Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

with tag "business-management"
Blog post
10 Jul'23

Bisnis Laundry Masih Bisa Unt…

Pertengahan 2023 beredar video tiktok viral seorang pengusaha wanita yang membuka 15 gerai laundry koin, sisa 4 saja. Artinya 11 lainnya gulung tikar. Ia pun membagikan pengalaman dan keluh kesahnya terkait bisnis laundry. Sebagian dari keluh kesah ibu ini benar adanya. Bisnis laundry bukan bisnis yang mudah, pelanggannya relatif price sensitive, dan turn over SDM nya relatif tinggi. Belum lagi problem kerusakan mesin, spare parts yang kadang tidak ready stock sehingga operasional bisnis laundry otomatis terganggu. Walau demikian, mengapa terlihat tetap banyak saja laundry koin dan laundry kiloan baru yang dibuka? Tentu saja fenomena ini bukan pembenaran bahwa bisnis laundry koin dan laundry kiloan itu sangat menguntungkan. Bisa saja fenomena ini dikarenakan para sales mesin laundry nya pintar-pintar seperti yang dikeluhkan ibu tersebut. Sebelum kita lanjutkan, saya perlu memperjelas bahwa arti dari laundry koin adalah laundry dengan mesin cuci dan pengering yang menggunakan koin untuk menjalankannya. Saat ini, mesin-mesin tersebut sudah dimodifikasi, ada yang menggunakan kartu e-wallet, ada yang menggunakan scan QR e-wallet. Dari bentuk layanannya, laundry koin punya beberapa varian, yaitu laundry self-service (pelanggan mencuci sendiri), dan laundry full-service (dilayani, biasanya termasuk setrika). Laundry koin ada yang menggunakan harga per-loading, ada yang kiloan. Meski ada yang menggunakan mesin laundry koin, biasanya laundry kiloan menggunakan mesin laundry yang bukan-koin karena lebih murah. Jadi kalau dipetakan, kurang lebih sebagai berikut: Belum ada data resmi berapa laundry yang buka dan tutup setiap tahunnya. Namun dapat dipastikan tidak sedikit bisnis laundry yang berhasil. Mari kita menggali angka-angka empiris terkait peluang dan risiko bisnis laundry kiloan. Laundry Kiloan Berikut ini simulasi yang mendekati data empiris dengan perbandingan 3 skenario penjualan yang ideal. Kondisi ideal: Keterangan: Margin dan rasio-rasio biaya dalam simulasi ini menggunakan asumsi harga jual Rp9.500 hingga Rp10.000 per kg. Biaya SDM sudah dihitung 13 bulan gaji. Asumsi-asumsi lainnya mungkin berbeda antara 1 lokasi dengan lokasi lain, berbeda juga antara manajemen merek yang satu dengan yang lain. Namun saya perkirakan selisihnya tidak signifikan. Saya menggunakan EBITDA yang tidak memasukkan beban depresiasi dan amortisasi ke dalam biaya operasional. Perhatikan bahwa ketika asumsi sales berada di Rp 60juta sebulan, dilakukan penyesuaian biaya sewa dan biaya SDM. Untuk meraih penjualan lebih tinggi, biasanya dibutuhkan lokasi yang lebih strategis, dan sewanya lebih mahal. Selain itu tentu dibutuhkan jumlah SDM lebih banyak, terutama terkait kapasitas produksi untuk layanan setrika. Tujuan mengukur EBITDA adalah untuk mengetahui batas jumlah dana yang layak dalam bisnis ini. Biasanya kita membatasinya pada angka 30-36 kali EBITDA bulanan. Jadi tergantung tingkat keyakinan kita pada estimasi pencapaian sales dan EBITDA di lokasi yang direncanakan. Bila kita merasa di lokasi itu sales nya hanya bisa sekitar Rp30 juta sebulan, maka batas dana CAPEX nya kira-kira antara Rp150 jutaan. Pertanyaan berikutnya tentu apakah dengan modal Rp150 juta itu kita bisa memiliki jumlah peralatan yang memadai untuk pencapaian sales tersebut. Kalau keyakinan kita ada pada sales Rp36 juta sebulan, maka batas dananya bisa sekitar Rp300 jutaan. Ini adalah angka yang saya yakini harus menjadi level keyakinan para pebisnis laundry kiloan, karena investasi di peralatan dan renovasi biasanya berada di sekitar Rp250 hingga Rp300 jutaan. Selain kondisi ideal, kita perlu memahami kondisi kritis, yaitu pada penjualan berapa rupiah per bulan bisnis ini mulai berisiko. Kondisi kritis: Dari simulasi ini kita memahami bahwa laundry kiloan, termasuk laundry koin, sangat berisiko bila lokasi gerai kita berada di wilayah yang hanya akan menghasilkan sales di bawah Rp30 juta sebulan. Jadi pertanyaannya adalah, “Bagaimana kita bisa meyakini suatu titik lokasi memiliki potensi untuk menghasilkan sales Rp36 juta sebulan?” Simulasi hitungan berikut ini akan memberikan gambaran kepada kita. Bila wilayah di sekitar lokasi kita tampaknya tidak akan mampu menggiring sekitar 210 pelanggan setia, maka lebih baik kita mencari lokasi lain lagi. Tentu saja angka 210 ini bisa saja hanya 200. Persoalannya adalah tidak semua penduduk akan menjadi pelanggan, dan selain angka 200-210 ini tentu harus memperhitungkan kemungkinan mereka memiliki Asisten Rumah Tangga (ART), masih ada potensi persaingan dengan laundry kiloan dan laundry koin di sekitar kita. BTW, angka target jumlah pelanggan yang hanya 200-210 memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemilik dana untuk terjun ke dalam bisnis laundry kiloan. Akibatnya, di wilayah yang sangat padat penduduk seperti Gading Serpong terlihat sangat banyak gerai laundry kiloan. Laundry Koin Laundry Koin sebenarnya memiliki keunikan yang berbeda dengan laundry kiloan, yaitu self-service. Namun saat ini masih sedikit laundry koin yang benar-benar self-service. Kondisi riil bahwa banyak pelanggan masih mencari layanan setrika dan enggan mencuci sendiri mengakibatkan pemilik laundry koin terpaksa menjalankan bisnisnya seperti laundry kiloan (full service). Akibat lebih lanjut dari keharusan menyediakan layanan setrika (full service) adalah biaya SDM menjadi tinggi, padahal dengan konsep laundry koin yang self-service (tidak ada layanan setrika) mereka harus menyediakan mesin cuci yang banyak, mungkin minimal 5 set agar pelanggan yang hendak self-service bisa segera mencuci. Kalau semua mesin sedang digunakan saat mereka tiba di outlet, maka kemungkinan besar pelanggan tersebut akan membatalkan niatnya, atau mencari laundry koin yang lainnya. Karena tuntutan untuk menyediakan mesin cuci yang cukup banyak, maka pemilihan lokasi untuk laundry koin yang self-service menjadi sangat krusial, harus sangat hati-hati. Bila menyediakan layanan full-service, termasuk setrika, maka jumlah mesin seyogyanya dibatasi, tidak perlu terlalu banyak. Nilai belanja modal harus disesuaikan dengan potensi pasar di setiap lokasi gerainya. Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang berencana membuka bisnis laundry kiloan maupun laundry koin yang full service. Bagaimana dengan laundry satuan dan dry-clean? Saya cari data empirisnya dulu ya … Catatan: Simulasi keuangan tersebut belum memperhitungkan beban biaya bulanan ke “pemilik merek”, bila Anda membuka laundry kiloan atau laundry koin menggunakan merek pihak lain. Tergantung pencapaian sales dan profit, idealnya biaya ini tidak lebih dari 3% kalau omset hanya bisa sekitar Rp36 juta sebulan.

Read More (984 views)
Blog post
18 Apr'23

Wajarkah Target Sales-nya?

Makin maraknya penawaran peluang waralaba dengan figur Influencers dan tokoh-tokoh yang piawai membangun personal branding, seolah menjadi lanjutan fenomena bisnis kue para artis yang mulai hilang keriuhannya.  Lakukan investigasi dan observasi. Jangan percaya begitu saja pada informasi yang dicetak di brosur-brosur penawaran. 1. Misal target sales brosur, per bulan Rp250 juta, dengan rata-rata rupiah transaksi Rp25.000,-. Kita cari target jumlah (frekuensi) transaksinya. 2. Lakukan observasi untuk menemukan fakta lapangan. Kunjungi salah satu outlet yang ciri-ciri lokasi atau wilayahnya mirip lokasi Anda. 3. Bedakan antara "akhir minggu" dengan "hari biasa". Ambil contoh untuk akhir minggu Anda cek hari sabtu, untuk hari biasa Anda cek hari senin. Atau Anda observasi senin dan rabu, lalu ambil rata-ratanya (dibagi dua). Misal hasilnya seperti ini: 4. Kesimpulan: 1800 dibagi 7, rata-rata per hari 257.14 transaksi. 5. Perbedaan rupiah target sales dengan hasil observasi:   *Idealnya memang ada laporan keuangan sehingga tidak perlu observasi. Tapi bila Anda meragukan laporan itu langkah-langkah tersebut adalah salah satu cara verifikasi-nya.

Read More (512 views)
Blog post
06 Feb'23

Pilih Medan Peperangan Untuk …

Dalam menghadapi persaingan, Anda harus memilih medan peperangan yang memberikan peluang kemenangan terbesar bagi Anda. PERANG HARGA Anda bisa memilih medang PERANG HARGA dengan menerapkan harga murah, atau termurah. Tentu Anda harus menguasai "supply chain" dengan biaya operasional yang sangat rendah, dan harga barang modal yang sangat rendah pula. Sayangnya banyak orang terjebak ikut perang harga tanpa menguasai 2 hal tersebut. Kita melihat brand promise dan slogan "harga termurah", tapi faktanya tidak demikian. Pesan komunikasi harga termurah hanya menjadi gimmick marketing. Bahkan toko retail modern yang menjanjikan penggantian hingga 2x atau 3x selisihnya pun berani memberikan janji seperti itu karena hampir tidak pernah terjadi klaim yang mewajibkan persyaratan seperti di area yang sama, di toko retail modern yang sejenis, dan ada bukti struk pada hari yang sama. Tanpa menguasai pengendalian biaya HPP (termasuk supply chain) dan biaya operasional, Anda melakukan bunuh diri bila memilih medan "Perang Harga" ini. PERANG INOVASI Salah satu solusi untuk keluar dari jebakan Perang Harga adalah dengan memilih medan PERANG INOVASI. Dalam hal ini Anda perlu memiliki sumberdaya yang cukup (manusia dan dana) untuk senantiasa inovatif dan kreatif, selalu selangkah lebih depan dari para pesaing Anda, di sini anda "tidak perlu" terjebak pada perang harga, sebelum atau ketika kompetitor "meniru" KEUNIKAN Anda. Salah satu perusahaan yang mendapat predikat inovatif adalah 3M. Konon, menurut salah satu edisi Harvard Business Review (HBR), perusahaan ini menyisihkan hampir 6% dari total penghasilan dari penjualannya untuk keperluan Research & Development (R&D). Perusahaan ini telah menyusun sistem yang memberikan toleransi terhadap kesalahan namun mampu mendorong budaya inovasi yang kerap menghasilkan produk-produk inovatif.  Salah satu produk inovatif 3M adalah “Post It Notes”. Produk ini konon merupakan suatu kegagalan dalam proses R&D, namun kemudian justru menjadi produk unggulan, meski melalui jalan yang berliku. Post It Notes berawal dari Spencer Silver, seorang ilmuwan yang sedang melakukan eksperimen di Laboratorium 3M di tahun 1968 untuk menemukan atau menghasilkan lem yang super-strong (amat sangat kuat), tapi hasilnya justru lem yang terlihat menempel tapi “amat sangat mudah dilepas”.  Yang lebih menarik lagi adalah, keunikan dari lem yang kemudian digunakan untuk Post It Notes ini dianggap tidak bermanfaat saat itu. Kabarnya dibutuhkan waktu 5 tahun dan hanya setelah terjadi pergantian manajemen, untuk kemudian produk ini dicoba untuk dipasarkan. Meski demikian, di tahun 1973 peluang pasar yang terlihat hanya sebatas lem untuk keperluan bulletin board (semacam majalah dinding atau mading).  Alan Fry kemudian memiliki ide untuk menempelkan bahan lem tersebut ke permukaan kertas seperti yang kita lihat sebagai Post It Notes. Penelitian masih harus dilanjutkan lagi untuk memastikan bahan lem tersebut tidak ada yang terlepas dari kertas Post It alias pindah ke permukaan benda yang ditempeli Post It Notes. Tahun 1977 dilakukan launching terbatas di 4 kota, dan tanggapan masyarakat tidak cukup memuaskan sehingga manajemen merasa produk ini tidak cukup menjanjikan bagi perusahaan. Penjualannya tak kunjung membaik di tahun 1978, namun manajemen kemudian membagikan sampling ke perusahan-perusahaan untuk memeriksa kembali peluang pasar bagi produk ini. Kejutan dan lonceng kesuksesan ternyata bergema, banyak perusahaan yang melakukan pemesanan produk Post It Notes, karena merasa produk inovatif dan sangat berguna bagi mereka. Setelah melalui perjalanan panjang, bahkan hingga melewati masa-masa yang menimbulkan keputusasaan, ternyata inovasi Post It Notes ini menjadi kisah menarik dari kegagalan menuju kesuksesan yang luar biasa.  PERANG PROTEKSI Anda bisa memilih medan PERANG PROTEKSI bila inovasi Anda bisa dilindungi dengan mekanisme regulasi HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HKI) sehingga kompetitor tidak bisa meniru produk inovatif Anda, dalam waktu tertentu.  Kalau sudah mendapat perlindungan HKI Anda benar-benar "tidak perlu" terjebak pada perang harga. Bahkan Anda dapat melisensikan Kekayaan Intelektual kepada pihak lain, dan menerima imbalan berupa royalty. Tentu saja pemberian lisensi ini harus penuh perhitungan yang cermat, misal untuk wilayah geografis yang sulit dijangkau oleh perusahaan anda (misal beda negara), atau dengan perhitungan potensi volume penjualan untuk keperluan mengembalikan dana yang telah dikeluarkan untuk riset tersebut.  Coca-Cola menjual konsentrat kepada perusahaan pembotolan lokal di berbagai negara untuk mempercepat ekspansi penjualan mereka ke berbagai negara. Sejarah kemudian mencatat terjadinya akuisisi besar-besaran terhadap pabrik-pabrik pembotolan ini oleh Coca-Cola Amatil dari Australia, yang di tahun 2021 kemudian melakukan merger dengan Coca-Cola European Partners menjadi Coca-Cola Europacific Partners (sumber: Wikipedia). PERANG MODAL BESAR Anda bisa memilih medan PERANG MODAL BESAR, bila Anda memiliki sumber daya keuangan yang luar biasa. Tentu saja strategi ini hanya cocok apabila KEKUATAN MODAL dapat MENGHADANG pesaing untuk masuk ke dalam bisnis Anda karena mereka melihat kebutuhan akan adanya modal besar bila memasuki arena peperangan yang anda pilih.  Praktek lain yang diterapkan terkait #5 ini yang dikenal dengan "predatory price" (semacam “jual rugi”) yang bertujuan untuk mematikan para pesaing yang sangat terbatas permodalannya. Tentu saja predatory price dihentikan setelah pesaing kecil itu "mati". * inspired by buku lama "Hyper Competition" by Richard A. D'Aveni, kemudian dikembangkan ke berbagai contoh yang relevan.   

Read More (874 views)
Blog post
30 Jan'23

Low Price Battle Ala Mixue

Siapa yang tidak kenal dengan Mixue? Nama yang akhir-akhir ini sering kita dengar bukan? Ya baru-baru ini Mixue membuat gempar masyarakat Indonesia dengan pertumbuhan gerainya yang begitu signifikan, tak heran banyak netizen Indonesia bahkan membuat lelucon di media sosial. Menyandang brand yang sedang viral, karena harga murah dan cabangnya yang terus bertambah secara signifikan, maka timbul pertanyaan dari masyarakat. “Bagaimana Mixue bisa menjual produknya dengan harga sangat murah? Apa rahasia mereka bisa grow secepat itu?”. Sejarah Mixue Dilansir dari laman resminya, Mixue didirikan pada tahun 1997 oleh Zhang Hongchao yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa. Berawal Zhang Hongchao yang mendapatkan modal sekitar 4000 Yuan (setara Rp7.000.000) untuk membuat es krim (sundae) di kawasan Zhengzhou - Provinsi Henan, China.  Baru tahun 2000 Zhang Hongchao membuka toko pertamanya dan memutuskan membuat es krim yang enak namun dengan harga murah dibawah rata-rata. Pada tahun 2007, Mixue secara resmi mengubah model bisnisnya ke franchising model dengan kurang lebih 1 bulan setelahnya ada 27 cabang baru di China. Bisnis Model Mixue Kesuksesan Mixue tentu tak lepas dari sosok Zhang sang founder yang melihat segmen pasar es krim di China yang menyasar kalangan menengah ke atas, Zhang justru memilih menargetkan specific customer yang berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Setelah Mixue menjadi franchising model, Zhang sadar bahwa jika ia terus-menerus menjual produknya dengan harga murah maka besar kemungkinan tidak akan profitable. Dari situlah muncul ide mengubah bisnis Mixue berupa penjualan bahan baku dan equipment, artinya Mixue akan fokus terhadap Supply Chain.  Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Utomo Njoto, pakar waralaba Indonesia. Menurutnya, “mengenai harga murah, kita bisa memilih medan perang harga bila kita menguasai supply chain, dengan biaya operasional yang sangat rendah, dan harga barang modal yang sangat rendah pula”. (Sayangnya banyak orang terjebak ikut perang harga tanpa menguasai 2 hal tersebut). Ide tersebut didukung dengan strategi bisnis Economies of Scale. Apa itu? Dikutip dari Ekrut, Economies of Scale adalah “suatu konsep yang menggambarkan situasi di mana biaya produksi per unit menjadi lebih hemat ketika volume produksi meningkat. ”Artinya jika Anda memiliki fixed cost Rp100 juta/bulan dan mampu memproduksi 1000 es krim, sehingga biaya produksi per es krim sebesar Rp100 ribu. Jika perusahaan dapat memproduksi 1500 es krim, maka biaya produksinya per es krim adalah Rp66,6 ribu yang artinya harga modalnya semakin murah. Supaya supply chain management tersebut dapat berjalan, maka sistem franchise yang dilakukan Mixue adalah menjadikan gerai Mixue tersebut hak milik franchisee, namun untuk menjual es krim dan minuman, franchisee diharuskan membeli bahan baku dan equipment dari pusat.  Mixue memiliki value proposition harga yang sangat murah untuk produknya dengan target customer middle to low income ke negara-negara tier 3, tier 4 dan mass market, maka dari itulah Mixue merambah gerainya ke negara ASEAN salah satunya adalah Vietnam pada tahun 2018 disusul Indonesia pada tahun 2020. Tak heran kenapa growth dari Mixue sangat cepat selain dari strategi bisnis, pemilihan target pasar adalah kuncinya. Chart Model Strategi Bisnis Mixue “Extreme low cost low price strategy”, kalimat yang sepertinya akan terus identik dengan Mixue apabila kita belajar strategi yang diterapkan perusahaan es krim ini. Strateginya kira-kira seperti gambar dibawah ini: Detail lengkapnya kurang lebih sebagai berikut: Mixue mencari Large volume (franchisee) yang hanya bisa didukung bisnis model franchise. Harga biaya produksi lebih murah karena diterapkannya Economies of Scale, sehingga mereka dapat memperkuat supply chain dan logistik yang dimiliki.  Dengan biaya produksi yang lebih murah, mereka berani menerapkan extreme low price untuk produknya. Branding  dengan menjual produk harga yang murah akan menarik minat lebih banyak konsumen, sehingga mereka mampu untuk menambah lebih banyak franchisee.  Berdasarkan laporan dari YouTube Raymond Chin, pendapatan Mixue pada bulan Maret - Juni 2022. Sebagian besar justru diperoleh dari Ingredients sebesar 72,16%, kemudian 15,55% dari packaging, dan sisanya dari penjualan es krim dan lain-lain. Dan karena hal itulah Mixue bisa disebut sebagai perusahaan supply chain, bukan perusahaan FnB seperti yang kita tahu. Bagaimana menurut Anda? Apakah kira-kira masih ada strategi bisnis dari Mixue yang belum disebutkan? Sangat menarik memang jika kita membahas brand satu ini, apalagi ada beberapa pendapat yang mempertanyakan kemampuan Mixue untuk bertahan dalam jangka panjang di pasar Indonesia? Benarkah Mixue ini hanya sekedar trend?   Sumber: Economies of Scale Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Keutungan Melakukannya               Mixue Bicheng Co., Ltd.               Belajar Strategi Mixue Dominasi Franchise FnB - Raymond Chin

Read More (2277 views)
Blog post
16 Jan'23

Too Good To Be True, But Coul…

Pertanyaan apa saja yang harus Anda tanyakan bila menemukan penawaran-penawaran yang terlihat "too good to be true" seperti ini? *Catatan: "too good to be true" can be true, but usually IT IS too good to be true. Berikut ini 3 (tiga) pertanyaan yang paling mendasar: 1. Angka-angka ini diambil dari outlet di lokasi yang mana? 2. Outlet di lokasi itu sudah berjalan berapa tahun? 3. Minta kejelasan lagi mengenai outlet di lokasi tersebut: Berapa omsetnya setahun, Berapa profitnya, Berapa "total modal" yang dibutuhkan kalau buka outlet baru dengan kondisi seperti yang di lokasi itu. Selanjutnya, bila benar ada lokasi yang kinerjanya sesuai dengan klaim tersebut, Anda harus memeriksa karakteristik lokasi yang hendak Anda ajukan, apakah memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi mereka. Cara terbaik untuk meminimalkan risiko kegagalan adalah membuka cabang di lokasi yang memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi yang sudah TERBUKTI sukses. Sedikit tambahan, bila jawaban untuk pertanyaan nomor 2 adalah sudah lebih dari 5 tahun, Anda perlu cek omset outlet mereka yang baru buka 1-2 tahun, jangan-jangan omsetnya beda jauh.  

