise adalah banyak yang mengira industri ini hanya berisi makanan & minuman. Nyatanya hal tersebut keliru karena di Direktori Franchise, Anda bisa menemukan 2000+ penawaran franchise & kemitraan dari berbagai sektor, mulai dari makanan & minuman, retail, laundry, beauty & healthy, ekspedisi, bahkan sampai pendidikan. Usahakan memilih bisnis franchise yang memang Anda minati dan ketahui basic knowledge-nya. Sehingga anda tidak terlalu buntu dan memiliki landscape besarnya yang akan membantu beradaptasi lebih cepat. Anda bisa mendapatkan informasi mengenai penawaran franchise & kemitraan dari berbagai platform di internet, salah satunya Klikfranchise. Di sini anda akan menemukan beragam penawaran franchise/kemitraan beserta data hak kekayaan intelektual, biaya, sampai kontak personnya, lho! #2 Screening Franchise Sesuai Budget Setelah menemukan beberapa franchise yang anda minati dari segi produk dan bidang usahanya. Maka tahap berikutnya, yaitu sesuaikan dengan budget Anda. Sebagai calon franchisee, yang harus anda persiapkan tidak hanya modal untuk membeli franchise, tetapi ada beberapa komponen biaya lainnya. Antara lain: Biaya sewa lokasi di tempat yang sudah ditetapkan Modal operasional, paling tidak harus mencukupi untuk membiayai 3 bulan operasional bisnis Dana darurat bisnis paling tidak untuk meng-cover tiga kali biaya operasional #3 Screening Proyeksi Keuangan Franchisor Langkah ketiga ini menjadi isu yang penting karena berkaitan dengan masa depan gerai franchise Anda. Seringkali ditemui penawaran kemitraan yang berusaha mengecilkan biaya awal supaya bisa menjangkau calon konsumennya. Selain itu, proyeksi penjualannya juga sering ditemui tidak masuk akal dan cenderung sulit dicapai. Lebih parahnya lagi, ada bisnis yang baru beroperasi beberapa bulan namun langsung menawarkan peluang usaha kemitraan kepada pihak lain. Alangkah baiknya anda memeriksa kembali proyeksi keuangan franchisor tersebut. Anda bisa membaca artikel sebelumnya untuk mengetahui cara sederhana kroscek proyeksi keuangan franchisor ataupun menggunakan fitur Kalkulator Franchise untuk mendapat gambaran proyeksi keuangan dengan lebih obyektif. Dari sana Anda dapat memutuskan apakah proyeksi keuangan tersebut wajar & achievable atau justru menyesatkan. #4 Pelajari Perjanjian Waralaba Tahap ini cukup penting sebelum Anda mulai “mengeksekusi” bisnis franchise. Pastikan sebelum menandatangani perjanjian waralaba, anda telah membaca dan mempelajarinya dengan seksama, sehingga di masa yang akan datang tidak ada miss pada detail yang penting. Mengapa perjanjian waralaba penting? Karena perjanjian waralaba sendiri berisi tentang kesepakatan hak & kewajiban kedua belah pihak, yaitu franchisor dan franchisee dalam masa waktu tertentu. Oleh karena itu, kedua belah pihak wajib memiliki pemahaman yang sama supaya tidak ada konflik nantinya. Mengutip Majalah Franchise, hal-hal yang termuat dalam perjanjian waralaba antara lain: Jangka waktu Teritorial Hak & kewajiban Hak kekayaan intelektual Biaya-biaya Dukungan dari franchisor Batasan-batasan (Do & Don’t) Exit strategy #5 Jalankan Bisnis & Evaluasi Setelah semua sudah dilakukan, saatnya  menunggu franchisor melakukan set-up di gerai Anda dan bisnis siap beroperasi! Saatnya Anda mulai berbisnis, jalankan SOP dari franchisor dan jangan menyimpang. Penting untuk melakukan evaluasi berkala supaya bisnis franchise anda mengalam progres positif. Anda juga dapat menerapkan prinsip pareto dan filosofi kaizen supaya perkembangan yang berkelanjutan bisa terjadi di bisnis franchise anda. Walaupun nantinya bukan anda yang terjun langsung ke bisnis, tetapi tak ada salahnya mengikuti pelatihan yang diberikan oleh franchisor. Hal tersebut dimaksudkan supaya Anda mengetahui sampai ke hal detail di gerai Anda. Bukankah keputusan yang baik datang dari informasi yang tidak setengah-setengah? Perlu menjadi perhatian, menjalankan bisnis franchise tidak semata-mata menghilangkan keseluruhan risiko. Itu karena bisnis franchise hanya akan meminimalkan risiko yang ada, tidak menghilangkan. Semoga bermanfaat dan sukses di gerai pertama Anda!

Read More (798 views)
Blog post
14 Apr'22

Wajib Tahu: 6 Pilihan Strateg…

Penawaran Waralaba pada umumnya menggunakan skema Single Unit Franchise, yang berarti hanya untuk SATU lokasi saja. Sebenarnya ada 6 pilihan strategi penawaran waralaba (franchise) sebagaimana akan dijelaskan dalam blog ini. Single Unit Franchise Melalui penawaran Single Unit Franchise (SUF), franchisor hanya memberi hak kepada franchisee untuk memiliki satu outlet saja. Bila hendak membuka outlet kedua, maka franchisee akan menandatangani perjanjian waralaba SUF yang baru lagi. Multi-Unit Franchise Melalui penawaran Multi Unit Franchise (MUF), franchisor memberi hak kepada franchisee untuk memiliki sejumlah outlet dalam jumlah yang sudah ditentukan, dengan batas waktu tertentu untuk memenuhi jumlah outlet itu. Dengan skema ini, selain menggunakan persyaratan biaya awal yang disetor penuh di muka, bisa saja biaya awal waralaba dikemas (dipecah) dalam dua istilah, yaitu (1) biaya awal waralaba saat penandatanganan multi-unit franchise agreement, dan (2) biaya awal untuk setiap pembukaan outlet. Bila MUF dibatasi dalam wilayah tertentu (kota, propinsi, atau negara), maka kita bisa menyebutnya sebagai Area Developer dengan menggunakan perjanjian yang disebut Area Development Agreement. Area Development Sebagaimana dijelaskan tadi, Area Development adalah MUF dalam suatu wilayah tertentu, bisa satu kota, atau satu provinsi, atau satu negara. Untuk mengejar target jumlah unitnya dalam rentang waktu tertentu (biasa disebut Target Development), Area Developer tidak memiliki hak untuk subfranchising, namun bisa mengembangkan kerja sama dengan pihak lain dalam bentuk “sewa imbal hasil”. Ini yang dilakukan oleh KFC dan McD. Sewa imbal hasil ini bisa juga dalam bentuk sewa tanah dengan BOT (Build Operate Transfer) bangunannya. Tentu saat transfer nanti harus dihapuskan atau disamarkan ciri-ciri brand franchisor. Master Franchising Master Franchising itu semacam Area Developer tapi dengan hak subfranchising, artinya dapat menunjuk pihak lain sebagai pemilik unit bisnis. Master Franchisee biasanya memiliki peran yang sangat mirip dengan franchisor. Perbedaannya mungkin sebatas kepemilikan HKI dan “inti resep rahasia” (bumbu inti yang dirahasiakan pada waralaba bisnis kuliner) kalau ada. Master Franchisee wajib memiliki kemampuan dalam menyeleksi calon franchisee (subfranchisee), menyeleksi lokasi, menyelenggarakan pelatihan, audit, dan memastikan kelancaran system support di wilayahnya. Keputusan menggunakan strategi Master Franchising harus dilakukan dengan super hati-hati, karena margin keuntungan yang semula hanya berbagi antara franchisor dan franchisee kini harus dibagi kepada 3 pihak: Franchisor, Master Franchisee, dan Subfranchisee. Regional Franchising, Area Franchising Terkait dengan Master Franchising, muncul pula istilah Regional Franchising dan Area Franchising. Dua istilah ini biasanya dimaksudkan untuk area yang lebih kecil dari satu negara, dan pada umumnya diterapkan di negara-negara yang sangat luas seperti Amerika Serikat dan China. Bila istilah ini diterapkan dalam level Master Franchise, artinya tidak ada Master Franchise di antara Area Franchisee dan Franchisor, maka perlakuannya sama saja dengan Master Franchisee. Bila akan ada lagi Master Franchise di tengah-tengah mereka, maka tingkat laba bisnis menjadi sangat critical, karena akan dibagikan kepada 4 pihak, yaitu: franchisor, Master Franchisee, Regional/Area Franchisee, dan subfranchisee. Beberapa brand franchise tumbang karena menerapkan skema berbagi dengan 4 pihak ini. Multi-Country Master Franchising Salah satu bentuk Master Franchising yang kadang kita temui adalah pemberian hak Master Franchise untuk beberapa negara. Yang cukup umum adalah wilayah waralaba Singapura, Malaysia dan Indonesia sebagai satu kesatuan. Ada juga yang mendapatkan hak untuk negara Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Dalam memutuskan multi-country master franchising, tentu saja franchisor akan menilai kompetensi serta jaringan dan relasi bisnis dari kandidat multi-country master franchisee-nya. Catatan: Multi-Country Master Franchise ini kadang disebut Regional Master Franchise, artinya ketika kita mendengar istilah Regional Master Franchise maka kita perlu melakukan konfirmasi ulang, regional ini multi-country atau area franchise (negara bagian, atau provinsi di bawah suatu negara yang sangat luas).

