Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

with tag "business-strategy"
Blog post
04 Mei'23

Franchises Went Wrong

Beberapa merek waralaba bergerak ke arah yang salah! Apa saja tanda-tandanya? Fokus Jualan Unit Waralabanya Jual Waralaba Grosiran Biaya-Biaya Waralaba Terlalu Tinggi Fokus Jualan Unit Waralaba Fokus jualan unit waralaba berarti fokusnya adalah membuka unit waralaba sebanyak-banyaknya. Salah satu contoh dari fokus yang keliru seperti ini adalah fenomena banyaknya gerobak yang mangkrak, tidak sedikit juga yang hidup segan mati tak mau. Contoh lainnya adalah banyak waralaba yang gagal karena salah lokasi. Penyebabnya adalah karena franchisor kejar setoran, seleksi kandidat franchisee dan seleksi lokasi hanya formalitas belaka. Semua (atau hampir semua) seleksi dilakukan asal-asalan dan ujung-ujungnya disetujui. Tentu membuka unit waralaba sebanyak-banyaknya bukan hal yang tabu, bila hal ini dilakukan dengan benar, seleksi franchisee dan lokasi dilakukan sesuai standar, sistem support juga dibangun sesuai kebutuhan dan jumlah outletnya. Jual Waralaba Grosiran Sedikit berbeda dari “fokus jualan unit waralaba”, fenomena dan perilaku menjual waralaba grosiran ini dipicu oleh keserakahan. Franchisor menawarkan hak semacam distributor eksklusif kepada pemilik modal, misal untuk satu kota/kabupaten, atau satu provinsi. Dengan demikian franchisor dapat menerima biaya waralaba yang relatif tinggi di muka dengan kemasan “hak eksklusif” tersebut. Franchisee yang menjadi semacam master franchisee tergiur karena bisa menjual unit-unit waralaba sebanyak-banyaknya di lokasi-lokasi dalam area eksklusifnya. Akibat dari penjualan franchise grosiran ini adalah fenomena “fokus jualan unit waralaba” menjadi pola dan modus para “master franchisee”. Master Franchising sebenarnya bukan hal yang tabu, tentu saja dengan syarat bahwa model bisnisnya (baca profit bisnisnya) masih layak dikembangkan hingga 3 level (franchisor, master franchisee, dan unit franchisee). Yang dimaksud dengan model bisnis ini adalah kinerja keuangan, profit di level unit franchisee cukup baik untuk kepentingan balik modal mereka, dan alokasi biaya bulanan bagi master franchisee juga cukup untuk menjalankan bisnis maupun system support di wilayahnya. Persoalannya adalah, banyak yang tidak peduli hal-hal fundamental tersebut, dan memang dipicu oleh keserakahan, instant money, dan mental “get rich quick” yang merugikan pihak lain. Franchisor mengejar keuntungan di muka secepatnya, dan master franchisee mengejar pengembalian modal dan keuntungan sebesar-besarnya dengan menjual unit franchise tapi mengabaikan kinerja bisnis para unit franchisee mereka. Biaya-Biaya Waralaba Terlalu Tinggi Keserakahan, instant money, dan mental “get rich quick” juga menyebabkan banyak waralaba yang dijual dengan biaya-biaya yang mencekik dompet franchisee. Beberapa dari franchisor ini mungkin tidak memahami kesalahan mereka karena terbujuk rayuan oknum yang menjanjikan keuntungan besar melalui franchising bisnis mereka. Beberapa dari franchisor ini sebenarnya simply tidak memahami cara menghitung biaya-biaya waralaba. Awalnya mereka menjual waralaba dengan harga terlalu murah, tumbuh sangat cepat (dan memang menguntungkan bagi franchisee), kemudian mulai menaikkan harga dan biaya-biaya waralaba secara perlahan atau bertahap, hingga akhirnya franchisee yang belakangan tidak mampu meraih keuntungan. Sound familiar? Merek-merek waralaba yang terlihat memiliki ciri-ciri tersebut sebaiknya Anda hindari.  

Read More (862 views)
Blog post
16 Jan'23

Too Good To Be True, But Coul…

Pertanyaan apa saja yang harus Anda tanyakan bila menemukan penawaran-penawaran yang terlihat "too good to be true" seperti ini? *Catatan: "too good to be true" can be true, but usually IT IS too good to be true. Berikut ini 3 (tiga) pertanyaan yang paling mendasar: 1. Angka-angka ini diambil dari outlet di lokasi yang mana? 2. Outlet di lokasi itu sudah berjalan berapa tahun? 3. Minta kejelasan lagi mengenai outlet di lokasi tersebut: Berapa omsetnya setahun, Berapa profitnya, Berapa "total modal" yang dibutuhkan kalau buka outlet baru dengan kondisi seperti yang di lokasi itu. Selanjutnya, bila benar ada lokasi yang kinerjanya sesuai dengan klaim tersebut, Anda harus memeriksa karakteristik lokasi yang hendak Anda ajukan, apakah memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi mereka. Cara terbaik untuk meminimalkan risiko kegagalan adalah membuka cabang di lokasi yang memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi yang sudah TERBUKTI sukses. Sedikit tambahan, bila jawaban untuk pertanyaan nomor 2 adalah sudah lebih dari 5 tahun, Anda perlu cek omset outlet mereka yang baru buka 1-2 tahun, jangan-jangan omsetnya beda jauh.  

Read More (865 views)
Blog post
16 Des'22

CRM, Strategi Loyalnya Custom…

Pernahkah Anda ketika selesai berbelanja online di suatu aplikasi e-commerce atau web marketplace, kemudian  menerima notifikasi berupa informasi pesanan Anda sedang diproses?, atau notifikasi berupa promo? Jika iya maka Anda telah terkena strategi CRM (Customer Relationship Management). Sebenarnya apa itu CRM? Mari kita simak penjelasan berikut! Pengertian CRM Dikutip dari Populix, CRM adalah strategi bisnis bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya di berbagai aspek dengan melakukan proses olah data pelanggan menggunakan bantuan aplikasi. Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan CRM dibidang marketing semakin fleksibel dan dinamis sesuai target customer yang dituju. Di era yang tech-savvy ini, untuk mengakomodasi kebutuhan CRM yang kompleks disediakan berbagai  tool CRM yang disebut e-CRM. e-CRM digunakan oleh beberapa perusahaan besar untuk mengetahui intensi, minat serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa e-CRM yang dapat meningkatkan profit bisnis Anda: Salesforce Zoho SugarCRM HubSpot CRM Vtiger Freshsales Qontak Dan sebenarnya masih banyak lagi tools CRM yang lain baik berbayar atau bahkan free services yang dapat Anda gunakan. Hubungan Marketing Funnel Dengan CRM CRM tidak bisa lepas dari Marketing Funnel, yang menjelaskan beberapa tahapan bagi audiens sebelum melakukan transaksi atau pembelian produk/jasa yang ditawarkan. Proses tahapan-tahapan inilah yang nantinya akan dideskripsikan lebih detail di Customer Lifecycle Journey.  Marketing Funnel tipe AIDA   Jika Anda perhatikan, gambar marketing funnel di atas merupakan marketing funnel tipe AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yang sebelumnya pernah dibahas sebelumnya di artikel: Memahami Marketing Funnel Kurang Dari 5 Menit! Dalam gambar berbentuk corong tersebut, diketahui bahwa 1000 leads yang diperoleh nantinya akan terus berkurang sesuai dari intensi kebutuhan audiens. Nah, menjaga “intensi audiens” inilah yang harus dipertahankan agar audiens mau membeli produk Anda dengan cara membuat campaign. Jadi, dalam bentuk marketing funnel di atas CRM berfungsi sebagai strategi campaign yang mampu mengkonversi traffic audience yang diperoleh hingga menjadi loyal customer. Sistem Kerja CRM Sistem kerja CRM seringkali digambarkan dalam bentuk diagram alur yang dikenal dengan Customer Lifecyle Journey. Pada dasarnya, proses tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu reach, acquisition, conversion, retention, dan loyalty. Singkatnya, Customer Lifecycle Journey dapat menguraikan secara lengkap langkah-langkah yang akan diambil pelanggan saat mereka masuk ke flow penjualan sesuai 5 proses yang sudah disebutkan. Ini tentu akan membantu tim marketing perusahaan dalam menentukan (decision making) campaign, produk, promo, dan konten apa yang sesuai dengan behavior dan kebutuhan pelanggan.   Customer Lifecycle Journey   Gambar di atas merupakan contoh simulasi siklus CRM perusahaan X (katakanlah) RedDoorz berupa flowchart yang saya buat, mari kita urai satu-persatu: 1. Awareness Tahapan awareness disini merupakan salah satu proses dari Reach. Untuk mendapatkan Reach, tentu kita butuh traffic audience dari berbagai channel, seperti social media ads, Google ads, social media organic, dan blog. Umumnya untuk bisnis yang baru, menjalankan social media secara organik (feed Instagram, FB, artikel blog) sudah cukup untuk menarik calon customer apabila strategi konten Anda tepat dengan kebutuhan audience. 2. Consideration (Leads) Reach menjadi tidak berguna apabila Anda tidak berusaha menggaet pelanggan (acquire). Oleh karenanya, dibutuhkan semacam ajakan atau call to action di iklan Anda. Pada gambar di atas tahapan consideration hingga leads merupakan proses dari Acquisition untuk memperoleh potential customer. Berdasarkan gambar diatas, sebelum audience memasuki fase consideration, strategi perusahaan adalah dengan menjalankan ads berupa promo first time offer bagi audience yang belum mengenal RedDoorz. Setelah memasuki tahap consideration, audience baru akan mendapatkan push notification penawaran dari promo tersebut sehingga sebagian audience nantinya akan melakukan sign up dan menjadi leads (potential customer). 3. Buyer Setelah menjadi leads (mengisi form nama, email, dll) audience pasti akan mendapatkan kiriman email berupa “welcome email” atau mungkin email yang berisi keuntungan apabila menggunakan aplikasi RedDoorz . Email-email tersebut berfungsi untuk mendorong audiens melakukan Conversion dan menjadi buyer. Tahap ini mulai dibutuhkan yang namanya menjaga hubungan dengan pelanggan. Pastikan pelanggan puas dengan produk dan jasa Anda, pastikan Anda untuk meminta feedback dari pelanggan untuk meng-improve produk dan layanan Anda. 4. Loyal Fase ketika audience sudah menjadi buyer atau new customer, dibutuhkan strategi marketing berkelanjutan untuk mendorong pelanggan tersebut melakukan transaksi kembali, proses inilah yang disebut Retention. Contohnya adalah seperti menawarkan membership subscription supaya mendapatkan penawaran promo terbaik dan email special offer untuk transaksi selanjutnya. Catatan, tentu dalam membuat campaign penawaran harus didukung dengan copy yang menarik dan sesuai interest pelanggan, jika tidak, tentu saja pelanggan akan tidak peduli dengan offer yang Anda berikan.  Setelah pelanggan merasa tertarik dengan campaign retention yang ditawarkan dan merasa puas akan produk atau layanan yang Anda berikan, maka akan tercipta “Loyalty” dari customer. Loyalty akan sangat amat terasa penting karena akan membuat pelanggan tetap menggunakan produk Anda setelah melakukan konversi. 5. Churn Rate Churn rate lebih dikenal sebagai pelanggan yang tidak melakukan aktivitas apapun terhadap produk dan layanan yang Anda tawarkan selama beberapa waktu lamanya. (tergantung jenis bisnis dan umumnya 3 bulan sejak transaksi terakhir). Tahapan ini sebenarnya terpisah dari 5 proses penting CRM yang sudah kita pelajari. Namun, churn rate sangat berguna sebagai database pelanggan yang pernah menggunakan atau melakukan transaksi di bisnis Anda. Ketika pelanggan sudah tidak aktif, maka akan fatal apabila Anda hanya melepasnya saja. Ya, Anda harus melakukan pendekatan dengan treatment khusus untuk pelanggan yang sudah tidak terhubung dengan bisnis Anda. Seperti menawarkan fitur layanan baru, special offer, atau seperti kasus gambar diatas kita bisa menawarkan diskon re-book rooms untuk user yang pernah menggunakan aplikasi RedDoorz. Itulah beberapa hal fundamental terkait penggunaan CRM sebagai strategi marketing yang ampuh untuk menciptakan sebuah loyalitas pelanggan. Selanjutnya mungkin kita akan membahas lebih advance dan spesifik terkait e-CRM dan media yang digunakan seperti SMS, email, push notif, dan WhatsApp.  Jadi bagaimana? Apakah Anda telah menerapkan CRM untuk bisnis Anda?   Sumber: Startup Studio Indonesia                Glints                Hubspot