Read More (865 views)
Blog post
16 Des'22

CRM, Strategi Loyalnya Custom…

Pernahkah Anda ketika selesai berbelanja online di suatu aplikasi e-commerce atau web marketplace, kemudian  menerima notifikasi berupa informasi pesanan Anda sedang diproses?, atau notifikasi berupa promo? Jika iya maka Anda telah terkena strategi CRM (Customer Relationship Management). Sebenarnya apa itu CRM? Mari kita simak penjelasan berikut! Pengertian CRM Dikutip dari Populix, CRM adalah strategi bisnis bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya di berbagai aspek dengan melakukan proses olah data pelanggan menggunakan bantuan aplikasi. Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan CRM dibidang marketing semakin fleksibel dan dinamis sesuai target customer yang dituju. Di era yang tech-savvy ini, untuk mengakomodasi kebutuhan CRM yang kompleks disediakan berbagai  tool CRM yang disebut e-CRM. e-CRM digunakan oleh beberapa perusahaan besar untuk mengetahui intensi, minat serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa e-CRM yang dapat meningkatkan profit bisnis Anda: Salesforce Zoho SugarCRM HubSpot CRM Vtiger Freshsales Qontak Dan sebenarnya masih banyak lagi tools CRM yang lain baik berbayar atau bahkan free services yang dapat Anda gunakan. Hubungan Marketing Funnel Dengan CRM CRM tidak bisa lepas dari Marketing Funnel, yang menjelaskan beberapa tahapan bagi audiens sebelum melakukan transaksi atau pembelian produk/jasa yang ditawarkan. Proses tahapan-tahapan inilah yang nantinya akan dideskripsikan lebih detail di Customer Lifecycle Journey.  Marketing Funnel tipe AIDA   Jika Anda perhatikan, gambar marketing funnel di atas merupakan marketing funnel tipe AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yang sebelumnya pernah dibahas sebelumnya di artikel: Memahami Marketing Funnel Kurang Dari 5 Menit! Dalam gambar berbentuk corong tersebut, diketahui bahwa 1000 leads yang diperoleh nantinya akan terus berkurang sesuai dari intensi kebutuhan audiens. Nah, menjaga “intensi audiens” inilah yang harus dipertahankan agar audiens mau membeli produk Anda dengan cara membuat campaign. Jadi, dalam bentuk marketing funnel di atas CRM berfungsi sebagai strategi campaign yang mampu mengkonversi traffic audience yang diperoleh hingga menjadi loyal customer. Sistem Kerja CRM Sistem kerja CRM seringkali digambarkan dalam bentuk diagram alur yang dikenal dengan Customer Lifecyle Journey. Pada dasarnya, proses tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu reach, acquisition, conversion, retention, dan loyalty. Singkatnya, Customer Lifecycle Journey dapat menguraikan secara lengkap langkah-langkah yang akan diambil pelanggan saat mereka masuk ke flow penjualan sesuai 5 proses yang sudah disebutkan. Ini tentu akan membantu tim marketing perusahaan dalam menentukan (decision making) campaign, produk, promo, dan konten apa yang sesuai dengan behavior dan kebutuhan pelanggan.   Customer Lifecycle Journey   Gambar di atas merupakan contoh simulasi siklus CRM perusahaan X (katakanlah) RedDoorz berupa flowchart yang saya buat, mari kita urai satu-persatu: 1. Awareness Tahapan awareness disini merupakan salah satu proses dari Reach. Untuk mendapatkan Reach, tentu kita butuh traffic audience dari berbagai channel, seperti social media ads, Google ads, social media organic, dan blog. Umumnya untuk bisnis yang baru, menjalankan social media secara organik (feed Instagram, FB, artikel blog) sudah cukup untuk menarik calon customer apabila strategi konten Anda tepat dengan kebutuhan audience. 2. Consideration (Leads) Reach menjadi tidak berguna apabila Anda tidak berusaha menggaet pelanggan (acquire). Oleh karenanya, dibutuhkan semacam ajakan atau call to action di iklan Anda. Pada gambar di atas tahapan consideration hingga leads merupakan proses dari Acquisition untuk memperoleh potential customer. Berdasarkan gambar diatas, sebelum audience memasuki fase consideration, strategi perusahaan adalah dengan menjalankan ads berupa promo first time offer bagi audience yang belum mengenal RedDoorz. Setelah memasuki tahap consideration, audience baru akan mendapatkan push notification penawaran dari promo tersebut sehingga sebagian audience nantinya akan melakukan sign up dan menjadi leads (potential customer). 3. Buyer Setelah menjadi leads (mengisi form nama, email, dll) audience pasti akan mendapatkan kiriman email berupa “welcome email” atau mungkin email yang berisi keuntungan apabila menggunakan aplikasi RedDoorz . Email-email tersebut berfungsi untuk mendorong audiens melakukan Conversion dan menjadi buyer. Tahap ini mulai dibutuhkan yang namanya menjaga hubungan dengan pelanggan. Pastikan pelanggan puas dengan produk dan jasa Anda, pastikan Anda untuk meminta feedback dari pelanggan untuk meng-improve produk dan layanan Anda. 4. Loyal Fase ketika audience sudah menjadi buyer atau new customer, dibutuhkan strategi marketing berkelanjutan untuk mendorong pelanggan tersebut melakukan transaksi kembali, proses inilah yang disebut Retention. Contohnya adalah seperti menawarkan membership subscription supaya mendapatkan penawaran promo terbaik dan email special offer untuk transaksi selanjutnya. Catatan, tentu dalam membuat campaign penawaran harus didukung dengan copy yang menarik dan sesuai interest pelanggan, jika tidak, tentu saja pelanggan akan tidak peduli dengan offer yang Anda berikan.  Setelah pelanggan merasa tertarik dengan campaign retention yang ditawarkan dan merasa puas akan produk atau layanan yang Anda berikan, maka akan tercipta “Loyalty” dari customer. Loyalty akan sangat amat terasa penting karena akan membuat pelanggan tetap menggunakan produk Anda setelah melakukan konversi. 5. Churn Rate Churn rate lebih dikenal sebagai pelanggan yang tidak melakukan aktivitas apapun terhadap produk dan layanan yang Anda tawarkan selama beberapa waktu lamanya. (tergantung jenis bisnis dan umumnya 3 bulan sejak transaksi terakhir). Tahapan ini sebenarnya terpisah dari 5 proses penting CRM yang sudah kita pelajari. Namun, churn rate sangat berguna sebagai database pelanggan yang pernah menggunakan atau melakukan transaksi di bisnis Anda. Ketika pelanggan sudah tidak aktif, maka akan fatal apabila Anda hanya melepasnya saja. Ya, Anda harus melakukan pendekatan dengan treatment khusus untuk pelanggan yang sudah tidak terhubung dengan bisnis Anda. Seperti menawarkan fitur layanan baru, special offer, atau seperti kasus gambar diatas kita bisa menawarkan diskon re-book rooms untuk user yang pernah menggunakan aplikasi RedDoorz. Itulah beberapa hal fundamental terkait penggunaan CRM sebagai strategi marketing yang ampuh untuk menciptakan sebuah loyalitas pelanggan. Selanjutnya mungkin kita akan membahas lebih advance dan spesifik terkait e-CRM dan media yang digunakan seperti SMS, email, push notif, dan WhatsApp.  Jadi bagaimana? Apakah Anda telah menerapkan CRM untuk bisnis Anda?   Sumber: Startup Studio Indonesia                Glints                Hubspot

Read More (1127 views)
Blog post
15 Des'22

Mengenal Kosakata Digital Mar…

Apa yang Anda harapkan dari bisnis Anda? Ya seringkali ketika kita membuka bisnis terutama waralaba satu hal yang terbesit adalah menghasilkan revenue (pendapatan) semaksimal mungkin. Namun, bagaimana cara Anda untuk mencapai tujuan tersebut? Salah satu caranya adalah “Digital Marketing”, dengan arus perkembangan teknologi yang cepat dan maraknya penggunaan internet mengubah behavior masyarakat dalam mencari informasi dengan menggunakan smartphone/android. Maka dari itulah strategi digital marketing dibutuhkan untuk memasarkan produk/service yang Anda tawarkan. Sebelum belajar lebih jauh tentang Digital Marketing, alangkah baiknya Anda kenali terlebih dahulu kosakata berikut yang beberapa dikutip dari RevoU : A Ads/Iklan - Cara pemasaran yang dilakukan dengan mengiklankan (ads) produk/layanan dari brand. A/B Testing - Metode perbandingan 2 versi (campaign, ads dll) satu dengan yang lainnya untuk menentukan performance mana yang lebih baik. Affiliate Marketing - Model advertising dimana perusahaan membayar pihak ketiga untuk menghasilkan traffic dan membawa audiens ke produk perusahaan. B Backlink - Link dari suatu website yang merujuk ke halaman website lain/website Anda.  Brand Awareness - Istilah marketing yang menggambarkan sejauh mana konsumen mengenali suatu produk atau merek. Browser - Software yang mengakses dan menampilkan halaman atau file yang ada di World Wide Web.  Buyer Persona - Gambaran semi-fiksi pelanggan ideal yang diciptakan berdasarkan market research dan data riil terkait pelanggan yang sudah ada. C Call to Action (CTA) - Kalimat ajakan kepada audiens untuk melakukan suatu tindakan yang kita inginkan. Campaign - Aktivitas untuk mempromosikan produk brand dalam jangka waktu tertentu. Carousel - Fitur di media sosial yang memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto atau video dalam satu postingan. Click-through Rate (CTR) - Presentase seseorang yang mengeklik link ads. (Formula: Jumlah klik/Impression)  Content Pillar - Pondasi agar konten perusahaan memiliki identitas dan menjadi keseluruhan strategi konten media sosial bisnis. Conversion - Audiens yang telah melakukan tindakan berdasarkan Call to Action (CTA) yang telah Anda buat. Cost per Click (CPC) - Biaya yang dibayarkan setiap seseorang mengeklik iklan. (Formula: Total Biaya ads/klik)  Cost per Lead (CPL) - Biaya yang dibayarkan setiap mendapatkan leads atau user potensial baru. (Formula: Total biaya ads/Total Leads) Cost per thousand Impressions (CPM) - Biaya yang dibayarkan setiap seribu impression dari ads. (Formula: (Total biaya ads/Impressions) x 1000) Crawl - Proses bot atau spiderbot mengunjungi website, mengambil konten, dan mengindeks sehingga situs web tersebut dapat dengan mudah ditemukan di Search Engine. Customer Journey - Seluruh pengalaman yang dialami customer saat berinteraksi dengan perusahaan/brand dan membantu perusahaan dalam memahami customer lebih baik. D Direct Marketing - Pemasaran yang dilakukan dengan memanfaatkan jalur komunikasi dan distribusi langsung ke konsumen tanpa perantara. Domain - Bagian dari alamat web (URL) yang digunakan untuk mencari lokasi suatu website atau halaman dari website. E Email Marketing - Salah satu strategi yang memanfaatkan media email untuk mempromosikan produk serta digunakan dalam menarik pelanggan. Endorse - Strategi marketing yang melibatkan publik figur dan orang-orang terkenal seperti content creator serta influencer dengan basis pengikut yang masif. Engagement Rate -  Persentase pengguna yang berinteraksi dengan sebuah konten. G Google Ads - Layanan online advertising yang disediakan Google untuk menargetkan audiens, mengarahkan traffic ke website, dan meningkatkan kunjungan in-store. I Impression - Jumlah beberapa kali konten atau iklan muncul. K Key Performance Indicator (KPI) - Serangkaian metrik pengukuran kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan.  Keywords - Kata-kata yang ditargetkan pemilik website, bisa berupa ads/organik. L Landing Page - Salah satu laman web yang ditargetkan untuk menarik audiens agar melakukan tindakan tertentu. Leads - Orang-orang yang tertarik dengan produk/jasa brand dan memiliki potensi besar untuk menjadi pelanggan. Lead Generation - Kegiatan dan proses yang dilakukan untuk menemukan calon pelanggan dan informasi kontak mereka (nama, email, alamat, perusahaan, dll) M Metrics - Indikator untuk mengukur dan melacak keberhasilan usaha digital marketing brand. O Organik - Cara pemasaran yang dilakukan secara gratis atau tanpa ada biaya. P Personal Branding - Proses menciptakan citra atau image diri seorang individu. Platform - Hardware atau software yang menggerakkan suatu aplikasi atau layanan. R Reach - Total jumlah orang yang melihat sebuah konten/iklan. Return On Investment (ROI) - Ukuran kinerja yang digunakan untuk menghitung efisiensi atau profitabilitas suatu investasi bisnis. S Search Engine Marketing (SEM) - Salah satu channel marketing berbayar yang juga menggunakan platform search engine seperti SEO. Search Engine Result Page (SERP) - Halaman web yang ditampilkan search engine (seperti Google, Bing, dsb) setelah pengguna mengetik query di platform mereka. T Trendjacking - Strategi dengan memanfaatkan kejadian atau meme yang sedang viral untuk promosi/komunikasi yang berbeda kepada audience. Traffic - Jumlah total pengunjung website U User Experience (UX) - Keseluruhan perjalanan yang dilalui pengguna saat mereka menggunakan suatu produk. User Interface - Elemen visual yang berguna untuk menghubungkan pengguna (user) dengan sistem teknologi. Beberapa istilah di atas merupakan istilah yang sering diucapkan di bidang digital marketing, saat ini banyak perusahaan B2B maupun B2C berlomba-lomba dan berinvestasi di dunia digital marketing, sudah saatnya bagi Anda untuk berinvestasi di bidang ini.   Sumber: Revoupedia

Read More (1241 views)
Blog post
21 Nov'22

Yield 35% Ternyata Hanya 15%?

YIELD SEMU Ada iklan yang menawarkan investasi bisnis kuliner di suatu lokasi dengan "Indikasi Yield" sebesar 35%. Makna yield 35% adalah modal investasi Rp1 juta bisa menghasilkan Rp350 ribu setahun. Menurut saya "yield" ini SEMU. Mengapa?   1.Indikasi Yield Berarti Menurut Data Historis Data historis yang digunakan tentu mengacu pada satu (1) lokasi tertentu. Dalam hal ini, beda lokasi beda kinerja. Penyebabnya terutama karakteristik lokasi. Kita perlu mendapatkan lokasi yang digunakan untuk mendukung klaim yield 35% ini, karena lokasi yang ditawarkan belum tentu memiliki kesamaan karakteristik dalam hal kepadatan penduduk, jumlah traffic orang lewat, kebiasaan belanja, selera cita rasa makanan/minuman, dan beberapa hal lainnya dengan lokasi yang digunakan untuk klaim indikasi yield yang 35% itu. Selain faktor karakteristik lokasi, perbedaan kinerja bisa dikarenakan beda kualitas SDM dan pengelolaan operasional lainnya. 2. Tidak Likuid Karena merupakan investasi Securities Crowd Funding, modal Rp1 juta itu tidak bisa dicairkan, kecuali per 6 bulan ada yang mau membelinya. Inilah perbedaan antara saham biasa di lantai bursa IDX dengan saham urun dana (Securities Crowd Funding). Jual beli saham perusahaan yang terdaftar di IDX bisa kapan saja, asal cocok harga alias ada yang cari. Itu sebabnya saham yang banyak dan sering ditransaksikan disebut saham yang likuid. Saham bisnis riil (bisnis sendiri) juga sama, modal awal alias "pokok"-nya tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang tunai. Tapi kalau ada yang berminat jual beli, dan memenuhi syarat sesuai kesepakatan alias AD/ART kalau berbentuk badan hukum, maka transaksi jual beli saham kepemilikan bisa dilakukan kapan saja. Jadi, bila Anda hendak berinvestasi di bisnis riil, atau Securities Crowd Funding (dulu dikenal, sebagai Equity Crowd Funding atau ECF), maka Anda perlu tahu fakta ini: investasi ini merupakan asset yang tidak likuid alias tidak mudah dicairkan kembali menjadi uang tunai. 3. Yield Ini Semu Nah, karena tidak likuid, saya menganggap hasil investasi yang diterima sebagai yield semu. Bila investasi franchise dengan jangka waktu 5 tahun, maka yield 35% itu sebenarnya hanya sekitar 15%. Kalau 10 tahun, maka yield itu menjadi 25%. Memang ada nilai aset bekas, tapi tidak likuid. Kalau bukan property, maka nilai aset bekas dalam pembukuan pun mungkin sudah nol dalam kurun waktu 5-10 tahun. Kesimpulannya, yield bisnis riil dan crowdfunding sangat berbeda bila dibandingkan dengan yield investasi di pasar saham lantai bursa IDX.   Catatan: a. Meski nilai bukunya nol, aset tersebut tetap produktif. b. Yield 35% ini masih berpotensi jadi lebih rendah karena biasanya laba yang dibagikan hanya sebagian, misal 80%, untuk dana cadangan perawatan dan penggantian aset yang rusak. c. Apakah yield semu 35% bisa menjadi lebih dari 35%? Bisa, apabila nilai aset yang dijual ternyata lebih besar dari nilai modal yang disetorkan. d. Baca juga blog saya sebelumnya yang berjudul "Beda Mindset Investasi Vs Bisnis".     

Read More (811 views)
Blog post
07 Okt'22

Sales Naik Tapi Profit Turun?

Diskon promosi merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan. Namun demikian, bila tidak cermat akan terjadi fenomena “sales naik, profit turun”. Sales & Profit Saat membicarakan target sales, kita harus selalu melengkapinya dengan target profit. Hal tersebut untuk mencegah “salah fokus” dalam upaya meningkatkan profit dengan promosi dan/atau diskon penjualan gede-gedean yang menyebabkan gross profit tergerus signifikan. Contoh (Perhatikan tabel di bawah!): Bila HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah 45% dari kita sebut juga gross sales, atau harga semula atau price list. Tabel kiri menjelaskan jika tidak pernah diskon. Tabel kanan menunjukkan dampak dari diskon 20% all items, apabila net sales tidak ada peningkatan. Gross profit semula yang mencapai Rp5,5 juta turun menjadi Rp4,375 juta Menarik untuk disimak, bahwa nilai gross sales (yaitu volume atau quantity produk terjual) yang sudah meningkat 25% agar nilai net sales bisa tetap sama dengan kondisi net sales ketika tidak ada diskon. Namun peningkatan gross sales ini tidak mampu mengembalikan nominal gross profit yang semula adalah Rp5,5 juta. Peningkatan gross sales bermakna “peningkatan quantity” produk yang terjual, bila tidak ada praktik menaikkan harga semula alias price list sebelum memberikan diskon promosi. Itu sebabnya, HPP di sebelah kiri adalah Rp4.500.000,- dan HPP di sebelah kanan adalah Rp5.625.000,-. Hal ini dikarenakan persentase HPP dihitung dari gross sales (price list) produk yang terjual. Hati-hati dengan perhitungan persentase HPP dari net sales. Ketika ada diskon 20%, maka HPP terhadap net sales ikut meningkat persentasenya. Di tabel sebelah kiri HPP vs net adalah 45%, namun di sebelah kanan HPP vs net menjadi 56,25% Target Sales Ketika Diskon Promosi Kita harus menemukan nilai nominal net sales minimum (saat diskon promosi 20%) yang mampu memberikan kontribusi gross profit senilai Rp5,5 juta. Ternyata nominal net sales yang sudah 120% dari nominal net sales bila tidak ada diskon belum mampu menghasilkan kontribusi gross profit Rp5,5 juta tersebut. Net sales perlu naik menjadi 126% (dari Rp10 juta menjadi Rp12,6 juta), dan secara quantity peningkatan penjualan yang dibutuhkan ternyata 57,5% (dari Rp10 juta menjadi Rp15,75 juta). Strategi Diskon Promosi Strategi diskon promosi biasanya dilakukan untuk menjaga pencapaian penjualan ketika trend pola konsumsi sedang menurun. Kadang peningkatan target quantity penjualan (berdasarkan angka gross sales) bisa dicapai, kadang tidak. Masalah klasik terkait diskon promosi ini adalah berapa omset (net sales) yang dapat diraih kalau tidak ada diskon promosi?, Seberapa anjlok net sales ini? Jadi, strategi diskon promosi kadang memang “harus” dilakukan, dan untuk menjaga nilai gross profit. Selain upaya upselling & cross selling, biasanya dilakukan diskon terbatas pada produk tertentu, atau waktu tertentu. Tujuannya adalah, agar nilai % diskon promosi keseluruhannya menjadi lebih kecil dari 20%.   Baca Juga: Beda Up Selling vs Cross Selling                     Cross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan Semoga informasi tersebut di atas dapat membantu kita untuk menjaga profitabilitas bisnis kita semua.