Read More (1434 views)
Blog post
17 Mar'22

Hati-hati: MLM mengaku Warala…

Akhir-akhir ini muncul kembali fenomena Multi Level Marketing (MLM) yang menggunakan istilah “Franchise Individu” dalam melakukan rekrutmen anggota. Meski waralaba dan MLM sama-sama merupakan suatu penawaran peluang bisnis, keduanya tidak persis sama. Franchisee tidak wajib melakukan kegiatan rekrutmen member yang menjadi karakteristik MLM. Dari segi dana investasi, untuk bisa menjadi Franchisee dibutuhkan dana yang relatif tinggi karena terkait dengan membangun suatu bisnis yang lengkap dengan sistem administrasi dan fungsi-fungsi bisnis lainnya seperti pemasaran lokal, penjualan, serta keberadaan suatu gerai dengan ketentuan adanya stok barang. Untuk menjadi anggota MLM dana yang dibutuhkan relatif rendah, karena tidak perlu membangun gerai, tidak perlu membangun sistem administrasi. Semuanya disediakan oleh perusahaan penyelenggara MLM tersebut. Meski ada yang membangun gerai, misal pada level stockist, umumnya anggota MLM menjalankan secara perorangan tanpa gerai (outlet). Yang dibutuhkan hanya dana untuk membayar biaya harga paket produk awal, joining fee dan atau annual fee. Produk tidak harus distok. Pembelian produk ke penyelenggara MLM bisa dilakukan setelah ada pesanan. Karena berbasis gerai, dalam waralaba dikenal istilah proteksi wilayah waralaba yang berarti di dalam suatu wilayah geografis tertentu Franchisor menjamin tidak ada gerai dengan merek dan model bisnis yang sama. Proteksi dalam MLM adalah dalam bentuk struktur jaringan pemasaran berjenjang (biasa disebut upline dan downline) yang disimpan dalam database perusahaan penyenggara MLM untuk keperluan perhitungan bagi hasil. Pelatihan dalam MLM berfokus pada pengetahuan produk dan rencana bisnis berdasarkan pengembangan jaringan atau struktur berjenjang. Pelatihan dalam waralaba format bisnis lebih terarah pada cara mengelola dan pelaksanaan operasional sehari-hari gerai waralaba. Pelatihan dalam waralaba merek dagang bisa berupa pengetahuan produk dan atau penyelenggaraan operasional sehari-hari gerai waralaba serta strategi pemasaran, termasuk kepuasan pelanggan. Dari segi penyalahgunaan, dalam MLM bisa terjadi penyalahgunaan dalam bentuk struktur piramid dan money game. Money game di sini dapat juga dikamuflase atau ditutupi dengan paket produk yang dijual dengan harga sangat tinggi (tidak normal) sehingga sesungguhnya yang dilakukan adalah member-get-member belaka, bukan konsumsi dan/atau penjualan produk. “Kenakalan” dalam waralaba biasanya dalam bentuk proyeksi keuangan dan asumsi-asumsi yang tidak realistis, biaya-biaya waralaba (biaya awal waralaba dan royalti) yang terlalu tinggi sehingga Franchisee mustahil meraih keuntungan yang wajar dalam menjalankan bisnisnya, serta tidak seriusnya penyelenggaraan dukungan konsultasi operasional sehari-hari dari pihak Franchisor kepada pihak Franchisee. Salah satu ketidakseriusan yang sangat merugikan Franchisee adalah tidak mengelola mereknya dengan benar, termasuk di antaranya tidak mengawasi standar kualitas produk dan layanan pada jaringan gerai waralabanya.  

Read More (1008 views)
Blog post
10 Mar'22

eCommerce & Waralaba

Akhir-akhir ini makin banyak yang menanyakan kepada saya mengenai kebijakan eCommerce dalam sistem waralaba. Meski tidak ada aturan main yang baku, prinsip dasar waralaba yang win-win seyogyanya dijadikan landasan dalam merumuskan kebijakan terkait hal ini. Menurut Michael Leconte, ada 4 model utama yang dapat dipertimbangkan oleh franchisee terkait kebijakan ini. The “Pure-play franchisor” Model Dalam hal ini hanya franchisor yang berhak melakukan eCommerce atau bisnis online. Franchisor membangun divisi tersendiri dan setiap transaksi online diambil oleh franchisor, artinya tidak didelegasikan ke gerai franchisee. Tentu saja kebijakan ini dapat dianggap merugikan franchisee karena menyaingi atau mencuri kue penjualan mereka. The “Pure-play franchisee” Model Berlawanan dengan model “pure-play franchisor”, dalam model ini franchisor membebaskan para franchisee untuk menjalankan bisnis online mereka sendiri di wilayah mereka masing-masing. Model ini tentu lebih beresiko dalam hal standarisasi pengalaman konsumen. Praktek desentralisasi seperti ini juga memiliki resiko penjualan lintas wilayah pemasaran. Konflik antar franchisee sangat mungkin terjadi, meski sangat dimungkinkan untuk menetapkan batasan wilayah penjualan online dalam perjanjian waralaba. The “Shared e-commerce” Model. Menurut model ini, franchisor mengendalikan eCommerce channel (website maupun mobile), namun para franchisee menjadi bagian dari keseluruhan strategi penjualan online tersebut. Transaksi penjualan online menjadi omset franchisee, artinya pengiriman produknya dilaksanakan oleh franchisee. The “Distributed e-commerce” Model Dalam model ini franchisor “menyediakan website” untuk masing-masing franchisee. Setiap franchisee berhak dan berkewajiban untuk melakukan pemasaran secara lokal di masing-masing wilayahnya melalui website tersebut. Model ini menuntut tingkat partisipasi yang lebih tinggi dari para franchisee bila dibandingkan dengan “shared e-commerce”. Dengan lain perkataan, para franchisee harus diperlengkapi dengan pemahaman mengenai bisnis online dan cara melakukan pemasaran online. Franchisor sebaiknya melakukan monitoring (pengawasan), evaluasi dan pelatihan berkala terkait website para franchisee. Model ini bisa saja mengakibatkan perbedaan pengalaman konsumen dalam berselancar di website dan bertransaksi online. Meski demikian, dalam model franchisor masih memiliki ruang kendali bagi franchisor untuk meminimalkan jurang pengalaman tersebut, bila dibandingkan dengan model “pure-play franchisee” (yang memberi kesan seolah franchisor “lepas tangan” sama sekali). Perjanjian Waralaba Akhirnya, hak dan kewajiban terkait 4 model utama ini (dan mungkin saja ada varian atau turunannya) harus dicantumkan secara tertulis dengan lugas dan jelas dalam perjanjian waralaba.   *Artikel ini pernah dimuat di Majalah Franchise pada tahun 2020

Read More (1008 views)
Blog post
28 Feb'22

Multi-Strategy Distribusi dan…

Waralaba sejatinya merupakan salah satu cara mengembangkan usaha. Menurut UU Perdagangan, waralaba merupakan salah satu cara distribusi produk (barang atau jasa) secara tidak langsung. Karena waralaba adalah “salah satu cara”, biasanya pelaku usaha juga melakukan cara lain yang saya sebut sebagai “multi-strategy”. Tentu saja tulisan ini akan membahas multi-strategy terkait waralaba saja. Waralaba dan Distribusi Tidak Langsung Non-waralaba Distribusi tidak langsung non-waralaba adalah yang melibatkan distributor dan pengecer maupun pihak lain seperti sub-distributor dan agen. Pelaku usaha yang sudah memiliki distributor dan pengecer bisa saja menambahkan waralaba sebagai strategi distribusi produknya. Tentu saja keputusan untuk menggunakan strategi waralaba memiliki beberapa konsekuensi yang harus diantisipasi. Jaringan waralaba biasanya memiliki keseragaman formula penentuan harga di suatu lokasi. Sementara toko-toko pengecer dari jaringan distribusi non-waralaba biasanya memiliki kebiasaan tawar-menawar harga, sehingga mereka seringkali dapat menjual di bawah harga yang digunakan jaringan waralaba. Franchisor harus kreatif mendefinisikan “nilai tambah” yang biasanya “intangible”, misalnya dengan menambah jangka waktu masa garansi. Nilai tambah lain berupa voucher untuk pembelian produk lain bisa saja dilakukan, tapi praktek ini berpotensi dianggap mengganggu oleh toko-toko pengecer karena bersifat nominal sehingga dipersepsi sebagai diskon yang head-to-head dengan harga jual mereka. Waralaba dan e-commerce Selain konteks distribusi tidak langsung, franchisor sangat mungkin menekuni distribusi yang menggunakan strategi e-commerce. Terkait strategi ini, idealnya order yang diperoleh melalui internet diberikan kepada franchisee yang lokasinya paling dekat dengan alamat pembeli. Dalam praktek, kebijakan ideal ini memang tidak mudah dilaksanakan. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan stok di gerai terdekat. Oleh karena itu kadang franchisor membangun divisi khusus untuk menangani order melalui internet yang biasa dikenal sebagai e-commerce. Divisi ini memiliki stok yang terpisah dan dikhususkan untuk melayani e-commerce. Waralaba dan Lisensi Khusus di Indonesia, penggabungan strategi Waralaba dan Lisensi bisa terjadi ketika franchisor melakukan kerjasama joint venture (JV). Hal ini karena Pasal 7 Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 53 tahun 2012 menyebutkan bahwa “Franchisor tidak dapat menunjuk franchisee yang memiliki hubungan pengendalian dengan franchisor, baik secara langsung maupun tidak langsung.” Isi pasal peraturan di atas mengakibatkan hubungan antara franchisor dengan “kemitraan JV antara pemilik merek dengan pihak lain” tidak diakui sebagai hubungan waralaba, meskipun hubungan yang dikehendaki dan disepakati para pihak adalah hubungan waralaba. Akibatnya, hubungan seperti ini terpaksa menggunakan landasan hubungan Pemberian Lisensi. Patut dipahami bahwa dalam kejadian tersebut, meski memiliki suatu kerjasama yang menggunakan Perjanjian Lisensi, mungkin saja pada saat yang sama pemilik merek memiliki kerjasama yang menggunakan Perjanjian Waralaba dengan pihak-pihak lainnya. Tentu saja ia harus mendaftarkan prospektus penawaran waralaba dan memperoleh bukti pendaftaran STPW, bila menggunakan Perjanjian Waralaba dengan pihak lain.   Waralaba dan MLM Waralaba yang menerapkan konsep gabungan dengan multi-level-marketing dalam arti mencari downline, atau mencari investor lagi, bukan hal yang wajar dalam praktek waralaba. Bahkan di laman FBI diungkapkan sebagai berikut: “Pyramid schemes—also referred to as “franchise fraud” or “chain referral schemes”—are marketing and investment frauds in which an individual is offered a distributorship or franchise to market a particular product. The real profit is earned, not by the sale of the product, but by the sale of new distributorships. Emphasis on selling franchises rather than the product eventually leads to a point where the supply of potential investors is exhausted and the pyramid collapses.” Skema piramida yang dikenal pula sebagai franchise fraud (kecurangan dalam waralaba) atau skema referal berantai adalah kecurangan dalam pemasaran dan investasi dalam hal seseorang ditawari hak menjadi distributor atau waralaba untuk memasarkan suatu produk tertentu. (Kecurangan ini terjadi) ketika laba-yang-sebenarnya diperoleh bukan dari jual produk, tapi dari (komisi) ketika berhasil menjual distributorship. Penekanan pada menjual waralaba dan bukan menjual produk akan mengakibatkan suatu ketika sulit menemukan investor baru dan akhirnya (bangunan) piramida rekrutmen ini ambruk. Dalam waralaba kita melihat bahwa ada franchisor yang terus-menerus bergantung pada rekrutmen franchisee baru (menjual waralaba terus) dan tidak memperhatikan kelayakan bisnis para franchiseenya. Ketika franchisor seperti ini mengalami kesulitan menjual waralabanya, maka franchisor biasanya menghilang dan para franchiseenya tentu menjadi pihak yang dirugikan. 