Read More (1127 views)
Blog post
15 Des'22

Mengenal Kosakata Digital Mar…

Apa yang Anda harapkan dari bisnis Anda? Ya seringkali ketika kita membuka bisnis terutama waralaba satu hal yang terbesit adalah menghasilkan revenue (pendapatan) semaksimal mungkin. Namun, bagaimana cara Anda untuk mencapai tujuan tersebut? Salah satu caranya adalah “Digital Marketing”, dengan arus perkembangan teknologi yang cepat dan maraknya penggunaan internet mengubah behavior masyarakat dalam mencari informasi dengan menggunakan smartphone/android. Maka dari itulah strategi digital marketing dibutuhkan untuk memasarkan produk/service yang Anda tawarkan. Sebelum belajar lebih jauh tentang Digital Marketing, alangkah baiknya Anda kenali terlebih dahulu kosakata berikut yang beberapa dikutip dari RevoU : A Ads/Iklan - Cara pemasaran yang dilakukan dengan mengiklankan (ads) produk/layanan dari brand. A/B Testing - Metode perbandingan 2 versi (campaign, ads dll) satu dengan yang lainnya untuk menentukan performance mana yang lebih baik. Affiliate Marketing - Model advertising dimana perusahaan membayar pihak ketiga untuk menghasilkan traffic dan membawa audiens ke produk perusahaan. B Backlink - Link dari suatu website yang merujuk ke halaman website lain/website Anda.  Brand Awareness - Istilah marketing yang menggambarkan sejauh mana konsumen mengenali suatu produk atau merek. Browser - Software yang mengakses dan menampilkan halaman atau file yang ada di World Wide Web.  Buyer Persona - Gambaran semi-fiksi pelanggan ideal yang diciptakan berdasarkan market research dan data riil terkait pelanggan yang sudah ada. C Call to Action (CTA) - Kalimat ajakan kepada audiens untuk melakukan suatu tindakan yang kita inginkan. Campaign - Aktivitas untuk mempromosikan produk brand dalam jangka waktu tertentu. Carousel - Fitur di media sosial yang memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto atau video dalam satu postingan. Click-through Rate (CTR) - Presentase seseorang yang mengeklik link ads. (Formula: Jumlah klik/Impression)  Content Pillar - Pondasi agar konten perusahaan memiliki identitas dan menjadi keseluruhan strategi konten media sosial bisnis. Conversion - Audiens yang telah melakukan tindakan berdasarkan Call to Action (CTA) yang telah Anda buat. Cost per Click (CPC) - Biaya yang dibayarkan setiap seseorang mengeklik iklan. (Formula: Total Biaya ads/klik)  Cost per Lead (CPL) - Biaya yang dibayarkan setiap mendapatkan leads atau user potensial baru. (Formula: Total biaya ads/Total Leads) Cost per thousand Impressions (CPM) - Biaya yang dibayarkan setiap seribu impression dari ads. (Formula: (Total biaya ads/Impressions) x 1000) Crawl - Proses bot atau spiderbot mengunjungi website, mengambil konten, dan mengindeks sehingga situs web tersebut dapat dengan mudah ditemukan di Search Engine. Customer Journey - Seluruh pengalaman yang dialami customer saat berinteraksi dengan perusahaan/brand dan membantu perusahaan dalam memahami customer lebih baik. D Direct Marketing - Pemasaran yang dilakukan dengan memanfaatkan jalur komunikasi dan distribusi langsung ke konsumen tanpa perantara. Domain - Bagian dari alamat web (URL) yang digunakan untuk mencari lokasi suatu website atau halaman dari website. E Email Marketing - Salah satu strategi yang memanfaatkan media email untuk mempromosikan produk serta digunakan dalam menarik pelanggan. Endorse - Strategi marketing yang melibatkan publik figur dan orang-orang terkenal seperti content creator serta influencer dengan basis pengikut yang masif. Engagement Rate -  Persentase pengguna yang berinteraksi dengan sebuah konten. G Google Ads - Layanan online advertising yang disediakan Google untuk menargetkan audiens, mengarahkan traffic ke website, dan meningkatkan kunjungan in-store. I Impression - Jumlah beberapa kali konten atau iklan muncul. K Key Performance Indicator (KPI) - Serangkaian metrik pengukuran kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan.  Keywords - Kata-kata yang ditargetkan pemilik website, bisa berupa ads/organik. L Landing Page - Salah satu laman web yang ditargetkan untuk menarik audiens agar melakukan tindakan tertentu. Leads - Orang-orang yang tertarik dengan produk/jasa brand dan memiliki potensi besar untuk menjadi pelanggan. Lead Generation - Kegiatan dan proses yang dilakukan untuk menemukan calon pelanggan dan informasi kontak mereka (nama, email, alamat, perusahaan, dll) M Metrics - Indikator untuk mengukur dan melacak keberhasilan usaha digital marketing brand. O Organik - Cara pemasaran yang dilakukan secara gratis atau tanpa ada biaya. P Personal Branding - Proses menciptakan citra atau image diri seorang individu. Platform - Hardware atau software yang menggerakkan suatu aplikasi atau layanan. R Reach - Total jumlah orang yang melihat sebuah konten/iklan. Return On Investment (ROI) - Ukuran kinerja yang digunakan untuk menghitung efisiensi atau profitabilitas suatu investasi bisnis. S Search Engine Marketing (SEM) - Salah satu channel marketing berbayar yang juga menggunakan platform search engine seperti SEO. Search Engine Result Page (SERP) - Halaman web yang ditampilkan search engine (seperti Google, Bing, dsb) setelah pengguna mengetik query di platform mereka. T Trendjacking - Strategi dengan memanfaatkan kejadian atau meme yang sedang viral untuk promosi/komunikasi yang berbeda kepada audience. Traffic - Jumlah total pengunjung website U User Experience (UX) - Keseluruhan perjalanan yang dilalui pengguna saat mereka menggunakan suatu produk. User Interface - Elemen visual yang berguna untuk menghubungkan pengguna (user) dengan sistem teknologi. Beberapa istilah di atas merupakan istilah yang sering diucapkan di bidang digital marketing, saat ini banyak perusahaan B2B maupun B2C berlomba-lomba dan berinvestasi di dunia digital marketing, sudah saatnya bagi Anda untuk berinvestasi di bidang ini.   Sumber: Revoupedia

Read More (1241 views)
Blog post
21 Nov'22

Yield 35% Ternyata Hanya 15%?

YIELD SEMU Ada iklan yang menawarkan investasi bisnis kuliner di suatu lokasi dengan "Indikasi Yield" sebesar 35%. Makna yield 35% adalah modal investasi Rp1 juta bisa menghasilkan Rp350 ribu setahun. Menurut saya "yield" ini SEMU. Mengapa?   1.Indikasi Yield Berarti Menurut Data Historis Data historis yang digunakan tentu mengacu pada satu (1) lokasi tertentu. Dalam hal ini, beda lokasi beda kinerja. Penyebabnya terutama karakteristik lokasi. Kita perlu mendapatkan lokasi yang digunakan untuk mendukung klaim yield 35% ini, karena lokasi yang ditawarkan belum tentu memiliki kesamaan karakteristik dalam hal kepadatan penduduk, jumlah traffic orang lewat, kebiasaan belanja, selera cita rasa makanan/minuman, dan beberapa hal lainnya dengan lokasi yang digunakan untuk klaim indikasi yield yang 35% itu. Selain faktor karakteristik lokasi, perbedaan kinerja bisa dikarenakan beda kualitas SDM dan pengelolaan operasional lainnya. 2. Tidak Likuid Karena merupakan investasi Securities Crowd Funding, modal Rp1 juta itu tidak bisa dicairkan, kecuali per 6 bulan ada yang mau membelinya. Inilah perbedaan antara saham biasa di lantai bursa IDX dengan saham urun dana (Securities Crowd Funding). Jual beli saham perusahaan yang terdaftar di IDX bisa kapan saja, asal cocok harga alias ada yang cari. Itu sebabnya saham yang banyak dan sering ditransaksikan disebut saham yang likuid. Saham bisnis riil (bisnis sendiri) juga sama, modal awal alias "pokok"-nya tidak bisa langsung dicairkan menjadi uang tunai. Tapi kalau ada yang berminat jual beli, dan memenuhi syarat sesuai kesepakatan alias AD/ART kalau berbentuk badan hukum, maka transaksi jual beli saham kepemilikan bisa dilakukan kapan saja. Jadi, bila Anda hendak berinvestasi di bisnis riil, atau Securities Crowd Funding (dulu dikenal, sebagai Equity Crowd Funding atau ECF), maka Anda perlu tahu fakta ini: investasi ini merupakan asset yang tidak likuid alias tidak mudah dicairkan kembali menjadi uang tunai. 3. Yield Ini Semu Nah, karena tidak likuid, saya menganggap hasil investasi yang diterima sebagai yield semu. Bila investasi franchise dengan jangka waktu 5 tahun, maka yield 35% itu sebenarnya hanya sekitar 15%. Kalau 10 tahun, maka yield itu menjadi 25%. Memang ada nilai aset bekas, tapi tidak likuid. Kalau bukan property, maka nilai aset bekas dalam pembukuan pun mungkin sudah nol dalam kurun waktu 5-10 tahun. Kesimpulannya, yield bisnis riil dan crowdfunding sangat berbeda bila dibandingkan dengan yield investasi di pasar saham lantai bursa IDX.   Catatan: a. Meski nilai bukunya nol, aset tersebut tetap produktif. b. Yield 35% ini masih berpotensi jadi lebih rendah karena biasanya laba yang dibagikan hanya sebagian, misal 80%, untuk dana cadangan perawatan dan penggantian aset yang rusak. c. Apakah yield semu 35% bisa menjadi lebih dari 35%? Bisa, apabila nilai aset yang dijual ternyata lebih besar dari nilai modal yang disetorkan. d. Baca juga blog saya sebelumnya yang berjudul "Beda Mindset Investasi Vs Bisnis".     