Read More (1431 views)
Blog post
14 Jul'22

Plus Minus Urun Dana atau Cro…

Crowd Funding! Sebelum anda menempatkan dana anda melalui crowdfunding (urun dana), sebaiknya Anda pahami dulu plus minusnya. Ada 4 Jenis Urun Dana Hingga saat ini, tampaknya hanya ada 4 jenis urun dana, yaitu: 1. Berbasis Ekuitas, atau penyertaan saham (saham biasa dan saham syariah). 2. Berbasis Pinjaman, seperti utang, berupa obligasi, atau sukuk. 3. Berbasis Reward, atau hadiah 4. Berbasis Donasi, atau sumbangan. Gabungan antara jenis pertama dan kedua akhir-akhir ini dikenal sebagai Securities Crowd Funding (SCF), sementara jenis pertama saja kemudian disebut sebagai Equity Crowd Funding. Contoh SCF banyak kita jumpai seperti Bizhare, Santara, LandX. Jenis ketiga, yaitu berbasis hadiah, biasanya dilakukan dalam rangka rintisan bisnis untuk membuat prototype yang kemudian imbalannya berupa hak untuk menerima prototype produk tersebut. Contoh jenis ini sepertinya belum ada di sini. Yang sangat terkenal di luar negeri adalah kickstarter.com. Jenis keempat, sebagaimana namanya, pada umumnya bertujuan untuk penggalangan dana donasi. Contoh yang gencar berpromosi di sini adalah kitabisa.com. Plus Minus Ulasan mengenai plus minus dalam artikel ini hanya akan membahas jenis pertama dan jenis kedua, alias SCF. Belok sebentar, kita akan membahas perbedaan kepemilikan aset dalam saham syariah dan sukuk. Sebenarnya sukuk itu semacam obligasi, tapi karena obligasi itu bersifat utang dan berbunga, maka bentuk syariahnya menjadi sukuk dan bersifat kepemilikan aset. Kepemilikan aset dalam sukuk bersifat temporer, sesuai jangka waktu perjanjiannya. Sedangkan saham syariah tidak berjangka waktu, sesuai AD/ART PT tersebut. Kelebihan atau sisi plus dari SCF antara lain sesuai namanya, setiap orang bisa ikut urun dana mulai dari nilai terkecil yang ditetapkan oleh yang mencari dana melalui SCF. Risiko Ikut Urun Dana Secara umum risiko ikut urun dana adalah kalau perusahan yang mencari dana tersebut kemudian kinerjanya kurang baik. Tentu semua menyadari bahwa ini adalah risiko bisnis. Permasalahannya, kita harus menunggu periode 6 bulanan untuk menjual saham yang kita beli melalui ECF/SCF itu, sementara kalau di saham reguler kita bisa segera menjual saham yang buruk kinerjanya, asal belum terjebak di level saham gocap. Tentu saja menjual saham yang kinerjanya tidak baik di ECF/SCF bisa saja bernasib sama dengan saham gocap, alias tidak ada pembeli. (Ada rumor bahwa penerbit saham di ECF/SCF ada yang menjanjikan buy back, mungkin dalam % tertentu dari nilai awalnya, tapi saya belum menemukan konfirmasi tertulis mengenai hal ini). Upaya penulis menelusuri issue buy back terkait urun dana ini (sampai saat artikel ini ditulis) hanya menemukan adanya jaminan atau kewajiban buy back kepada penerbit saham yang menggunakan pola urun dana, apabila semula penerbit saham menerapkan pola syariah kemudian berubah menjadi konvensional (bukan syariah). Likuidasi Bila mengikuti aturan regulasi Perseroan Terbatas, tentu solusi ketika penerbit mengalami kesulitan arus kas adalah menerbitkan saham baru dan pemilik saham lama akan mengalami dilusi atau penurunan persentase kepemilikan modal. Itu kalau ada yang mau membeli saham tambahan yang diterbitkan. Jika tidak ada pembelinya, maka solusi terakhir adalah likuidasi. Nah terkait likuidasi, hak pemegang saham adalah yang terakhir dibayarkan setelah para pemberi utang atau pemilik piutang terhadap perusahaan yang menerbitkan saham melalui ECF/SCF ini. Dari sisi ini, tentu SCF berupa obligasi lebih diuntungkan dibandingkan saham. Status sukuk yang tidak persis sebagai utang, melainkan diakui sebagai kepemilikan aset temporer (sesuai jangka waktu sukuk) mungkin diprioritaskan alias diperlakukan seperti obligasi. Meski demikian, nilainya tergantung hasil likuidasi aset-aset yang ada. Franchising & Crowd Funding Bila Anda berniat membeli franchise dengan crowfunding, atau membuka cabang dengan crowdfunding, selain faktor-faktor di atas anda perlu mencermati biaya-biaya yang timbul. Biaya yang dibebankan oleh perusahaan urun dana biasanya berkisar antara 5%-10% dari nilai total dana yang terkumpul. Ini akan menjadi beban tambahan terhadap biaya awal waralaba. Bila Anda berniat “ikut” urun dana menanamkan modal urunan untuk membeli franchise, perlu kehati-hatian dan perhitungan yang cermat. Tips saya: pahami plus minusnya, sebagaimana yang sudah diuraikan di atas. Selanjutnya, pastikan (1) proyeksi keuangannya dapat dipercaya, (2) mereknya mampu mendatangkan penjualan sesuai target, dan (3) tim manajemen operasionalnya nanti mampu menjalankan operasional sehari-hari dengan baik sehingga target-target bisa tercapai. * Bila ada informasi tambahan yang dapat melengkapi pemahaman terkait urun dana ini, Anda bisa kirim email ke admin@klikfranchise.com Crowd Funding! Sebelum Anda menempatkan dana Anda melalui crowdfunding (urun dana), sebaiknya anda pahami dulu plus minusnya.  

Read More (1037 views)
Blog post
29 Jun'22

Salah Informasi Menjadi “Bom …

Salah mengelola arus kas dapat mengakibatkan lumpuhnya suatu bisnis, bahkan beberapa bisnis bubar karena kesalahan ini. Oleh karena itu dibutuhkan Laporan Keuangan yang akurat dan informatif untuk keperluan pengambilan keputusan maupun mendeteksi hal-hal yang tidak diinginkan. Laporan Arus Kas Pada umumnya para pelaku bisnis level UKM memantau bisnisnya dengan pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Itupun kalau mereka cukup disiplin melakukan pencatatan dan memisahkan keuangan pribadi dari keuangan bisnis mereka. Pencatatan yang berorientasi pada pemasukan dan pengeluaran yang dikenal sebagai laporan arus kas ini tentu saja memiliki beberapa kelemahan, yaitu hanya memberikan gambaran tentang arus kas saja. Sering saya jumpai bahwa pencatatan arus kas ini tidak memberikan gambaran mengenai laba kotor secara akurat, karena definisi HPP (Harga Pokok Penjualan) bagi UKM yang hanya mengandalkan Laporan Arus Kas ini adalah “transaksi pembelian”. Akibatnya persentase “HPP” menjadi seperti yo-yo, naik turun dari bulan ke bulan. Ketika ada bulan yang banyak transaksi pembelian bahan baku, “HPP” nya melonjak sangat tinggi, tapi dalam bulan-bulan sedikit transaksi pembelian, “HPP” nya menjadi sangat rendah. “Tapi kan bisa diambil nilai setahun? Coba kita hitung dengan rentang waktu satu tahun". Argumen ini yang sering muncul bila saya mengingatkan fenomena naik-turunnya HPP dari bulan ke bulan. Bila stok awal tahun bisa persis sama dengan nilai stok akhir tahun, langkah menyetahunkan transaksi pembelian memang bisa “menetralisir” naik-turunnya “HPP” bulanan. Tapi siapa yang bisa menjamin kesesuaian nilai stok awal tahun dengan stok akhir tahun, kecuali kita melakukan pencatatan stok awal tahun dan akhir tahun dengan disiplin dan akurat? Laporan Laba/Rugi Untuk memantau biaya HPP yang lebih akurat, biasanya kita menggunakan Laporan Laba Rugi. Nilai HPP dalam Laporan ini biasanya dipasangkan dengan item-item barang yang terjual. Untuk itu dibutuhkan pencatatan yang akurat terkait stok barang. Setiap selisih jumlah stok barang akan dicatatkan sebagai penjualan dengan catatan bahwa “penjualan” ini merupakan akibat selisih stok alias deviasi atau penyimpangan jumlah stok.   Sisi positif dari ditemukannya deviasi ini adalah kita mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan, yang harus dilaporkan dan dijelaskan oleh pimpinan gerai, entah itu kerusakan barang atau kehilangan barang. Laporan Neraca Dua laporan di atas tidak lengkap bila belum ada Laporan Neraca, karena di sini kita dapat menemukan adanya pengeluaran belanja modal (capital expenditure, atau capex) yang bukan pengeluaran rutin dengan bukti tercatatnya aset tersebut di dalam neraca. Dalam Laporan Neraca pula kita dapat menemukan pencatatan piutang dan utang, dua hal yang sering membingungkan kita ketika arus kas atau kondisi rekening kita tidak ssuai dengan Laporan Laba/Rugi. Kehadiran tiga jenis laporan tersebut akan membantu kita dalam mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Arus kas yang melimpah harus dicermati dengan memantau jumlah utang usaha, yaitu kewajiban pembayaran kepada pemasok. Bila tidak punya data yang akurat mengenai jumlah utang, maka bisa jadi arus kas yang melimpah ini kita gunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya kita beli. Arus kas yang menunjukkan surplus hingga Rp20 juta, tanpa dilengkapi data Laba/Rugi dan posisi utang kepada pemasok mungkin akan menggoda kita untuk membeli kendaraan pribadi dengan skema kredit. Bila kita tidak punya data yang akurat terkait HPP, maka bisa jadi kita menjalankan usaha dengan intuisi belaka, sehingga ketika mengambil keputusan untuk memberlakukan diskon promosi penjualan, maka margin keuntungan kotor (dan margin keuntungan bersih tentunya) menjadi kedodoran. Bila kita hanya mengandalkan pencatatan stok awal dan stok akhir, lalu dikaitkan dengan pembelian (barang masuk gudang), tanpa memperhatikan kaitannya dengan penjualan dalam periode yang sama, bisa jadi nilai HPP dalam persepsi Anda menjadi sangat tinggi ketika sebenarnya terjadi cukup banyak barang yang hilang atau rusak. Semua kesalahan akibat kurang akuratnya informasi tersebut bisa menjadi “bom waktu” yang menghancurkan bisnis Anda. Pastikan pengambilan keputusan bisnis Anda didukung oleh data-data yang akurat. Semoga bermanfaat!  

Read More (744 views)
Blog post
24 Jun'22

Bisnis dengan Pertumbuhan Eks…

Tren pertumbuhan bisnis sedang dan sudah bergeser dari linear menjadi eksponensial. Pertumbuhan linear, yang disebut pula pertumbuhan incremental, cukup puas dengan peningkatan 10-20% per tahun, meski sebagian mungkin mampu membukukan pertumbuhan lebih dari 20% per tahun. Sebaliknya pertumbuhan eksponensial berbicara tentang peningkatan 10x lipat. Mark Bonchek bahkan menggambarkan dalam Harvard Business Review bahwa pola pikir eksponensial adalah bagaimana menambah input 100% dan menghasilkan output 1000%. Bila bisnis dengan pertumbuhan incremental harus mengendalikan pertumbuhannya agar tidak melebihi kemampuan supply dari mesin produksinya. Sebaliknya, bisnis dengan dengan pertumbuhan eksponensial tidak perlu melakukan hal tersebut. Dalam hal ini platform digital memindahkan sumber daya dari “mesin industri” yang memiliki keterbatasan menjadi “jaringan” (network) seluas-luasnya. Hal itulah yang dipraktekkan oleh para pemain bisnis aplikasi seperti eBay, Amazon, serta nama-nama beken akhir-akhir ini seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Sebelum gelombang platform digital, beberapa upaya untuk tumbuh melewati kapasitas supply mesin produksi adalah dengan cara pemberian (menjual) lisensi, waralaba, dan upaya-upaya produksi dengan cara maklon (produksi di pabrik pihak lain). Lisensi Tingginya biaya penelitian R&D mendorong praktek pemberian lisensi. Pabrik farmasi yang menemukan suatu formula dapat segera memberikan lisensi produksi dan pemasaran kepada pihak lain dengan imbalan royalti. Biasanya lisensi ini diberikan untuk wilayah pemasaran yang tidak mengganggu potensi pasar dari pabrik pemberi lisensi tersebut. Pemberian lisensi yang lainnya, yang lebih banyak dikenal, adalah lisensi design karakter kartun yang dipasang di berbagai produk. Gambar karakter Mickey Mouse dari Disney misalnya, banyak dijumpai terpasang pada botol minum anak-anak. Perusahaan yang hendak memasang gambar karakter Mickey Mouse pada botol minuman yang diproduksinya harus membayar royalti kepada Disney. Dengan strategi lisensi seperti ini, Disney berpotensi mengecap pertumbuhan yang hampir tanpa batas, karena tidak ada unsur mesin produksi di pihak Disney. Waralaba Beberapa ikon waralaba kelas dunia seperti McD dan KFC memiliki tingkat pertumbuhan gerai yang luar biasa tinggi. Setiap tahunnya mereka dapat menambah jumlah gerai hingga puluhan ribu. Alfamart dan Indomaret saja bisa menambah gerai hingga seribu lebih dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, yaitu mereka menerapkan strategi kemitraan dengan para pemasok sehingga terlepas dari kendala mesin produksi, dan mereka menawarkan peluang waralaba kepada para investor sehingga terlepas dari kendala permodalan. Platform Digital Pertumbuhan eksponensial memang lebih sering dikaitkan dengan fenomena bisnis digital seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Dalam konteks platform digital ini, bisnis yang tumbuh secara eksponensial digambarkan harus mencari sesuatu yang “berbeda”, bukan sekedar menjadi “lebih baik”. Memang tidak mudah menemukan sesuatu yang “berbeda” ini. Siapa menyangka layanan serba gratis seperti Facebook, Google, dan Youtube akhirnya meraup belanja iklan yang sangat besar untuk membiayai bisnis mereka dan menghasilkan laba usaha yang signifikan? Salah satu platform digital lokal Indonesia, Tokopedia, memiliki konsep unik. Mereka tidak memungut komisi dari pembeli dan penjual. Kebijakan ini tentu meninggalkan pertanyaan di benak kita, bagaimana perusahaan ini membiayai operasional hariannya? Masih misterius memang, seperti apa strategi jangka panjang untuk sumber pendapatan Tokopedia ini. Hingga saat ini Tokped, demikian nickname mereka, masih mengandalkan modal yang disuntikkan oleh para pemodalnya yang dikenal sebagai modal ventura. Ada beberapa sumber pemasukan yang resmi dipublikasikan, seperti gold merchant dan TopAds. Adapula yang berspekulasi bahwa sebenarnya ada bagi hasil dari jasa kurir pengiriman. Yang pasti, saat ini tampaknya Tokopedia belum membukukan laba usaha yang signifikan. Menurut Mark Bonchek, pendiri dan CEO (Chief Epiphany Officer) dari Shift Thinking, para pebisnis seringkali harus mampu merasa nyaman dengan “ketidakpastian” di tahap awal bisnisnya, dengan catatan ia harus mampu menjaga visi jangka panjangnya, walau kadang tidak ada gambaran yang jelas mengenai rencana pertumbuhannya akan menjadi seperti apa di kemudian hari. Incremental vs Exponential Thinking   Menyimak kurva yang disajikan Mark Bonchek, terlihat bahwa dibutuhkan kesabaran dan visi jangka panjang, yang kadang bisa saja merupakan “perjudian besar”. Bahkan di tengah perjalanannya bisa saja pesaing masuk dengan konsep lebih baik, sebelum pertumbuhan eksponensialnya tercapai. Friendster tanpa disangka-sangka tersisihkan oleh Facebook. Ketergusuran bisa pula terjadi di awal atau di tengah pertumbuhan eksponensial suatu bisnis. Yahoo secara perlahan namun pasti tergusur oleh Google. Sebagaimana saran prinsip positioning untuk membangun kategori produk baru, Airbnb tampaknya melenggang hampir tanpa pesaing yang signifikan karena lambatnya pemain lain masuk kategori ini, kecuali di Tiongkok. Pertengahan 2016 dikabarkan Airbnb memiliki listing sebanyak 2 juta di seluruh dunia, namun hanya 30 ribuan yang berlokasi di Tiongkok. Kompetitor utamanya, Tujia, listingnya mencapai 420 ribu lokasi. Satu lagi kompetitor di Tiongkok, Mayi,  mengklaim memiliki listing sebanyak 300 ribu lokasi. Negara tirai bambu ini memang menjadi momok bagi para kampiun bisnis asal Amerika. Dari bisnis waralaba, tersiar kabar bahwa KFC (Yum) dan McD akhirnya memutuskan untuk keluar dari kepemilikan bisnis di negeri tirai bambu tersebut, menjual sahamnya kepada mitra lokalnya. Di bisnis digital, konon eBay tergagap-gagap menghadapi Alibaba di sana. Uber pun memilih untuk merger dengan pesaingnya di sana, Didi Chuxing. Mengamati kurva dari Mark Bonchek, mungkin dapat disimpulkan bahwa bisnis digital seperti Go-jek, Grab, Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan beberapa Apps lokal Indonesia belum memasuki tahap pertumbuhan eksponensial. Mereka semua masih sedang “membangun” menuju pertumbuhan. Gugur Sebelum Berkembang Untuk bersaing di bisnis dengan pertumbuhan eksponensial sebagaimana yang diungkap dalam kurva tersebut, kita memahami bahwa persaingannya membutuhkan nafas panjang, khususnya dari sisi keuangan. Kehadiran Go-jek sempat melahirkan Blu-jek dan Lady-jek serta mungkin masih ada jek-jek yang lain. Situs belanja online juga tidak luput dari peristiwa gugurnya pemain sebelum tumbuh berkembang secara eksponensial. Rakuten Belanja Online yang diluncurkan 2011 akhirnya tutup di awal 2016 lalu. Sementara itu, menurut kompas.com, situs belanja online multiply.co.id yang bermula dari jejaring sosial mengibarkan bendera putih di tahun 2013, hanya berselang 2 tahun dari tahun peluncurannya sebagai situs jual beli online yang mengusung konsep “social shopping”. Tampaknya bisnis dengan pertumbuhan eksponensial akan membutuhkan kehadiran banyak pemodal ventura, yang konon masih langka di Indonesia. Pemodal ventura yang mendanai Apps lokal masih didominasi oleh pemodal ventura dari luar negeri, seperti SoftBank, Sequoia Capital, Vertex Ventures, Farallon, Northstar, dan beberapa nama yang mungkin terdengar asing di telinga kita. (Jakarta, April 2017)

Read More (881 views)
Blog post
17 Jun'22

C-level Dalam Bisnis, Berapa …

Di dunia bisnis, khususnya bisnis di bidang teknologi atau start-up penggunaan istilah C-level atau C-suite semakin sering digunakan. Istilah tersebut berisi struktur jabatan di dalam organisasi perusahaan. C-level yang saat ini sering digunakan adalah CEO, COO, CFO, CMO, dan CTO. Selain C-level tersebut, masih banyak lagi C-level lainnya bergantung penggunaan istilah yang ada di masing-masing perusahaan, namun yang paling sering adalah kelima C tersebut. Apa itu C-level? Sederhananya C-level adalah istilah yang memiliki huruf “C” sebagai awalan kata dan berisikan kelompok jabatan tertinggi di dalam suatu perusahaan. Namun, C-level ini tetap ada yang memimpin, yaitu CEO. Mengetahui C-level yang memiliki peranan penting, kira-kira berapa sih gajinya? Berikut gaji C-level yang diambil dari situs karir terkemuka di dunia, yaitu Glassdoor. 1. CEO (Chief Executive Officer) CEO merupakan pemegang jabatan tertinggi di dalam suatu perusahaan. CEO berperan menjadi kepala direksi yang memimpin dan bertanggung jawab penuh terhadap suatu perusahaan. CEO ini bisa juga disejajarkan dengan direktur utama. Beberapa nama yang masih menjabat CEO saat ini adalah William Tanuwijaya (Tokped), Anderson Sumarli (Ajaib), Anthony Tan (Grab), dan masih banyak lagi contoh lainnya. Sedangkan untuk estimasi gajinya, CEO di Indonesia memiliki estimasi gaji sebesar 35 juta rupiah per bulan. Untuk rentang gajinya dari yang terendah sampai tertinggi, yaitu 15 juta – 1 miliar rupiah per bulan. 2. CTO (Chief Technology Officer) CTO merupakan pemegang jabatan tertinggi di bidang strategis teknologi dan informasi. CTO ini biasanya memimpin divisi-divisi yang ada di dalam perusahaan seperti produk, data, dan sebagainya. Untuk bisnis start-up, biasanya CTO adalah anggota tim awal yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan "produk".  Meskipun jabatan CTO hanya pada bidang yang berkaitan dengan teknologi dan informasi saja, namun CTO tetap dituntut untuk memiliki softskills pendukung lainnya seperti leadership, negosiasi, business domain, dan sebagainya. CTO memiliki estimasi gaji yang lebih besar dibanding CEO, yaitu sebesar 42 juta rupiah per bulan. Nilai kisaran gaji yang diberikan untuk CTO sebesar 21 juta – 300 juta rupiah per bulan. 3. COO (Chief Operational Officer) Sesuai namanya, COO adalah pemegang jabatan tertinggi dalam bidang operasional di suatu perusahaan. COO ini yang memastikan operasional perusahaan berjalan lancar setiap harinya, sekaligus pemberi keputusan pada hal-hal yang masih dalam sekup operasional. Dengan jabatan yang demikian, COO memiliki gaji sebesar 156 juta rupiah per bulan dengan rentang gaji sebesar 28 juta – 362 juta rupiah per bulan. 4. CFO (Chief Financial Officer) CFO adalah pemegang jabatan tertinggi dalam bidang finansial atau keuangan perusahaan dan membawahi beberapa divisi yang berkaitan dengan keuangan. CFO memiliki wewenang & tanggung jawab mengenai perencanaan keuangan sampai ke laporan keuangan perusahaan. Gaji yang diberikan untuk CFO sekitar 24 juta per bulan dengan rentang 9 juta – 101 juta rupiah per bulan. 5. CMO (Chief Marketing Officer) Marketing merupakan ujung tombak suatu perusahaan yang berperan memasarkan produk sehingga produk tersebut laku terjual. Nah, posisi keren yang memimpin semua aktivitas tersebut adalah CMO. Segala hal yang berkaitan dengan marketing, sales, sampai ke branding dikomandoi oleh CMO ini.  Karena perannya yang demikian itu, CMO memiliki gaji 214 juta per bulan dengan rentang 13 juta – 604 juta rupiah per bulan. Referensi Ekrut Glassdoor Glints

Read More (6083 views)
Blog post
09 Jun'22

“Flexing” Sebagai Strategi Ma…

Beberapa waktu lalu media dikejutkan dengan penangkapan beberapa “influencer” yang kerap kali melakukan flexing di media sosial. Para tersangka tersebut didakwa atas dugaan kasus penipuan berkedok investasi. Pada artikel kali ini, kita tidak akan membahas tentang pentingnya pengawasan diri agar tidak menjadi korban flexing. Namun dari sisi yang lain, yaitu flexing as a marketing strategy. Pertama-tama, perlu kita ketahui apa arti dari kata flexing. Sebenarnya flexing sendiri merupakan kosa kata yang sudah lama ada, yaitu sejak tahun 1990-an. Saat itu, flexing digunakan oleh masyarakat kulit hitam untuk “menunjukkan keberanian” atau “pamer”. Berlanjut ke saat ini, flexing menurut Merriam-Webster adalah menunjukkan sesuatu atau memamerkan sesuatu secara mencolok. Seiring berkembangnya media sosial, flexing menjadi kegiatan yang mudah dan sering kita lihat, sehingga hal tersebut tidak lagi “tabu”. Flexing di sini bisa memamerkan banyak hal, seperti kekayaan, pencapaian, kredibilitas, dan sebagainya.   Apakah flexing bisa menjadi strategi marketing? Terlepas dari tujuannya benar ataupun salah, flexing dapat digunakan sebagai strategi marketing. Hal ini juga diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis UI, Rhenald Kasali. Menurutnya, kasus First Travel yang heboh beberapa tahun lalu juga berhasil menipu customer-nya karena pemilik bisnis (pelaku) seringkali memarekan kekayaannya di media sosial. “Flexing itu ternyata marketing untuk membangun kepercayaan dan menunjukkan kepada customer. Akhirnya, customer percaya dan menaruh uangnya untuk ibadah umrah, walau akhirnya banyak yang tidak berangkat" jelas Rhenald Kasali. Selain itu, dari kasus penipuan berkedok investasi beberapa waktu lalu, kita juga sadari bahwa flexing memiliki impact yang signifikan. Bahkan salah seorang diantara pelaku tersebut mengakui, alasannya membuat konten flexing karena konten tersebut mendapat feedback yang sangat signifikan dari audiens. Followers-nya meningkat pesat dalam waktu singkat, sehingga namanya makin melejit yang mengundang brand berdatangan. Meski perlu diakui, feedback audiens-nya ada yang positif dan banyak pula yang negatif (memberi hujatan). Dari beberapa kasus tersebut kita belajar bahwa flexing dapat menjadi strategi yang tepat untuk bisnis tertentu. Karena dengan kegiatan flexing yang notabene “mencolok” dapat lebih kuat menarik perhatian audiens dan menyampaikan pesan. Namun perlu dipahami, jika ingin melakukan flexing untuk keperluan marketing harus tahu batas-batasnya, jangan sampai melakukan flexing dengan kebohongan. Referensi Merriam-Webster Tirto