Read More (1014 views)
Blog post
24 Feb'22

Cara Mudah Memeriksa Proyeksi…

Seringkali kita melihat penawaran waralaba dan kemitraan dengan proyeksi keuangan yang “mencengangkan”. Misalnya bisnis kuliner yang menjanjikan balik modal hanya dalam waktu 3 bulan saja. Tentu kita yang masih awam dengan bisnisnya bertanya-tanya, apakah proyeksi tersebut nyata? Lalu, bagaimana memastikan proyeksi keuangan tersebut benar atau salah? Dengan kata lain, kita ingin membuktikan realistis atau tidaknya proyeksi keuangan tersebut. Salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah dengan mendiskusikan langsung ke ahlinya, yaitu konsultan bisnis dan waralaba. Namun tidak semua orang memiliki “akses” kesana karena beberapa alasan, bisa jadi karena dana, koneksi, dsb. Oleh karena itu, Klikfranchise merangkum beberapa hal berikut yang bisa Anda gunakan setidaknya sebagai “filter awal” dalam menyeleksi bisnis yang Anda minati. # Periksa “Definisi” Balik Modalnya Biasanya kekeliruan ini terjadi pada “franchisor” yang menghitung balik modal menggunakan akumulasi nilai pendapatan, bukan dari akumulasi laba usaha. Dalam pengelolaan bisnis, menghitung balik modal bukanlah dari pendapatan karena masih “bruto” (belum menghitung pengeluaran operasional, dll). Perhitungan balik modal yang tepat adalah menggunakan akumulasi laba usaha. Sehingga operasional bisnis tidak akan terganggu jika uang modal awalnya diambil. Umumnya franchisor yang keliru ini adalah pelaku bisnis kemitraan dan paket usaha, bukan franchisor sungguhan. # Gunakan Logika Sederhana Cari tahu lebih jauh bisnsinya, kapan pertama kali bisnis tersebut berdiri. Jika proyeksi keuangan mereka menjanjikan balik modal dalam waktu 3 bulan, logika sederhana akan bilang: “Bisnis tersebut sudah berdiri sekian tahun. Jika 3 bulan sudah bisa balik modal, pasti mereka bisa buka cabang sendiri dan boleh jadi cabangnya sudah banyak.” Bila nyatanya bisnis tersebut sudah lama dan jumlah cabangnya belum banyak (jika dibandingkan balik modal yang hanya 3 bulan). Maka, Anda sudah tahu harus percaya atau meragukannya. # Apakah Penjualannya Masuk Akal? Lebih lanjut, Anda bisa melihat berapa jumlah penjualan yang ditargetkan. Berdasarkan pengalaman penulis, ada kemitraan yang mematok jumlah penjualan masih “tidak masuk akal”. Sebut saja bisnisnya adalah minuman Thai Tea kekinian. Ia membuat proyeksi penjualan 5000 cup dalam waktu satu bulan, yang berarti sekitar 166-167 cup dalam satu hari. Walaupun terdengar masih masuk akal, tetapi penulis memilih untuk meragukannya. Penulis tidak yakin penjualan sebanyak itu akan bisa achieve. Boleh jadi memang achieve, tetapi mungkin tidak di semua gerai. Potensi achieve-nya kecil, hanya di gerai-gerai unggulan saja. # Bagaimana Jika Informasi Balik Modal Tidak Diinformasikan? Kebalikannya, jika informasi berapa lama balik modalnya justru tidak diinformasikan. Anda dapat menggunakan Kalkulator Franchise. Fitur inovatif ini dibuat oleh Klikfranchise untuk mempermudah Anda dan calon franchisee lainnya untuk mengetahui kapan waktu balik modal suatu penawaran bisnis. Keempat cara diatas akan berguna untuk filter awal Anda bila mendapat informasi mengenai waralaba dan kemitraan tertentu. Ada satu ungkapan yang cocok dalam bahasan kali ini:  “If it too good to be true, it is too good to be true” Meski ungkapan tersebut tidak selamanya benar. Tetapi, jika memang sesuatu itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, maka waktunya anda menjadi konservatif!

Read More (902 views)
Blog post
17 Feb'22

Gerai Flagship Boleh Rugi?

Gerai Flagship adalah gerai yang lokasinya sangat strategis, banyak dilihat orang. Lokasi seperti apa yang biasanya menjadi gerai flagship? Di lokasi non-tradisional: bandara, stasiun kereta api, lokasi wisata Ruko di jalan raya utama, atau jalan protokol Di dalam mall, di titik lokasi yang strategis Selain high traffic, gerai flagship seyogyanya juga memiliki kriteria high visibility alias mudah terlihat oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Gerai flagship harus mempertimbangkan pula profil target pasarnya. Traffic tinggi sebaiknya mayoritas merupakan target pasarnya. Gerai flagship, karena faktor lokasi dan ukuran yang sengaja dibikin lebih luas dari biasanya, kadang terlalu mahal harga sewanya, sehingga sulit mencapai skala ekonomis yang dibutuhkan, bahkan tak jarang franchisor merugi. Namun karena lokasinya yang strategis, franchisor menganggap keterlambatan pengembalian modal (bahkan kerugian) ini sebagai biaya promosi. Bila sudah mempertimbangkan profil traffic dan profil target pasar alias profil pelanggan, meski labanya tidak terlalu tinggi, seyogyanya gerai flagship ini tidak sampai terlihat sangat sepi. Omset Lumayan Tinggi, Laba Rendah? Salah satu ujian mental terkait gerai flagship ini adalah omset sudah lumayan tinggi tapi labanya tergolong rendah. Misal untuk omset yang sama di gerai biasa labanya bisa 20%, di gerai flagship hanya 10%. Hal ini dikarenakan selisih biaya sewa (sekali lagi, ini faktor lokasi dan ukuran luas gerai) dan service charge atau iuran lingkungan, mungkin juga faktor biaya utilities-nya. Faktor lain mungkin biaya pajak reklame, karena signage Anda relatif lebih besar dari biasanya di gerai flagship ini. “Capeknya sama, hasilnya dikit,” mungkin pernyataan seperti ini yang jadi keluhan di dalam hati Anda. Bila hal ini Anda alami, ingat bahwa ada unsur “promosi gratis” yang Anda nikmati dalam hal gerai flagship Anda. Bahkan bila Anda mengalami kerugian (tipis) di situ, anggap saja sebagai biaya promosi. Lokasi, Ukuran, Penampilan Selain unsur lokasi dan ukuran luas, kadang gerai flagship juga memiliki penampilan yang lebih wah. Maklum, tujuannya adalah pencitraan alias membangun image yang positif. Bila Anda belum punya gerai flagship, dan bila arus kas bisnis Anda memungkinkan, silakan dipertimbangkan untuk membangun gerai flagship ini. tambahan, gerai flagship sebaiknya merupakan gerai milik franchisor, bukan franchisee.

Read More (785 views)
Blog post
07 Feb'22

Lebih Untung dengan Retrofran…

Retrofranchising adalah satu istilah yang digunakan oleh Michael Seid untuk proses penjualan gerai milik franchisor (franchisor owned outlet) yang belum pernah menjadi milik franchisee. Bila suatu gerai sudah pernah menjadi milik franchisee, kemudian dibeli oleh franchisor, lalu dijual kembali kepada franchisee yang lain, maka prosesnya disebut refranchising. Keduanya biasa kita kenal dengan sebutan “take over”, artinya Anda mengambil alih dari franchisor, atau dari franchisee dengan restu dari franchisor. Pengambilalihan kepemilikan bisnis franchisee biasanya memang harus mendapat restu dari franchisor. Hampir semua perjanjian waralaba memberi hak kepada franchisor untuk mengambilalih lebih dulu bila franchisee hendak menawarkan kepada pihak lain. Salah satu alasannya antara lain untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerjanya sebelum dijual kembali kepada pihak lain. Dalam hal kinerjanya sudah baik, biasanya franchisor akan merestui calon investor baru apabila kandidat tersebut memiliki kriteria yang sesuai dengan profil franchisee yang dikehendaki franchisor, seperti: taat atau tunduk pada sistem, tidak merongrong kebijakan franchisor, kompeten untuk menjalankan bisnis tersebut (bila franchisor mengharuskan franchisee owner operator), memiliki kecukupan dana, dan beberapa kriteria lainnya. Kinerja Bagus Kok Dijual? Kalau kinerjanya sudah baik, mengapa dijual oleh franchisee? Mungkin pertanyaan ini langsung muncul di benak Anda. Kebutuhan keuangan yang mendesak adalah alasan yang paling sering terjadi. Beberapa di antaranya: kebutuhan membayar biaya operasi orangtua atau anggota keluarga lainnya di Rumah Sakit, kebutuhan biaya pendidikan anak yang hendak masuk perguruan tinggi atau kuliah di luar negeri, kebutuhan untuk melunasi hutang yang jatuh tempo di bisnis lain milik franchisee, dan sebagainya. Fenomena retrofranchising biasa dijumpai di jaringan waralaba yang sudah memiliki gerai sangat banyak dan franchisor dengan agresif melakukan pembukaan gerai milik sendiri seperti Indomaret dan Alfamart. Meski demikian, hal ini bisa saja terjadi pada waralaba yang jaringannya belum cukup besar, terutama apabila franchisor menggunakan strategi buka dulu sendiri, lalu dijual untuk kemudian membuka kembali di lokasi lain (open-sell-open). Keuntungan Retrofranchising dan Refranchising Keuntungan retrofranchising dan refranchising antara lain franchisee bisa langsung mulai berbisnis, tak perlu menunggu proses persiapan pembukaan gerai yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Bila Anda melalui prosedur biasa untuk menjadi franchisee, Anda harus melalui proses survei lokasi, renovasi, rekrutmen SDM, pelatihan, dan lain lain. Dengan retrofranchising maupun refranchising total nilai penjualan dan margin keuntungan lebih mudah diperkirakan (more predictable) dibandingkan dengan membangun gerai baru. Arus kas juga sudah terlihat. Hal ini membuat proses kredit di bank lebih cepat dan mudah didapat. Keuntungan lainnya adalah anda memperoleh SDM yang sudah berpengalaman. Nilai penjualan dan margin keuntungan yang baik biasanya mencerminkan kompetensi SDM yang mengoperasikan gerai tersebut. Yang Perlu Diperhatikan Pastikan anda memperoleh SDM yang trampil dan kompeten. Jangan segan untuk bertanya siapa saja SDM yang akan ditransfer kepada Anda, tim yang sekarang menjalankan operasional sehari-hari, atau tim SDM yang baru, atau kombinasi dari kedua pilihan itu. Bila Anda melakukan take over langsung dari franchisee, pastikan Anda memiliki keyakinan bahwa Anda mampu memperbaiki kinerjanya. Gerai yang dilepas oleh franchisee tak jarang dikarenakan kinerjanya buruk alias di bawah target. Bila faktor lokasi merupakan penyebab kurang berhasilnya para franchisee yang pernah mencoba menjalankan bisnis waralaba tersebut, maka nasib Anda mungkin tidak jauh berbeda dari mereka. Pengertian faktor lokasi di sini bisa beragam. Mulai dari kurang strategisnya lokasi tersebut untuk mendatangkan pelanggan, hingga terlalu mahalnya biaya sewa dan operasional. Bukankah sewa dan biaya operasional di mal lebih tinggi daripada di ruko, dan sewa di beberapa mal tertentu lebih tinggi daripada mal yang lain? Dalam beberapa kasus, bisnis waralaba di mal hanya menguntungkan jika dijalankan oleh franchisor. Karena tidak ada biaya-biaya waralaba seperti biaya awal waralaba dan royalti, kinerja keuangan beberapa bisnis waralaba di mal terlihat baik di tangan franchisor namun tidak cukup baik ketika dikelola oleh franchisee. Selain lokasi, kualitas SDM merupakan faktor yang sering menjadi penyebab kurang berhasilnya suatu gerai waralaba. Bila Anda yakin mampu memperbaiki, namun kualitas SDM tidak mumpuni, maka keyakinan Anda tidak akan terwujud sesuai rencana. Anda tertarik menjadi franchisee melalui skema retrofranchising? Refranchising? Hubungi franchisor dan tanyakan apakah ada gerai yang sudah beroperasi yang ditawarkan. Jangan lupa untuk melakukan validasi segala informasi yang Anda peroleh, dan menghitung dengan cermat kelayakan harga yang ditawarkan. Semoga informasi di atas bermanfaat bagi Anda …