Read More (811 views)
Blog post
29 Jun'22

Salah Informasi Menjadi “Bom …

Salah mengelola arus kas dapat mengakibatkan lumpuhnya suatu bisnis, bahkan beberapa bisnis bubar karena kesalahan ini. Oleh karena itu dibutuhkan Laporan Keuangan yang akurat dan informatif untuk keperluan pengambilan keputusan maupun mendeteksi hal-hal yang tidak diinginkan. Laporan Arus Kas Pada umumnya para pelaku bisnis level UKM memantau bisnisnya dengan pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Itupun kalau mereka cukup disiplin melakukan pencatatan dan memisahkan keuangan pribadi dari keuangan bisnis mereka. Pencatatan yang berorientasi pada pemasukan dan pengeluaran yang dikenal sebagai laporan arus kas ini tentu saja memiliki beberapa kelemahan, yaitu hanya memberikan gambaran tentang arus kas saja. Sering saya jumpai bahwa pencatatan arus kas ini tidak memberikan gambaran mengenai laba kotor secara akurat, karena definisi HPP (Harga Pokok Penjualan) bagi UKM yang hanya mengandalkan Laporan Arus Kas ini adalah “transaksi pembelian”. Akibatnya persentase “HPP” menjadi seperti yo-yo, naik turun dari bulan ke bulan. Ketika ada bulan yang banyak transaksi pembelian bahan baku, “HPP” nya melonjak sangat tinggi, tapi dalam bulan-bulan sedikit transaksi pembelian, “HPP” nya menjadi sangat rendah. “Tapi kan bisa diambil nilai setahun? Coba kita hitung dengan rentang waktu satu tahun". Argumen ini yang sering muncul bila saya mengingatkan fenomena naik-turunnya HPP dari bulan ke bulan. Bila stok awal tahun bisa persis sama dengan nilai stok akhir tahun, langkah menyetahunkan transaksi pembelian memang bisa “menetralisir” naik-turunnya “HPP” bulanan. Tapi siapa yang bisa menjamin kesesuaian nilai stok awal tahun dengan stok akhir tahun, kecuali kita melakukan pencatatan stok awal tahun dan akhir tahun dengan disiplin dan akurat? Laporan Laba/Rugi Untuk memantau biaya HPP yang lebih akurat, biasanya kita menggunakan Laporan Laba Rugi. Nilai HPP dalam Laporan ini biasanya dipasangkan dengan item-item barang yang terjual. Untuk itu dibutuhkan pencatatan yang akurat terkait stok barang. Setiap selisih jumlah stok barang akan dicatatkan sebagai penjualan dengan catatan bahwa “penjualan” ini merupakan akibat selisih stok alias deviasi atau penyimpangan jumlah stok.   Sisi positif dari ditemukannya deviasi ini adalah kita mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan, yang harus dilaporkan dan dijelaskan oleh pimpinan gerai, entah itu kerusakan barang atau kehilangan barang. Laporan Neraca Dua laporan di atas tidak lengkap bila belum ada Laporan Neraca, karena di sini kita dapat menemukan adanya pengeluaran belanja modal (capital expenditure, atau capex) yang bukan pengeluaran rutin dengan bukti tercatatnya aset tersebut di dalam neraca. Dalam Laporan Neraca pula kita dapat menemukan pencatatan piutang dan utang, dua hal yang sering membingungkan kita ketika arus kas atau kondisi rekening kita tidak ssuai dengan Laporan Laba/Rugi. Kehadiran tiga jenis laporan tersebut akan membantu kita dalam mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Arus kas yang melimpah harus dicermati dengan memantau jumlah utang usaha, yaitu kewajiban pembayaran kepada pemasok. Bila tidak punya data yang akurat mengenai jumlah utang, maka bisa jadi arus kas yang melimpah ini kita gunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya kita beli. Arus kas yang menunjukkan surplus hingga Rp20 juta, tanpa dilengkapi data Laba/Rugi dan posisi utang kepada pemasok mungkin akan menggoda kita untuk membeli kendaraan pribadi dengan skema kredit. Bila kita tidak punya data yang akurat terkait HPP, maka bisa jadi kita menjalankan usaha dengan intuisi belaka, sehingga ketika mengambil keputusan untuk memberlakukan diskon promosi penjualan, maka margin keuntungan kotor (dan margin keuntungan bersih tentunya) menjadi kedodoran. Bila kita hanya mengandalkan pencatatan stok awal dan stok akhir, lalu dikaitkan dengan pembelian (barang masuk gudang), tanpa memperhatikan kaitannya dengan penjualan dalam periode yang sama, bisa jadi nilai HPP dalam persepsi Anda menjadi sangat tinggi ketika sebenarnya terjadi cukup banyak barang yang hilang atau rusak. Semua kesalahan akibat kurang akuratnya informasi tersebut bisa menjadi “bom waktu” yang menghancurkan bisnis Anda. Pastikan pengambilan keputusan bisnis Anda didukung oleh data-data yang akurat. Semoga bermanfaat!  

Read More (744 views)
Blog post
24 Jun'22

Bisnis dengan Pertumbuhan Eks…

Tren pertumbuhan bisnis sedang dan sudah bergeser dari linear menjadi eksponensial. Pertumbuhan linear, yang disebut pula pertumbuhan incremental, cukup puas dengan peningkatan 10-20% per tahun, meski sebagian mungkin mampu membukukan pertumbuhan lebih dari 20% per tahun. Sebaliknya pertumbuhan eksponensial berbicara tentang peningkatan 10x lipat. Mark Bonchek bahkan menggambarkan dalam Harvard Business Review bahwa pola pikir eksponensial adalah bagaimana menambah input 100% dan menghasilkan output 1000%. Bila bisnis dengan pertumbuhan incremental harus mengendalikan pertumbuhannya agar tidak melebihi kemampuan supply dari mesin produksinya. Sebaliknya, bisnis dengan dengan pertumbuhan eksponensial tidak perlu melakukan hal tersebut. Dalam hal ini platform digital memindahkan sumber daya dari “mesin industri” yang memiliki keterbatasan menjadi “jaringan” (network) seluas-luasnya. Hal itulah yang dipraktekkan oleh para pemain bisnis aplikasi seperti eBay, Amazon, serta nama-nama beken akhir-akhir ini seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Sebelum gelombang platform digital, beberapa upaya untuk tumbuh melewati kapasitas supply mesin produksi adalah dengan cara pemberian (menjual) lisensi, waralaba, dan upaya-upaya produksi dengan cara maklon (produksi di pabrik pihak lain). Lisensi Tingginya biaya penelitian R&D mendorong praktek pemberian lisensi. Pabrik farmasi yang menemukan suatu formula dapat segera memberikan lisensi produksi dan pemasaran kepada pihak lain dengan imbalan royalti. Biasanya lisensi ini diberikan untuk wilayah pemasaran yang tidak mengganggu potensi pasar dari pabrik pemberi lisensi tersebut. Pemberian lisensi yang lainnya, yang lebih banyak dikenal, adalah lisensi design karakter kartun yang dipasang di berbagai produk. Gambar karakter Mickey Mouse dari Disney misalnya, banyak dijumpai terpasang pada botol minum anak-anak. Perusahaan yang hendak memasang gambar karakter Mickey Mouse pada botol minuman yang diproduksinya harus membayar royalti kepada Disney. Dengan strategi lisensi seperti ini, Disney berpotensi mengecap pertumbuhan yang hampir tanpa batas, karena tidak ada unsur mesin produksi di pihak Disney. Waralaba Beberapa ikon waralaba kelas dunia seperti McD dan KFC memiliki tingkat pertumbuhan gerai yang luar biasa tinggi. Setiap tahunnya mereka dapat menambah jumlah gerai hingga puluhan ribu. Alfamart dan Indomaret saja bisa menambah gerai hingga seribu lebih dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, yaitu mereka menerapkan strategi kemitraan dengan para pemasok sehingga terlepas dari kendala mesin produksi, dan mereka menawarkan peluang waralaba kepada para investor sehingga terlepas dari kendala permodalan. Platform Digital Pertumbuhan eksponensial memang lebih sering dikaitkan dengan fenomena bisnis digital seperti Airbnb, Uber, Go-jek, dan Grab. Dalam konteks platform digital ini, bisnis yang tumbuh secara eksponensial digambarkan harus mencari sesuatu yang “berbeda”, bukan sekedar menjadi “lebih baik”. Memang tidak mudah menemukan sesuatu yang “berbeda” ini. Siapa menyangka layanan serba gratis seperti Facebook, Google, dan Youtube akhirnya meraup belanja iklan yang sangat besar untuk membiayai bisnis mereka dan menghasilkan laba usaha yang signifikan? Salah satu platform digital lokal Indonesia, Tokopedia, memiliki konsep unik. Mereka tidak memungut komisi dari pembeli dan penjual. Kebijakan ini tentu meninggalkan pertanyaan di benak kita, bagaimana perusahaan ini membiayai operasional hariannya? Masih misterius memang, seperti apa strategi jangka panjang untuk sumber pendapatan Tokopedia ini. Hingga saat ini Tokped, demikian nickname mereka, masih mengandalkan modal yang disuntikkan oleh para pemodalnya yang dikenal sebagai modal ventura. Ada beberapa sumber pemasukan yang resmi dipublikasikan, seperti gold merchant dan TopAds. Adapula yang berspekulasi bahwa sebenarnya ada bagi hasil dari jasa kurir pengiriman. Yang pasti, saat ini tampaknya Tokopedia belum membukukan laba usaha yang signifikan. Menurut Mark Bonchek, pendiri dan CEO (Chief Epiphany Officer) dari Shift Thinking, para pebisnis seringkali harus mampu merasa nyaman dengan “ketidakpastian” di tahap awal bisnisnya, dengan catatan ia harus mampu menjaga visi jangka panjangnya, walau kadang tidak ada gambaran yang jelas mengenai rencana pertumbuhannya akan menjadi seperti apa di kemudian hari. Incremental vs Exponential Thinking   Menyimak kurva yang disajikan Mark Bonchek, terlihat bahwa dibutuhkan kesabaran dan visi jangka panjang, yang kadang bisa saja merupakan “perjudian besar”. Bahkan di tengah perjalanannya bisa saja pesaing masuk dengan konsep lebih baik, sebelum pertumbuhan eksponensialnya tercapai. Friendster tanpa disangka-sangka tersisihkan oleh Facebook. Ketergusuran bisa pula terjadi di awal atau di tengah pertumbuhan eksponensial suatu bisnis. Yahoo secara perlahan namun pasti tergusur oleh Google. Sebagaimana saran prinsip positioning untuk membangun kategori produk baru, Airbnb tampaknya melenggang hampir tanpa pesaing yang signifikan karena lambatnya pemain lain masuk kategori ini, kecuali di Tiongkok. Pertengahan 2016 dikabarkan Airbnb memiliki listing sebanyak 2 juta di seluruh dunia, namun hanya 30 ribuan yang berlokasi di Tiongkok. Kompetitor utamanya, Tujia, listingnya mencapai 420 ribu lokasi. Satu lagi kompetitor di Tiongkok, Mayi,  mengklaim memiliki listing sebanyak 300 ribu lokasi. Negara tirai bambu ini memang menjadi momok bagi para kampiun bisnis asal Amerika. Dari bisnis waralaba, tersiar kabar bahwa KFC (Yum) dan McD akhirnya memutuskan untuk keluar dari kepemilikan bisnis di negeri tirai bambu tersebut, menjual sahamnya kepada mitra lokalnya. Di bisnis digital, konon eBay tergagap-gagap menghadapi Alibaba di sana. Uber pun memilih untuk merger dengan pesaingnya di sana, Didi Chuxing. Mengamati kurva dari Mark Bonchek, mungkin dapat disimpulkan bahwa bisnis digital seperti Go-jek, Grab, Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan beberapa Apps lokal Indonesia belum memasuki tahap pertumbuhan eksponensial. Mereka semua masih sedang “membangun” menuju pertumbuhan. Gugur Sebelum Berkembang Untuk bersaing di bisnis dengan pertumbuhan eksponensial sebagaimana yang diungkap dalam kurva tersebut, kita memahami bahwa persaingannya membutuhkan nafas panjang, khususnya dari sisi keuangan. Kehadiran Go-jek sempat melahirkan Blu-jek dan Lady-jek serta mungkin masih ada jek-jek yang lain. Situs belanja online juga tidak luput dari peristiwa gugurnya pemain sebelum tumbuh berkembang secara eksponensial. Rakuten Belanja Online yang diluncurkan 2011 akhirnya tutup di awal 2016 lalu. Sementara itu, menurut kompas.com, situs belanja online multiply.co.id yang bermula dari jejaring sosial mengibarkan bendera putih di tahun 2013, hanya berselang 2 tahun dari tahun peluncurannya sebagai situs jual beli online yang mengusung konsep “social shopping”. Tampaknya bisnis dengan pertumbuhan eksponensial akan membutuhkan kehadiran banyak pemodal ventura, yang konon masih langka di Indonesia. Pemodal ventura yang mendanai Apps lokal masih didominasi oleh pemodal ventura dari luar negeri, seperti SoftBank, Sequoia Capital, Vertex Ventures, Farallon, Northstar, dan beberapa nama yang mungkin terdengar asing di telinga kita. (Jakarta, April 2017)