Read More (806 views)
Blog post
06 Jun'22

8 Sebab Utama Kegagalan Bisni…

  Dirangkum dari franchisedirect.com, ada 8 sebab utama kegagalan bisnis franchise. Ada 4 faktor franchisor (1-4) dan 4 faktor franchisee (5-8). *Saya menambahkan keterangan, versi saya sendiri. Training & support tidak memadai, entah karena kejar setoran agar bisa buka sebanyak-banyaknya, atau memang tim nya kurang kompeten, atau franchisor sedang melewati learning curve dan masa sulitnya. Bisnis dan franchise model yang relatif baru, belum teruji oleh waktu. Biasanya ini karena hype sesaat. Contoh ekstrimnya ais kepal milo. Pasarnya tidak cukup besar untuk mengimbangi biaya-biayanya. Ini kekeliruan yang klasik, dan menjadi faktor utama kegagalan mayoritas start-up yang dilanda gelombang PHK maupun gulung tikar saat ini. Menghasilkan produk adalah satu hal, menjual dan menghasilkan uang yang cukup dari produk itu adalah hal lain yang tidak kalah penting. Franchisor bubar, karena memang tidak memiliki komitmen jangka panjang pada bisnisnya, atau sebagai akibat dari kesulitan keuangan. Di Amerika sendiri ada beberapa franchisor yang menyatakan bangkrut karena terlalu banyak utang, tapi seringkali terselamatkan karena biasanya ada perusahaan lain yang mengambil-alih. Selain itu bisa juga franchisor sekedar mengurangi jumlah tim sehingga sistem support memburuk. Modal kerja pas-pasan, karena informasi franchisor yang banyak hidden cost, atau memang franchisee-nya yang memaksakan diri. Tidak realistis dalam menyusun proyeksi bisnis, karena menelan mentah-mentah semua target dan asumsi yang dipublikasikan franchisor (padahal ini untuk wilayah lain), atau membuat asumsi dan target yang terlalu optimistis dan tidak sesuai keadaan wilayah lokasinya. Tidak tunduk pada sistem franchisor. Ini biasanya bisa diminimalisir jika seleksi franchisee dan tim operasionalnya cukup ketat. Orang-orang yang super kreatif, dan sulit tunduk pada sistem yang baku, memang tidak cocok menjadi franchisee. Tidak fokus. Tidak sedikit franchisee yang menjadikan investasi franchise-nya sebagai bisnis kedua, sehingga kurang mendapat perhatian dan mudah dikelabui pegawainya (kehilangan barang maupun uang tunai). Di sisi lain adapula franchisee yang mengalihkan laba operasional (atau lbh parah lagi: omset) di bisnis franchise nya untuk bisnis lainnya yang sedang kesulitan arus kas. Akibatnya, bisnis franchise yang sebenarnya bagus jadi bermasalah juga. Semoga bermanfaat!

Read More (853 views)
Blog post
30 Mei'22

Cara Daftar HKI Merek Secara …

Cara Daftar HKI - Salah satu syarat yang harus dipenuhi apabila hendak mewaralabakan bisnis adalah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang terdaftar atau minimal sedang dalam proses. Untuk itu dalam artikel kali ini, Klikfranchise akan membagikan kepada Anda bagaimana melakukan pendaftaran HKI merek secara mandiri. Langkah-Langkah Mendaftar HKI Registrasi akun dengan menekan tombol “Daftar” di laman https://merek.dgip.go.id/. Pada tahap ini, Anda dapat memilih Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah pada pilihan “Jenis Pemohon”, kemudian sisanya dapat Anda isi sesuai data diri dan usaha Anda. “Aktivasi Akun” lewat email yang Anda daftarkan. Setelah “Login”, Anda akan sampai pada dashboard DGIP. Anda dapat memilih “Permohonan Online” yang dilanjutkan dengan memilih menu “Tambah” untuk melakukan permohonan online. Akan muncul pop-up yang menanyakan apakah Anda sudah memiliki Kode Biling atau belum. Anda dapat memilih “Belum” untuk mengisi kelas apa saja yang Anda daftarkan dan mengisi form di laman https://simpaki.dgip.go.id/. Apabila Anda telah selesai mengisi form tersebut, Anda akan mendapatkan Invoice Pembayaran yang harus langsung Anda bayar untuk melanjutkan pendaftaran ke tahap berikutnya. Sebagai informasi, jumlah biaya yang Anda bayarkan nantinya akan bergantung pada berapa banyak Jumlah Kelas yang Anda pilih. Dashboard Permohonan Online HKI Merek Tahap terakhir adalah tahap pengisian seperti pada gambar di atas. General: Berisi mengenai data pembayaran yang akan otomatis terisi jika kode billing Anda terverifikasi sudah melakukan pembayaran. Pemohon: Formulir pendaftaran yang berisi data diri & usaha. Kuasa: Berkaitan dengan pendaftaran melalui pihak lain (Notaris, Konsultan Merek, Dll). Anda bisa melewati tahap ini jika memang tidak memakai jasa pihak ketiga. Prioritas: Ini adalah kolom opsional, Anda bisa mengisinya bila pernah mendaftar merek ke luar negeri. Jika tidak, Anda bisa langsung lewati tahap ini. Merek: Berisi data mengenai merek Anda dan logo. Kelas: Berisi kelas yang Anda ajukan. Informasi mengenai kelas bisa dilihat di http://skm.dgip.go.id/. Lampiran: Berisi form yang meminta Anda untuk melampirkan dokumen pendukung dan ttd. Resume: Merupakan ringkasan dari semua tahap yang Anda isi sebelumnya. Submit Permohonan Online. Selain secara mandiri, anda juga bisa meminta bantuan pihak ketiga (third party) untuk melakukan pendaftaran HKI merek. Secara umum, kelemahan jika Anda memakai pihak ketiga adalah biaya yang lebih besar dari seharusnya, namun kelebihannya adalah Anda mendapatkan saran dari profesional supaya pengajuan Anda lancar dan tidak ditolak. Sekian, semoga berhasil dengan pengajuan merek Anda! 

Read More (968 views)
Blog post
19 Mei'22

8 Cara Kreatif Naikkan Omset

Ada 8 cara menaikkan omset, beberapa mungkin belum Anda ketahui. Meski diharapkan akan meningkatkan profit, sesungguhnya fokus dari 8 cara ini adalah meningkatkan omset, bukan profit. Kita akan bahas terpisah mengenai cara meningkatkan profit.   Tambah Belanjaan Tambah belanjaan sering disebut sebagai upselling. Ketika kita hendak membeli paket hemat di KFC, kita ditawari tambahan sup atau perkedel, atau es krim, bahkan CD musik bukan? Ketika kita selesai dengan makanan utama, pelayan restoran menawarkan hidangan pencuci mulut seperti pudding atau es krim. Di apotek pun bisa terjadi upaya upselling. Ketika Anda membeli obat flu misalnya, pegawai apotek mungkin menawarkan Vitamin C kepada Anda. Pelayan yang pasif, atau pedoman operasional yang tidak mengupayakan upselling, mencerminkan kurangnya perhatian dalam upaya meningkatkan omset. Tambah Produk Bila produk yang dimiliki sangat terbatas, maka perlu dipikirkan untuk menambah produk baru. Gerai-gerai kopi tampaknya memahami kebutuhan menambah produk ini. Starbucks, Janji Jiwa, Fore dan beberapa merek lainnya menambahkan produk makanan untuk meningkatkan omset gerai mereka. Tambah Outlet Selain menambah produk, menambah jumlah outet atau buka cabang adalah salah satu cara yang paling sering dijumpai dalam upaya meningkatkan omset. Dalam hal ini waralaba dan kemitraan merupakan cara untuk menambah outlet ketika menghadapi kendala keterbatasan modal. Penambahan outlet berpotensi meningkatkan omset lebih besar daripada penambahan produk, karena potensi omset 1 gerai memang cukup tinggi (bila tidak ada kekeliruan dalam memilih lokasi dan mempersiapkan SDM nya). Tambah outlet zaman now tentu saja bisa diterapkan dengan penambahan channel penjualan di dunia maya: affiliate, reseller, dropshipper, atau membuka toko sendiri di marketplace dan direct selling di website korporat.   Tambah Volume Konsumsi Apakah Anda ingat iklan Yakult yang mendorong konsumsi 2x sehari? Atau Kratingdaeng yang mengkampanyekan bahwa produknya mana dikonsumsi hingga 3x sehari? Iklan dari dua produk tersebut merupakan contoh upaya meningkatkan volume konsumsi agar penjualannya bisa meningkat. Orang-orang yang semula hanya mengkonsumsi 1x sehari bisa tergerak ingin meningkatkan konsumsinya. Manfaat Tambahan Contoh mengenai manfaat tambahan ini adalah produk abon. Ketika muncul trend bahwa produk abon digunakan untuk topping produk bakery, maka omset produsen abon meningkat, bahkan konon harga jual abon pun meningkat seiring bertambahnya permintaan akibat manfaat barunya sebagai topping produk bakery. Pilihan Packaging Yang satu ini mungkin agak kontroversial. Konon penggunaan packaging tube plastik dapat mendorong penjualan lebih tinggi karena konsumen tidak dapat menggunakan isi produk di dalam tube plastik itu sampai habis, bila dibandingkan dengan kemasan tube aluminium. Memang ada sekelompok konsumen yang penasaran dan memotong tube plastik untuk bisa memanfaatkan sisa produk di dalam tube tersebut sampai tuntas habis. Tapi tampaknya kelompok ini tidak terlalu banyak jumlahnya. Diskon Penjualan Yang terakhir ini bisa berhasil, tapi bisa juga gagal dalam upaya menaikkan omset. Ketika menerapkan program diskon penjualan, dibutuhkan jumlah transaksi dan/atau upaya upselling supaya target penjualan dari program diskon penjualan ini memberikan hasil yang maksimal, tidak mencederai kinerja penjualan sebelumnya, juga tidak mencederai margin keuntungan yang biasa diperoleh tanpa program promosi yang menawarkan diskon penjualan. Diskon penjualan dapat bermakna program bundling (paket hemat, PDP atau pembelian dengan pembelian), diskon untuk pembelian dalam jumlah besar (bulk purchasing), dan sebagainya. Tambah Frekuensi Kunjungan Belanja Meningkatkan frekuensi kunjungan pelanggan biasanya terkait dengan program promosi diskon penjualan. Misal Anda diberi voucher senilai 20% dari nilai belanja Anda, untuk kunjungan berikutnya, tapi berlaku sampai akhir bulan saja. Artinya Anda harus berkunjung lagi sebelum akhir bulan. Sekalipun semula Anda tidak berencana berkunjung lagi.

Read More (854 views)
Blog post
07 Apr'22

5 Manfaat Quality Control

Dalam bahasa Indonesia Quality Control (QC) dikenal dengan sebutan kendali mutu. QC merupakan gabungan antara dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu quality dan control. Dikutip dari Investopedia, Quality Control adalah suatu cara yang dilakukan supaya kualitas produk dapat dipertahankan atau ditingkatkan. QC sering digunakan dalam dunia bisnis. Umumnya, perusahaan atau usaha yang sudah “mapan” cenderung menerapkan QC dengan standar yang lebih tinggi dan ketat terhadap produknya. Dalam dunia otomotif, QC perlu dilakukan untuk menjaga kualitas spare part yang dihasilkan agar berfungsi sesuai dengan kualitas yang ditentukan dan presisi. Dalam bisnis resto, penerapan QC untuk memastikan rasa makanan tetap sama atau tidak menurun. Sementara untuk franchise, QC sering disandingkan dengan SOP yang ditetapkan franchisor supaya pelayanan dan kualitas produk dari masing-masing gerai yang satu dengan yang lainnya sama. Manfaat Menerapkan QC QC menjadi sedemikian penting untuk menjaga kualitas produk. Pertanyaan selanjutnya adalah manfaat apa saja yang didapatkan apabila menerapkan QC dengan baik? Dilansir dari Hkqcc, beberapa manfaat menerapkan QC antara lain: Kepuasan Konsumen Seperti pepatah mengatakan, “pembeli adalah raja.” Apabila usaha Anda menerapkan QC dengan baik, maka konsumen akan diuntungkan dan hal tersebut dapat membuat mereka lebih loyal. Meningkatkan Nama Baik Konsumen yang selalu puas dengan produk atau pelayanan akan memiliki penilaian yang positif terhadap usaha Anda. Lambat laun, nama baik Anda akan meningkat dan itu adalah hal yang sangat berharga. Dalam ilmu akuntansi, nama baik masuk menjadi intangible asset usaha. Menurunkan Biaya Produksi Penerapan QC juga dapat menurunkan biaya produksi, karena Anda yang mendefinisikan sendiri kualitas seperti apa yang hendak dijadikan kualitas produk. Karena proses produksi yang sudah terstandarisasi akan menghasilkan biaya yang lebih efisien dan minim pemborosan. Pemanfaatan Sumber Daya Karena telah melakukan pengujian dan standarisasi mutu. Maka, dengan menerapkan QC dapat memastikan bahwa alokasi sumber daya yang digunakan telah maksimal. Mempertemukan dengan Konsumen yang Tepat QC dapat membuat konsumen yang memiliki “standar” tertentu bertemu dengan produk Anda. Konsumen yang seperti ini biasanya akan berpotensi menjadi konsumen yang loyal.

Read More (790 views)
Blog post
24 Mar'22

4 Hal Mendasar dalam Influenc…

Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, influencer marketing adalah salah satu strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Di dalam influencer sendiri, terbagi dari nano sampai mega influencer, bergantung pada seberapa besar pengaruh dan jumlah followers-nya. Artikel ini akan fokus membahas 4 hal mendasar dalam menerapkan strategi tersebut agar efektif. 1. Influencer yang Sesuai Dengan Target Market Mengutip Econsultancy, 73% menyatakan bahwa bagian tersulit dari influencer marketing adalah memilih influencer yang tepat. Memilih influencer sama dengan memilih representasi dari produk Anda, yang akan menjadi perpanjangan tangan. Anda dapat melakukan riset sebelumnya, pastikan untuk memilih influencer yang sesuai dengan target market. Tidak mungkin melakukan promosi makanan cepat saji yang cenderung tinggi kalori menggunakan influencer yang fokus pada healthy life style. Jangan hanya berfokus pada jumlah followers, fokus juga pada relevansi influencer dengan bidang bisnis Anda. Bahkan, 72% menyatakan relevansi lebih penting dibanding jangkauan. 2. Jangan Anggap Remeh Micro Influencer Banyak yang berpikir bekerja sama dengan influencer yang memiliki “nama besar” adalah jalan terbaik. Hal tersebut tidak selamanya benar, terkadang bekerja sama dengan micro influencer juga dapat memberi dampak yang lebih signifikan. Penelitian yang dilakukan MYSOCIAL, terhadap 1 juta influencer menunjukan, engagement rate influencer dengan followers <100 ribu lebih besar hingga lima kali dibanding influencer dengan >100 ribu followers. Dari hasil yang demikian, Anda bisa mengefektifkan strategi dengan memilih beberapa influencer yang potensial dibanding hanya satu influencer besar saja. 3. Konsultasi Dengan Influencer Langsung Melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan influencer yang bersangkutan bukanlah pilihan yang buruk. Karena bagaimanapun juga, yang lebih mengetahui karakteristik followers-nya dengan lebih detail adalah influencer itu sendiri. Dengan melakukan konsultasi dan mendiskusikan ide akan berpeluang menghasilkan “jalan ketiga” yang mungkin jauh lebih efektif. 4. Evaluasi Hasil Evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana progres yang telah dicapai. Dengan melakukan evaluasi dapat memperjelas tipe influencer mana yang cocok untuk bisnis Anda kedepannya. Mengutip GLINTS, evaluasi dapat dilakukan dengan memantau pertambahan followers, kenaikan visitor (pengunjung) dalam website ataupun langsung, penjualan, serta engagement dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Referensi ECONSULTANCY GLINTS MYSOCIAL

Read More (746 views)
Blog post
21 Mar'22

Memahami Marketing Funnel Kur…

Marketing Funnel - Apakah penjualan yang selama ini terjadi di dalam bisnis adalah sebuah kejadian random yang berulang? Atau mereka memiliki pola? Bisakah kita memahaminya sebagai suatu kejadian yang direncanakan? Well, jika Anda memiliki pertanyaan tersebut, maka Anda perlu berkenalan dengan istilah marketing funnel! Menurut Neil Patel, marketing funnel adalah sebuah representasi visual dari langkah-langkah yang dilalui pengunjung dari pertama hingga terjadinya konversi. Hal tersebut berarti marketing funnel merupakan term yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan pelanggan (customer journey) dari sebelum mengenal merek sampai ke tahap pembelian atau lebih. Marketing funnel ini terbagi ke beberapa tahapan. Di mana masing-masing tahap diharapkan akan menuntun customer untuk dapat berlanjut ke tahap berikutnya, yang semakin berlanjutnya tahapan tersebut membuat leads-nya semakin sedikit. Hal inilah yang membuat visualisasi marketing funnel tampak seperti corong. Umumnya marketing funnel tiap bisnis berbeda, karena profil market dan produknya pun berbeda. Oleh karena marketing funnel yang berbeda, penggunaan istilahnya pun juga berbeda-beda. Dari yang masih umum sampai mendetail. Contoh di atas adalah simulasi marketing funnel yang masih umum, Anda dapat merincikannya lagi supaya semakin jelas dalam memahami pelanggan dan memaksimalkan tiap bagiannya. Mari kita simulasikan contoh di atas. Katakanlah ada pemilik resto ayam goreng yang melakukan campaign di Instagram. Dari campaign tersebut, ada 1000 akun yang melihat iklannya, dengan 150 diantaranya tertarik dan menjadi visitor akun. Dari 150 akun yang “mampir” dan memutuskan untuk melihat-lihat, 75 diantaranya menginginkan namun belum membeli dengan alasan yang belum diketahui. Pada akhirnya, hanya 25 diantaranya melakukan pembelian dengan menekan link yang menuju aplikasi food delivery. Tanpa disangka, 20 diantaranya ternyata sangat menyukai! Sehingga beberapa hari kemudian mereka melakukan pembelian lagi. Kurang lebih seperti itulah marketing funnel, memahami calon pembeli dari yang tidak mengenal sampai melakukan pembelian. Tentu masih banyak lagi media promosi lainnya, tidak harus dengan Instagram. Menanyakan pertanyaan yang tepat adalah 50% dari penyelesaian masalah, rasanya ungkapan tersebut cocok sekali dalam pembahasan kali ini. Untuk dapat memaksimalkan kinerja marketing bisnis, masing-masing tahapan di atas dapat ditelusuri lebih lanjut. Mengapa dari 1000 calon customer yang melihat iklan, hanya 150 yang menjadi visitor? Apa yang membuat pengunjung tidak melanjutkan ke tahap berikutnya? Mengapa pengunjung yang sudah melihat-lihat tidak melakukan pembelian? Bagaimana karakteristik pengunjung yang akan menjadi pembeli? Mengapa pengunjung yang sudah membeli tidak melakukan repeat order (retention)? Dsb Selain itu, supaya marketing funnel berjalan maksimal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dioptimasi agar memiliki konversi yang besar. Beberapa diantaranya dengan melakukan optimasi ads, desain/tampilan, copywriting, promo produk, dan sebagainya.