Read More (745 views)
Blog post
04 Feb'22

Gerai Acuan, Apa Saja yang Pe…

Gerai acuan atau model outlet adalah showcase franchisor mengenai seperti apa bentuk gerai, sekaligus standar operasional yang akan dijalankan. Dalam hal ini gerai acuan bukan sekedar gambar yang indah dipandang, melainkan harus sudah ada dan terbukti mendukung asumsi dan target-target keuangan yang disajikan dalam proposal penawaran waralaba dari franchisor. Gerai acuan tidak selalu sama dengan gerai pertama. Pilot Outlet = Gerai Pertama Bebek Pak Ndut adalah contoh yang sangat baik untuk menjelaskan keistimewaan gerai pertama ini. Pak Agus Ahmadi mengungkapkan bahwa ia ingin mengimplementasikan layanan profesional, seperti greetings dan SOP (pedoman operasional) lainnya. Tapi kalau diterapkan di gerai pertamanya, maka pelanggan lama yang sudah loyal bisa mengernyitkan alis dan merasa canggung disapa dengan formal. Demikian kegundahan pendiri restoran yang sudah berekspansi hingga ke negara Singapura itu. Waktu itu saya menyarankan untuk membuka gerai baru di kota Solo untuk dijadikan Model Outlet, atau Gerai Acuan. Dengan demikian, nuansa non-formal (bukan berarti tidak profesional) dapat ditemukan di gerai pertamanya. Model Outlet = Gerai Acuan Kata waralaba membangun suatu persepsi keseragaman gerai, dan gerai acuan adalah model outlet untuk keseragaman tersebut. Meski demikian, keseragaman ini bukan sesuatu yang kaku. Kasus per kasus, bila dianggap perlu, bisa saja dipertimbangkan untuk mengecualikan satu dua outlet. Gerai Acuan & Fleksibilitas McDonald’s misalnya, adalah bisnis waralaba yang sangat kental dengan citra sebagai identitas yang “seragam”. Tak banyak yang tahu bahwa ada gerai McDonald's di Amerika Serikat bernuansa bunga, dan gerai ini mendapat penghargaan dari Walikota setempat. Menyiapkan Gerai Acuan Gerai acuan tidak harus dibangun dari nol. Pewaralaba bisa merombak salah satu gerai yang sudah ia miliki untuk dijadikan sebagai gerai acuan. Bagaimana dengan gerai lainnya? Biasanya renovasi terhadap gerai-gerai yang sudah ada dilakukan secara bertahap. Hal ini dikarenakan (calon) pewaralaba harus menjaga arus kas keuangannya. Laundry Zone misalnya, ketika diwaralabakan, sekitar sembilan gerai mula-mula Laundry Zone di Yogyakarta terlihat belum seragam, meski nuansa hijaunya sudah “ditularkan” sebagai warna identitas di semua gerai bisnis laundry kiloan ini. Gerai acuan Laundry Zone adalah gerai yang dibuka menjelang pewaralabaannya. Standarisasi di gerai-gerai yang sudah ada direncanakan menyusul bertahap, mengingat pewaralaba Laundry Zone bukan pebisnis bermodal besar (meski jumlah gerainya sudah lebih dari 10 unit, Laundry Zone adalah bisnis keroyokan beberapa pengusaha kelas UKM). Gerai Acuan & Standar Operasional Sebagian besar pebisnis yang telah memiliki gerai lebih dari satu, biasanya memiliki administrasi pembukuan yang terpusat. Hal ini dapat menyebabkan dalam proses penyusunan Buku Pedoman Operasional kadang terlihat ada jurang (gap) antara sistem yang sedang berjalan dengan yang akan berlaku pada level gerai untuk terwaralaba. Sangat disarankan kepada para pebisnis yang hendak mewaralabakan bisnisnya untuk mengubah salah satu gerainya menjadi gerai yang menggunakan Standar Operasional gerai terwaralaba, terutama apabila sistem administrasi dan pembukuannya yang akan diberlakukan dalam jaringan waralabanya berbeda dengan sistem yang sedang berjalan di gerai-gerai miliknya yang sudah beroperasi, misal dikerjakan sendiri di level outlet alias bukan terpusat. Hal ini sangat penting agar pewaralaba memiliki pengalaman operasional yang sesuai dengan Buku Pedoman Operasional yang ia berlakukan kepada para terwaralaba nantinya. Gerai Acuan & System Improvement Gerai acuan dapat dijadikan laboratorium untuk pengembangan lebih lanjut dari sistem bisnis dan sistem waralaba. Sebelum memutuskan implementasi untuk suatu ide, sebaiknya gagasan tersebut diujicobakan di gerai acuan. Bila ada kekuatiran atas dampak dari ujicoba ini terhadap gerai acuan, bisa juga ujicoba dilakukan di gerai yang memang secara khusus dijadikan sebagai “gerai percobaan”. Tujuan gerai percobaan ini adalah untuk mendapatkan feedback atau tanggapan sebelum hal baru diluncurkan ke seluruh jaringan outletnya. Beberapa aspek lain terkait gerai acuan misalnya mengenai kemampuan mencapai tingkat profitabilitas yang baik dari gerai acuan tersebut. Pengalaman operasional di luar kota asal pewaralaba juga penting, sehingga sangat disarankan pula membangun cabang di luar kota untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu gerai acuan.

Read More (782 views)
Blog post
24 Jan'22

Franchisor, Antisipasi Risiko…

Waralaba (setidaknya skema mirip waralaba) sering dijadikan alternatif untuk pebisnis melakukan ekspansi. Skema waraba dipilih karena memungkinkan ekspansi dilakukan tanpa perlu modal yang besar. Hal ini karena seluruh biaya dan permodalan dalam suatu gerai ditanggung franchisee sepenuhnya. Selain itu, franchisee juga harus membayar biaya-biaya waralaba (franchise fees). Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi risiko bagi franchisor. Berikut kami ‘sajikan’ risiko-risiko yang perlu Anda antisipasi bila hendak menjadi franchisor: 1. Risiko Bisnis Ditiru Risiko ini adalah risiko yang paling sering terjadi, di mana bisnis franchisor seringkali di copy. Entah itu oleh franchisee atau bukan, keterbukaan informasi yang disampaikan franchisor pada saat merekrut mitra untuk menjadikannya franchisee, merupakan salah satu potensi empuk bagi orang-orang (bahkan oleh yang bukan calon franchisee) untuk dapat memahami model bisnis Anda. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, biasanya informasi terkait bisnis yang difranchise-kan diberikan bertahap, jadi tidak langsung diberikan terinci. Bila sudah menjadi franchisee, biasanya ada klausul non-kompetisi dalam Perjanjian Waralaba. 2. Risiko Pencurian Kekayaan Intelektual Level lebih ekstrim dari risiko nomor 1 dan mungkin jarang terjadi, ada risiko pencurian kekayaan intelektual. Katakanlah Anda menemukan sebuah resep baru masakan, yaitu Ayam Goreng Bawang Bombai. Dari bisnis tersebut Anda memiliki beberapa franchisee yang kemudian salah satu darinya membuat bisnis lain tanpa sepengetahuan Anda, menggunakan nama kerabatnya. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, selain melalui klausul non-kompetisi, biasanya ada klausul kerahasiaan dalam Perjanjian Waralaba. Tentu saja aturan hitam di atas putih ini harus disertai pula dengan strategi seleksi yang cermat. Tidak semua kandidat harus Anda setujui permohonannya untuk menjadi franchisee. 3. Risiko Menurunnya Mutu Mutu tidak hanya berbicara mengenai kualitas produk, tetapi juga pelayanan. Mutu merupakan sesuatu yang penting dan menjadi identitas suatu merek waralaba. Misalnya konsumen memiliki pengalaman buruk di suatu gerai, maka konsumen tersebut akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menyamaratakan kualitas di semua gerai merek tersebut. Biasanya jumlah franchisee yang terlalu banyak dan franchisor yang ‘belum siap’ adalah salah satu penyebab risiko ini terjadi. Tips dari Utomo Njoto: Menurunnya mutu tidak dapat dihindari, tapi bisa dikelola. Anda harus mengelola menurunnya mutu ini jangan melewati batas yang bisa diterima oleh pelanggan. Kaum perfeksionis mungkin sulit menerima kenyataan ini, tapi percaya atau tidak, faktanya memang demikian. Itu sebabnya ada pebisnis yang tidak mau buka cabang, tidak mau melakukan franchising. Itu sah-sah saja, karena franchising adalah pilihan. 4. Risiko Menjadi Bisnis “Samudera Berdarah” Risiko ini terjadi ketika merek Anda berhasil melakukan ekspansi di bidang yang sepi pemainnya. Kehadiran banyaknya gerai bisnis Anda akan memancing minat para pemain lainnya. Anda bersama para franchisee telah menunjukkan ukuran kue atau volume pasar yang semula kurang dilirik pemain lain. Bidang bisnis Anda tiba-tiba menjadi sangat kompetitif dan beragam persaingan (harga dan non-harga) terjadi. Secara ekonomi, apabila bisnis telah masuk zona “red ocean” (samudera berdarah) dengan tingkat persaingan yang semakin ketat, maka laba normal akan semakin sulit didapat. Contoh yang sedang trending saat ini adalah bisnis binatu, alias Laundry Kiloan, Laundry Coin, dan sejenisnya. Tips dari Utomo Njoto: Menjadi yang red ocean juga sulit dihindari karena di luar kendali. Peran brand pun kadang sulit untuk diandalkan ketika nilai manfaatnya kurang terlihat. Hanya ada dua pilihan: (1) menjadi yang pertama atau tercepat dalam melakukan ekspansi dengan tetap memperhatikan tingkat laba yang dibutuhkan walaupun menjadi tipis, atau (2) melakukan inovasi yang memiliki nilai manfaat nyata yang relevan sehingga tidak terjebak di dalam samudera yang berdarah-darah itu. Contoh-contoh di atas adalah beberapa risiko yang harus diantisipasi ketika bisnis Anda menjadi waralaba dengan baik. Para franchisor yang hanya berniat menjual unit bisnis (kios, gerobak) sebanyak-banyaknya tanpa peduli pada konsistensi mutu, citra kualitas, kinerja, dan survival para franchisee-nya mungkin tidak peduli juga dengan risiko-risiko tersebut.