Read More (881 views)
Blog post
13 Jun'22

Berapa Biaya Franchise Alfama…

Kalau diminta menyebutkan 3 minimarket yang ada di benak Anda, mungkin salah satunya akan keluar nama Alfamart. Alfamart telah menjelma menjadi minimarket favorit masyarakat Indonesia yang sudah memiliki banyak sekali cabang. Alfamart didirikan oleh Djoko Susanto pada tahun 1989 dan berada dibawah naungan PT Alfaria Trijaya, Tbk. Minimarket ini menjadi pesaing terberat Indomaret dan telah memiliki lebih dari 10.000 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini sesuai dengan laporan dari Katadata, yang menyatakan Alfamart telah menduduki peringkat kedua dalam hal jumlah cabang. Meski telah memiliki begitu banyak cabang, hal tersebut tak membuat Alfamart puas. Alfamart terus menambah jumlah cabangnya termasuk ke mancanegara. Cabang pertamanya di mancanegara terdapat di Manila, Filipina pada tahun 2014. Sampai saat ini Alfamart telah memiliki ratusan cabang di mancanegara. Harga Franchise Alfamart Bersumber dari Waralaba Alfamart, setidaknya ada beberapa paket waralaba yang tersedia untuk calon investor yang hendak menjadi franchisee-nya.  Source: https://waralaba.alfamart.co.id/ Dari masing-masing keempat paket franchise diatas, di dalamnya sudah termasuk: Franchise Fee sebesar Rp45 juta untuk 5 tahun Biaya instalasi listrik Peralatan gerai dan air conditioner Cash register dan sistem informasi ritel Shop sign dan polesign Perizinan gerai Promosi dan persiapan pembukaan gerai Perlu Anda ketahui, bahwa biaya di atas belum termasuk ke dalam sewa lokasi. Yang mana sewa lokasi merupakan salah satu komponen biaya terbesar di dalam pembukaan bisnis. Anda bisa melakukan riset kecil-kecilan mengenai pasaran biaya sewa di tempat Anda. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan nilai yang paling mendekati.  Selain itu, ada baiknya untuk Anda menyiapan biaya modal kerja di luar total biaya awal tadi. Perbandingan Franchise Alfamart vs Indomaret Tidak lengkap rasanya jika mengetahui biaya franchise Alfamart, namun tidak mengetahui biaya kompetitornya. Berikut adalah beberapa perbandingan Alfamart dan Indomaret dari segi biaya. Perlu diingat kembali, bahwa biaya di atas belum termasuk sewa lokasi dan modal kerja awal. Jika ditambahkan sewa lokasi dan modal kerja awal sudah pasti lebih besar lagi. Dengan estimasi dana awal sebesar itu, bagaimana proyeksi keuntungannya? Sayangnya Alfamaret & Indomaret tidak merilis hal tersebut di laman resminya. Bagaimana Cara Memiliki Franchise Alfamart? Dilansir dari laman resmi franchise Alfamart, berikut 4 langkah yang dapat Anda lakukan untuk memiliki Alfamart. Usulan lokasi Anda bisa melakukan usulan pendaftaran lokasi Alfamart melalui laman www.alfamartku.com. Proposal & persetujuan Membuat proposal yang mencakup kajian potensi usulan lokasi, gambar kerja, RAB, dan proyeksi keuangan. Perjanjian waralaba Merupakan tahap di mana kedua belah pihak saling menyetujui hak & kewajiban masing-masing. Kedua belah pihak harus melakukan tanda tangan sebelum grand opening dan berbagai persiapan lainnya dilakukan. Grand opening Setelah terjadi penyetujuan perjanjian waralaba, maka Alfamart Anda sudah bisa diproses dan grand opening bisa segera dilakukan. Bagaimana? Apakah Anda tertarik menjadi bagian dari jaringan minimarket terbesar di Indonesia? Jika Anda tertarik, Anda bisa langsung mendaftarkan diri di sini dan menyiapkan ajuan lokasi Anda. Semoga berhasil!

Read More (938 views)
Blog post
23 Mei'22

4 Hidden Cost yang Calon Fran…

Aspek keuangan merupakan aspek yang sangat krusial dalam bisnis. Terbukti, permasalahan yang sering timbul dalam memulai dan mengembangkan bisnis seringkali adalah persoalan keuangan. Berkaitan dengan aspek keuangan, bagi Anda yang hendak membuka gerai waralaba atau kemitraan namun dengan budget yang minim, ada baiknya Anda membaca artikel ini sampai tuntas. Karena pada artikel ini akan membahas biaya-biaya “tersembunyi” apa saja yang akan muncul jika Anda menjadi franchisee. Tentu ketika ingin membuka gerai waralaba atau kemitraan ada biaya awal waralaba yang wajib kita bayarkan kepada franchisor. Namun tahukah Anda, selain biaya awal waralaba tersebut, masih ada lagi biaya-biaya yang harus anda siapkan. Antara lain: 1. Biaya Survei Lokasi Meski terdengar sepele dan tidak seberapa, biaya survei lokasi berpotensi menjadi batu sandungan menuju gerai pertama Anda. Karena di dalam komponen biaya ini Anda mungkin tidak cukup sekali-dua kali mengamati lokasi Anda. Selain itu menurut Guidant Financial, di sana juga ada biaya perjalanan untuk mendatangi kantor pusat/perwakilan merek yang hendak Anda beli. Biaya ini akan cukup memberatkan apabila kantor tersebut memang jauh dari lokasi Anda dan tidak menerima kesepakatan secara online. Jadi, bagi Anda yang memang memiliki budget relatif terbatas, biaya-biaya tersebut tentu harus Anda masukkan ke dalam list komponen biaya. 2. Biaya Distribusi Biaya ini berkaitan dengan pengiriman dan penyimpanan barang. Biasanya yang paling merasakan dampak dari biaya ini adalah franchisee yang bergerak di bidang makanan dan minuman (f&b), karena bisnis f&b bergantung dengan masa pakai bahan baku. Biaya pengiriman akan semakin “terasa” apabila jarak lokasi supply bahan bakunya berjauhan dengan lokasi gerai Anda, karena di sana ada biaya pengiriman yang tidak sedikit dan akan terus terjadi selama Anda menjadi franchisee. Selain biaya pengiriman, akan ada juga biaya maintenance bahan bakunya, seperti biaya listrik yang digunakan, dan pembelian peralatan pendukung (seperti kulkas, dll). Apabila biaya-biaya tersebut berkaitan langsung dengan jumlah produksi Anda, maka Anda perlu memasukkannya ke dalam komponen HPP (Misal: bahan baku Tahu untuk bisnis Tahu Crispy). 3. Biaya Rekrutmen dan Pelatihan Kita semua tahu bahwa keunggulan dari bisnis franchise adalah bisnisnya dapat diduplikat. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menduplikasi bisnis franchisor adalah menurunkan keterampilannya kepada franchisee lewat rekrutmen dan training yang disediakan. Pada segmen ini, Anda perlu perhatikan pada saat kesepakatan awal, apakah biaya rekrutmen dan training sudah include ke dalam biaya awal waralaba? Jika memang belum, maka Anda perlu memasukkan komponen ini ke dalam komponen biaya Anda. Lebih dari itu, apakah bentuk pelatihannya berkelanjutan? Jika memang iya, Anda perlu memasukkannya lagi ke dalam komponen biaya Anda. 4. Biaya Kunjungan Audit Ini merupakan biaya yang opsional, bergantung pada bagaimana kebijakan franchisor Anda nantinya. Jika dibebankan kepada franchisee, berarti Anda wajib mempersiapkannya. Oleh karena itu, mengamati tiap butir perjanjian waralaba menjadi hal yang sangat penting supaya Anda bisa melakukan kalkulasi yang akurat. Namun bila gerai yang ingin Anda beli masih di tahap usaha kemitraan gerobakan atau kontainer yang berada disamping minimarket, Anda mungkin belum membutuhkannnya. Tetapi jika gerai yang ingin Anda buka sudah di tahap lanjut yang notabene lebih besar dan keuangannya sudah tidak bisa dikelola secara tradisional, Anda perlu menyiapkan budgeting untuk biaya tim accountant & audit.

Read More (695 views)
Blog post
14 Apr'22

Wajib Tahu: 6 Pilihan Strateg…

Penawaran Waralaba pada umumnya menggunakan skema Single Unit Franchise, yang berarti hanya untuk SATU lokasi saja. Sebenarnya ada 6 pilihan strategi penawaran waralaba (franchise) sebagaimana akan dijelaskan dalam blog ini. Single Unit Franchise Melalui penawaran Single Unit Franchise (SUF), franchisor hanya memberi hak kepada franchisee untuk memiliki satu outlet saja. Bila hendak membuka outlet kedua, maka franchisee akan menandatangani perjanjian waralaba SUF yang baru lagi. Multi-Unit Franchise Melalui penawaran Multi Unit Franchise (MUF), franchisor memberi hak kepada franchisee untuk memiliki sejumlah outlet dalam jumlah yang sudah ditentukan, dengan batas waktu tertentu untuk memenuhi jumlah outlet itu. Dengan skema ini, selain menggunakan persyaratan biaya awal yang disetor penuh di muka, bisa saja biaya awal waralaba dikemas (dipecah) dalam dua istilah, yaitu (1) biaya awal waralaba saat penandatanganan multi-unit franchise agreement, dan (2) biaya awal untuk setiap pembukaan outlet. Bila MUF dibatasi dalam wilayah tertentu (kota, propinsi, atau negara), maka kita bisa menyebutnya sebagai Area Developer dengan menggunakan perjanjian yang disebut Area Development Agreement. Area Development Sebagaimana dijelaskan tadi, Area Development adalah MUF dalam suatu wilayah tertentu, bisa satu kota, atau satu provinsi, atau satu negara. Untuk mengejar target jumlah unitnya dalam rentang waktu tertentu (biasa disebut Target Development), Area Developer tidak memiliki hak untuk subfranchising, namun bisa mengembangkan kerja sama dengan pihak lain dalam bentuk “sewa imbal hasil”. Ini yang dilakukan oleh KFC dan McD. Sewa imbal hasil ini bisa juga dalam bentuk sewa tanah dengan BOT (Build Operate Transfer) bangunannya. Tentu saat transfer nanti harus dihapuskan atau disamarkan ciri-ciri brand franchisor. Master Franchising Master Franchising itu semacam Area Developer tapi dengan hak subfranchising, artinya dapat menunjuk pihak lain sebagai pemilik unit bisnis. Master Franchisee biasanya memiliki peran yang sangat mirip dengan franchisor. Perbedaannya mungkin sebatas kepemilikan HKI dan “inti resep rahasia” (bumbu inti yang dirahasiakan pada waralaba bisnis kuliner) kalau ada. Master Franchisee wajib memiliki kemampuan dalam menyeleksi calon franchisee (subfranchisee), menyeleksi lokasi, menyelenggarakan pelatihan, audit, dan memastikan kelancaran system support di wilayahnya. Keputusan menggunakan strategi Master Franchising harus dilakukan dengan super hati-hati, karena margin keuntungan yang semula hanya berbagi antara franchisor dan franchisee kini harus dibagi kepada 3 pihak: Franchisor, Master Franchisee, dan Subfranchisee. Regional Franchising, Area Franchising Terkait dengan Master Franchising, muncul pula istilah Regional Franchising dan Area Franchising. Dua istilah ini biasanya dimaksudkan untuk area yang lebih kecil dari satu negara, dan pada umumnya diterapkan di negara-negara yang sangat luas seperti Amerika Serikat dan China. Bila istilah ini diterapkan dalam level Master Franchise, artinya tidak ada Master Franchise di antara Area Franchisee dan Franchisor, maka perlakuannya sama saja dengan Master Franchisee. Bila akan ada lagi Master Franchise di tengah-tengah mereka, maka tingkat laba bisnis menjadi sangat critical, karena akan dibagikan kepada 4 pihak, yaitu: franchisor, Master Franchisee, Regional/Area Franchisee, dan subfranchisee. Beberapa brand franchise tumbang karena menerapkan skema berbagi dengan 4 pihak ini. Multi-Country Master Franchising Salah satu bentuk Master Franchising yang kadang kita temui adalah pemberian hak Master Franchise untuk beberapa negara. Yang cukup umum adalah wilayah waralaba Singapura, Malaysia dan Indonesia sebagai satu kesatuan. Ada juga yang mendapatkan hak untuk negara Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Dalam memutuskan multi-country master franchising, tentu saja franchisor akan menilai kompetensi serta jaringan dan relasi bisnis dari kandidat multi-country master franchisee-nya. Catatan: Multi-Country Master Franchise ini kadang disebut Regional Master Franchise, artinya ketika kita mendengar istilah Regional Master Franchise maka kita perlu melakukan konfirmasi ulang, regional ini multi-country atau area franchise (negara bagian, atau provinsi di bawah suatu negara yang sangat luas).