Read More (785 views)
Blog post
14 Mar'22

Mengenal Strategi Influencer …

Influencer Marketing - Setiap hari kita melihat fenomena seseorang yang melakukan ulasan terhadap makanan & resto, endorse suatu produk, traveling ke banyak obyek wisata, sampai menjadi brand ambassador suatu merek. Fenomena tersebut adalah aktivitas marketing yang diberi nama influencer marketing. Influencer marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Influencer sendiri artinya seseorang yang memiliki "influence" atau pengaruh cukup besar dan memiliki jumlah followers yang banyak di media sosial. Pada awalnya, influencer hanya berasal dari public figure, blogger, ataupun youtuber. Seiring perkembangannnya, "orang biasa" yang memiliki fokus pada suatu bidang dan memiliki banyak followers sudah dapat dikatakan sebagai influencer. Mengutip Glints, yang menjadi kekuatan utama seorang influencer adalah kemampuannya dalam meng-influence. Oleh sebab itu, banyak pemilik merek yang melihat keunggulan tersebut dan mengajak bekerja sama dengan influencer yang ada. Di industri waralaba & kemitraan, pelaku bisnis dapat menggunakan strategi ini untuk memasarkan mereknya. Tak jarang, dari kalangan influencer juga turut meramaikan dengan memiliki bisnisnya ataupun menjadi brand ambassador merek yang bersangkutan. J&T Express, Burger Bross, Geprek Bensu, Ngikan dan sebagainya adalah contoh-contoh bisnis yang terdapat campur tangan influencer di dalamnya. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk dapat memahami strategi influencer marketing. Memperbesar Pasar            Keunggulan ini erat kaitannya dengan jumlah followers dari influencer. Misalnya, Anda menggunakan jasa influencer untuk review makanan. Semakin banyaknya jumlah followers dari influencer akan meningkatkan peluang makanan Anda dilihat oleh calon konsumen. Katakanlah akun media sosial bisnis Anda memiliki 3000 followers. Dengan menggunakan jasa influencer yang memiliki 200 ribu follower, maka bisnis Anda akan mengalami peningkatan visibility. Membangun Kepercayaan Biasanya orang-orang mengikuti influencer di media sosial karena memiliki ketertarikan pada minat yang sama, bahkan ada yang cenderung menjadikannya ‘idola’. Hal ini dapat menjadi keuntungan apabila merek bekerja sama dengan influencer tersebut. Karena, peluang merek mendapat kepercayaan akan meningkat sebab dipromosikan oleh idolanya. Beberapa waktu lalu ada merek bisnis minuman yang bahkan produknya belum rilis, tetapi akun resmi instagramnya sudah memiliki ratusan ribu followers. Hal itu dapat terjadi karena bisnis tersebut adalah milik salah seorang influencer. Fenomena ini menjelaskan kepada kita, bahwa influencer sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan target market. Mencapai Target Audiens Tepat Sasaran Umumnya influencer datang dengan bidang dan ciri khas tersendiri. Hal tersebut bisa dimanfaatkan pemilik bisnis untuk menyesuaikan dengan spesifik audiens seperti apa yang cocok dengan bisnisnya. Misal, seorang pebisnis dalam bidang kuliner kekinian dapat menggunakan jasa influencer yang sering melakukan review makanan kekinian (food blogger). Meningkatkan Brand Awareness Bekerja sama dengan influencer dapat meningkatkan brand awareness produk lebih cepat. Seperti yang sudah disinggung pada poin pertama, jumlah followers di media sosial tersebut dapat menjadi “batu loncatan” agar produk Anda lebih banyak dilihat untuk kemudian dikenali. Biaya yang Lebih Terjangkau Dibandingkan dengan medium iklan melalui TV ataupun papan baliho, menggunakan influencer relatif jauh lebih terjangkau. Biasanya masing-masing influencer mempunyai biaya yang berbeda-beda, mulai dari yang gratis (hanya memberi produk saja) sampai ke influencer “papan atas” dengan biaya yang besar. Hal ini memberi pilihan bagi Anda untuk dapat menyesuaikan influencer yang sesuai dengan budget marketing yang ada. Apakah Anda tertarik menerapkan influencer marketing? Referensi GLINTS REDCOMM TOKOPEDIA __________________________________________________________________________________________ Baca seputar pengembangan bisnis lainya, di sini!

Read More (879 views)
Blog post
10 Mar'22

eCommerce & Waralaba

Akhir-akhir ini makin banyak yang menanyakan kepada saya mengenai kebijakan eCommerce dalam sistem waralaba. Meski tidak ada aturan main yang baku, prinsip dasar waralaba yang win-win seyogyanya dijadikan landasan dalam merumuskan kebijakan terkait hal ini. Menurut Michael Leconte, ada 4 model utama yang dapat dipertimbangkan oleh franchisee terkait kebijakan ini. The “Pure-play franchisor” Model Dalam hal ini hanya franchisor yang berhak melakukan eCommerce atau bisnis online. Franchisor membangun divisi tersendiri dan setiap transaksi online diambil oleh franchisor, artinya tidak didelegasikan ke gerai franchisee. Tentu saja kebijakan ini dapat dianggap merugikan franchisee karena menyaingi atau mencuri kue penjualan mereka. The “Pure-play franchisee” Model Berlawanan dengan model “pure-play franchisor”, dalam model ini franchisor membebaskan para franchisee untuk menjalankan bisnis online mereka sendiri di wilayah mereka masing-masing. Model ini tentu lebih beresiko dalam hal standarisasi pengalaman konsumen. Praktek desentralisasi seperti ini juga memiliki resiko penjualan lintas wilayah pemasaran. Konflik antar franchisee sangat mungkin terjadi, meski sangat dimungkinkan untuk menetapkan batasan wilayah penjualan online dalam perjanjian waralaba. The “Shared e-commerce” Model. Menurut model ini, franchisor mengendalikan eCommerce channel (website maupun mobile), namun para franchisee menjadi bagian dari keseluruhan strategi penjualan online tersebut. Transaksi penjualan online menjadi omset franchisee, artinya pengiriman produknya dilaksanakan oleh franchisee. The “Distributed e-commerce” Model Dalam model ini franchisor “menyediakan website” untuk masing-masing franchisee. Setiap franchisee berhak dan berkewajiban untuk melakukan pemasaran secara lokal di masing-masing wilayahnya melalui website tersebut. Model ini menuntut tingkat partisipasi yang lebih tinggi dari para franchisee bila dibandingkan dengan “shared e-commerce”. Dengan lain perkataan, para franchisee harus diperlengkapi dengan pemahaman mengenai bisnis online dan cara melakukan pemasaran online. Franchisor sebaiknya melakukan monitoring (pengawasan), evaluasi dan pelatihan berkala terkait website para franchisee. Model ini bisa saja mengakibatkan perbedaan pengalaman konsumen dalam berselancar di website dan bertransaksi online. Meski demikian, dalam model franchisor masih memiliki ruang kendali bagi franchisor untuk meminimalkan jurang pengalaman tersebut, bila dibandingkan dengan model “pure-play franchisee” (yang memberi kesan seolah franchisor “lepas tangan” sama sekali). Perjanjian Waralaba Akhirnya, hak dan kewajiban terkait 4 model utama ini (dan mungkin saja ada varian atau turunannya) harus dicantumkan secara tertulis dengan lugas dan jelas dalam perjanjian waralaba.   *Artikel ini pernah dimuat di Majalah Franchise pada tahun 2020

Read More (1008 views)
Blog post
21 Feb'22

4 Hal yang Sebaiknya Jangan D…

Dalam artikel kali ini, akan membahas hal-hal yang seharusnya jangan disepelekan pebisnis. Sebagai pebisnis, ada banyak aspek yang akan Anda hadapi, mulai dari keuangan, operasional, sampai ke pemasaran. Aspek-aspek tersebut datang bersamaan dengan pilihannya masing-masing. Berikut 4 hal yang sebaiknya jangan anda sepelekan: Menggabungkan Rekening Bisnis dengan Rekening Pribadi Kesalahan ini biasanya dilakukan oleh bisnis yang masih berskala mikro. Menggabungkan rekening bisnis dengan rekening pribadi dapat membuat kerancuan dalam perhitungan keuangan dan berpotensi terpakainya uang bisnis. Jika dilakukan terus-menerus hal ini akan berdampak negatif pada pengembangan bisnis. Tidak Memiliki Rencana Keuangan yang Jelas Perencanaan keuangan sering menjadi sesuatu yang luput dari perhatian pebisnis, apalagi pebisnis yang masih kecil dan pemula. Dengan alasan “bisnisnya masih kecil, untungnya belum seberapa”, perencanaan keuangan dirasa belum perlu dilakukan. Padahal perencanaan keuangan yang tidak jelas bisa menyebabkan progres tidak terukur dan arah bisnisnya menjadi tidak jelas. Perencanaan keuangan penting dilakukan karena memiliki banyak manfaat, seperti: Mengantisipasi kemungkinan terburuk Memiliki tolok-ukur kemajuan bisnis Mengetahui alokasi investasi yang sesuai Membantu meraih tujuan jangka panjang Menghabiskan Laba Usaha Memang benar laba usaha adalah bagian keuntungan bisnis yang berhak digunakan oleh pemilik. Namun, akan menjadi kekeliruan apabila seluruh keuntungannya dihabiskan yang dapat membuat pertumbuhan bisnis tidak maksimal. Sebagai pemilik bisnis, Anda mungkin harus menerapkan “delaying gratification” dan fokus untuk meningkatkan alokasi laba usaha yang lebih besar. Dengan begitu, potensi bisnis Anda scale-up akan menjadi lebih besar. Pelayanan yang Kurang Baik Disadari atau tidak, salah satu alasan kuat yang membuat customer melakukan repeat order adalah kualitas pelayanan. Misalnya pada bisnis online, Anda mungkin sering melihat customer yang memberi komentar terkait pelayanan si penjual, mulai dari kecepatan balas pesan, cara membalas, cara memperlakukan customer, dll. Dimana hal tersebut memberi pengaruh yang signifikan pada customer experience. Jika tidak di maintenance dengan baik, besar potensinya pembeli Anda tidak menjadi pelanggan. Hal tersebut juga belaku di bisnis konvensional, bagaimana pelayanan resto dan kecepatan penyajiaannya akan memberi andil besar terhadap kepuasan pengunjung. Jika quality of product is the king, maka service is the queen.

Read More (736 views)
Blog post
14 Feb'22

6 Langkah Financial Freedom V…

Financial freedom atau kebebasan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang tidak perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan pernyataan tersebut kriteria kondisi financial freedom akan tercapai apabila: Memiliki aset yang menghasilkan pendapatan yang memadai (sesuai dengan yang ditargetkan) Pendapatan dari aset tersebut cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus menurunkan standar hidup Tentu saja, tidak perlu bekerja lagi That’s sounds too good to be true, kan? Percayalah hal tersebut masih mungkin terjadi. Walaupun, dalam mewujudkannya perlu kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan. Anthony Robbins adalah salah seorang motivator terbaik kelas dunia dan penulis buku best seller, “membocorkan” langkah-langkah untuk mencapainya.  Berikut beberapa langkah yang dibocorkan Anthony Robbins untuk mencapai financial freedom: 1. Buat Target (Nominal) Bagaimana Anda mendefinisikan financial freedom? Untuk mencapai tujuan, tentu kita harus dapat mendefinisikan tujuan dengan jelas. Dengan mengetahui berapa jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai financial freedom akan mempermudah Anda dalam menyusun strategi, investasi, dan berbagai persiapan lainnya. Detailkan target sampai Anda tahu berapa nominal uang yang dibutuhkan dalam sebulan. Dalam penetapan target, perlu dipertimbangkan biaya hidup, pengeluaran tak terduga, dan lain lain supaya tidak ada kekhawatiran yang diakibatkan oleh faktor finansial. 2. Hentikan Ketakutan Tentang Uang Ketakutan pada aspek finansial dapat memengaruhi siapapun, tak terkecuali orang yang sudah memiliki banyak uang. Meski terlahir dan besar dari keluarga yang tidak kaya (tidak berkecukupan), jangan pernah berpikir Anda tidak akan mencapai financial freedom. Hilangkan pembatas tersebut, serta bebaskan diri dari rasa takut dan kekhawatiran. Sebaliknya, ganti semua itu dengan afirmasi positif seperti: Saya kompeten, sehingga keberlimpahan akan menghampiri Saya pandai memanfaatkan peluang, jadi saya akan cepat sampai pada tahap ini Dan sebagainya 3. Cermati Keuangan Posisi ini adalah tahap dimana Anda melakukan tracking dan mengidentifikasi keuangan Anda. Apakah ada hutang, cicilan, atau kewajiban lainnya? Jika memang iya, Anda perlu membuat strategi untuk menutup “lubang-lubang” tersebut. Anthony Robbins menyarankan tentang pengalokasian bonus untuk dijadikan solusi, serta menggugunakan metode bola salju untuk menyelesaikannya. Maksudnya bola salju adalah mulai melunasi semua kewajiban dimulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. 4. Buat Strategi Jangka Pendek Setelah selesai dengan ember bocor, kini saatnya untuk membangun benteng perlindungan Anda. Mulailah menyiapkan dana darurat dan mulailah menabung. Menurutnya, memiliki dana darurat sampai 6x biaya hidup bulanan bagus untuk kesehatan mental. Hal itu karena, Anda akan lebih berani dalam “meng-iyakan” tantangan-tantangan baru. Terlebih lagi, jika Anda terbuka terhadap tantangan-tantangan baru akan mendatangkan peluang lebih banyak lagi. 5. Buat Mesin Langkah ini adalah salah satu langkah terpenting yang harus dilakukan, dan boleh jadi menjadi proses paling berat diantara yang lain. Mulai buatlah “mesin” Anda. Mulailah berinvestasi di high income skills dan buat uang Anda bekerja lewat berbagai instrumen investasi. Selain itu, Anthony Robbins menyarankan untuk membagi keuangan kita ke dalam tiga pos, yaitu: Pos Keamanan: Pos ini berbicara tentang pengeluaran yang Anda tidak bisa hidup jika tidak ada, seperti semua tagihan dan biaya hidup. Jangan lupa untuk menyertakan juga dana darurat pada pos ini. Pos Risiko/Pertumbuhan: Disini adalah tempat uang Anda akan tumbuh, alias investasi. Beberapa pengalokasiannya, seperti portfolio investasi Anda yang memiliki risiko moderat – tinggi. Pos Impian: Pos ini ditujukan untuk bersenang-senang. 6. Evaluasi dan Buat Perubahan Perhatikan proses-prosesnya, lakukan evaluasi rutin dan ganti alokasi investasi bila return yang diberikan jauh lebih kecil dibanding yang ditargetkan. Usahakan Anda menerapkannya dengan cermat dan konsisten agar dapat tercapai. Enam langkah di atas adalah langkah-langkah yang diberikan oleh seorang yang berpengaruh di dunia, Anthony Robbins. Hal yang harus dipahami adalah definisi jumlah uang yang harus dimiliki untuk mencapai financial freedom tiap orang sudah pasti berbeda, bergantung pada tujuan, nilai-nilai, dan standar hidup. Dengan mengetahui standar financial freedom versi Anda akan membuatnya lebih berpotensi terwujud. Walau terdengar kurang praktikal, setidaknya beberapa langkah tersebut akan berguna menjadi referensi untuk menentukan “grand design”  anda menuju financial freedom. Terima kasih telah membaca! Refferensi Santoso, Edwin. 15 Tips Jitu Mencapai Financial Freedom. (2016). Jakarta: Grasindo. Tony Robbins

Read More (911 views)
Blog post
10 Feb'22

Benchmarking: Proses Mempelaj…

Benchmarking adalah proses membandingkan perusahaan Anda dengan referensi yang telah ditentukan. Benchmarking dapat diterapkan ke berbagai aspek, mulai dari produk, proses, fungsi, dan pendekatan apapun dalam bisnis. Dalam benchmarking, biasanya yang menjadi fokus pengukuran adalah: waktu/kecepatan kualitas, rasio defect product atau penyimpangan biaya, rasio-rasio keuangan efektivitas, pencapaian tujuan dan kesenjangannya kepuasan pelanggan dari berbagai sudut yang dianggap penting Benchmarking penting dilakukan supaya perusahaan menemukan “gap” atau kesenjangan yang terjadi. Kesenjangan inilah yang nantinya akan diperbaiki dengan insights yang didapat dari kompetitor, supaya perusahaan dapat menjadi lebih baik dan mencapai kinerja optimalnya. Berikut beberapa jenis benchmarking yang perlu Anda ketahui: Process Benchmarking Process Benchmarking adalah benchmarking yang membicarakan bagaimana proses di dalam bisnis Anda dibandingkan dengan kompetitor. Process benchmarking digunakan untuk menangani masalah di internal perusahaan. Misalnya Anda adalah seorang pengusaha resto, maka process benchmarking-nya akan seperti, membandingkan prosedur menyiapkan menu dengan resto kompetitor, urutan proses pelayanan, alur penanganan komplain pelanggan, sistem pengawasan kasir, dan berbagai aspek SOP lainnya. Strategy Benchmarking Pada dasarnya, dalam benchmarking strategy ini perusahaan membandingkan bisnis model dan sasaran yang diincar dengan bisnis model dan sasaran kompetitor. Dengan demikian, benchmarking ini berfokus pada apa yang sedang dan akan dilakukan. Contoh: membandingkan strategi marketing yang dilakukan, pendekatan seperti apa yang dilakukan: Menganalisis konten media sosial, bila menggunakan media sosial Membandingkan penetapan harga jual di beberapa wilayah Membandingkan persepsi target pasar Performance Benchmarking Terakhir, kita mengenal performance benchmarking, yaitu benchmarking yang dapat membantu mengetahui hasil kinerja usaha dengan lebih terukur dan objektif. Karena, Anda dapat mengetahui posisi perusahaan dibanding perusahaan lain dan posisi perusahaan di dalam industri. Benchmarking kinerja dapat diterapkan dengan membandingkan: Pencapaian total penjualan, Pencapaian laba bersih Rasio biaya SDM Rasio biaya marketing Rasio jumlah kehilangan (shrinkage) Benchmarking Internal Benchmarking tidak harus membandingkan terhadap kompetitor. Anda membandingkan kinerja tahun lalu, atau bulan lalu, dengan kondisi sekarang, untuk menetapkan target perbaikan di tahun berikutnya atau bulan berikutnya. Anda bisa juga membandingkan outlet yang satu dengan outlet lainnya, yang menggunakan merek dan model yang sama, untuk menunjukkan target perbaikan realistis kepada outlet yang kurang baik kinerjanya. Pada intinya, benchmarking adalah proses yang sebaiknya dilakukan berkelanjutan supaya usaha Anda terus mengalami peningkatan. Apabila diwakili dalam satu kalimat, mungkin benchmarking seakan berkata “apa yang bisa saya pelajari dari hasil benchmarking ini?”. Catatan: Contoh-contoh di atas belum komprehensif. Anda dapat menggalinya melalui diskusi dan brainstorming dengan tim anda.

Read More (725 views)
Blog post
02 Feb'22

Lebih Kenal dengan 4P

Strategi 4P Marketing Mix adalah suatu strategi pemasaran yang sistematis, terpadu, dan memperhatikan aspek 4P. Neil Borden pada tahun 1950-an telah mempopulerkan strategi ini dengan lebih dari 10 unsur P. Namun, yang tetap menjadi inti dari semua aspek tersebut adalah 4P. Hermawan Kertajaya mengungkapkan bahwa 4P sebaiknya diterapkan setelah Segmentation-Targeting-Positioning (STP) ditetapkan. Hal ini penting karena STP menjadi dasar dalam mengambil keputusan unsur-unsur 4P ini. 1. Product (Produk) Produk adalah hal konkrit dari apa yang Anda jual. Dalam hal ini, produk memiliki banyak aspek, seperti merek (branding), design, kualitas, dan pilihan variasi jenisnya. Penampilan suatu produk harus sesuai dengan target pasarnya. Design yang mewah tentu tidak cocok bila ditujukan kepada pasar menengah ke bawah. Demikian juga sebaliknya, bila pasar sasarannya adalah menengah ke atas, design-nya harus lebih berkelas dan tidak berkesan murahan. 2. Price (Harga) Harga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli produk Anda. Menurut CXL, sekitar 94% pembeli online bersedia meluangkan waktu untuk mendapat produk dengan harga terendah. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu Anda dalam menentukan harga jual: Apakah harga yang ditawarkan akan dipersepsi “value for money” untuk konsumen? Bagaimana harga produk Anda bila dibandingkan kompetitor? Apakah harga produk Anda perlu dibuat berbeda berdasarkan kewilayahan, karena faktor ongkos kirim? Apakah harga yang terlalu murah justru akan membuat target pasar kelas atas menghindari produk Anda? 3. Place (Tempat) Tempat digunakan untuk menjual ataupun mendistribusikan produk. Sama dengan aspek harga dan design, tempat untuk menjual produk Anda harus sesuai dengan STP Anda. Tak sedikit produk kuliner kelas menengah atas yang gagal meraih target penjualan ketika masuk ke mall yang mayoritas pengunjungnya adalah menengah ke bawah. Patut dicermati pula bahwa dengan perkembangan internet yang kian pesat, tempat tidak hanya merujuk pada bangunan fisik. Media sosial dan platform marketplace merupakan “place” zaman now. Pilihan “digital place” ini juga harus disesuaikan dengan karakter produk Anda. Ada produk yang cocok untuk dijual langsung di Instagram, tapi ada juga yang lebih cocok di marketplace seperti shopee dan tokopedia. 4. Promotion (Promosi) Promosi bertujuan supaya produk lebih dikenal oleh masyarakat dan membuat target pasar tertarik. Kegiatan promosi dilakukan dengan mengacu pada penerapan STP. Analisa STP yang sesuai akan menghasilkan kesimpulan yang akurat, sehingga pelaku usaha dapat melakukan promosi dengan tepat. Anda mungkin pernah mendengar cerita mobil-mobil Super Car seperti Lamborghini yang tidak mengiklankan produknya di TV, itu karena mereka tahu persis bahwa target pasarnya tidak menonton TV! Seperti itulah promosi, disesuaikan dengan siapa target pasar dan bagaimana perilakunya. Promosi ibarat jembatan yang dapat menuntun target pasar Anda menjadi konsumen. Maka, pastikan anda meletakan jembatan di ‘tempat’ yang tepat. Daftar pertanyaan berikut dapat menjadi panduan untuk merumuskan strategi promosi: Siapa target market dan target audience Anda? Apa saluran komunikasi yang dapat "menjangkau" mereka? Pesan komunikasi apa, program promosi apa, yang cocok/relevan untuk mereka? Kapan waktu yang cocok untuk melakukan posting pesan komunikasi itu? (kalau di sosial media) Selanjutnya, tentu strategi promosi harus mempertimbangkan arus kas, agar perusahaan tetap sehat dari sisi keuangannya. Selamat meracik 4P anda dengan cermat. Semoga tahun 2022 ini menjadi tahun penuh berkah bagi anda semua.