Read More (725 views)
Blog post
20 Jan'22

Perlu Tahu, Ragam Cloud Kitch…

Cloud Kitchen adalah konsep bisnis kuliner yang tidak menyediakan tempat untuk dine in. Hal ini berarti pelanggan hanya bisa membeli melalui online delivery, atau take away. Cloud Kitchen biasanya melibatkan 2 pihak, penyelenggara yang menyewakan cloud kitchen (selanjutnya kita sebut “penyelenggara cloud kitchen”) dan tenant atau mitra atau pemilik resep masakan (selanjutnya kita sebut “mitra”) yang menggunakan fasilitas atau menyewa cloud kitchen tersebut. Ide cloud kitchen ini berawal dari upaya menekan biaya operasional, semacam urunan sewa di satu lokasi, dengan pengelolaan administrasi dan pemasaran pula dari pihak penyelenggara cloud kitchen. Konsep yang sedang ramai dibicarakan belakangan ini memiliki beberapa bentuk kerja sama. Salah satu bentuknya bahkan memungkinkan mitra cloud kitchen melakukan ekspansi usaha kulinernya “nyaris tanpa modal”. Murah Cloud kitchen yang “murah” alias nyaris tanpa modal adalah apabila mitra hanya mengirim bahan masakan, atau bahkan sudah dalam bentuk frozen yang tinggal dipanaskan kembali oleh crew yang menjadi karyawan dari cloud kitchen tersebut. Artinya seluruh biaya operasional ditanggung oleh cloud kitchen, mulai dari biaya SDM hingga biaya operasional hariannya. Yang perlu dicermati tentu saja kualitas crew dalam mengolah bahan masakan yang anda supply. Crew atau SDM dapur ini tentu akan merangkap untuk memasak masakan dari beberapa merek. Untuk versi ini, biasanya pihak mitra yang menerima persentase (%( bagi hasil. Laba operasional menjadi milik cloud kitchen. Artinya risiko kerugian juga di pundak penyelenggara cloud kitchen tersebut. Mahal Format kerja sama yang disebut “mahal” adalah apabila cloud kitchen tersebut menganut konsep pujasera alias food court. Pihak cloud kitchen hanya menyediakan tempat yang sudah siap instalasi dapurnya. Peralatan standar mungkin sudah disiapkan, tapi perlengkapan khusus tetap dari mitra alias pemilik merek yang bergabung dengan cloud kitchen tersebut. Dengan demikian area dan peralatannya dedicated untuk mitra atau tenant tertentu, bukan untuk digunakan bersama-sama (shared). Di sini mitra membayar semacam sewa imbal hasil, berupa % dari penjualannya kepada cloud kitchen. Tentu saja mekanismenya adalah penjualan masuk ke kas cloud kitchen, lalu setelah dipotong % tersebut akan dibayarkan selisihnya kepada mitra/tenant. Karena mitra harus menyediakan sendiri peracik dan/atau koki masakannya, maka apabila omset tidak mencapai target, maka risiko kerugian ada di pundak mitra. Berkaitan dengan cloud kitchen, patut dicermati pula program-program promosi yang berpotensi menggerus laba, entah program promosi oleh cloud kitchen atau oleh ojolfood. Group Sendiri Ada pula cloud kitchen yang pada dasarnya merupakan kumpulan beberapa merek group mereka sendiri. Group ini bisa berarti memang sejak semula sudah bernaung di bawah satu manajemen (misal BOGA group), atau group yang terbentuk dari beberapa pihak yang semula merupakan pihak-pihak yang berjalan sendiri tapi kemudian bergabung di bawah satu payung merek cloud kitchen tertentu (tanpa harus meleburkan manajemen bisnis mereka semula). Dengan demikian, cloud kitchen group sendiri berarti memiliki dedicated mitra/tenants yang sama di setiap titik lokasinya. Single Cloud Kitchen Selain cloud kitchen group sendiri, ada juga kemungkinan suatu merek restoran menyewa lokasi lain untuk ekspansi bisnisnya tapi hanya melayani delivery dan take away. Kemudian, untuk meringankan biaya operasional, ia bisa mengajak pihak-pihak lain untuk bergabung di lokasi tersebut dengan pola kerja sama yang disepakati bersama. Biasanya model seperti ini tidak mengibarkan bendera cloud kitchen, tapi di lokasi tersebut bisa dipesan produk-produk kuliner merek lain yang turut bergabung.

Read More (757 views)
Blog post
06 Jan'22

Risiko Franchisee: Opportunit…

Konon ada franchisee kursus komputer yang mengalami pengakhiran (termination) perjanjian kerja sama waralaba karena melayani permintaan in-house training suatu perusahaan yang produknya tidak disediakan oleh franchisor. Kejadian ini sudah cukup lama, dan untuk penjelasan di sini saya ambil contoh yang lebih relevan. Misal franchisor menyediakan kursus yang terbatas pada modul-modul Microsoft Office (Word, Excel, Powerpoint, Visio, dsb). Suatu ketika ada permintaan untuk in-house training mengenai UI/UX dari suatu perusahaan start up. Meski franchisee punya kenalan dosen yang memahami topik UI/UX, apabila franchisor tidak memiliki modul tersebut, biasanya franchisee tidak diperkenankan melayani permintaan khusus seperti ini. Di sini franchisee berpotensi mengalami opportunity loss. Bila dilanggar, risikonya bisa berupa termination (pengakhiran) perjanjian kerja sama waralaba. Contoh lain di bidang retail, misalnya toko sepatu. Misal ada pelanggan yang mencari semir sepatu merek X. Bila franchisor menjual semir sepatu merek A, maka franchisee tidak diperkenankan mencari sendiri, membeli sendiri, lalu menjual semir sepatu merek X tersebut. Tidak banyak franchisee yang memahami risiko ini, kemudian mengalami ketegangan komunikasi dan konflik karena merasa dihalang-halangi oleh franchisor untuk merealisasikan peluang menciptakan penjualan. Mungkin tidak semua franchisor melarang munculnya produk-produk tambahan dari franchisee. Namun pada umumnya franchisor perlu memastikan keamanan citra dan positioning mereknya. Itu sebabnya penambahan item produk tetap perlu mendapat persetujuan dari franchisor. Karena franchisee menggunakan merek franchisor, maka franchisee harus ikut aturan main dari franchisor. Mengapa? Karena franchisor berkepentingan melindungi citra dan positioning mereknya melalui standarisasi produk dan layanannya. Konsekuensinya, muncul risiko opportunity loss ini. Bila Anda membeli franchise retail produk fashion, salah satu bentuk opportunity loss ini bisa berupa out of stock (kehabisan stock) produk yang laris dicari orang. Kehabisan stock seperti ini biasanya terjadi setelah stock anda terjual habis. Franchisor yang produsen/manufaktur, atau vendornya, tidak dapat melakukan produksi ulang bila tidak mencapai jumlah minimum order untuk satu batch production. Akibatnya, Anda tidak dapat melakukan repeat order, dan Anda mengalami opportunity loss. Semoga risiko ini dapat dipahami dan dimaklumi oleh para franchisee. Bila tidak rela dengan risiko ini, jangan beli franchise. Rintislah bisnis dengan merek Anda sendiri.

Read More (783 views)
Blog post
09 Des'21

8 Alasan Mengapa Lebih Baik B…

Sebelumnya perlu digaris bawahi, waralaba yang dimaksud pada artikel ini adalah waralaba yang “mapan”. Mapan dalam arti waralaba tersebut memang dirancang dengan baik dan terkelola. Waralaba sama seperti bisnis pada umumnya. Berinvestasi di waralaba juga memiliki potensi risiko; beberapa mungkin ada yang berhasil, gagal, dan biasa saja. Seringkali calon franchisee terkecoh dengan waralaba yang memiliki pertumbuhan jumlah gerai yang pesat. Seakan faktor tersebut adalah penentu kesuksesan. Berikut adalah 8 alasan mengapa Anda harus membuka gerai waralaba (yang mapan) berdasarkan pengalaman Michael Seid, seorang konsultan dan lawyer franchise, pengarang buku “Franchise for Dummies”. 1. Menjadi Entrepreneur Menjadi franchisee mungkin tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Salah satu pembeda franchisee dan entrepreneur adalah proses pengambilan keputusan. Seorang entrepreneur memiliki keputusan sepenuhnya di tangan mereka. Tetapi jika Anda adalah seorang franchisee, dalam beberapa kasus, akan ada arahan keputusan dari franchisor. Dengan begini, Anda tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Namun, ketika gerai Anda berprestasi ataupun gagal, Anda tetap yang akan merasakannya. Oleh karena itu, menjadi franchisee mirip seperti entrepreneur disisi lain. 2. Berinvestasi Pada Sistem yang Telah Terbukti Dalam sistem waralaba yang mapan, biasanya franchisor akan memberikan fasilitas yang cukup dan mumpuni. Franchisor yang mapan akan memberi pelatihan awal dan berkelanjutan yang dirancang dengan baik untuk para franchisee-nya. 3. Merek Waralaba Memiliki Brand Recognition Biasanya merek franchisor akan membuat bisnis anda lebih mudah dikenal dan lebih cepat mendapatkan pelanggan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui “kekuatan merek” sebelum berinvestasi di waralaba, apakah merek itu kuat di wilayah tertentu atau memang merek telah dikenal di seluruh negeri. 4. Kesalahan Potensial “Dibayar” oleh Franchisor Seperti melakukan bisnis pada umumnya, kesalahan tidak bisa dihindari. Franchisor yang telah berpengalaman, umumnya telah menemukan formula untuk menghadapi permasalahan atau kesalahan tersebut. Anda tidak perlu melewati kesalahan yang bisa saja sangat mahal, yang mungkin telah dialami oleh franchisor. 5. Dukungan Awal & Berkelanjutan Franchisor umumnya memiliki tim profesional untuk menyiapkan gerai dan maintenance selanjutnya. Anda akan mendapat bantuan mulai dari pemilihan lokasi sampai ke pengembangan. Sebelum menjadi franchisee, Anda perlu mengetahui ruang lingkup dukungan dari tim sebelum dan sesudah launching. 6. Networking Sesama Franchisee Umumnya, franchisor akan melaksanakan pertemuan, baik itu nasional, regional, ataupun lokal. Disana Anda akan bertemu sesama franchisee, dan menyadari bahwa masing-masing dari franchisee adalah bagian dari sistem. Pertemuan tersebut dapat menjadi ajang sesama franchisee untuk berbagi pengalaman yang sangat berguna dalam meningkatkan kinerja gerai bisnis Anda. 7. Exit Value Bisnis Bisa Lebih Tinggi Salah satu keistimewaan Anda mungkin saja mendapat “exit value” yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri yang serupa. Hal ini tentu saja bergantung pada merk dan kinerja franchisor.   Namun, bila Anda hendak membeli suatu bisnis waralaba yang sudah berjalan, sebelum melakukan take over pastikan untuk memeriksa isi perjanjian waralaba dengan cermat. 8. Tingkat Keberhasilan Pernyataan ini bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Pernyataan ini sering disalah artikan bahwa “berinvestasi di waralaba memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri”. Tingkat sukses 2 merek waralaba yang berbeda biasanya berbeda, demikian juga dengan tingkat keberhasilan industri waralaba secara umum. Jadi, apabila Anda adalah seorang investor dan ingin menjadi franchisee, maka hal yang bisa dilakukan adalah mengamati beberapa franchisee dari merk waralaba yang hendak Anda beli, dan tanyakan beberapa pertanyaan berikut: Apakah mereka berhasil? Apakah mereka mendapat return yang wajar? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan, apakah waralaba tersebut memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi atau tidak. (terinspirasi dari tulisan Michael Seid)