Read More (1434 views)
Blog post
07 Apr'22

5 Manfaat Quality Control

Dalam bahasa Indonesia Quality Control (QC) dikenal dengan sebutan kendali mutu. QC merupakan gabungan antara dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu quality dan control. Dikutip dari Investopedia, Quality Control adalah suatu cara yang dilakukan supaya kualitas produk dapat dipertahankan atau ditingkatkan. QC sering digunakan dalam dunia bisnis. Umumnya, perusahaan atau usaha yang sudah “mapan” cenderung menerapkan QC dengan standar yang lebih tinggi dan ketat terhadap produknya. Dalam dunia otomotif, QC perlu dilakukan untuk menjaga kualitas spare part yang dihasilkan agar berfungsi sesuai dengan kualitas yang ditentukan dan presisi. Dalam bisnis resto, penerapan QC untuk memastikan rasa makanan tetap sama atau tidak menurun. Sementara untuk franchise, QC sering disandingkan dengan SOP yang ditetapkan franchisor supaya pelayanan dan kualitas produk dari masing-masing gerai yang satu dengan yang lainnya sama. Manfaat Menerapkan QC QC menjadi sedemikian penting untuk menjaga kualitas produk. Pertanyaan selanjutnya adalah manfaat apa saja yang didapatkan apabila menerapkan QC dengan baik? Dilansir dari Hkqcc, beberapa manfaat menerapkan QC antara lain: Kepuasan Konsumen Seperti pepatah mengatakan, “pembeli adalah raja.” Apabila usaha Anda menerapkan QC dengan baik, maka konsumen akan diuntungkan dan hal tersebut dapat membuat mereka lebih loyal. Meningkatkan Nama Baik Konsumen yang selalu puas dengan produk atau pelayanan akan memiliki penilaian yang positif terhadap usaha Anda. Lambat laun, nama baik Anda akan meningkat dan itu adalah hal yang sangat berharga. Dalam ilmu akuntansi, nama baik masuk menjadi intangible asset usaha. Menurunkan Biaya Produksi Penerapan QC juga dapat menurunkan biaya produksi, karena Anda yang mendefinisikan sendiri kualitas seperti apa yang hendak dijadikan kualitas produk. Karena proses produksi yang sudah terstandarisasi akan menghasilkan biaya yang lebih efisien dan minim pemborosan. Pemanfaatan Sumber Daya Karena telah melakukan pengujian dan standarisasi mutu. Maka, dengan menerapkan QC dapat memastikan bahwa alokasi sumber daya yang digunakan telah maksimal. Mempertemukan dengan Konsumen yang Tepat QC dapat membuat konsumen yang memiliki “standar” tertentu bertemu dengan produk Anda. Konsumen yang seperti ini biasanya akan berpotensi menjadi konsumen yang loyal.

Read More (790 views)
Blog post
07 Mar'22

4 Sumber Passive Income di Pa…

Pernah membayangkan Anda tidak melakukan apapun namun mendapat pemasukan? Pemasukan itulah yang dinamakan passive income! Setidaknya, terdapat dua jenis income dilihat dari bagaimana memperolehnya, yaitu active income dan passive income. Active income mengacu pada pendapatan yang diterima karena Anda terlibat aktif di suatu aktivitas sehingga mendapat balas jasa. Gaji, keuntungan usaha, komisi penjualan, dan tip adalah contoh paling mudah untuk menggambarkan active income. Sementara itu, passive income adalah pendapatan yang bisa Anda dapatkan tanpa harus terlibat aktif seperti active income. Passive income biasanya berasal dari investasi yang menghasilkan return. Passive income ini erat kaitannya dengan financial freedom, karena memiliki passive income adalah tahapan yang harus dilewati sebelum mencapai financial freedom. Pada artikel kali ini akan fokus membahas instrumen yang bisa memberikan passive income dari pasar keuangan. Apa saja itu? Simak selengkapnya! Deposito Deposito memungkinkan kita untuk menyimpan uang di bank dan menahannya sampai jangka waktu yang telah ditentukan. Dari hasil kita menahan uang tersebutlah bank dapat “memutarkannya” dengan memberi pinjaman kepada pihak lain yang membutuhkan. Kita sebagai seseorang yang menahan uang di bank tersebut akan mendapat balas jasa berupa bunga deposito yang besarannya berbeda-beda di tiap bank. Berinvestasi di deposito tergolong aman, karena kemungkinan gagal bayarnya kecil sekali. Mungkin hanya jika bank tempat kita menaruh deposito bangkrut, barulah deposito kita benar-benar akan hilang. Sebenarnya tidak benar-benar hilang, karena ada peranan LPS. Risiko tersebut juga dapat diminimalisir dengan menaruh uang untuk deposito hanya di bank-bank “raksasa” yang kemungkinan bangkrutnya kecil. Pada saat artikel ini ditulis, besaran suku bunga deposito bank di Indonesia berada di rentang 1 – 8%  per tahun. Reksadana Reksadana merupakan “wadah” yang dibuat oleh manajer investasi untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen keuangan, seperti deposito, saham, dll. Manajer investasi yang mengelola dana masyarakat tadi adalah badan hukum dan wajib mendaftarkan dirinya ke OJK agar dapat diawasi.  Profil risiko di reksadana juga beragam, mulai dari yang kecil hingga besar dan bergantung pada jenis reksadana apa yang dipilih. Jadi, risiko tersebut dapat dipilih sesuai jenisnya: Reksadana Pasar Uang (RDPU), Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), Reksadana Saham, dan Reksadana Campuran. Return yang bisa didapatkan dari reksadana ini beragam namun lebih tinggi sedikit dibanding deposito. Obligasi Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan penerbit obligasi, baik pemerintah ataupun swasta kepada pemegang obligasi. Obligasi dianggap salah satu instrumen investasi yang cocok untuk jangka menengah (1 – 5 tahun), karena memang jangka waktu obligasi tidak ada yang pendek (<1 tahun), meski ada pula jenis obligasi yang dapat diperdagangkan (tradable). Perlu diketahui, ada return fixed rate dan floating with floor di dalam obligasi. Fixed rate berarti kupon bulanan yang dijanjikan tetap, seperti ORI021. Sementara floating with floor berarti kupon yang dibagikan berubah-ubah namun tetap memiliki batas bawah. Contoh obligasi yang kuponnya floating with floor ini adalah SBR010. Berinvestasi di obligasi terbilang low risk (risiko rendah), terlebih jika obligasi yang dibeli adalah obligasi pemerintah. Keuntungan yang didapat dari obligasi bernama kupon, yang dapat diterima tiap bulan oleh pemegang obligasi. Kisaran return obligasi, yaitu setara atau di atas deposito, bergantung jenis obligasi yang dipilih. Saham Diantara semua instrumen investasi yang disebutkan di artikel ini, saham adalah salah satu yang paling high risk high return. Saham merupakan surat yang menjadi bukti kepemilikan suatu perusahaan. Di Indonesia, saham diperjual-belikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh para investor. Perusahaan yang dapat memperjual-belikan sahamnya di BEI adalah perusahaan terbuka (go-public). Sebagai informasi, perusahaan terbuka ditandai dengan tulisan “Tbk.” dibelakang namanya. Keuntungan saham dapat dibagi menjadi dua, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain didapat dari selisih harga beli dengan harga jual. Sementara itu, dividen adalah keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada investor yang umumnya dibagikan setahun 0 – 2 kali dengan besaran 0 – 10%. Terima kasih telah menyimak sampai akhir! Terdapat satu kutipan yang sangat cocok untuk menggambarkan betapa pentingnya memiliki passive income. “If you don’t find a way to make money while you sleep, you will work until die.” – Warren Buffet, Oracle of Omaha

Read More (801 views)
Blog post
28 Feb'22

Multi-Strategy Distribusi dan…

Waralaba sejatinya merupakan salah satu cara mengembangkan usaha. Menurut UU Perdagangan, waralaba merupakan salah satu cara distribusi produk (barang atau jasa) secara tidak langsung. Karena waralaba adalah “salah satu cara”, biasanya pelaku usaha juga melakukan cara lain yang saya sebut sebagai “multi-strategy”. Tentu saja tulisan ini akan membahas multi-strategy terkait waralaba saja. Waralaba dan Distribusi Tidak Langsung Non-waralaba Distribusi tidak langsung non-waralaba adalah yang melibatkan distributor dan pengecer maupun pihak lain seperti sub-distributor dan agen. Pelaku usaha yang sudah memiliki distributor dan pengecer bisa saja menambahkan waralaba sebagai strategi distribusi produknya. Tentu saja keputusan untuk menggunakan strategi waralaba memiliki beberapa konsekuensi yang harus diantisipasi. Jaringan waralaba biasanya memiliki keseragaman formula penentuan harga di suatu lokasi. Sementara toko-toko pengecer dari jaringan distribusi non-waralaba biasanya memiliki kebiasaan tawar-menawar harga, sehingga mereka seringkali dapat menjual di bawah harga yang digunakan jaringan waralaba. Franchisor harus kreatif mendefinisikan “nilai tambah” yang biasanya “intangible”, misalnya dengan menambah jangka waktu masa garansi. Nilai tambah lain berupa voucher untuk pembelian produk lain bisa saja dilakukan, tapi praktek ini berpotensi dianggap mengganggu oleh toko-toko pengecer karena bersifat nominal sehingga dipersepsi sebagai diskon yang head-to-head dengan harga jual mereka. Waralaba dan e-commerce Selain konteks distribusi tidak langsung, franchisor sangat mungkin menekuni distribusi yang menggunakan strategi e-commerce. Terkait strategi ini, idealnya order yang diperoleh melalui internet diberikan kepada franchisee yang lokasinya paling dekat dengan alamat pembeli. Dalam praktek, kebijakan ideal ini memang tidak mudah dilaksanakan. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan stok di gerai terdekat. Oleh karena itu kadang franchisor membangun divisi khusus untuk menangani order melalui internet yang biasa dikenal sebagai e-commerce. Divisi ini memiliki stok yang terpisah dan dikhususkan untuk melayani e-commerce. Waralaba dan Lisensi Khusus di Indonesia, penggabungan strategi Waralaba dan Lisensi bisa terjadi ketika franchisor melakukan kerjasama joint venture (JV). Hal ini karena Pasal 7 Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 53 tahun 2012 menyebutkan bahwa “Franchisor tidak dapat menunjuk franchisee yang memiliki hubungan pengendalian dengan franchisor, baik secara langsung maupun tidak langsung.” Isi pasal peraturan di atas mengakibatkan hubungan antara franchisor dengan “kemitraan JV antara pemilik merek dengan pihak lain” tidak diakui sebagai hubungan waralaba, meskipun hubungan yang dikehendaki dan disepakati para pihak adalah hubungan waralaba. Akibatnya, hubungan seperti ini terpaksa menggunakan landasan hubungan Pemberian Lisensi. Patut dipahami bahwa dalam kejadian tersebut, meski memiliki suatu kerjasama yang menggunakan Perjanjian Lisensi, mungkin saja pada saat yang sama pemilik merek memiliki kerjasama yang menggunakan Perjanjian Waralaba dengan pihak-pihak lainnya. Tentu saja ia harus mendaftarkan prospektus penawaran waralaba dan memperoleh bukti pendaftaran STPW, bila menggunakan Perjanjian Waralaba dengan pihak lain.   Waralaba dan MLM Waralaba yang menerapkan konsep gabungan dengan multi-level-marketing dalam arti mencari downline, atau mencari investor lagi, bukan hal yang wajar dalam praktek waralaba. Bahkan di laman FBI diungkapkan sebagai berikut: “Pyramid schemes—also referred to as “franchise fraud” or “chain referral schemes”—are marketing and investment frauds in which an individual is offered a distributorship or franchise to market a particular product. The real profit is earned, not by the sale of the product, but by the sale of new distributorships. Emphasis on selling franchises rather than the product eventually leads to a point where the supply of potential investors is exhausted and the pyramid collapses.” Skema piramida yang dikenal pula sebagai franchise fraud (kecurangan dalam waralaba) atau skema referal berantai adalah kecurangan dalam pemasaran dan investasi dalam hal seseorang ditawari hak menjadi distributor atau waralaba untuk memasarkan suatu produk tertentu. (Kecurangan ini terjadi) ketika laba-yang-sebenarnya diperoleh bukan dari jual produk, tapi dari (komisi) ketika berhasil menjual distributorship. Penekanan pada menjual waralaba dan bukan menjual produk akan mengakibatkan suatu ketika sulit menemukan investor baru dan akhirnya (bangunan) piramida rekrutmen ini ambruk. Dalam waralaba kita melihat bahwa ada franchisor yang terus-menerus bergantung pada rekrutmen franchisee baru (menjual waralaba terus) dan tidak memperhatikan kelayakan bisnis para franchiseenya. Ketika franchisor seperti ini mengalami kesulitan menjual waralabanya, maka franchisor biasanya menghilang dan para franchiseenya tentu menjadi pihak yang dirugikan. 