Read More (828 views)
Blog post
13 Jan'22

Continous Improvement, Agar K…

Continuous Improvement - Pemilik bisnis tentunya tidak ingin bisnisnya stuck atau tidak bertumbuh. Bisnis harus mengalami pertumbuhan kinerja agar terus dapat bersaing dan relevan di pasar. Terdapat filososfi bisnis dari Jepang dikenal dengan nama “Kaizen” atau yang biasa disebut dengan continuous improvement. Apa itu Continuous Improvement? Continuous improvement adalah usaha atau upaya berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan, maupun proses. Continuous improvement bertujuan untuk mendapatkan bentuk terbaik dari improvement yang dihasilkan. Konsep continuous improvement mencakup segala hal dalam perbaikan terus-menerus, mulai dari internal sampai ke eksternal. Meliputi, lingkungan kerja, prosedur, karyawan, membuat pekerjaan jadi lebih memuaskan, quality control, dan sebagainya. Continous improvement banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan, membuatnya menghasilkan kualitas yang unggul dan menghasilkan kepuasan pelanggan. Dikutip dari Investopedia, salah satu contoh perusahaan yang menerapkannya adalah Toyota. Toyota menjadikan konsep Kaizen sebagai nilai inti perusahaan dan menamakannya “Kaizen Blitz” untuk mengidentifikasi solusi. Langkah-langkah Menerapkan Continuous Improvement Setidaknya terdapat beberapa langkah untuk menarapkan Continuous Improvement, antara lain: 1. Tetapkan Masalah Terdapat banyak masalah yang ada pada bisnis, namun Anda harus menentukan masalah mana yang paling urgent ditangani dan fokuslah pada masalah tersebut. 2. Pengumpulan Data Kumpulkan data terkait masalah yang telah ditentukan. Data tersebut bisa didapat melalui banyak sumber, seperti data perusahaan, sampai kepada “bisik-bisik” antar karyawan. 3. Mencari Akar Masalah Mencari akar masalah dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan memilih memanggil orang-orang tepat yang berkaitan dengan masalah. 4. Cari Alternatif Perbaikan Setelah menemukan akar masalah, segera rumuskan alternatif perbaikan. Usahakan untuk memiliki lebih dari satu pilihan perbaikan. 5. Menjalankan Solusi Terapkan solusi yang telah didapat sesuai dengan masalah yang ada. Kemudian, evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang siginifikan atau tidak. 6. Analisa Hasil Pengukuran Lakukan analisa pada solusi yang telah diterapkan. Apabila belum berhasil silahkan kembali ke tahap tiga untuk mulai menemukan akar masalah yang ada dan sesuai. 7. Standarisasi Buat standarisasi berupa SOP apabila masalahnya dapat terselesaikan dengan baik. 8. Mencari Masalah Baru (Continuous Improvement) Jika langkah 1 sampai 7 berhasil, Anda dapat mulai mencari masalah baru untuk diselesaikan. Ini adalah esensi dari continuous improvement. Referensi Investopedia Sentral Sistem

Read More (705 views)
Blog post
10 Jan'22

5 Tips Memperkecil Biaya Pada…

Tips Memperkecil Biaya - Setidaknya terdapat dua cara untuk meningkatkan laba bersih (keuntungan) pada bisnis restoran. Bisa dilakukan dengan memperbesar pendapatan ataupun memperkecil biaya. Meningkatkan pendapatan berarti meningkatkan penjualan ataupun menaikan harga jual pada menu. Namun, hal tersebut akan sulit dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang memang penjualan sedang merosot. Oleh sebab itu, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah memperkecil biaya. Memperkecil biaya dapat dilakukan dengan memperkecil biaya operasional ataupun memperkecil biaya bahan baku menu. Dengan memperkecil biaya, apabila pendapatan restorannya tetap, maka keuntungannya akan meningkat. Cara ini telah banyak dilakukan oleh pelaku usaha di bidang restoran. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memperkecil biaya pada bisnis restoran: 1. Pencatatan Inventaris Bahan Baku Hal ini penting untuk dilakukan supaya bahan baku yang dipesan sudah sesuai dan secukupnya. Sehingga bahan baku yang basi dapat diminimalisasi dan membuat biaya bahan baku mengecil. Lakukanlah pencatatan secara rutin dan akurat supaya ketika ada keputusan penting terkait bahan baku harus dilakukan, datanya sudah lengkap. 2. Lacak Harga Bahan Baku Melacak harga bahan baku menu penting dilakukan untuk mengetahui menu mana yang sebaiknya dilakukan pengurangan stok dan menu mana yang seharusnya ditingkatkan. Dengan melacak harga bahan baku, dapat membuat Anda siap dengan alternatif pengganti ketika salah satu harga bahan baku melonjak naik. Anda juga dapat meningkatkan stok ketika harga bahan baku tersebut turun. 3. Networking Sesama Pebisnis Kuliner Networking yang dilakukan ke sesama pebisnis kuliner dapat bermanfaat sebagai media sharing informasi masing-masing pebisnis. Dengan demikian, peluang untuk menemukan vendor kebutuhan restoran yang lebih terjangkau akan lebih besar. 4. Usahakan Buat Sendiri Jika memungkinkan untuk membuat sendiri bahan baku yang dibutuhkan, Anda dapat melakukannya. Pastikan sebelum melakukannya, Anda sudah memperhitungkan biaya waktu, biaya tenaga kerja, dan biaya kesempatan. 5. Ubah Menu Evaluasi menu yang ada di restoran untuk disesuaikan dengan minat pembeli. Kemudian, berfokuslah pada menu dengan penjualan terbaik dan memiliki bahan baku yang mayoritas sama. Anda juga bisa menghapus atau mengurangi menu yang menghasilkan penjualan paling minim dengan bahan baku paling cepat membusuk. Ingat Prinsip Pareto! Referensi Restaurant Engine Upserve

Read More (825 views)
Blog post
06 Jan'22

Risiko Franchisee: Opportunit…

Konon ada franchisee kursus komputer yang mengalami pengakhiran (termination) perjanjian kerja sama waralaba karena melayani permintaan in-house training suatu perusahaan yang produknya tidak disediakan oleh franchisor. Kejadian ini sudah cukup lama, dan untuk penjelasan di sini saya ambil contoh yang lebih relevan. Misal franchisor menyediakan kursus yang terbatas pada modul-modul Microsoft Office (Word, Excel, Powerpoint, Visio, dsb). Suatu ketika ada permintaan untuk in-house training mengenai UI/UX dari suatu perusahaan start up. Meski franchisee punya kenalan dosen yang memahami topik UI/UX, apabila franchisor tidak memiliki modul tersebut, biasanya franchisee tidak diperkenankan melayani permintaan khusus seperti ini. Di sini franchisee berpotensi mengalami opportunity loss. Bila dilanggar, risikonya bisa berupa termination (pengakhiran) perjanjian kerja sama waralaba. Contoh lain di bidang retail, misalnya toko sepatu. Misal ada pelanggan yang mencari semir sepatu merek X. Bila franchisor menjual semir sepatu merek A, maka franchisee tidak diperkenankan mencari sendiri, membeli sendiri, lalu menjual semir sepatu merek X tersebut. Tidak banyak franchisee yang memahami risiko ini, kemudian mengalami ketegangan komunikasi dan konflik karena merasa dihalang-halangi oleh franchisor untuk merealisasikan peluang menciptakan penjualan. Mungkin tidak semua franchisor melarang munculnya produk-produk tambahan dari franchisee. Namun pada umumnya franchisor perlu memastikan keamanan citra dan positioning mereknya. Itu sebabnya penambahan item produk tetap perlu mendapat persetujuan dari franchisor. Karena franchisee menggunakan merek franchisor, maka franchisee harus ikut aturan main dari franchisor. Mengapa? Karena franchisor berkepentingan melindungi citra dan positioning mereknya melalui standarisasi produk dan layanannya. Konsekuensinya, muncul risiko opportunity loss ini. Bila Anda membeli franchise retail produk fashion, salah satu bentuk opportunity loss ini bisa berupa out of stock (kehabisan stock) produk yang laris dicari orang. Kehabisan stock seperti ini biasanya terjadi setelah stock anda terjual habis. Franchisor yang produsen/manufaktur, atau vendornya, tidak dapat melakukan produksi ulang bila tidak mencapai jumlah minimum order untuk satu batch production. Akibatnya, Anda tidak dapat melakukan repeat order, dan Anda mengalami opportunity loss. Semoga risiko ini dapat dipahami dan dimaklumi oleh para franchisee. Bila tidak rela dengan risiko ini, jangan beli franchise. Rintislah bisnis dengan merek Anda sendiri.

Read More (783 views)
Blog post
03 Jan'22

Sering Diabaikan: Dana Darura…

Dana Darurat - Tidak hanya penting dalam pengelolaan keuangan pribadi, dana darurat juga diperlukan dalam pengelolaan bisnis. Seperti penggunaan dana darurat pribadi, memiliki dana darurat pada bisnis akan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman. Sesuai namanya, dana darurat mengacu pada uang atau aset simpanan yang dapat digunakan pada saat terjadinya hal-hal di luar kendali terkait kesulitan keuangan. Aset yang menjadi dana darurat haruslah likuid agar dapat digunakan kapanpun. Selain dari kontribusi pemilik, dana darurat untuk bisnis dapat berasal dari pengelolaan arus kas (laba bisnis yang ditahan). Hal tersebut mengartikan, setiap laba dari bisnis tersebut tidak dihabiskan untuk ekspansi, dibagikan ke investor, ataupun insentif karyawan, tetapi disimpan dalam kas perusahaan sebagai dana darurat. Banyak pendapat mengenai jumlah yang ideal dana darurat untuk bisnis. Biasanya angka ini berada pada rentang 3x sampai 12x biaya operasional bulanan. Semua bergantung pada Anda, setidaknya memiliki dana darurat minimal 3x biaya operasional bulanan bisnis akan lebih baik daripada tidak memilikinya. Berkshire Hathaway dari Warren Buffet diketahui memiliki dan menjaga ketersediaan dana tunai sebesar 20 miliar dolar. Ini jumlah yang sangat besar. "Buffett says that it’s this sort of Buffett family thinking that explains why Berkshire Hathaway customarily has at least $20 billion on hand".   Berikut alasan mengapa dana darurat untuk bisnis itu penting: 1. Pertahanan Saat Kondisi Darurat Kondisi ke depan adalah ketidakpastian, namun melakukan persiapan adalah kewajiban. Apakah akan terjadi krisis, muncul pesaing baru yang tangguh, atau hal lainnya. Apapun bisa terjadi. Asuransi memang dapat digunakan untuk keamanan, namun tidak semua kondisi dapat di cover oleh asuransi. Memiliki dana darurat menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko yang muncul. 2. Memperkecil Kemungkinan Hutang Dana darurat dapat menjadi alternatif pilihan apabila kesulitan keuangan sedang melanda. Seperti kondisi terdesak, kekurangan anggaran, ataupun keinginan untuk menangkap peluang. Apabila suatu bisnis tidak memiliki dana darurat, maka pilihan yang dapat dilakukan hanyalah hutang. 3. Memberi Rasa Aman Seperti yang telah disinggung sebelumnya, memiliki dana darurat dapat meningkatkan rasa aman. Hal tersebut karena bisnis sudah bisa menghadapi kemungkinan terburuk (prepare for the worst scenario). Lain halnya jika tidak memiliki dana darurat, akan sulit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. 4. Persiapan Menangkap Peluang Bisnis yang Muncul Tiba-tiba Dana darurat bukan hanya untuk mencegah kemungkinan buruk yang terjadi, tetapi juga untuk menangkap peluang yang muncul tiba-tiba. Meski kurang disarankan, namun memiliki dana darurat dapat meningkatkan potensi Anda untuk bisa mengambil peluang yang ada. Apakah Anda sudah memiliki dana darurat untuk bisnis Anda? Referensi: Finansialku Monevator

Read More (746 views)
Blog post
23 Des'21

Strategi Down selling, Agar T…

Down selling merupakan strategi penjualan yang berfokus pada terjadinya transaksi pembelian. Walau terdengar asing di telinga, sejatinya down selling sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Ketika ingin membeli tas, namun budget Anda kurang, maka penjual yang dapat membaca situasi tersebut akan memberi alternatif pilihan tas yang serupa dengan harga yang lebih terjangkau. Bisa juga ketika Anda berada di restoran cepat saji dan anda terlihat merasa harga kentang goreng terlalu mahal, maka pramusaji akan menawarkan kentang goreng dengan ukuran yang lebih kecil dan harga yang lebih murah. Itulah down selling. Arti Down Selling Dikutip dari HubSpot, down selling adalah strategi untuk menghadapi pelanggan yang terkendala harga dengan cara menawarkan produk serupa tapi dengan harga yang lebih terjangkau. strategi ini juga bisa digunakan pada pelanggan yang tidak tertarik untuk membeli. Jadi, bila cross selling dimaksudkan agar meningkatnya nilai penjualan, maka down selling ditujukan supaya tidak kehilangan penjualan. Menurut Salesforce, down selling memiliki beberapa manfaat penting, antara lain: Pelanggan tidak akan pulang dengan tangan kosong, alias tetap terjadi penjualan. Jika pelanggan tidak membeli produk premium, menawarkan produk yang lebih terjangkau akan meningkatkan loyalitas mereka terhadap merek Anda. Sekali lagi, poin utama dilakukannya strategi down selling adalah agar tetap terjadi penjualan, ketika pelanggan terlihat memiliki kendala anggaran, ataupun pelanggan yang terlihat tidak tertarik untuk membeli. Pelanggan akhirnya membeli, karena nilai transaksinya terlihat tidak terlalu tinggi. Terdapat beberapa tips yang dapat Anda terapkan untuk memaksimalkan strategi down selling, di antaranya: Siapkan penawaran down selling dengan harga terbaik. Jangan langsung melakukan diskon pada penawaran pertama. Tawarkan produk yang berbeda dengan harga yang lebih rendah ketika pelanggan menolak tawaran pertama. Tawarkan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah, berikan diskon apabila masih memungkinkan.   Related ArticlesCross Selling, Teknik Meningkatkan PenjualanBeda Up Selling vs Cross Selling Referensi ClickFunnels HubSpot Koinworks Massilah Salesforce

Read More (1202 views)
Blog post
20 Des'21

Beda Up Selling vs Cross Sell…

Walaupun terlihat mirip dengan cross selling, up selling adalah teknik yang berbeda. Kesamaan pada up selling dan cross selling hanya terletak pada tujuannya, yaitu meningkatkan nilai penjualan. Teknik up selling biasa disebut juga suggestive selling yang dapat ditemui di restoran cepat saji. Saat memesan makanan, biasanya pramusaji akan menawarkan pesanan yang berukuran lebih besar atau lebih banyak dengan harga satuan yang terlihat lebih murah. Arti Up Selling Dikutip dari Investopedia, up selling adalah teknik penjualan di mana seorang pelayan bertanya pada pembeli apakah mereka menginginkan pembelian dengan ukuran atau jumlah yang lebih besar. Biasanya teknik ini dipadukan dengan potongan harga, sehingga terdengar lebih masuk akal dan menggiurkan bagi pelanggan. Up selling digunakan untuk meningkatkan nilai penjualan. Alasan utama mengapa up selling efektif adalah proses menjual (dari nol) merupakan bagian tersulit yang harus dilakukan. Sehingga, menawarkan atau merekomendasikan ukuran atau jumlah yang lebih banyak kepada pelanggan yang sudah menyatakan niat membeli suatu item produk dapat memberi potensi kenaikan nilai transaksi dengan usaha yang lebih kecil. Ditulis dalam GrooveHq, peluang menjual ke prospek yang sudah ada sebesar 60-70%, sementara peluang ke prospek yang baru (masih berupa lead) hanya sebesar 5-20%. Hal ini menjadikan up selling sebagai teknik yang efektif. Penerapan up selling dapat Anda lihat pada beberapa contoh berikut: Penawaran burger yang berukuran lebih besar atau lebih premium kepada pembeli. SPG yang memberi rekomendasi smartphone dengan spesifikasi yang lebih tinggi dibanding dengan yang dicari pembeli. Biaya berlangganan Spotify atau aplikasi serupa yang lebih murah apabila berlangganan untuk setahun dibandingkan dengan satu bulan atau satu hari. Setelah memahami up selling dengan baik, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menerapkan up selling dengan efektif? Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan: Pastikan pelanggan senang dengan pelayanan yang diberikan dan jangan pernah melakukan up selling pada pelanggan yang sedang terburu-buru, marah, kesal, dan kecewa. Apabila dilakukan, hal itu akan membuat pelanggan enggan untuk kembali. Pastikan ada alasan yang kuat dan masuk akal untuk disampaikan pada pelanggan, sehingga akan meningkatkan peluang keberhasilan up selling Anda. Beri harga yang masuk akal, sangat disarankan Anda bisa memberi potongan harga. Jangan memaksa dan jangan bersifat agresif, hal tersebut akan memberi kesan negatif, karena akan mengakibatkan ketidaknyamanan di pihak pelanggan.   Related ArticlesStrategi Down Selling, Agar Terjadi Pembelian Referensi Glints GrooveHq Investopedia

Read More (1277 views)
Blog post
16 Des'21

Wajib Tahu: Tahapan Menjadi F…

Tahapan menjadi franchisor adalah perjalanan atau langkah-langkah suatu bisnis untuk menjadi franchise alias mulai ditawarkan sebagai waralaba. Bila Anda hendak mewaralabakan bisnis Anda, tahapan-tahapan ini harus Anda perhatikan dengan baik. Pilot Outlet Yang pertama tentu saja Anda harus membuka outlet, menjalankan bisnisnya dengan baik. Outlet pertama ini biasa disebut sebagai pilot outlet alias outlet yang pertama. Sebelum masuk ke tahapan berikutnya (evaluasi kesiapan waralaba), bisa saja Anda membuka cabang di lokasi lain.   Evaluasi Kesiapan Waralaba Sebelum ditawarkan sebagai waralaba, Anda perlu melakukan evaluasi kesiapan dan kelayakannya. Ada 5 parameter utama, yaitu: profitability, replicability, controllability, sustainability, dan marketability. Cukupkah laba usaha franchisee untuk membayar biaya-biaya waralabanya, cukup mudahkah model bisnisnya di-copas (diajarkan dan dijalankan di lokasi lain), cukup mudahkah mengawasi kualitas operasional dan kualitas data laporan-laporannya, apakah bisnis Anda mampu bertahan lama (akan lebih baik lagi apabila Anda pernah mengalami masa sulit dan punya resep alias berhasil keluar dari masa sulit tersebut), dan yang terakhir, apakah bisnis Anda menarik bagi pemilik modal. Penting: Laba usaha yang cukup ini sangat erat kaitannya dengan kinerja penjualan. Outlet milik Anda sendiri harus mampu meraih dan mempertahankan kinerja penjualan yang dibutuhkan untuk mencetak laba usaha yang cukup itu. Jangan menjual mimpi berdasarkan perhitungan simulasi proyeksi keuangan, sementara Anda sendiri tidak atau belum pernah meraih target kinerja penjualan tersebut. Mengenai pentingnya kinerja ini, Anda dapat membaca tulisan mengenai superior business di Klikfranchise. Standarisasi Setelah cukup yakin dengan kesiapan bisnis Anda untuk diwaralabakan, langkah berikutnya adalah menyusun sistem atau standarisasi. Dokumen Pedoman Operasional (SOP) sangat berguna untuk menjaga kualitas dalam proses replikasi atau pembukaan cabang di lokasi lain. Catatan: Bila Anda memulai usaha dengan melibatkan konsultan start up business, mungkin SOP sudah tersedia di awal bisnis Anda. SOP ini perlu Anda tinjau atau review, apakah sesuai dengan operasional di lapangan. Penting: SOP harus menjadi 1 paket dengan aspek SDM (Sumber Daya Manusia) dan Operasional, artinya proses seleksi harus benar, agar proses training dapat menghasilkan SDM yang handal, yang kemudian harus ditindaklanjuti dengan supervisi harian yang ketat oleh leader di lokasi tersebut. Modul-Modul Waralaba Bila Anda ingin mengetahui modul apa saya yang harus dimiliki franchisor, maka daftar berikut ini bisa menjadi checklist anda. Financial Simulation Template. Franchise Sales & Selection Tools (Brief Info, Form Minat, brosur, video, dsb). Franchise Legal Documents (LOI, Perjanjian Waralaba, STPW, dsb). Franchise Operations Manuals (SOP di level outlet atau franchisee, dan level franchisor). Sistem pembukuan dan akuntansi, termasuk software pendukungnya.   Related Articles5 Checklists Siap Waralaba-kah Bisnis Anda?Strategi Jual-Buka-Jual3 Skenario PentingMenghitung Franchise FeeProsedur Mendaftarkan Waralaba ke Kemendag

Read More (1063 views)
Blog post
13 Des'21

Cross Selling, Teknik Meningk…

Cross Selling - Menurut HubSpot, cross selling adalah mendorong pembelian yang masih ada kaitannya dengan produk utama. Cross selling dilakukan penjual untuk meningkatkan penjualan. Hal tersebut meliputi menawarkan produk yang masih relevan dengan produk utama yang dibeli, menawarkan diskon pada produk yang berkaitan, dan bundling. Beberapa contoh penerapan cross selling: Pelayan kasir yang menawarkan gula sebagai pelengkap teh atau kopi. Penawaran kentang goreng atau minuman pada saat membeli hamburger di restoran cepat saji. Fitur related product dan bundling product yang berada di toko online untuk meningkatkan pembelian konsumen. Jadi, ketika Anda hendak membeli satu barang ke minimarket dan saat pulang membawa banyak barang yang berbeda, itu berarti Anda terkena cross selling dari pelayan minimarket. Jika dilakukan dengan tepat sasaran, cross selling dapat menjadi teknik yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan. Karena, memberi rekomendasi tambahan produk dibanding menjual dari nol, akan lebih sulit menjual dari nol. Hal yang harus diperhatikan, jika cross selling dilakukan dengan agresif dan terkesan mementingkan diri sendiri, akan berpotensi membuat pelanggan merasa tidak nyaman dan sungkan untuk kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana melakukan cross selling yang efektif agar penjualan meningkat? Berikut tiga cara yang dapat diterapkan ke dalam teknik cross selling Anda: 1. Pertimbangkan Harga Harga adalah elemen penting dalam keputusan pembelian. Memberi harga terbaik pada produk atau paket bundling cross selling akan meningkatkan kemungkinan produk tersebut laku terjual. Pastikan harga yang diterapkan “win-win solution” untuk Anda dan pembeli. 2. Kenali Pembeli Mengenali pembeli adalah mengetahui tujuan dan latar belakang dari pembelian. Dengan mengenali pembeli, dapat memungkinkan Anda untuk memberi saran tambahan produk yang lebih relevan. Anda dapat mengenali pembeli dengan memerhatikan kebiasaannya, mulai dari menu apa yang dipesan, berapa lama waktu yang dihabiskan, kapan biasanya mereka berkunjung, dan sebagainya. 3. Ketahui Kapan Menawarkan Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan cross selling, akan dapat meningkatkan peluang keberhasilan. Pastikan untuk mengetahui waktu yang tepat tersebut sesuai dengan karakteristik bisnis. Sebagai contoh, apabila bisnisnya minimarket, maka Anda dapat menerapkan teknik cross selling ketika pembeli berada di kasir untuk membayar. Contoh lainnya, pramusaji dapat menawarkan tambahan pesanan lainnya pada saat; pengunjung kafe selesai memutuskan menu yang dipilihnya ataupun pada saat proses memilih menu. Setidaknya terdapat dua teknik penjualan selain cross selling, yaitu up selling dan down selling.  Jadi, bagaimana penerapan cross selling di bisnis Anda? Referensi Business2Community Glints HubSpot Investopedia