Read More (789 views)
Blog post
06 Des'21

5 Waralaba Lokal ini Go Globa…

5 Waralaba Lokal ini Go Global - Waralaba adalah model bisnis di mana suatu pihak (franchisee) dapat menjalankan bisnis (berikut merk & sistemnya) dengan izin dari pemiliknya (franchisor). Bisnis yang telah diwaralabakan dapat menjadi bukti betapa “superior” bisnisnya. McDonald’s, Taco Bell, Burger King, dan Dunkin Donuts adalah beberapa waralaba luar negeri yang berhasil go global. Berikut 5 waralaba lokal yang go global: 1. J.CO Donuts Banyak yang mengira J.CO adalah produk luar negeri, kenyataannya, J.CO adalah salah satu waralaba milik anak bangsa. Waralaba yang berfokus pada penjualan donat, yogurt, dan kopi beku ini didirikan oleh Johnny Andrean pada tahun 2005. Saat itu gerai pertamanya berada di Tangerang. Hanya butuh 2 tahun bagi J.CO untuk dapat membuka gerai di luar negeri. Sampai saat ini gerai J.CO masih tetap exist di beberapa negara di Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Saudi Arabia dan Hong Kong. Menjadikannya salah satu contoh bisnis lokal yang berhasil bertransformasi dari usaha kecil menjadi usaha besar. 2. California Fried Chicken CFC Dengan nama yang mirip seperti KFC, banyak yang mengira CFC adalah restoran ayam goreng asal Amerika. Nyatanya CFC adalah waralaba lokal yang sengaja menggunakan nama asing untuk menyasar pasar mancanegara. CFC mulai berdiri pada tahun 1989 dan mulai berhasil membuka gerainya di luar negeri pada tahun 1996 di Tiongkok. 3. Kebab Baba Rafi Kebab Baba Rafi didirikan pada tahun 2003 dengan mengadopsi makanan Turki. Makanan gerobak yang didirikan pada tahun 2003 tersebut mulai diwaralabakan 2 tahun kemudian, dan pada tahun 2009 berhasil merambah ke pasar mancanegara. Gerai pertamanya di mancanegara dimulai dari Malaysia & Filipina. Waralaba lokal ini juga berhasil “menyabet” gelar waralaba kebab terbesar di dunia. Namun saat ini, beberapa outlet Kebab Baba Rafi yang tersebar di beberapa negara lain seperti Fillipina, Sri Lanka, Tiongkok, Singapura, Brunei, dan Belanda, diisukan telah tutup. Gerai luar yang mampu bertahan berada di Malaysia dan Bangladesh. 4. Es Teler 77 Waralaba lokal Es Teler 77 berasal dari warung tenda milik Murniati Widjaja yang awalnya menjual produk es teler. Dari warung tenda inilah, 6 tahun kemudian Es Teler 77 berkembang menjadi sebuah bisnis waralaba (1987). Pada tahun 1997, Es Teler 77 mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman dan membuka gerai nya di mall. Setahun kemudian, titik penting dalam bisnis ini dimulai, pasalnya saat itu Es Teler 77 mulai menyasar pasar mancanegara dengan gerai pertamanya berada di Singapura. Hingga kini Es Teler 77 telah beroperasi di Indonesia dan Australia (walaupun kabarnya outlet Australia telah ditutup). 5. Alfamart Alfamart didirikan oleh Djoko Susanto pada tahun 1989 dan berada dibawah naungan PT Alfaria Trijaya, Tbk. Minimarket yang menjadi pesaing terberat Indomaret tersebut kini telah memiliki lebih dari 10.000 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Walaupun telah memiliki begitu banyak gerai tak membuat Alfamart puas. Alfamart terus menambah jumlah gerainya termasuk ke mancanegara. Gerai pertamanya di mancanegara yaitu di Manila, Filipina pada tahun 2014. Sampai saat ini Alfamart telah memiliki ratusan gerai di mancanegara. 5 waralaba lokal tersebut adalah waralaba lokal yang sudah go global. Tentu masih banyak lagi yang lainnya namun tidak disebutkan pada artikel ini. Kelima waralaba tersebut membuktikan bahwa pengusaha Indonesia juga memiliki daya saing di kancah internasional. Anda tertarik berinvestasi di waralaba lokal? Insert file "Update 2023" Referensi Goukm.id Paper.id

Read More (1543 views)
Blog post
02 Des'21

Hoax Success Rate Franchise

Pernah mendengar franchisor menawarkan waralaba dengan klaim success rate sebagai berikut? “Tingkat sukses bisnis waralaba itu lebih dari 90%.” “Lebih dari 95% bisnis waralaba masih menjalankan bisnisnya setelah lewat dari 5 tahun” Nyaris tidak pernah ada yang mempertanyakan sumber informasinya, sebaliknya franchisor beramai-ramai mengutipnya dari waktu ke waktu. Klaim tersebut muncul sekitar tahun 1991 ketika Small Business Administration (SBA) di Amerika melakukan penelitian terhadap bisnis waralaba. Kesimpulan mengenai success rate tersebut sudah dikoreksi, karena tampaknya ada kekeliruan dalam metode sampling-nya. Sumber lain menyebutkan bahwa sample penelitian ini bias karena memang sebagian besar adalah merek franchise yang sukses. Sample penelitian ini juga gagal mengidentifikasi franchisee yang masih mempertahankan bisnisnya meskipun merugi. Ada lagi yang menyebutkan bahwa penelitian ini gagal mengidentifikasi fenomena franchise gagal yang dibeli kembali oleh franchisor untuk dipertahankan tetap beroperasi. Sumber lain menyebutkan hasil penelitian itu tidak melibatkan data keuangan yang ter-audit. IFA (International Franchise Association) di Amerika pernah mengutip statistik ini, tapi kemudian bahkan mengirimkan memo kepada anggota IFA agar tidak lagi mengutip hasil penelitian tersebut. Informasi ini setidaknya dapat anda temukan di: https://www.msaworldwide.com/blog/top-ten-reasons-to-invest-in-a-franchise/ https://www.aafd.org/franchisee-success-rates-here-we-go-again/ Jadi sebenarnya seperti apa success rate bisnis franchise ini? Tampaknya tidak ada publikasi resmi yang kredibel. Lagipula, success rate setiap merek franchise tentu berbeda, selain faktor kualitas produk dan layanan, kesuksesan suatu bisnis franchise tergantung pengalaman dan kompetensi tim manajemen franchisor dan franchisee. Di Indonesia lebih sulit lagi untuk mengukurnya, karena ada yang tidak memenuhi syarat sebagai franchise tapi menawarkan kerja sama waralaba (franchise) atau sejenis waralaba sehingga dipersepsi sebagai waralaba. Sebaliknya ada yang memenuhi persyaratan sebagai waralaba, tapi memilih untuk secara legal formal menyebutkan kerja sama bisnisnya bukan-waralaba alias kemitraan, lisensi, dsb.   Related ArticlesFranchise dan KemitraanWaralaba dan Kemitraan, Kenali Bedanya!

Read More (929 views)
Blog post
29 Nov'21

Franchising Agar Pegawai Heba…

Saya menyebut ini sebagai “Program Internal Franchising”. Beberapa perusahaan belum banyak yang sudah mulai mempertimbangkan langkah ini. Para pegawai internal yang akan pensiun dibekali pengetahuan tentang operasional gerai bisnis yang akan diwaralabakan kepada mereka. Karena untuk pegawai internal, maka biasanya diberi pula program pembiayaan (financing) dalam arti modalnya bisa dicicil oleh pegawai tersebut. Tentu saja program seperti di atas diberikan kepada pegawai yang baik dan berpotensi sukses sebagai franchisee. Selain bagi pegawai yang pensiun, program ini tak jarang diberikan kepada pegawai yang sudah tidak bisa mendapatkan promosi karir lebih lanjut di dalam perusahaan tersebut. Dengan menjadi franchisee alias entrepreneur, seyogyanya ini merupakan promosi terbaik yang bisa ia peroleh. Bagi perusahaan, program ini bermanfaat pula untuk mencegah pegawai tersebut masuk atau pindah ke perusahaan kompetitor ketika karirnya mentok. Bila alasannya hanya untuk keperluan internal franchising, maka waralabanya akan terbatas dan tidak ditawarkan kepada umum. Hanya sistemnya berdasarkan waralaba, tapi waralabanya tidak ditawarkan kepada khalayak ramai. Bagaimana, apakah Program Internal Franchising ini menarik untuk dipertimbangkan di perusahaan Anda?