Read More (1014 views)
Blog post
24 Feb'22

Cara Mudah Memeriksa Proyeksi…

Seringkali kita melihat penawaran waralaba dan kemitraan dengan proyeksi keuangan yang “mencengangkan”. Misalnya bisnis kuliner yang menjanjikan balik modal hanya dalam waktu 3 bulan saja. Tentu kita yang masih awam dengan bisnisnya bertanya-tanya, apakah proyeksi tersebut nyata? Lalu, bagaimana memastikan proyeksi keuangan tersebut benar atau salah? Dengan kata lain, kita ingin membuktikan realistis atau tidaknya proyeksi keuangan tersebut. Salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah dengan mendiskusikan langsung ke ahlinya, yaitu konsultan bisnis dan waralaba. Namun tidak semua orang memiliki “akses” kesana karena beberapa alasan, bisa jadi karena dana, koneksi, dsb. Oleh karena itu, Klikfranchise merangkum beberapa hal berikut yang bisa Anda gunakan setidaknya sebagai “filter awal” dalam menyeleksi bisnis yang Anda minati. # Periksa “Definisi” Balik Modalnya Biasanya kekeliruan ini terjadi pada “franchisor” yang menghitung balik modal menggunakan akumulasi nilai pendapatan, bukan dari akumulasi laba usaha. Dalam pengelolaan bisnis, menghitung balik modal bukanlah dari pendapatan karena masih “bruto” (belum menghitung pengeluaran operasional, dll). Perhitungan balik modal yang tepat adalah menggunakan akumulasi laba usaha. Sehingga operasional bisnis tidak akan terganggu jika uang modal awalnya diambil. Umumnya franchisor yang keliru ini adalah pelaku bisnis kemitraan dan paket usaha, bukan franchisor sungguhan. # Gunakan Logika Sederhana Cari tahu lebih jauh bisnsinya, kapan pertama kali bisnis tersebut berdiri. Jika proyeksi keuangan mereka menjanjikan balik modal dalam waktu 3 bulan, logika sederhana akan bilang: “Bisnis tersebut sudah berdiri sekian tahun. Jika 3 bulan sudah bisa balik modal, pasti mereka bisa buka cabang sendiri dan boleh jadi cabangnya sudah banyak.” Bila nyatanya bisnis tersebut sudah lama dan jumlah cabangnya belum banyak (jika dibandingkan balik modal yang hanya 3 bulan). Maka, Anda sudah tahu harus percaya atau meragukannya. # Apakah Penjualannya Masuk Akal? Lebih lanjut, Anda bisa melihat berapa jumlah penjualan yang ditargetkan. Berdasarkan pengalaman penulis, ada kemitraan yang mematok jumlah penjualan masih “tidak masuk akal”. Sebut saja bisnisnya adalah minuman Thai Tea kekinian. Ia membuat proyeksi penjualan 5000 cup dalam waktu satu bulan, yang berarti sekitar 166-167 cup dalam satu hari. Walaupun terdengar masih masuk akal, tetapi penulis memilih untuk meragukannya. Penulis tidak yakin penjualan sebanyak itu akan bisa achieve. Boleh jadi memang achieve, tetapi mungkin tidak di semua gerai. Potensi achieve-nya kecil, hanya di gerai-gerai unggulan saja. # Bagaimana Jika Informasi Balik Modal Tidak Diinformasikan? Kebalikannya, jika informasi berapa lama balik modalnya justru tidak diinformasikan. Anda dapat menggunakan Kalkulator Franchise. Fitur inovatif ini dibuat oleh Klikfranchise untuk mempermudah Anda dan calon franchisee lainnya untuk mengetahui kapan waktu balik modal suatu penawaran bisnis. Keempat cara diatas akan berguna untuk filter awal Anda bila mendapat informasi mengenai waralaba dan kemitraan tertentu. Ada satu ungkapan yang cocok dalam bahasan kali ini:  “If it too good to be true, it is too good to be true” Meski ungkapan tersebut tidak selamanya benar. Tetapi, jika memang sesuatu itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, maka waktunya anda menjadi konservatif!

Read More (902 views)
Blog post
10 Feb'22

Benchmarking: Proses Mempelaj…

Benchmarking adalah proses membandingkan perusahaan Anda dengan referensi yang telah ditentukan. Benchmarking dapat diterapkan ke berbagai aspek, mulai dari produk, proses, fungsi, dan pendekatan apapun dalam bisnis. Dalam benchmarking, biasanya yang menjadi fokus pengukuran adalah: waktu/kecepatan kualitas, rasio defect product atau penyimpangan biaya, rasio-rasio keuangan efektivitas, pencapaian tujuan dan kesenjangannya kepuasan pelanggan dari berbagai sudut yang dianggap penting Benchmarking penting dilakukan supaya perusahaan menemukan “gap” atau kesenjangan yang terjadi. Kesenjangan inilah yang nantinya akan diperbaiki dengan insights yang didapat dari kompetitor, supaya perusahaan dapat menjadi lebih baik dan mencapai kinerja optimalnya. Berikut beberapa jenis benchmarking yang perlu Anda ketahui: Process Benchmarking Process Benchmarking adalah benchmarking yang membicarakan bagaimana proses di dalam bisnis Anda dibandingkan dengan kompetitor. Process benchmarking digunakan untuk menangani masalah di internal perusahaan. Misalnya Anda adalah seorang pengusaha resto, maka process benchmarking-nya akan seperti, membandingkan prosedur menyiapkan menu dengan resto kompetitor, urutan proses pelayanan, alur penanganan komplain pelanggan, sistem pengawasan kasir, dan berbagai aspek SOP lainnya. Strategy Benchmarking Pada dasarnya, dalam benchmarking strategy ini perusahaan membandingkan bisnis model dan sasaran yang diincar dengan bisnis model dan sasaran kompetitor. Dengan demikian, benchmarking ini berfokus pada apa yang sedang dan akan dilakukan. Contoh: membandingkan strategi marketing yang dilakukan, pendekatan seperti apa yang dilakukan: Menganalisis konten media sosial, bila menggunakan media sosial Membandingkan penetapan harga jual di beberapa wilayah Membandingkan persepsi target pasar Performance Benchmarking Terakhir, kita mengenal performance benchmarking, yaitu benchmarking yang dapat membantu mengetahui hasil kinerja usaha dengan lebih terukur dan objektif. Karena, Anda dapat mengetahui posisi perusahaan dibanding perusahaan lain dan posisi perusahaan di dalam industri. Benchmarking kinerja dapat diterapkan dengan membandingkan: Pencapaian total penjualan, Pencapaian laba bersih Rasio biaya SDM Rasio biaya marketing Rasio jumlah kehilangan (shrinkage) Benchmarking Internal Benchmarking tidak harus membandingkan terhadap kompetitor. Anda membandingkan kinerja tahun lalu, atau bulan lalu, dengan kondisi sekarang, untuk menetapkan target perbaikan di tahun berikutnya atau bulan berikutnya. Anda bisa juga membandingkan outlet yang satu dengan outlet lainnya, yang menggunakan merek dan model yang sama, untuk menunjukkan target perbaikan realistis kepada outlet yang kurang baik kinerjanya. Pada intinya, benchmarking adalah proses yang sebaiknya dilakukan berkelanjutan supaya usaha Anda terus mengalami peningkatan. Apabila diwakili dalam satu kalimat, mungkin benchmarking seakan berkata “apa yang bisa saya pelajari dari hasil benchmarking ini?”. Catatan: Contoh-contoh di atas belum komprehensif. Anda dapat menggalinya melalui diskusi dan brainstorming dengan tim anda.

Read More (725 views)
Blog post
04 Feb'22

Gerai Acuan, Apa Saja yang Pe…

Gerai acuan atau model outlet adalah showcase franchisor mengenai seperti apa bentuk gerai, sekaligus standar operasional yang akan dijalankan. Dalam hal ini gerai acuan bukan sekedar gambar yang indah dipandang, melainkan harus sudah ada dan terbukti mendukung asumsi dan target-target keuangan yang disajikan dalam proposal penawaran waralaba dari franchisor. Gerai acuan tidak selalu sama dengan gerai pertama. Pilot Outlet = Gerai Pertama Bebek Pak Ndut adalah contoh yang sangat baik untuk menjelaskan keistimewaan gerai pertama ini. Pak Agus Ahmadi mengungkapkan bahwa ia ingin mengimplementasikan layanan profesional, seperti greetings dan SOP (pedoman operasional) lainnya. Tapi kalau diterapkan di gerai pertamanya, maka pelanggan lama yang sudah loyal bisa mengernyitkan alis dan merasa canggung disapa dengan formal. Demikian kegundahan pendiri restoran yang sudah berekspansi hingga ke negara Singapura itu. Waktu itu saya menyarankan untuk membuka gerai baru di kota Solo untuk dijadikan Model Outlet, atau Gerai Acuan. Dengan demikian, nuansa non-formal (bukan berarti tidak profesional) dapat ditemukan di gerai pertamanya. Model Outlet = Gerai Acuan Kata waralaba membangun suatu persepsi keseragaman gerai, dan gerai acuan adalah model outlet untuk keseragaman tersebut. Meski demikian, keseragaman ini bukan sesuatu yang kaku. Kasus per kasus, bila dianggap perlu, bisa saja dipertimbangkan untuk mengecualikan satu dua outlet. Gerai Acuan & Fleksibilitas McDonald’s misalnya, adalah bisnis waralaba yang sangat kental dengan citra sebagai identitas yang “seragam”. Tak banyak yang tahu bahwa ada gerai McDonald's di Amerika Serikat bernuansa bunga, dan gerai ini mendapat penghargaan dari Walikota setempat. Menyiapkan Gerai Acuan Gerai acuan tidak harus dibangun dari nol. Pewaralaba bisa merombak salah satu gerai yang sudah ia miliki untuk dijadikan sebagai gerai acuan. Bagaimana dengan gerai lainnya? Biasanya renovasi terhadap gerai-gerai yang sudah ada dilakukan secara bertahap. Hal ini dikarenakan (calon) pewaralaba harus menjaga arus kas keuangannya. Laundry Zone misalnya, ketika diwaralabakan, sekitar sembilan gerai mula-mula Laundry Zone di Yogyakarta terlihat belum seragam, meski nuansa hijaunya sudah “ditularkan” sebagai warna identitas di semua gerai bisnis laundry kiloan ini. Gerai acuan Laundry Zone adalah gerai yang dibuka menjelang pewaralabaannya. Standarisasi di gerai-gerai yang sudah ada direncanakan menyusul bertahap, mengingat pewaralaba Laundry Zone bukan pebisnis bermodal besar (meski jumlah gerainya sudah lebih dari 10 unit, Laundry Zone adalah bisnis keroyokan beberapa pengusaha kelas UKM). Gerai Acuan & Standar Operasional Sebagian besar pebisnis yang telah memiliki gerai lebih dari satu, biasanya memiliki administrasi pembukuan yang terpusat. Hal ini dapat menyebabkan dalam proses penyusunan Buku Pedoman Operasional kadang terlihat ada jurang (gap) antara sistem yang sedang berjalan dengan yang akan berlaku pada level gerai untuk terwaralaba. Sangat disarankan kepada para pebisnis yang hendak mewaralabakan bisnisnya untuk mengubah salah satu gerainya menjadi gerai yang menggunakan Standar Operasional gerai terwaralaba, terutama apabila sistem administrasi dan pembukuannya yang akan diberlakukan dalam jaringan waralabanya berbeda dengan sistem yang sedang berjalan di gerai-gerai miliknya yang sudah beroperasi, misal dikerjakan sendiri di level outlet alias bukan terpusat. Hal ini sangat penting agar pewaralaba memiliki pengalaman operasional yang sesuai dengan Buku Pedoman Operasional yang ia berlakukan kepada para terwaralaba nantinya. Gerai Acuan & System Improvement Gerai acuan dapat dijadikan laboratorium untuk pengembangan lebih lanjut dari sistem bisnis dan sistem waralaba. Sebelum memutuskan implementasi untuk suatu ide, sebaiknya gagasan tersebut diujicobakan di gerai acuan. Bila ada kekuatiran atas dampak dari ujicoba ini terhadap gerai acuan, bisa juga ujicoba dilakukan di gerai yang memang secara khusus dijadikan sebagai “gerai percobaan”. Tujuan gerai percobaan ini adalah untuk mendapatkan feedback atau tanggapan sebelum hal baru diluncurkan ke seluruh jaringan outletnya. Beberapa aspek lain terkait gerai acuan misalnya mengenai kemampuan mencapai tingkat profitabilitas yang baik dari gerai acuan tersebut. Pengalaman operasional di luar kota asal pewaralaba juga penting, sehingga sangat disarankan pula membangun cabang di luar kota untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu gerai acuan.