Read More (1287 views)
Blog post
09 Des'21

8 Alasan Mengapa Lebih Baik B…

Sebelumnya perlu digaris bawahi, waralaba yang dimaksud pada artikel ini adalah waralaba yang “mapan”. Mapan dalam arti waralaba tersebut memang dirancang dengan baik dan terkelola. Waralaba sama seperti bisnis pada umumnya. Berinvestasi di waralaba juga memiliki potensi risiko; beberapa mungkin ada yang berhasil, gagal, dan biasa saja. Seringkali calon franchisee terkecoh dengan waralaba yang memiliki pertumbuhan jumlah gerai yang pesat. Seakan faktor tersebut adalah penentu kesuksesan. Berikut adalah 8 alasan mengapa Anda harus membuka gerai waralaba (yang mapan) berdasarkan pengalaman Michael Seid, seorang konsultan dan lawyer franchise, pengarang buku “Franchise for Dummies”. 1. Menjadi Entrepreneur Menjadi franchisee mungkin tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Salah satu pembeda franchisee dan entrepreneur adalah proses pengambilan keputusan. Seorang entrepreneur memiliki keputusan sepenuhnya di tangan mereka. Tetapi jika Anda adalah seorang franchisee, dalam beberapa kasus, akan ada arahan keputusan dari franchisor. Dengan begini, Anda tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Namun, ketika gerai Anda berprestasi ataupun gagal, Anda tetap yang akan merasakannya. Oleh karena itu, menjadi franchisee mirip seperti entrepreneur disisi lain. 2. Berinvestasi Pada Sistem yang Telah Terbukti Dalam sistem waralaba yang mapan, biasanya franchisor akan memberikan fasilitas yang cukup dan mumpuni. Franchisor yang mapan akan memberi pelatihan awal dan berkelanjutan yang dirancang dengan baik untuk para franchisee-nya. 3. Merek Waralaba Memiliki Brand Recognition Biasanya merek franchisor akan membuat bisnis anda lebih mudah dikenal dan lebih cepat mendapatkan pelanggan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui “kekuatan merek” sebelum berinvestasi di waralaba, apakah merek itu kuat di wilayah tertentu atau memang merek telah dikenal di seluruh negeri. 4. Kesalahan Potensial “Dibayar” oleh Franchisor Seperti melakukan bisnis pada umumnya, kesalahan tidak bisa dihindari. Franchisor yang telah berpengalaman, umumnya telah menemukan formula untuk menghadapi permasalahan atau kesalahan tersebut. Anda tidak perlu melewati kesalahan yang bisa saja sangat mahal, yang mungkin telah dialami oleh franchisor. 5. Dukungan Awal & Berkelanjutan Franchisor umumnya memiliki tim profesional untuk menyiapkan gerai dan maintenance selanjutnya. Anda akan mendapat bantuan mulai dari pemilihan lokasi sampai ke pengembangan. Sebelum menjadi franchisee, Anda perlu mengetahui ruang lingkup dukungan dari tim sebelum dan sesudah launching. 6. Networking Sesama Franchisee Umumnya, franchisor akan melaksanakan pertemuan, baik itu nasional, regional, ataupun lokal. Disana Anda akan bertemu sesama franchisee, dan menyadari bahwa masing-masing dari franchisee adalah bagian dari sistem. Pertemuan tersebut dapat menjadi ajang sesama franchisee untuk berbagi pengalaman yang sangat berguna dalam meningkatkan kinerja gerai bisnis Anda. 7. Exit Value Bisnis Bisa Lebih Tinggi Salah satu keistimewaan Anda mungkin saja mendapat “exit value” yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri yang serupa. Hal ini tentu saja bergantung pada merk dan kinerja franchisor.   Namun, bila Anda hendak membeli suatu bisnis waralaba yang sudah berjalan, sebelum melakukan take over pastikan untuk memeriksa isi perjanjian waralaba dengan cermat. 8. Tingkat Keberhasilan Pernyataan ini bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Pernyataan ini sering disalah artikan bahwa “berinvestasi di waralaba memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri”. Tingkat sukses 2 merek waralaba yang berbeda biasanya berbeda, demikian juga dengan tingkat keberhasilan industri waralaba secara umum. Jadi, apabila Anda adalah seorang investor dan ingin menjadi franchisee, maka hal yang bisa dilakukan adalah mengamati beberapa franchisee dari merk waralaba yang hendak Anda beli, dan tanyakan beberapa pertanyaan berikut: Apakah mereka berhasil? Apakah mereka mendapat return yang wajar? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan, apakah waralaba tersebut memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi atau tidak. (terinspirasi dari tulisan Michael Seid)

Read More (789 views)
Blog post
22 Nov'21

Fokus Pada Lebih Sedikit Hal …

Prinsip Pareto - Dilansir dari Investopedia, prinsip pareto adalah mengenai bagaimana mengidentifikasi aset terbaik yang Anda miliki untuk dapat dipergunakan secara efisien dan menghasilkan output yang maksimal. Tantangan sulit yang harus dihadapi dalam prinsip pareto adalah mengidentifikasi aset yang dimaksud. Oleh karena itu, data-data dan intuisi yang tajam diperlukan dalam analisis pareto. Highlight Hal penting tentang prinsip pareto yang harus diingat: Prinsip pareto menyatakan, 80% output dihasilkan dari 20% Dalam prinsip pareto, Anda memprioritaskan 20% faktor yang akan menghasilkan hasil terbaik. Hal penting dalam prinsip pareto adalah mengidentifikasi “aset” input Prinsip pareto adalah ajaran, bukan hukum matematika yang mutlak. Angka yang dimaksud dalam prinsip ini tidak harus selalu 80% dan 20%, bisa saja mendekati, seperti 90% dan 10%, ataupun 70% dan 30%. Prinsip pareto dapat diadopsi untuk keperluan bisnis. Para eksekutif menggunakan prinsip pareto untuk mempersempit fokus mereka dan mengidentifikasi masalah-masalah yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi di departemen atau perusahaan mereka. Penerapan Prinsip Pareto dalam Bisnis Restoran Dalam implementasi sederhana, prinsip pareto dapat digunakan untuk melakukan penyaringan terhadap menu di sebuah restoran. Dengan mengetahui data masing-masing item menu secara akurat, prinsip pareto dapat dipergunakan untuk memilah menu yang menghasilkan penjualan minim dan menambah beban karena bahan bakunya basi atau busuk. Kemudian, pengelola dapat lebih fokus meningkatkan kualitas dan kuantitas menu yang memiliki penjualan terbaik. Hal tersebut yang dilakukan restoran McDonald’s pada awal berdirinya. McDonald’s mengurangi menu dengan penjualan paling kecil diantara semua menu, sehingga MC Donald’s dapat fokus pada menu dengan penjualan terbaik, yaitu hamburger, kentang goreng, dan minuman.

Read More (845 views)
Blog post
18 Nov'21

5 Tips dalam Menerapkan Refer…

5 Tips Menerapkan Referral Marketing - Setelah kita memahami dan mengetahui pentingnya menerapkan referral marketing. Maka pada artikel ini akan membahas tips bagaimana menerapkan referral marketing. Menerapkan referral marketing mirip seperti berinvestasi, di mana “sistem” akan dibuat dan kemudian menunggu hasil sambil terus mengevaluasi sistem. Dalam referral marketing, yang paling utama adalah menjaga kualitas (barang/jasa dan pelayanan). Walaupun telah memiliki kualitas yang baik, tidak menjamin kinerja program referral marketing akan optimal. Anda mungkin memerlukan tips berikut agar mencapai kinerja referral marketing yang optimal. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 1. Menetapkan Tujuan Sebelum mulai melakukan program referral marketing, pastikan untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Menetapkan tujuan sangat penting dilakukan untuk mengukur kemajuan usaha, supaya mengetahui “before/after” penerapannya. Menetapkan tujuan mempermudah untuk mendeteksi penyebab apabila terjadi perlambatan penjualan. Target bisa berarti banyak hal, misal meningkatkan penjualan sampai 60%, 80%, bahkan 100% atau target lain di luar penjualan. 2. Mintalah Penelitian dari Texas Tech menunjukkan bahwa 83% pelanggan yang puas bersedia memberi “referral” ke orang lain. Namun, hanya 29% yang benar-benar melakukannya, salah satu penyebabnya mungkin karena mereka tidak pernah diminta. Artinya, peluang untuk direferensikan akan lebih besar ketika mereka diminta. Sampaikan bahwa referensi dari mereka akan sangat berharga. 3. Waktu yang Tepat Meminta pelanggan untuk mereferensikan pada saat pertama kali membeli bukanlah ide yang bagus. Biarkan mereka mengenal dan merasakan produk Anda, setelah muncul kenyamanan, barulah waktu yang tepat meminta untuk mereferensikan. Ada baiknya observasi dilakukan untuk mengetahui kriteria pelanggan yang akan bersedia mereferensikan. Sehingga Anda dapat menemukan “pola” yang nantinya bisa dijadikan sistem referral ini. 4. Prioritaskan Pelayanan Secara sederhana, pelanggan akan terdorong mereferensikan apabila Anda memang memiliki pelayanan yang baik secara konsisten. Selain kualitas produk, usahakan untuk memiliki pelayanan diatas rata-rata, sehingga membuat pelanggan mengingat dan lebih mudah untuk mereferensikan Anda. Ingat, pelanggan memerlukan validasi sosial, oleh karena itu jadilah bernilai. 5. Insentif yang Sesuai Pada Program Referral Program referral dapat membuat pelanggan terdorong untuk memikirkan seseorang yang dapat mereka referensikan. Dalam membuat program, insentif yang sesuai akan membuat mereka merasa dihargai dan termotivasi. Apabila insentif yang Anda tawarkan terlalu kecil (tidak sesuai), dapat berpotensi membuat mereka merasa tidak perlu untuk mereferensikan. Beberapa contoh program referral yang dapat diterapkan seperti memberi potongan harga, gratis layanan selama periode tertentu, ataupun memberi kupon yang nantinya dapat ditukar dengan produk. Program referral marketing dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada lokasi dan bidang usaha. *catatan: Referral marketing dapat diterapkan dalam penawaran waralaba/kemitraan. Meminta kesaksian franchisee yang puas dengan layanan atau support dari franchisor, meminta nama-nama teman dan rekan bisnis yang menurut franchisee berminat mengikuti jejaknya menjadi franchisee anda, akan menciptakan peluang mendapatkan franchisee yang keberhasilan lebih tinggi. Referensi Entrepreneur.com Forbes.com Getambassador.com

Read More (874 views)
Blog post
11 Nov'21

Hindari 3 Kesalahan Proyeksi …

Proyeksi Keuangan - Proyeksi dan simulasi keuangan dengan skenario “pesimis, moderat, dan pesimis” sangat lumrah kita jumpai dalam suatu penawaran kerjasama waralaba dan kemitraan. Dalam hal ini, sangat lumrah pula kita menjumpai beberapa kesalahan berikut ini: Jumlah SDM Simulasi yang oversimplified biasanya tidak melakukan penyesuaian jumlah SDM, dan hal ini berarti tidak ada penyesuaian “biaya” SDM. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan jumlah SDM untuk skenario optimis biasanya lebih banyak daripada skenario pesimis. Memang ada beberapa bisnis yang tidak membutuhkan penyesuaian jumlah dan biaya SDM untuk skenario optimis dan pesimis, tapi jarang sekali. Jadi diperlukan pemahaman mengenai kapan saatnya, atau pada omset berapa harus menambah pegawai, atau sebaliknya mengurangi pegawai pada skenario pesimis. Misal omset pesimis suatu restoran adalah Rp150 juta sebulan, sedangkan omset optimis adalah Rp450 juta sebulan. Jumlah pegawai untuk omset Rp150 juta ini mungkin 5 orang, sedangkan untuk omset Rp450 juta mungkin dibutuhkan 7 orang agar para pelanggan bisa terlayani dengan baik. Jadi perlu diingat, harus ada penyesuaian jumlah dan biaya SDM sesuai omsetnya. Biaya dan Persentase Terhadap Omset Tidak semua biaya bisa secara proporsional dianggarkan sebagai persentase dari omset. Ada biaya-biaya tetap yang memiliki angka minimum, misal: sewa tempat, iuran lingkungan, biaya listrik, dan biaya SDM minimum sampai dengan omset tertentu. Misal kinerja historis menunjukkan pencapaian omset rata-rata suatu bisnis gerobakan adalah Rp30 juta sebulan dengan biaya sewa Rp1 juta sebulan di depan mini market. Ini berarti persentase nilai sewa ini adalah 3,33% dari omset. Bila kemudian asumsi omset pesimisnya adalah Rp15 juta, tentu biaya sewanya tetap Rp1 juta alias 6,67% dari omset. Sebaliknya, bila omset optimisnya adalah Rp45 juta, maka biaya sewanya menjadi 2,22% dari omset. Karena kemungkinan bervariasinya persentase ini, maka klaim “net profit sekian persen dari omset” adalah sesuatu yang kurang tepat. Mengapa? Karena persentase ini ternyata sangat tergantung pada nilai nominal sales yang dicapai.   Optimisme Semu Saya menyebutnya sebagai optimisme semu, karena skenario omset yang optimis ini bisa jadi ternyata sangat mustahil dicapai. Apa artinya? Skenario omset yang optimis harus memperhitungkan kapasitas gerai outlet Anda. Bila bisnis Anda adalah bisnis kuliner, jumlah kursi akan menentukan batas maksimal omset Anda. Bila Anda memanfaatkan sales channel takeaway/delivery, Anda dapat menambahkannya ke dalam target sales, namun tetap harus dalam batasan angka yang wajar. Angka yang wajar ini terkait dengan kinerja historis. Biasanya saya menggunakan data kinerja historis untuk mendukung asumsi target suatu penawaran kerja sama waralaba/kemitraan. Namun demikian, data kinerja historis ini harus memperhitungkan pula faktor penting yang mungkin mempengaruhi kinerja penjualan, misal: usia outlet. Kinerja historis suatu outlet yang sudah belasan tahun beroperasi dan sudah dikenal luas biasanya tidak bisa digunakan sebagai asumsi target penjualan gerai baru. Jadi perlu dilakukan penyesuaian, misalnya 50% atau 70% dari kinerja outlet yang sudah belasan tahun beroperasi itu. Akan lebih baik lagi bila kinerja historis diambil dari kinerja outlet yang baru berusia 1-2 tahun, di lokasi yang umum - bukan lokasi khusus seperti tempat tujuan wisata.

Read More (1978 views)
Blog post
09 Nov'21

Strategi Referral Marketing

Strategi Referral Marketing - Terdapat banyak strategi marketing yang dapat digunakan, satu yang terbukti efektif adalah Strategi Referral Marketing. Dari konsumen Anda sebelumnya, mungkin Anda memiliki database kenalan mereka untuk Anda hubungi dan tawari produk Anda. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka bersedia untuk Anda hubungi dan merasa nyaman? Lebih dari itu, apakah mereka akan percaya? Referral marketing memiliki asal kata referensi. Menurut Bradley J. Sugars dalam bukunya Instant Referrals, referral marketing adalah rujukan calon pelanggan yang Anda dapat dari teman atau kenalan Anda. Jadi, walaupun calon pelanggan tersebut belum mengenal Anda sebagai pemilik bisnis, mereka tetap dapat percaya. Ini menjadikan referral marketing sangat berguna untuk Anda dalam mendapatkan pelanggan baru. Mengutip Id.Oberlo.com, Tidak ada strategi marketing yang lebih baik dari strategi referral marketing. Hal ini karena strategi referral marketing merupakan kondisi win-win solution dari tiga pihak: Anda mendapat keuntungan karena usaha Anda dipasarkan, Pelanggan Anda mendapatkan validasi sosial karena merekomendasikan sesuatu yang bernilai, Dan kenalannya mendapatkan rekomendasi dari sumber yang terpercaya. Mayoritas pelaku usaha menggunakan referral marketing karena memiliki banyak kelebihan. Dilansir dari Socialmediatoday.com, berikut adalah 4 alasan mengapa strategi referral marketing itu penting: 1. Kualitas Leads Leads adalah calon pembeli atau orang yang memiliki ketertarikan pada produk Anda. Berbeda tipis dengan leads dari pameran dagang dan special events sebagai pemasukan utama marketer, sebagian besar marketer setuju bahwa kualitas leads dari referral marketing adalah yang paling efektif kedua. Sekitar 78% B2B Marketers menyatakan, leads yang didapat melalui referral memiliki potensi pembelian yang tinggi. Hal tersebut karena leads mendapatkan referensi dari orang yang mereka sudah kenal. Namun, yang perlu diingat, mendapatkan leads barulah setengah perjalanan. 2. Meningkatkan Jumlah Leads Kemudian, 60% marketers mengatakan referral marketing menghasilkan volume leads yang lebih banyak. Referral marketing yang baik akan membuatnya bekerja untuk Anda. 3. Biaya Per Leads yang Lebih Murah 54% Marketers mengatakan referral marketing memiliki biaya per leads yang lebih murah. Hal tersebut tentu menguntungkan, karena dengan biaya marketing yang lebih kecil akan menghasilkan ROI yang lebih tinggi pada usaha Anda. 4. Semua Orang Menggunakannya Setiap jenis bisnis menerapkan referral marketing bukan karena tren, tetapi karena referral marketing memang terbukti efektif dan menambahkan saluran pertumbuhan ke bisnis Anda yang dapat menambahkan sumber pendapatan baru ke dalam bisnis Anda, strategi referral marketing bekerja untuk Anda. **Mengenai tips referral marketing dapat Anda baca di sini Referensi Id.oberlo.com Socialmediatoday.com Sugars, Bradley J. Instant Referrals. (2013). Jakarta: Kesaint Blanc.

Read More (893 views)
Blog post
04 Nov'21

5 Checklists: Siap Waralaba-k…

Bila Anda ingin mewaralabakan atau menawarkan kerja sama kemitraan dalam arti luas, Anda harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Outlet Anda memiliki laba bersih yang cukup untuk franchisee dan franchisor. Bisnis Anda mudah diduplikasi. Bisnis Anda relatif mudah diawasi atau disupervisi. Bisnis Anda mampu bersaing dalam jangka panjang, alias sustainable. Bisnis Anda diminati banyak orang atau pemilik modal. Laba Bersih Dalam artikel Superior Business, dijelaskan bahwa bisnis yang diwaralabakan harus memiliki omset dan profit yang di atas rata-rata. Mengapa? Pertama, karena investasinya dibebani biaya waralaba di muka (upfront franchise fee). Kedua, laba usahanya dipotong oleh biaya bulanan (royalti, management fee, dan/atau biaya supervisi dan konsultasi). Jadi modal lebih besar, laba lebih kecil, bila dibandingkan dengan buka usaha sendiri. Merek dan sistem manajemen adalah nilai lebih alias manfaat yang harus dinikmati oleh franchisee. Dampak dari merek adalah omset yang lebih tinggi di atas rata-rata. Dampak dari sistem manajemen adalah pengendalian biaya yang berujung pada laba yang lebih baik, sehingga laba ini cukup untuk dibagi untuk franchisee dan franchisor. Duplikasi Bisnis yang mudah diduplikasi itu tidak bergantung pada skill khusus seseorang. Segala sesuatunya mudah dipelajari dan dipraktekkan. Istilah yang sering digunakan adalah “system-dependent, not person-dependent”. Yang dimaksud dengan sistem di sini adalah Pedoman Operasional (dokumen SOP) berikut sistem implementasinya (rekrutmen SDM, pelatihan dan supervisi pelaksanaannya). Mudah Diawasi Bisnis yang tidak mudah diawasi adalah bisnis yang tidak bisa “ditinggal” oleh pemilik bisnisnya. Jadi bisnis yang relatif mudah diawasi itu biasanya memiliki sistem yang dibakukan, termasuk sistem pengawasannya. Sustainable Bisnis yang sering dianggap sebagai contoh bisnis yang tidak sustainable untuk jangka panjang adalah “es kepal milo”. Ada juga yang sempat terlihat tidak sustainable tapi ternyata ada yang mampu bertahan lama, yaitu bubble tea yang saat ini terlihat pasarnya dikuasai oleh Chatime. Untuk mampu bersaing dalam jangka panjang ada banyak faktor tentunya, mulai dari kecukupan modal, pengembangan organisasi dan kompetensi timnya. Selain itu ada pengaruh faktor eksternal seperti persaingan dan krisis ekonomi yang turut menentukan keberhasilan dalam upaya menjadi sustainable tersebut. Selain konteks keberlangsungan bisnisnya, aspek sustainable ini menyangkut perlindungan merek dan unsur HKI lainnya. Tanpa adanya perlindungan HKI, suatu bisnis akan lebih sulit untuk exist dalam jangka panjang, apalagi bila merek itu ternyata dimiliki pihak lain. Diminati Banyak Pemilik Modal Aspek ini memang tergantung profil target marketnya. Kalau target marketnya niche (sempit, spesifik, terbatas), tentu jumlah outlet yang bisa dibuka tidak bisa banyak, sehingga jumlah pemilik modal yang perlu digaet juga relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bisnis yang target marketnya sangat luas/besar.