Read More (806 views)
Blog post
25 Nov'21

Franchisee Juga Wajib Daftar …

Selain minimnya “franchisor” (layak disebut franchisor) yang mendaftarkan penawaran kerja sama untuk memperoleh Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW), tampaknya franchisee (benar-benar franchisee dari franchisor yang sudah punya STPW) juga banyak yang belum mendaftarkan perjanjian waralaba-nya sebagai Penerima Waralaba. Sebenarnya siapa yang harus mendaftar, dan mengapa harus daftar STPW? Mengapa Harus Daftar STPW? Pendaftaran STPW sejatinya untuk melindungi kepentingan franchisee. Perlindungan ini terkait hal-hal seperti eksklusivitas gerai di dalam suatu wilayah waralaba, serta identitas Pemberi Waralaba. Kejelasan identitas franchisor menjadi lebih pasti ketika franchisor tersebut memiliki STPW. Patut dicatat bahwa kepemilikan STPW tidak menjamin kebenaran informasi selain identitas franchisor. STPW hanya persyaratan administratif untuk menjalankan usaha berbasis waralaba. Hal lain tentu saja pemerintah ingin memiliki data untuk memahami kontribusi waralaba terhadap perekonomian nasional (penyerapan tenaga kerja, perputaran bisnisnya, pemanfaatan bahan baku lokal dan impor) sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang terarah dalam hal “industri” waralaba. Sayang sekali, sampai saat ini tampaknya usaha ini masih jauh dari sempurna. Angka kontribusi bisnis waralaba masih rekaan belaka. Siapa harus daftar STPW? Pemberi Waralaba dan Pemberi Waralaba Lanjutan (subfranshisor) atau wajib mendaftarkan  Prospektus Penawaran Waralaba untuk memperoleh STPW sebagai Pemberi Waralaba, atau Pemberi Waralaba Lanjutan. Yang dimaksud dengan Pemberi Waralaba Lanjutan adalah Penerima Waralaba yang diberi hak untuk mewaralabakan lagi (subfranchise) kepada pihak lain. Penerima Waralaba dan Penerima Waralaba Lanjutan wajib mendaftarkan Perjanjian Waralaba-nya untuk memperoleh STPW sebagai Penerima Waralaba, atau Penerima Waralaba Lanjutan. Yang dimaksud dengan Penerima Waralaba Lanjutan adalah subfranchisee dari Pemberi Waralaba Lanjutan. Jadi pada prinsipnya ada 4 jenis STPW, yaitu: STPW sebagai Pemberi Waralaba STPW sebagai Penerima Waralaba STPW sebagai Pemberi Waralaba Lanjutan STPW sebagai Penerima Waralaba Lanjutan Bila ditambah dengan pembeda dari sisi asal merek waralabanya, dalam negeri dan luar negeri, maka tentu saja 4 jenis STPW ini akan menjadi 8 jenis. Patut dicatat bahwa seseorang tidak mungkin menjadi Pemberi Waralaba Lanjutan tanpa menjadi Penerima Waralaba (Master Franchisee atau Area Franchisee) yang memiliki hak untuk melakukan subfranchising. Setelah memenuhi persyaratan, seperti minimal sudah beroperasi 2 tahun (karena ada kewajiban lampiran laporan keuangan 2 tahun terakhir), maka Master Franchisee (atau Area Franchisee) yang memiliki hak untuk subfranchising wajib mendaftarkan prospektus untuk mendapatkan STPW sebagai Pemberi Waralaba Lanjutan sebelum menawarkan subfranchise bisnis waralabanya. Setelah terdaftar alias memiliki STPW, franchisor maupun franchisee memiliki kewajiban menyampaikan Laporan Kegiatan Tahunan kepada lembaga terkait. Laporan ini cukup sederhana dan bertujuan memonitor aspek-aspek ketenagakerjaan dan bahan baku, khususnya terkait tenaga kerja asing dan bahan baku impor. Apakah bisnis waralaba anda sudah punya STPW? Kalau sudah punya, jangan lupa menyampaikan laporan kegiatan tahunannya.   Related ArticlesSTPWProsedur Mendaftarkan Waralaba ke Kemendag

Read More (847 views)
Blog post
15 Nov'21

Make the Brand Better, Not Ju…

Larry Light, konsultan dan mantan Chief Marketing Officer McDonald’s, menyingkap fakta bahwa ketika ia bergabung dengan McDonald’s di bulan September 2002, harga saham perusahaan ini anjlok dari nilai tertinggi USD 45.31 di bulan Maret 1999 menjadi USD 17.66. Harga saham ini terus merosot hingga sekitar USD 13 pada bulan Maret 2003. McDonald’s saat itu (terutama sekitar tahun 2001 hingga 2002) seperti burung unta yang menyembunyikan wajahnya ke lubang dalam tanah. Evaluasi berkala menunjukkan adanya penurunan kinerja dan kualitas brand experience yang tak kunjung berhasil diperbaiki. Bukannya terus berupaya memperbaiki kinerja dan terus mengukurnya, yang mereka lakukan justru meniadakan evaluasi tersebut. Konon alasannya adalah agar keseluruhan sistem tidak mengalami demoralisasi. Penurunan penjualan di masing-masing gerai disiasati dengan memperbanyak dan melakukan percepatan pembukaan gerai. Bahkan dalam satu periode disebutkan bahwa proyeksi pertumbuhan McDonald’s nyaris ekuivalen dengan pembukaan satu gerai setiap 4 jam! Larry Light dengan gamblang menyebutkan bahwa saat itu tidak ada upaya serius untuk memperbaiki buruknya pengelolaan merek yang sudah besar ini, dan strategi waralaba yang digunakan sangat mengabaikan strategi branding yang baik. Fokus mereka pada promosi, iklan, dan menciptakan traffic atau kerumunan pelanggan melalui harga murah namun mengorbankan faktor kualitas produk. Akibatnya, kinerja setiap gerai mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Branding bukan sekedar kegiatan periklanan maupun pemasaran. Branding merupakan strategi bisnis secara keseluruhan. Gejala McDonald’s ini merupakan “perangkap” yang senantiasa mengintai setiap bisnis waralaba. Banyak merek waralaba yang dibangun menjadi besar melalui pertumbuhan jumlah gerai namun gagal menjaga kinerja masing-masing gerai,  kualitas produk dan pelayanannya. Larry Light menyebut perangkap ini, “making the brand bigger, but not making the brand better”. *Artikel pendek ini terinspirasi oleh buku “Six Rules for Brand Revitalization” dari Larry Light.   Related ArticlesMcDonald's: Bisnis Burger atau Properti?Bagaimana McD Menjadi Bisnis Properti

Read More (847 views)
Blog post
06 Nov'21

Strategi "Lower Hanging Fruit…

Lower hanging fruits berarti buah yang letaknya rendah, mudah dijangkau. Dalam konteks menjual waralaba, istilah ini ditujukan untuk mengingatkan para pewaralaba, terutama yang masih baru, dengabn konsep yang bisnisnya sensitif dengan kualitas layanan alias kinerja pegawainya, agar mengarahkan sasaran atau target pengembangan ke investor dan wilayah yang “lebih mudah”. “Lebih mudah” di sini memiliki beragam makna. Lebih Mudah Dalam Menjual Waralabanya Menjual waralaba relatif lebih mudah kepada para pelanggan, sanak keluarga, dan sahabat karib. Bila Anda yakin konsep bisnis dan model waralaba Anda saling menguntungkan, saya yakin para pelanggan Anda adalah calon investor yang paling potensial. Selain itu tentu saja sanak keluarga dan sahabat karib Anda. Lebih Mudah Memaafkan Bagaimanapun juga menjadi pewaralaba yang masih baru berarti Anda akan melewati learning curve alias kurva belajar. Ini berarti Anda harus menghindari kehadiran terwaralaba yang super kritis, super menuntut, dan super pemarah. Dalam menyeleksi calon terwaralaba, Anda harus cukup bijak untuk tidak terlalu agresif mengejar jumlah gerai dan jumlah terwaralaba yang banyak sebelum anda mulai menguasai seluk beluk bisnis Anda dan pengelolaan jaringan waralaba Anda. Para calon investor yang sangat demanding (menuntut) sebaiknya dihindari, terutama di tahun-tahun awal pewaralabaan bisnis Anda. Lebih Mudah Dalam Pengawasan Kualitas Meski hal ini tergantung jenis bisnis Anda, pengawasan dan standarisasi kualitas sangat penting karena Anda meminjamkan merek Anda kepada pihak lain. Gerai retail mungkin relatif tidak terlalu sensitif dibandingkan dengan restoran. Pada umumnya lokasi geografis berperan penting di sini. Lokasi yang jauh akan lebih menyulitkan Anda untuk melakukan pengawasan. Lebih Mudah Sukses Meski saya letakkan di bagian akhir, aspek ini sangat penting. Keberhasilan gerai pertama atau beberapa gerai di awal pewaralabaan Anda sangat menentukan kepercayaan calon investor lainnya. Bila Anda terburu-buru dan dengan mudah menyetujui lokasi yang tidak potensial, kemudian gagal alias tutup, maka kepercayaan calon investor yang lain akan relatif sulit Anda peroleh. Pilih lokasi yang memiliki kriteria sangat mirip dengan lokasi-lokasi Anda yang telah terbukti sukses. Bila biasanya yang sukses itu di sekitar sekolah, maka prioritaskan yang dekat sekolah dulu. Jangan buru-buru buka di tengah pemukiman. First impressions count … Kesan pertama sangat menentukan …   Related ArticlesChecklist Pertimbangan LokasiJenis Lokasi UsahaSeleksi Lokasi Resto