Read More (782 views)
Blog post
02 Feb'22

Lebih Kenal dengan 4P

Strategi 4P Marketing Mix adalah suatu strategi pemasaran yang sistematis, terpadu, dan memperhatikan aspek 4P. Neil Borden pada tahun 1950-an telah mempopulerkan strategi ini dengan lebih dari 10 unsur P. Namun, yang tetap menjadi inti dari semua aspek tersebut adalah 4P. Hermawan Kertajaya mengungkapkan bahwa 4P sebaiknya diterapkan setelah Segmentation-Targeting-Positioning (STP) ditetapkan. Hal ini penting karena STP menjadi dasar dalam mengambil keputusan unsur-unsur 4P ini. 1. Product (Produk) Produk adalah hal konkrit dari apa yang Anda jual. Dalam hal ini, produk memiliki banyak aspek, seperti merek (branding), design, kualitas, dan pilihan variasi jenisnya. Penampilan suatu produk harus sesuai dengan target pasarnya. Design yang mewah tentu tidak cocok bila ditujukan kepada pasar menengah ke bawah. Demikian juga sebaliknya, bila pasar sasarannya adalah menengah ke atas, design-nya harus lebih berkelas dan tidak berkesan murahan. 2. Price (Harga) Harga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli produk Anda. Menurut CXL, sekitar 94% pembeli online bersedia meluangkan waktu untuk mendapat produk dengan harga terendah. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu Anda dalam menentukan harga jual: Apakah harga yang ditawarkan akan dipersepsi “value for money” untuk konsumen? Bagaimana harga produk Anda bila dibandingkan kompetitor? Apakah harga produk Anda perlu dibuat berbeda berdasarkan kewilayahan, karena faktor ongkos kirim? Apakah harga yang terlalu murah justru akan membuat target pasar kelas atas menghindari produk Anda? 3. Place (Tempat) Tempat digunakan untuk menjual ataupun mendistribusikan produk. Sama dengan aspek harga dan design, tempat untuk menjual produk Anda harus sesuai dengan STP Anda. Tak sedikit produk kuliner kelas menengah atas yang gagal meraih target penjualan ketika masuk ke mall yang mayoritas pengunjungnya adalah menengah ke bawah. Patut dicermati pula bahwa dengan perkembangan internet yang kian pesat, tempat tidak hanya merujuk pada bangunan fisik. Media sosial dan platform marketplace merupakan “place” zaman now. Pilihan “digital place” ini juga harus disesuaikan dengan karakter produk Anda. Ada produk yang cocok untuk dijual langsung di Instagram, tapi ada juga yang lebih cocok di marketplace seperti shopee dan tokopedia. 4. Promotion (Promosi) Promosi bertujuan supaya produk lebih dikenal oleh masyarakat dan membuat target pasar tertarik. Kegiatan promosi dilakukan dengan mengacu pada penerapan STP. Analisa STP yang sesuai akan menghasilkan kesimpulan yang akurat, sehingga pelaku usaha dapat melakukan promosi dengan tepat. Anda mungkin pernah mendengar cerita mobil-mobil Super Car seperti Lamborghini yang tidak mengiklankan produknya di TV, itu karena mereka tahu persis bahwa target pasarnya tidak menonton TV! Seperti itulah promosi, disesuaikan dengan siapa target pasar dan bagaimana perilakunya. Promosi ibarat jembatan yang dapat menuntun target pasar Anda menjadi konsumen. Maka, pastikan anda meletakan jembatan di ‘tempat’ yang tepat. Daftar pertanyaan berikut dapat menjadi panduan untuk merumuskan strategi promosi: Siapa target market dan target audience Anda? Apa saluran komunikasi yang dapat "menjangkau" mereka? Pesan komunikasi apa, program promosi apa, yang cocok/relevan untuk mereka? Kapan waktu yang cocok untuk melakukan posting pesan komunikasi itu? (kalau di sosial media) Selanjutnya, tentu strategi promosi harus mempertimbangkan arus kas, agar perusahaan tetap sehat dari sisi keuangannya. Selamat meracik 4P anda dengan cermat. Semoga tahun 2022 ini menjadi tahun penuh berkah bagi anda semua.

Read More (828 views)
Blog post
28 Jan'22

Metode SMART dalam Mencapai T…

Metode SMART - SMART merupakan akronim dari Spesific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Timebound. Metode ini adalah metode penetapan tujuan yang sering digunakan untuk keperluan personal ataupun organisasional bisnis. Dikutip dari Akseleran, metode ini sudah muncul sejak tahun 1981 dan ditemukan oleh George T. Doran. Berikut penjelasan tiap elemen metode SMART yang akan kita detailkan dari contoh ini: Meningkatkan Laba bersih menjadi 240 Juta tahun ini! 1. Specific (Spesifik) Spesifik dalam konteks di sini adalah tujuan harus didefinisikan dengan jelas dan spesifik. Dalam tujuan pada contoh ini, elemen spesifik diwakili oleh kata  “laba bersih”. 2. Measurable (Terukur) Terukur pada poin ini dimaksudkan untuk membuat perhitungan “jarak” Anda saat ini dengan tujuan. Dalam contoh tujuan yang dipakai pada tulisan ini, measurable terletak di kata “240 Juta”. 3. Achievable (Dapat Tercapai) Target yang dibuat sebaiknya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, supaya semangat dan konsistensi Anda tetap terjaga. Lebih baik progres yang tidak terlalu besar namun konsisten, dibanding progres besar namun tidak berkelanjutan. Pada tulisan ini achievable diwakili kata “meningkatkan”. Jika diimplementasikan dalam contoh ini, maka Anda harus melihat kondisi sebelumnya. Apabila laba sebelumnya 200 Juta per tahun, dan target tahun ini menjadi 240 Juta per tahun. Maka, pebisnis tersebut hanya perlu meningkatkan laba bersih sekitar 20% tahun ini. Hal ini masih masuk akal untuk bisnis dalam level ini, karena target tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kecil pula. 4. Relevant (Sesuai) Pada poin ini relevant memiliki arti sebaiknya target tersebut sejalan dengan visi-misi. Sehingga, pertanyaan “Layak, kah target tersebut diperjuangkan?”  akan dapat terjawab. Poin relevant pada contoh tujuan ini diwakili oleh keseluruhan kata, yang berarti poin relevant menekankan pada makna kalimat. Penjelasan relevant pada poin: Apakah memiliki laba bersih 240 Juta layak diperjuangkan? Anda dapat menjawabnya dengan yakin, misalnya, “Dengan laba bersih 240 Juta per tahun, maka saya dapat mengalokasikan 40 Juta lebihnya untuk membuka cabang baru. Yang mana cabang baru tersebut dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Hal tersebut sesuai dengan mimpi saya.” 5. Timebound (Batas Waktu) Batas waktu merupakan batas toleransi waktu yang diberikan pada tiap langkah dalam mencapai tujuan. Batas waktu akan membuat Anda lebih fokus dan semakin terpacu untuk mengejar tujuan. Jika mengacu pada contoh ini, maka batas waktunya terletak pada kata  “tahun ini”.  Sebagai perencana yang baik, kita tinggal mendefinisikan batas waktu tersebut pada tanggal dan bulan apa di tahun tersebut. Lebih baik lagi, jika Anda memberi batas waktu secara berkala di tiap bulannya agar evaluasi berkelanjutan dapat dilakukan. HighlightAgar dapat mempermudah Anda dalam memahami metode SMART ini, berikut penyederhanaannya. S: Laba bersih M: 240 JutaA: masuk akal, meningkat 20% (bukan 200%)R: Diwakili oleh seluruh kata atau dalam kalimat tersebut dan merupakan jawaban dari pertanyaan: “apakah tujuan tersebut sudah sejalan dengan visi-misi?”T: Tahun ini!

Read More (1022 views)
Blog post
24 Jan'22

Franchisor, Antisipasi Risiko…

Waralaba (setidaknya skema mirip waralaba) sering dijadikan alternatif untuk pebisnis melakukan ekspansi. Skema waraba dipilih karena memungkinkan ekspansi dilakukan tanpa perlu modal yang besar. Hal ini karena seluruh biaya dan permodalan dalam suatu gerai ditanggung franchisee sepenuhnya. Selain itu, franchisee juga harus membayar biaya-biaya waralaba (franchise fees). Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi risiko bagi franchisor. Berikut kami ‘sajikan’ risiko-risiko yang perlu Anda antisipasi bila hendak menjadi franchisor: 1. Risiko Bisnis Ditiru Risiko ini adalah risiko yang paling sering terjadi, di mana bisnis franchisor seringkali di copy. Entah itu oleh franchisee atau bukan, keterbukaan informasi yang disampaikan franchisor pada saat merekrut mitra untuk menjadikannya franchisee, merupakan salah satu potensi empuk bagi orang-orang (bahkan oleh yang bukan calon franchisee) untuk dapat memahami model bisnis Anda. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, biasanya informasi terkait bisnis yang difranchise-kan diberikan bertahap, jadi tidak langsung diberikan terinci. Bila sudah menjadi franchisee, biasanya ada klausul non-kompetisi dalam Perjanjian Waralaba. 2. Risiko Pencurian Kekayaan Intelektual Level lebih ekstrim dari risiko nomor 1 dan mungkin jarang terjadi, ada risiko pencurian kekayaan intelektual. Katakanlah Anda menemukan sebuah resep baru masakan, yaitu Ayam Goreng Bawang Bombai. Dari bisnis tersebut Anda memiliki beberapa franchisee yang kemudian salah satu darinya membuat bisnis lain tanpa sepengetahuan Anda, menggunakan nama kerabatnya. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, selain melalui klausul non-kompetisi, biasanya ada klausul kerahasiaan dalam Perjanjian Waralaba. Tentu saja aturan hitam di atas putih ini harus disertai pula dengan strategi seleksi yang cermat. Tidak semua kandidat harus Anda setujui permohonannya untuk menjadi franchisee. 3. Risiko Menurunnya Mutu Mutu tidak hanya berbicara mengenai kualitas produk, tetapi juga pelayanan. Mutu merupakan sesuatu yang penting dan menjadi identitas suatu merek waralaba. Misalnya konsumen memiliki pengalaman buruk di suatu gerai, maka konsumen tersebut akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menyamaratakan kualitas di semua gerai merek tersebut. Biasanya jumlah franchisee yang terlalu banyak dan franchisor yang ‘belum siap’ adalah salah satu penyebab risiko ini terjadi. Tips dari Utomo Njoto: Menurunnya mutu tidak dapat dihindari, tapi bisa dikelola. Anda harus mengelola menurunnya mutu ini jangan melewati batas yang bisa diterima oleh pelanggan. Kaum perfeksionis mungkin sulit menerima kenyataan ini, tapi percaya atau tidak, faktanya memang demikian. Itu sebabnya ada pebisnis yang tidak mau buka cabang, tidak mau melakukan franchising. Itu sah-sah saja, karena franchising adalah pilihan. 4. Risiko Menjadi Bisnis “Samudera Berdarah” Risiko ini terjadi ketika merek Anda berhasil melakukan ekspansi di bidang yang sepi pemainnya. Kehadiran banyaknya gerai bisnis Anda akan memancing minat para pemain lainnya. Anda bersama para franchisee telah menunjukkan ukuran kue atau volume pasar yang semula kurang dilirik pemain lain. Bidang bisnis Anda tiba-tiba menjadi sangat kompetitif dan beragam persaingan (harga dan non-harga) terjadi. Secara ekonomi, apabila bisnis telah masuk zona “red ocean” (samudera berdarah) dengan tingkat persaingan yang semakin ketat, maka laba normal akan semakin sulit didapat. Contoh yang sedang trending saat ini adalah bisnis binatu, alias Laundry Kiloan, Laundry Coin, dan sejenisnya. Tips dari Utomo Njoto: Menjadi yang red ocean juga sulit dihindari karena di luar kendali. Peran brand pun kadang sulit untuk diandalkan ketika nilai manfaatnya kurang terlihat. Hanya ada dua pilihan: (1) menjadi yang pertama atau tercepat dalam melakukan ekspansi dengan tetap memperhatikan tingkat laba yang dibutuhkan walaupun menjadi tipis, atau (2) melakukan inovasi yang memiliki nilai manfaat nyata yang relevan sehingga tidak terjebak di dalam samudera yang berdarah-darah itu. Contoh-contoh di atas adalah beberapa risiko yang harus diantisipasi ketika bisnis Anda menjadi waralaba dengan baik. Para franchisor yang hanya berniat menjual unit bisnis (kios, gerobak) sebanyak-banyaknya tanpa peduli pada konsistensi mutu, citra kualitas, kinerja, dan survival para franchisee-nya mungkin tidak peduli juga dengan risiko-risiko tersebut.