Read More (826 views)
Blog post
02 Nov'21

Ada 3 Skenario Penting Busine…

Dalam mengevaluasi kinerja bisnis untuk keperluan rencana ekspansi (outlet)-nya, saya menerapkan simulasi keuangan dengan tujuan menemukan 3 skenario penting yang juga penting dalam menyusun business plan: Omset berapa agar gross margin di outlet baru tersebut mampu menutup biaya operasionalnya? Omset berapa agar gross margin di outlet baru tersebut mampu menghasilkan laba yang sehat? Bila gross margin tidak mampu menutup biaya operasionalnya, berapa lama kita akan bertahan dan apa solusi alias exit strategy-nya. Gross Margin = Biaya Operasional Ini adalah makna BEP atau break even point yang sebenarnya, karena penggunaan BEP dalam konteks balik modal adalah istilah awam yang sebenarnya bukan istilah baku. “Gross margin sama dengan biaya operasional” bisa memiliki pengertian yang berbeda, karena ada yang melihat dari sudut Laporan Laba/Rugi dan ada yang melihat dari sudut arus kas. Laporan Laba/Rugi ini merupakan kondisi fundamental bisnis yang sebenarnya, tapi bisa berbeda dalam konteks arus kas. Dalam Laporan Laba/Rugi ada biaya-biaya yang tidak mempengaruhi arus kas, seperti (i) sewa dibayar di muka, (ii) pembelian bahan baku penjualan dan penjualan dengan metode pembayaran mundur (termin pembayaran tertentu, kredit/cicilan), (iii) biaya depresiasi/amortisasi. Berikut ini tabel sebagai ilustrasi untuk menjelaskan perbedaan mengenai sudut pandang Laporan Laba/Rugi dengan Arus Kas, saya highlight 2 hal saja: yaitu depresiasi dan sewa bayar di muka. Tabel Laporan Laba/Rugi dengan Arus Kas    Dapat dilihat dalam ilustrasi tersebut bahwa target sales bisa berbeda cukup signifikan. Tentu saja target sales dari sudut pandang Laporan Laba/Rugi lebih riil dibandingkan dengan berdasarkan Arus Kas. Tapi untuk rasa aman tahun pertama mungkin target menurut Arus Kas masih bisa diterima, dengan alasan “tidak tekor” alias tidak bleeding secara arus kas. Di sini perlu dipahami pula bahwa bila ada pembelian aset tambahan yang didepresiasikan (bukan langsung jadi biaya) akan memengaruhi arus kas, maka yang dicatat dalam Laporan Laba/Rugi adalah nilai depresiasi tahun pertamanya. Selain itu, bila ruang usaha atau bangunan adalah milik sendiri, maka perlu dianggarkan biaya sewa menurut harga pasar agar perhitungan biaya operasional tersebut lebih riil ditinjau dari sisi fundamental bisnisnya. Tentu saja pengeluaran tersebut tidak benar-benar terjadi dari sisi arus kas. Jangan lupa juga membiayakan gaji kita, bila kita terlibat dalam keseharian bisnisnya. Bila administrasi dilakukan terpusat, harus ada pos biaya jasa administrasi kantor pusat, dan/atau biaya SDM tenaga administrasi di outlet nantinya, meski saat ini semua admnistrasi dikelola oleh pusat. Laba yang “Sehat” Laba yang “sehat” tentu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Ekspektasi jangka waktu balik modal akan memengaruhi angka ini. Biasanya saya melakukan simulasi untuk menemukan 2 skenario jangka waktu balik modal, yaitu 30 bulan dan 20 bulan. Mengapa 30 dan 20 bulan? Mungkin ini subyektif saja, Anda bisa ubah sendiri kalau memiliki file simulasinya. Aspek lain mungkin jadi pertimbangan adalah jumlah laba yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita yang jadi pemilik bisnis. Bisnis gerobakan misalnya. Kalau modalnya hanya Rp10 juta dan disebutkan balik modal dalam 5 bulan, itu berarti laba usahanya sebulan hanya Rp2 juta. Bila angka Rp2 juta tidak cukup atau tidak memuaskan karena kebutuhan hidup anda Rp6 juta sebulan, berarti Anda harus buka 3 gerobak yang ketiganya minimal harus mencapai jumlah penjualan yang dibutuhkan untuk memberikan laba usaha Rp2 juta sebulan. Kondisi “Saat Ini” Yang tak kalah penting tentu saja kita harus memahami kondisi atau kinerja saat ini. Berapa omsetnya, berapa laba kotornya, berapa laba operasionalnya, berapa EBITDA nya. Dari sini kita dapat memperkirakan seberapa masuk akal target-target penjualan untuk skenario-skenario tersebut #1 dan #2 tersebut. Exit Strategy Dalam bisnis, kita tidak harus mengadopsi konsep membakar jembatan yang sudah kita lewati. Apalagi kalau sumber daya keuangan kita sangat terbatas. Kita perlu plan B, dan beberapa rencana lain (pivot) bila memungkinkan, sebelum memutuskan untuk menutup dan melakukan likuidasi (menjual peralatan dan perlengkapan, jika bukan bisnisnya) kepada pihak lain.    Related ArticlesBiaya Operasional, Apa Saja?Jangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1043 views)
Blog post
27 Okt'21

McDonald’s: Bisnis Burger ata…

McDonald’s mendapat julukan "The World’s Largest Restaurant Company in The World ",karena berhasil mengoperasikan lebih dari 39.000 gerai restoran di lebih dari 119 negara. Meski lebih dikenal sebagai bisnis Burger, McDonald’s sering disebut tidak akan meninggalkan bisnis propertinya. Mengapa demikian? Peringkat #7 Kepemilikan Aset Properti & Real Estate Laporan keuangan McDonald’s tahun 2020 menyatakan total nilai aset property & real estate yang dimilikinya sebesar 41 Miliar Dollar (sebelum depresiasi). Nilai ini menjadikan McDonald’s  sebagai perusahaan peringkat ketujuh dengan aset property & real estate terbesar di dunia.        Biaya Sewa adalah Kontribusi Pendapatan Terbesar Berbeda dengan model bisnis franchise lainnya, pada umumnya McDonald’s mengharuskan franchisee-nya untuk sewa pada lahan dan bangunan milik McDonald’s. Berdasarkan laporan keuangan McDonald’s tahun 2020, kita jadi tahu kecemerlangan model bisnis ini. McDonald’s Financial Report, 2020 Biaya sewa memberi kontribusi pendapatan yang nilainya setara 64,1% dari total pendapatan yang diterima McDonald’s pada tahun 2020. Ini adalah porsi yang sangat besar, angka tersebut bahkan lebih besar dari total biaya royalti dan biaya waralaba yang diterima McDonald’s. McDonald’s sebagai franchisor menerima pendapatan dari setiap franchisee berupa: Franchise fee $45.000 Biaya sewa $228.000 atau ekivalen 28% dari target penjualan 4% komisi penjualan atau royalti bulanan Biaya iklan & promosi (minimal 4%) McDonald’s adalah pemilik tanah dan bangunan yang disewa oleh franchisee. Nilai aset property & real estate ini mengalami peningkatan setiap tahunnya. Catatan: Revolusi pada model bisnis McDonald’s dimulai ketika Ray Kroc bertemu dengan Harry J. Sonneborn (Sonneborn). Sonneborn memberi ide sederhana dengan menyarankan kepada Kroc yang akan mempercepat pertumbuhan gerai McDonald’s: "Miliki real estate yang nantinya akan dibangun Waralaba McDOnald's". Bagaimana McDonald's menjadi bisnis properti, baca di sini Bagaimana menurut Anda, McDonald’s lebih cocok disebut bisnis burger atau properti? Referensi Entrepreneur.com Whatisthebusinessmodelof.com                                        

Read More (2054 views)
Blog post
26 Okt'21

Strategi “Buka - Jual - Buka”

Salah satu strategi waralaba yang menarik untuk diterapkan adalah strategi “Buka - Jual - Buka”. Bayangkan Anda memulai bisnis yang butuh belanja modal sebesar Rp300 juta, Setelah 8 bulan beroperasi, bisnis ini menghasilkan laba bersih Rp50 juta per bulan, dan stabil. Bisnis seperti ini dapat Anda tawarkan sebagai waralaba atau kemitraan kepada pihak lain dengan harga Rp800 juta. Mengapa? Asumsi saya dari Rp50 juta tersebut, kita anggap kita bisa ambil Rp10 juta sebagai biaya bulanan (biaya royalti dan/atau biaya supervise & konsultasi).  Dengan demikian pihak pembeli masih dapat memperoleh Rp40 juta sebulan. Ini berarti Rp800 juta tersebut masih bisa balik modal dalam waktu 20 bulan. Penghasilan ini ekivalen 5% sebulan, atau 60% setahun bila dibandingkan dengan investasi yang Rp800 juta tersebut. Kalau kemitraan atau waralabanya menggunakan skema pasif, alias pembeli cukup duduk manis dan semuanya dikelola oleh Anda, maka bisa saja Anda mengambil Rp20 juta sehingga potentially pembeli dapat menerima Rp30 juta sebulan. Dengan demikian, Rp800 juta ini bisa balik modal dalam waktu 27 bulan. Ini ekivalen sekitar 3,4% sebulan alias 40,8% setahun! Bagi Anda sendiri, bisnis dengan modal Rp300 juta, dalam waktu 8-12 bulan Anda bisa menjualnya dengan nilai Rp800 juta. Ini hasil yang luar biasa. Dari Rp800 juta tersebut, kalau digunakan untuk buka lagi, maka Anda dapat membuka 2 outlet lagi, dan masih ada sisa Rp200 juta. Catatan: Uraian di atas menggunakan perhitungan payback period dan EBITDA. Untuk arus kas akan ada perbedaan, tergantung faktor-faktor yang menyertainya. Sebagai contoh, sewa di mall tentu memiliki konsekuensi arus kas yang berbeda dengan sewa di ruko.

Read More (917 views)
Blog post
06 Okt'21

Merek Atas Nama Perorangan vs…

Bila anda sedang menimbang-nimbang, mau daftar merek atas nama Perseroan Terbatas (PT) atau Perorangan, berikut ini ulasan yang bisa dijadikan pertimbangan:   Masalah Waris Bila kepemilikan merek dipegang oleh perorangan, harus dipahami bahwa apabila pemilik merek meninggal dunia, maka hukum waris berlaku. Kepemilikan merek menjadi “milik bersama” para ahli waris, atau menurut isi surat wasiat terkait pewarisan kepemilikan atas merek tersebut. Jadi akan ada prosedur yang harus dilalui oleh para ahli waris, seperti mengurus surat keterangan waris, dan sebagainya, untuk kemudian mengurus pengalihan kepemilikan atas merek tersebut ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Republik Indonesia. Masalah waris ini juga harus clear, ketika hendak melakukan perpanjangan Sertifikat Merek.   Merek Atas Nama PT Setelah memahami aspek masalah waris, maka kita bisa menyimpulkan bahwa merek yang dimiliki oleh PT tidak memiliki kerumitan masalah waris – meski mungkin kepemilikan saham dalam PT akan memiliki kerumitan prosedur waris bila ada pemegang saham yang meninggal dunia. Perpanjangan Sertifikat Merek juga mengandalkan nama Direktur saja. Manfaat kepemilikan atas nama PT juga menyangkut batasan tanggungjawab apabila menghadapi sengketa. Secara umum manfaat dari badan hukum PT adalah batasan pertanggungjawaban yang sebatas harta dari PT tersebut, artinya tidak melebar hingga harta milik perorangan pemegang saham PT tersebut.   Pengalihan Kepemilikan Merek Perlu ditambahkan di sini bahwa kepemilikan atas merek (sertifikat merek) dapat dialihkan dari Perorangan ke PT. Jadi bila setelah membaca artikel ini anda bermaksud mengalihkan kepemilikan merek anda dari Perorangan ke PT, Anda dapat mengajukan permohonan pengalihan ini ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum & HAM Republik Indonesia. Semoga ulasan ini membantu Anda untuk memahami hal terkait kepemilikan merek dan pewralabaan merek tersebut, khususnya apabila terjadi perbedaan entitas antara pemilik merek dan Pemberi Waralaba.    Related Articles Mereknya Milik Siapa?

Read More (776 views)
Blog post
30 Sep'21

Jangka Waktu Balik Modal (“BE…

Jangka waktu balik modal memiliki banyak istilah yang berpotensi menimbulkan kebingungan. Ada yang menggunakan istilah ROI, tapi akhir-akhir ini lebih sering terdengar istilah BEP (Break Even Point) ketika seseorang membicarakan “jangka waktu balik modal”. “BEP nya berapa lama?” begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan kepada franchisor atau pihak yang menawarkan kerja sama kemitraan. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah “payback period”, yang sebenarnya mengacu pada berapa lama akumulasi laba usaha mencapai jumlah yang sama dengan seluruh modal yang dikeluarkan di awal usaha. Jadi kalau dengan ilustrasi sederhana, misal gambarannya adalah sebagai berikut: Mengapa ada koreksi sewa di muka?, Karena biasanya biaya sewa dimunculkan di biaya operasional, sehingga bila tidak dilakukan koreksi, maka terjadi duplikasi pembebanan biaya sewa, yaitu di tahun 0 (ketika memulai usaha) dan di biaya operasionalnya. Dalam contoh ilustrasi tersebut, biaya sewa diasumsikan naik menjadi Rp60 juta per tahun, sehingga yang harus dikeluarkan di tahun ke-3 untuk membayar sewa tahun ke-4 hingga ke-6 adalah Rp180 juta. Menyimak ilustrasi tersebut, tampak bahwa payback period ada di tahun ke-3. Untuk menyederhanakan perhitungan, biasanya yang diperhitungkan adalah pencatatan Laba Rugi Tahunan (atau Bulanan) dari kinerja rata-rata outlet bisnis tersebut. Kalkulator Franchise yang tersedia di KlikFranchise menggunakan perhitungan yang disederhanakan. Ilustrasi yang disederhanakan ini akan menjadi sebagai berikut: Meski hasil perhitungan payback nya adalah 2,35 tahun alias di tahun ketiga, hasil perhitungan ini tentu berbeda dengan perhitungan sebelum disederhanakan. Catatan: Perhitungan payback period disarankan untuk memasukkan seluruh kebutuhan belanja modal (aset) dan biaya-biaya awal seperti perizinan, rekrut dan latih SDM, hingga biaya promosi launching. Bila ada pengeluaran belanja modal lagi di tengah perjalanan usaha, maka perhitungan “Payback Period by EBITDA” ini menjadi kurang relevan. Sebaiknya semua aset yang akan dibutuhkan sudah dimasukkan ke dalam belanja modal sejak awal.   Related ArticlesTotal Kebutuhan Modal UsahaBiaya Modal KerjaBiaya Operasional, Apa Saja?Menghitung HPP atau COGS

Read More (3233 views)
Blog post
30 Sep'21

Biaya Operasional, Apa Saja?

Ada banyak versi mengenai rincian biaya operasional. Berikut ini salah satu cara melakukan pengelompokan untuk memudahkan analisis terhadap laporan yang dihasilkan. Biaya Penjualan, yaitu biaya yang timbul untuk menghasilkan penjualan. Biaya payment channels: EDC (kartu kredit dan debit), QRIS (termasuk fintech), dsb. Biaya sales channels: gofood, grabfood, shopeefood, Tokopedia, Traveloka, dsb. Biaya supplies: kemasan, kantong belanja, kantong plastik, dsb. Dalam bisnis kuliner bisa saja ini termasuk tissue, tusuk gigi, condiments, seperti acar, sambal, dsb. Biaya-biaya terkait waralaba atau lisensi. Biaya SDM, yaitu biaya terkait kepegawaian. Biaya gaji. Biaya tunjangan: tunjangan makan, transport, dsb; termasuk BPJS dan alokasi prorata bulanan untuk THR. Biaya seragam. Biaya rekrutmen dan pelatihan. Bonus, komisi, atau insentif. Biaya Gedung/Ruang Usaha, yaitu biaya sewa dan utilitas; dalam hal ini biaya utilitas bisa dipisah. Biaya sewa. Biaya service charge, atau Iuran Pemeliharaan Lingkungan bila bukan di mall. Biaya sumbangan* Biaya utilitas, yaitu biaya listrik, air, telepon, internet, dan LPG. Biaya Umum, yaitu biaya terkait keseharian. Biaya ATK (alat tulis kantor dan komputer). Biaya transportasi dan perjalanan dinas. Biaya pemeliharaan aset (Gedung, AC, dsb); biaya ini sebaiknya dialokasikan seandainya tidak ada pengeluaran sekalipun, karena mungkin saja dibutuhkan di kemudian hari. Biaya Cleaning Supplies (sabun cuci, cairan pel, dsb). Biaya pest control (bila perlu). Biaya Lain-Lain. Biaya depresiasi aset tangible (berwujud). Biaya amortisasi aset intangible (tidak berwujud): biaya waralaba di muka, biaya sewa dibayar di muka. Biaya Pajak Dll. Apakah ada biaya atau metode lain yang anda ketahui? Anda bisa berbagi info dengan mengirim tulisan ke email KlikFranchise: admin@klikfranchise.com   Related ArticlesTotal Kebutuhan Modal UsahaBiaya Modal KerjaMenghitung HPP atau COGSJangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1934 views)
Blog post
29 Sep'21

Menghitung HPP atau COGS

Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah harga modal dari produk-produk yang terjual, oleh karena itu disebut juga Cost of Goods Sold (COGS). Untuk bisnis jasa biasanya istilah COGS berubah menjadi Cost of Sales (COS). Bagi pengusaha yang sudah memahami cara melakukan stok opname dengan rutin dan benar, maka rumusnya adalah sebagai berikut: Stok Awal + Tambahan Stok - Stok Akhir. Kadang ada beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi, misal retur penjualan dan retur pembelian. Tentu saja retur penjualan dapat dianggap sebagai tambahan stok, dan retur pembelian adalah pengurangan stok. Bagaimana bila belum punya jadwal rutin stok opname? Meski tidak sempurna, bisa saja digunakan metode alternatif, yaitu menghitung langsung harga modal produk terjual ditambah dengan persentase tertentu sebagai alokasi kejadian barang rusak, dan barang hilang. Menghitung langsung harga modal produk terjual pada bisnis kuliner dapat dilakukan dengan melihat resepnya, dengan memperhatikan faktor LIP (Loss In Process). Contoh kejadian LIP misalnya masakan ayam yang boneless (tanpa tulang), tapi belinya ayam utuh. Dalam prosesnya tentu berat tulang akan menjadi komponen LIP. Barang Hilang dan Barang Rusak Sering terjadi penjualan tercatat 10 item tapi stok berkurang 12 item. Selain kemungkinan berpindah tempat atau posisi di gudang, faktor penyebab lainnya adalah hilang atau rusak. Dalam hal ini sangat penting untuk memiliki Pedoman Operasional yang mengingatkan bahwa barang rusak tidak boleh disingkirkan tanpa catatan Berita Acara yang dilengkapi dengan kehadiran dan tandatangan saksi. Dalam bisnis kuliner, bila Nilai HPP berdasarkan perhitungan stok ternyata lebih besar dari nilai HPP berdasarkan resep, maka patut diduga ada barang rusak, atau barang hilang.    Related ArticlesTotal Kebutuhan Modal UsahaBiaya Modal KerjaBiaya Operasional, Apa Saja?Jangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1729 views)
Blog post
29 Sep'21

Modal Kerja

Modal Kerja atau Working Capital terdiri dari: Biaya Sewa dibayar di muka Biaya Operasional lainnya yang dibayar di muka, seperti biaya pajak reklame, biaya seragam pegawai, biaya stok awal inventaris perlengkapan kerja, Biaya Inventori Awal Perlengkapan Kerja: adalah perlengkapan yang digunakan dalam menjalankan bisnis, misal piring, sendok, garpu (untuk kuliner), Alat Tulis Kantor, dsb – Pencatatan kelompok item ini tidak didepresiasikan, tapi dimasukkan sebagai pengeluaran biaya operasional saat pembelian terjadi. Stok Awal bahan dan/atau produk yang menjadi HPP (Harga Pokok Penjualan) alias harga modal dari produk yang dijual. Cadangan Kas atau Saldo Awal Kas: adalah cadangan tunai atau saldo bank untuk mengantisipasi arus kas negatif selama beberapa bulan pertama. Secara umum, Total Kebutuhan Modal Usaha yang telah dikurangi dengan Modal Kerja disebut CAPEX (Capital Expenditure). Pengelompokan biaya-biaya ini bisa saja berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Oleh karena itu di sini saya mencoba mengurai metode pengelompokan untuk perhitungan menggunakan Kalkulator Franchise di KlikFranchise.   Related ArticlesTotal Kebutuhan Modal UsahaMenghitung HPP atau COGSBiaya Operasional, Apa Saja?Jangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1389 views)
Blog post
29 Sep'21

Total Kebutuhan Modal Usaha

Total Kebutuhan Modal Usaha terdiri dari: Biaya Persiapan Legal Bisnis: akta pendirian (bila bukan perorangan) dan perizinan-perizinan (perizinan operasional: SIUP, TDP, NPWP, dan sebagainya). Biaya Survei Lokasi, bila dibutuhkan. Biaya-biaya awal terkait waralaba/kemitraan kepada pemilik merek (bila ada). Biaya Perijinan Renovasi: Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bila ada rencana renovasi yang membutuhkan IMB. Biaya Pekerjaan Renovasi: Instalasi M&E, Interior (furniture dan fixture) Biaya Peralatan Kerja: Peralatan Dapur (untuk kuliner), Peralatan Racik Obat (untuk apotek), Peralatan Laser (untuk salon dan skin care), dsb. Biaya Rekrutmen: mencari, menyeleksi dan melatih Tim Pegawai mula-mula. Biaya Launching, bila dibutuhkan. Biaya Modal Kerja: adalah biaya operasional rutin yang harus dibayarkan di muka, sebelum bisnis beroperasi atau di awal tahun pertama. Di sini termasuk biaya sewa yang harus dibayar di muka, dan biaya inventori awal perlengkapan kerja. Stok Awal bahan dan/atau produk yang menjadi HPP (Harga Pokok Penjualan) alias harga modal dari produk yang dijual. Biaya Inventori Awal Perlengkapan Kerja: adalah perlengkapan yang digunakan dalam menjalankan bisnis, misal piring, sendok, garpu (untuk kuliner), Alat Tulis Kantor, dsb – Pencatatan kelompok item ini tidak didepresiasikan, tapi dimasukkan sebagai pengeluaran biaya operasional saat pembelian terjadi. Cadangan Kas atau Saldo Awal Kas: adalah cadangan tunai atau saldo bank untuk mengantisipasi arus kas negatif selama beberapa bulan pertama. Banyak ya? Memang banyak! Memulai bisnis dengan benar membutuhkan ketersediaan dana yang tidak sedikit. Ketidaktersediaan total modal (kebutuhan yang sebenarnya) dapat mengakibatkan bisnis berakhir dalam jangka pendek. Informasi mengenai modal usaha yang terlihat murah meriah biasanya menyembunyikan beberapa unsur, seperti cadangan kas, atau beberapa peralatan kerja yang harus dibeli sendiri. Contoh peralatan kerja yang harus dibeli sendiri misalnya kulkas atau freezer pada tawaran bisnis gerobakan. Mungkin alasannya bisa menggunakan kulkas rumahan. Well, itu kalau memang ada ruang yang cukup pada kulkas di rumah. Bila tidak, maka harus nambah investasi untuk beli kulkas.   Related ArticlesMenghitung HPP atau COGSBiaya Operasional, Apa Saja?Jangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1404 views)