Read More (7517 views)
Blog post
04 Nov'21

5 Checklists: Siap Waralaba-k…

Bila Anda ingin mewaralabakan atau menawarkan kerja sama kemitraan dalam arti luas, Anda harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Outlet Anda memiliki laba bersih yang cukup untuk franchisee dan franchisor. Bisnis Anda mudah diduplikasi. Bisnis Anda relatif mudah diawasi atau disupervisi. Bisnis Anda mampu bersaing dalam jangka panjang, alias sustainable. Bisnis Anda diminati banyak orang atau pemilik modal. Laba Bersih Dalam artikel Superior Business, dijelaskan bahwa bisnis yang diwaralabakan harus memiliki omset dan profit yang di atas rata-rata. Mengapa? Pertama, karena investasinya dibebani biaya waralaba di muka (upfront franchise fee). Kedua, laba usahanya dipotong oleh biaya bulanan (royalti, management fee, dan/atau biaya supervisi dan konsultasi). Jadi modal lebih besar, laba lebih kecil, bila dibandingkan dengan buka usaha sendiri. Merek dan sistem manajemen adalah nilai lebih alias manfaat yang harus dinikmati oleh franchisee. Dampak dari merek adalah omset yang lebih tinggi di atas rata-rata. Dampak dari sistem manajemen adalah pengendalian biaya yang berujung pada laba yang lebih baik, sehingga laba ini cukup untuk dibagi untuk franchisee dan franchisor. Duplikasi Bisnis yang mudah diduplikasi itu tidak bergantung pada skill khusus seseorang. Segala sesuatunya mudah dipelajari dan dipraktekkan. Istilah yang sering digunakan adalah “system-dependent, not person-dependent”. Yang dimaksud dengan sistem di sini adalah Pedoman Operasional (dokumen SOP) berikut sistem implementasinya (rekrutmen SDM, pelatihan dan supervisi pelaksanaannya). Mudah Diawasi Bisnis yang tidak mudah diawasi adalah bisnis yang tidak bisa “ditinggal” oleh pemilik bisnisnya. Jadi bisnis yang relatif mudah diawasi itu biasanya memiliki sistem yang dibakukan, termasuk sistem pengawasannya. Sustainable Bisnis yang sering dianggap sebagai contoh bisnis yang tidak sustainable untuk jangka panjang adalah “es kepal milo”. Ada juga yang sempat terlihat tidak sustainable tapi ternyata ada yang mampu bertahan lama, yaitu bubble tea yang saat ini terlihat pasarnya dikuasai oleh Chatime. Untuk mampu bersaing dalam jangka panjang ada banyak faktor tentunya, mulai dari kecukupan modal, pengembangan organisasi dan kompetensi timnya. Selain itu ada pengaruh faktor eksternal seperti persaingan dan krisis ekonomi yang turut menentukan keberhasilan dalam upaya menjadi sustainable tersebut. Selain konteks keberlangsungan bisnisnya, aspek sustainable ini menyangkut perlindungan merek dan unsur HKI lainnya. Tanpa adanya perlindungan HKI, suatu bisnis akan lebih sulit untuk exist dalam jangka panjang, apalagi bila merek itu ternyata dimiliki pihak lain. Diminati Banyak Pemilik Modal Aspek ini memang tergantung profil target marketnya. Kalau target marketnya niche (sempit, spesifik, terbatas), tentu jumlah outlet yang bisa dibuka tidak bisa banyak, sehingga jumlah pemilik modal yang perlu digaet juga relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bisnis yang target marketnya sangat luas/besar.

Read More (826 views)
Blog post
29 Okt'21

Bagaimana McD Menjadi Bisnis …

Ray Kroc adalah CEO pertama McDonald’s. Namun, Kroc bukanlah pendiri “yang sebenarnya” restoran ini. Kroc juga bukan yang memberi nama McDonald’s. McDonald’s didirikan oleh dua bersaudara Richard dan Maurice McDonald. Kroc muncul pada tahun 1954 sebagai seorang salesman multimixer yang dipesan oleh dua bersaudara McDonald. Pesanan itu membuat Kroc penasaran, karena ada sebuah restoran kecil yang memesan 8 multimixer sekaligus (jarang sekali terjadi). Kroc mulai mencari tahu mengenai McDonald’s dan kagum dengan konsep dan efisiensinya. McDonald’s menggunakan packaging sekali pakai yang jarang digunakan kala itu, membuat layanan yang tidak membutuhkan pramusaji, dan memangkas menu (hanya menjual menu yang memiliki penjualan tinggi; hamburger, kentang goreng, dan minuman). Kombinasi ketiga hal tersebut menjadikan McDonald’s sebagai solusi dari permasalahan restoran di AS kala itu, yaitu konsumen tidak perlu menunggu lama pesanan dan pemangkasan menu yang dilakukan membuat McDonald’s sangat efisien (sehingga bisa memberi harga murah). Melihat peluang emas dan tertarik dengan operasional bisnis McDonald’s, Kroc memutuskan untuk mengajak kerja sama dua bersaudara tersebut untuk mewaralabakan restorannya. Pada 15 April 1955, waralaba McDonald’s pertama kali dibuka di Des Plaines, Illinois. Pada tahun yang sama, McDonald's Corporation diluncurkan. Model waralaba McDonald’s waktu itu mengenakan biaya royalti sebesar 1,9% dengan pembagian 0,5% untuk McDonald bersaudara dan 1,4% sisanya untuk Kroc gunakan ekspansi McDonald’s.   Sonneborn dan Ide Bisnis Properti Revolusi pada model bisnis waralaba McDonald’s dimulai ketika Kroc bertemu dengan Harry J. Sonneborn (Sonneborn). Sonneborn memberi ide sederhana dengan menyarankan kepada Kroc yang akan mempercepat pertumbuhan gerai McDonald’s, "Miliki real estate yang nantinya akan dibangun waralaba McDonald’s". Dalam model bisnis ini (Model Sonneborn), McDonald’s akan membeli tanah yang nantinya akan digunakan penerima waralaba untuk menjalankan gerai McDonald’s. Kejeniusan model Sonneborn memberikan McDonald’s keuntungan dari biaya royalti waralaba, biaya sewa real estate (dengan mark up atau harga premium), dan dalam jangka panjang McDonald’s akan terus diuntungkan dengan peningkatan jumlah & harga real estate miliknya. Model Sonneborn akhirnya diterapkan pada tahun 1958 yang memberi peningkatan signifikan pada McDonald’s, dalam setahun 68 gerai berhasil didirikan. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya perbedaan visi antara Kroc dengan McDonald bersaudara. Untuk mengakhiri konflik akibat beda visi, pada tahun 1961 Kroc membeli saham McDonald’s dari McDonald bersaudara. Sampai saat artikel ini ditulis, McDonald’s telah menjadi restoran cepat saji terbesar di dunia yang mengoperasikan lebih dari 39.000 gerai di seluruh dunia. Menjadikannya peringkat pertama dalam Top Global Franchises, peringkat kelima dalam Fastest Growing Franchises, dan peringkat kesebelas Franchise500 versi ENTREPRENEUR.COM tahun 2021. Referensi Entrepreneur.com McDonalds.com Whatisthebusinessmodelof.com

Read More (4753 views)
Blog post
14 Sep'21

Waralaba dan Kemitraan, Kenal…

Kita melihat fenomena semakin banyaknya penawaran Business Opportunity (selanjutnya disebut: Kemitraan) sebagai alternatif lain dari waralaba. Tren ini muncul karena persyaratan waralaba yang dianggap terlalu berat untuk dipenuhi. Penawaran Kemitraan ini memang banyak dijumpai dalam bentuk gerobak kuliner makanan dan minuman, meski sebenarnya beberapa pola kerja sama kemitraan ada yang berbentuk inti sampai plasma dan bentuk kerja sama lainnya. Menurut Utomo Njoto, pakar waralaba, Kemitraan Gerobak memiliki kecenderungan hanya memberikan penggunaan merek dan biaya yang dibayar di muka dalam kemasan paket dengan gerobaknya, yang kemudian dilanjutkan dengan penjualan produk. Kemitraan gerobak juga memiliki kecenderungan tidak adanya pengawasan yang dilakukan oleh pemilik merek. Hal tersebut membuat tidak terstandarisasinya kualitas produk yang mungkin akan merugikan pemilik merek dan pembeli yang kecewa karena mendapat pengalaman buruk di suatu lokasi.   Kriteria Menjadi Waralaba Sebagai informasi, berikut adalah beberapa kriteria yang harus dipenuhi apabila ingin mendaftar menjadi waralaba berdasarkan PP Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba: Memiliki ciri khas usaha Terbukti sudah memberikan keuntungan Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis Mudah diajarkan dan diaplikasikan Adanya dukungan yang berkesinambungan HKI yang telah terdaftar Yang wajib mendaftar sebagai waralaba adalah Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba. Pemberi Waralaba wajib mendaftarkan Prospektus Penawaran Waralabanya ke Kementrian Perdagangan (Kemendag). Penerima Waralaba wajib mendaftarkan Perjanjian Waralabanya di Pemda (Dati II setempat, atau Dati I untuk wilayah DKI). Setelah terdaftar, Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba wajib menempelkan logo "W" (waralaba) dan menyampaikan Laporan Kegiatan Tahuan sesuai pedoman di Lampiran Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71 Tahun 2019. PDF peraturannya bisa diunduh di http://jdih.kemendag.go.id/peraturan/download/1868/2 Bedanya Kemitraan dengan Waralaba Setelah memahami kriteria untuk menjadi waralaba, kita melihat poin "terbukti menghasilkan keuntungan", maka menjadikan waralaba sebagai pilihan yang lebih minim risiko. Ingat, minim risiko bukan berarti tidak memiliki risiko. Hal tersebut berbeda dengan dengan Kemitraan yang belum mendaftarkan diri sebagai waralaba yang sudah atau belumnya "terbukti menghasilkan keuntungan" sulit untuk diketahui. Melihat Kemitraan dengan waralaba bukanlah dalam "sekali pandang". Hal tersebut sulit untuk dilakukan. Dilansir dari Bisnisukm.com, Utomo Njoto menyatakan terdapat 6 aspek yang dapat dilihat untuk membedakannya: Merek Waralaba selalu menggunakan merek dari pemberi waralaba, sementara itu untuk Kemitraan tidak wajib sama dengan merek yang menawarkan (menjual) Kemitraan. Fokusnya Waralaba berfokus pada sistem bisnis, sementara Kemitraan umumnya bicara tentang "paket usaha" yang di dalamnya terdiri dari mesin-mesin, bahan baku, dan pelatihan untuk menjalankan bisnis tersebut, tetapi mereknya boleh merek sendiri. Marketing Communication Marketing communication untuk waralaba biasanya dilakukan terpusat, artinya dipersiapkan dan dilaksanakan oleh pemberi waralaba, sementara pada Kemitraan tidak harus terpusat. Dokumen HKI Di Indonesia waralaba itu harus memiliki sertifikat merek atau setidaknya surat permohonan pendaftaran merek. Hal yang sama berlaku pula pada Kemitraan yang menawarkan penggunaan merek yang sama. Regulasi Waralaba daitur melalui PP dan Permendag yang mengatur harus ada STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba), bila hendak menawarkan waralaba, sementara saat ini Kemitraan belum ada regulasi mengenai pendaftaran serupa. Hubungan kemitraan sebenarnya diatur dalam regulasi PP Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pelanksanaan UU Nomor 20 Tahun 2008. Sanksi Dalam waralaba terdapat peringatan tertulis sebanyak tiga kali dan denda, sementara Kemitraan belum memiliki peraturan yang jelas. Kita telah memahami lebih jauh tentang Kemitraan dan waralaba. Membeli unit Kemitraan tidak melulu lebih buruk, terkadang Kemitraan dapat memberikan keuntungan yang lebih baik dibanding waralaba karena melihat usia dan "size" Kemitraan yang masih terbuka lebar untuk bertumbuh dengan pesat. Seperti prinsip investasi, potensi keuntungan yang besar akan memberi potensi risiko yang besar pula, hal tersebut sebanding. Yang wajib diingat adalah semua bisnis pasti memiliki risiko. Semua bergantung bagaimana Anda dalam "mengelola" risiko tersebut. Jadi, Anda tertarik yang mana Kemitraan atau Waralaba?

Read More (934 views)