Read More (725 views)
Blog post
10 Jan'22

5 Tips Memperkecil Biaya Pada…

Tips Memperkecil Biaya - Setidaknya terdapat dua cara untuk meningkatkan laba bersih (keuntungan) pada bisnis restoran. Bisa dilakukan dengan memperbesar pendapatan ataupun memperkecil biaya. Meningkatkan pendapatan berarti meningkatkan penjualan ataupun menaikan harga jual pada menu. Namun, hal tersebut akan sulit dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang memang penjualan sedang merosot. Oleh sebab itu, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah memperkecil biaya. Memperkecil biaya dapat dilakukan dengan memperkecil biaya operasional ataupun memperkecil biaya bahan baku menu. Dengan memperkecil biaya, apabila pendapatan restorannya tetap, maka keuntungannya akan meningkat. Cara ini telah banyak dilakukan oleh pelaku usaha di bidang restoran. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memperkecil biaya pada bisnis restoran: 1. Pencatatan Inventaris Bahan Baku Hal ini penting untuk dilakukan supaya bahan baku yang dipesan sudah sesuai dan secukupnya. Sehingga bahan baku yang basi dapat diminimalisasi dan membuat biaya bahan baku mengecil. Lakukanlah pencatatan secara rutin dan akurat supaya ketika ada keputusan penting terkait bahan baku harus dilakukan, datanya sudah lengkap. 2. Lacak Harga Bahan Baku Melacak harga bahan baku menu penting dilakukan untuk mengetahui menu mana yang sebaiknya dilakukan pengurangan stok dan menu mana yang seharusnya ditingkatkan. Dengan melacak harga bahan baku, dapat membuat Anda siap dengan alternatif pengganti ketika salah satu harga bahan baku melonjak naik. Anda juga dapat meningkatkan stok ketika harga bahan baku tersebut turun. 3. Networking Sesama Pebisnis Kuliner Networking yang dilakukan ke sesama pebisnis kuliner dapat bermanfaat sebagai media sharing informasi masing-masing pebisnis. Dengan demikian, peluang untuk menemukan vendor kebutuhan restoran yang lebih terjangkau akan lebih besar. 4. Usahakan Buat Sendiri Jika memungkinkan untuk membuat sendiri bahan baku yang dibutuhkan, Anda dapat melakukannya. Pastikan sebelum melakukannya, Anda sudah memperhitungkan biaya waktu, biaya tenaga kerja, dan biaya kesempatan. 5. Ubah Menu Evaluasi menu yang ada di restoran untuk disesuaikan dengan minat pembeli. Kemudian, berfokuslah pada menu dengan penjualan terbaik dan memiliki bahan baku yang mayoritas sama. Anda juga bisa menghapus atau mengurangi menu yang menghasilkan penjualan paling minim dengan bahan baku paling cepat membusuk. Ingat Prinsip Pareto! Referensi Restaurant Engine Upserve

Read More (825 views)
Blog post
03 Jan'22

Sering Diabaikan: Dana Darura…

Dana Darurat - Tidak hanya penting dalam pengelolaan keuangan pribadi, dana darurat juga diperlukan dalam pengelolaan bisnis. Seperti penggunaan dana darurat pribadi, memiliki dana darurat pada bisnis akan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman. Sesuai namanya, dana darurat mengacu pada uang atau aset simpanan yang dapat digunakan pada saat terjadinya hal-hal di luar kendali terkait kesulitan keuangan. Aset yang menjadi dana darurat haruslah likuid agar dapat digunakan kapanpun. Selain dari kontribusi pemilik, dana darurat untuk bisnis dapat berasal dari pengelolaan arus kas (laba bisnis yang ditahan). Hal tersebut mengartikan, setiap laba dari bisnis tersebut tidak dihabiskan untuk ekspansi, dibagikan ke investor, ataupun insentif karyawan, tetapi disimpan dalam kas perusahaan sebagai dana darurat. Banyak pendapat mengenai jumlah yang ideal dana darurat untuk bisnis. Biasanya angka ini berada pada rentang 3x sampai 12x biaya operasional bulanan. Semua bergantung pada Anda, setidaknya memiliki dana darurat minimal 3x biaya operasional bulanan bisnis akan lebih baik daripada tidak memilikinya. Berkshire Hathaway dari Warren Buffet diketahui memiliki dan menjaga ketersediaan dana tunai sebesar 20 miliar dolar. Ini jumlah yang sangat besar. "Buffett says that it’s this sort of Buffett family thinking that explains why Berkshire Hathaway customarily has at least $20 billion on hand".   Berikut alasan mengapa dana darurat untuk bisnis itu penting: 1. Pertahanan Saat Kondisi Darurat Kondisi ke depan adalah ketidakpastian, namun melakukan persiapan adalah kewajiban. Apakah akan terjadi krisis, muncul pesaing baru yang tangguh, atau hal lainnya. Apapun bisa terjadi. Asuransi memang dapat digunakan untuk keamanan, namun tidak semua kondisi dapat di cover oleh asuransi. Memiliki dana darurat menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko yang muncul. 2. Memperkecil Kemungkinan Hutang Dana darurat dapat menjadi alternatif pilihan apabila kesulitan keuangan sedang melanda. Seperti kondisi terdesak, kekurangan anggaran, ataupun keinginan untuk menangkap peluang. Apabila suatu bisnis tidak memiliki dana darurat, maka pilihan yang dapat dilakukan hanyalah hutang. 3. Memberi Rasa Aman Seperti yang telah disinggung sebelumnya, memiliki dana darurat dapat meningkatkan rasa aman. Hal tersebut karena bisnis sudah bisa menghadapi kemungkinan terburuk (prepare for the worst scenario). Lain halnya jika tidak memiliki dana darurat, akan sulit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. 4. Persiapan Menangkap Peluang Bisnis yang Muncul Tiba-tiba Dana darurat bukan hanya untuk mencegah kemungkinan buruk yang terjadi, tetapi juga untuk menangkap peluang yang muncul tiba-tiba. Meski kurang disarankan, namun memiliki dana darurat dapat meningkatkan potensi Anda untuk bisa mengambil peluang yang ada. Apakah Anda sudah memiliki dana darurat untuk bisnis Anda? Referensi: Finansialku Monevator

Read More (746 views)
Blog post
27 Des'21

6 Tips Sukses Bisnis Kuliner

Bisnis Kuliner - Pemilik bisnis kuliner selalu dihadapkan dengan persaingan yang ketat. Pasalnya, bisnis kuliner menjamur di mana-mana, dari kuliner dengan resto besar sampai kuliner gerobakan pun semuanya bersaing. Meski secara teknis bisnisnya tidak menjual makanan yang sama, tetapi mereka semua tetap bersaing. Banyaknya bisnis kuliner yang bermunculan bukan tanpa alasan, sebab bisnis kuliner memiliki banyak keunggulan seperti: Makanan merupakan kebutuhan pokok Perputaran uang cepat Dapat dijalankan dengan modal relatif kecil Keuntungan lebih besar dibanding bisnis di bidang lain Bisa dimulai dengan jumlah pegawai yang sedikit Membangun Bisnis Kuliner Lima tahun awal suatu bisnis berdiri adalah masa kritis yang harus dihadapi untuk bisnis dapat bertahan. Berikut beberapa tips yang mungkin dapat Anda terapkan untuk membangun bisnis kuliner yang sukses: 1. Fokus Pada Makanan Bagaimanapun tampilan bisnis atau pelayanannya, yang membuat pembeli menjadi langganan adalah rasa dari makanan. Investasikanlah waktu sebanyak mungkin untuk membuat menu terbaik kuliner Anda. Karena, rasa makanan adalah satu-satunya alasan bisnis kuliner yang berada di dalam gang terpencil tetap memiliki banyak pengunjung dan tetap ramai. 2. “Tes Ombak” Validasi terbaik yang bisa didapatkan adalah berdasarkan penjualan dan feedback dari pembeli. Anda bisa saja mengklaim makanan Anda enak, namun, apakah target market mengatakan demikian? Mulailah dengan menjual ke kenalan dan orang-orang terdekat (circle), kemudian mintalah feedback. Setelah mendapat feedback dari circle Anda, cobalah untuk terus melakukan pengujian kualitas rasa masakan dengan bertanya ke lebih banyak pembeli diluar circle Anda. Ingat, data adalah alat terbaik untuk mengambil keputusan dengan tepat. Semakin banyaknya tester yang menyatakan puas, maka akan semakin tervalidasi dan objektif penilaiannya. 3. Maksimalkan Media Sosial Makanan enak akan menjadi percuma jika tidak banyak yang mengetahui dan belum ada informasi. Peran pemasaran dalam hal ini diperlukan. Anda dapat menggunakan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll untuk memasarkannya. Anda juga dapat menggunakan jasa food blogger untuk mengulas makanan Anda di akun media sosial mereka. Selain itu, tampilan media sosial Anda haruslah terlihat menarik dan sesuai dengan tema yang diusung supaya visitor menjadi lebih betah di laman media sosial Anda. 4. Pemasaran Offline Walaupun dunia telah canggih dengan adanya internet, namun pemasaran offline masih tetap relevan untuk bisnis kuliner. Banyak cara yang dapat dilakukan bisnis kuliner dengan pemasaran offline, seperti mengikuti event tertentu yang open tenant, menyebarkan brosur promosi ke lingkungan sekitar, membagikan makanan gratis di hari tertentu dan banyak cara lainnya. 5. Lokasi yang Tepat Selain kualitas makanan dan pemasaran, hal yang tidak kalah penting adalah lokasi. Jika membicarakan peluang, lokasi bisnis yang terdapat di pertigaan atau perempatan jalan tentu akan memiliki lebih besar peluang untuk didatangi, dibanding dengan yang terletak di dalam gang. Tidak harus di pinggir jalan raya karena kemungkinan biaya sewanya akan tinggi. Paling tidak, pastikan letak bisnis dekat dengan keramaian. Anda dapat mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi usaha di artikel Jenis Lokasi Usaha. 6. Menu Andalan Menu andalan ini nantinya dapat dijadikan fokus apabila ingin melakukan promosi atau beriklan. Seringkali pembeli datang karena menu andalan yang dipasarkan, selanjutnya mereka akan mencoba menu lainnya apabila Anda melakukan teknik cross selling. Lebih lanjut mengenai teknik penjualan di sini.   Related ArticlesSeleksi Lokasi RestoJenis Lokasi UsahaPrinsip Pareto, Fokus Lebih Sedikit dengan Hasil MaksimalCross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan

Read More (735 views)
Blog post
23 Des'21

Strategi Down selling, Agar T…

Down selling merupakan strategi penjualan yang berfokus pada terjadinya transaksi pembelian. Walau terdengar asing di telinga, sejatinya down selling sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Ketika ingin membeli tas, namun budget Anda kurang, maka penjual yang dapat membaca situasi tersebut akan memberi alternatif pilihan tas yang serupa dengan harga yang lebih terjangkau. Bisa juga ketika Anda berada di restoran cepat saji dan anda terlihat merasa harga kentang goreng terlalu mahal, maka pramusaji akan menawarkan kentang goreng dengan ukuran yang lebih kecil dan harga yang lebih murah. Itulah down selling. Arti Down Selling Dikutip dari HubSpot, down selling adalah strategi untuk menghadapi pelanggan yang terkendala harga dengan cara menawarkan produk serupa tapi dengan harga yang lebih terjangkau. strategi ini juga bisa digunakan pada pelanggan yang tidak tertarik untuk membeli. Jadi, bila cross selling dimaksudkan agar meningkatnya nilai penjualan, maka down selling ditujukan supaya tidak kehilangan penjualan. Menurut Salesforce, down selling memiliki beberapa manfaat penting, antara lain: Pelanggan tidak akan pulang dengan tangan kosong, alias tetap terjadi penjualan. Jika pelanggan tidak membeli produk premium, menawarkan produk yang lebih terjangkau akan meningkatkan loyalitas mereka terhadap merek Anda. Sekali lagi, poin utama dilakukannya strategi down selling adalah agar tetap terjadi penjualan, ketika pelanggan terlihat memiliki kendala anggaran, ataupun pelanggan yang terlihat tidak tertarik untuk membeli. Pelanggan akhirnya membeli, karena nilai transaksinya terlihat tidak terlalu tinggi. Terdapat beberapa tips yang dapat Anda terapkan untuk memaksimalkan strategi down selling, di antaranya: Siapkan penawaran down selling dengan harga terbaik. Jangan langsung melakukan diskon pada penawaran pertama. Tawarkan produk yang berbeda dengan harga yang lebih rendah ketika pelanggan menolak tawaran pertama. Tawarkan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah, berikan diskon apabila masih memungkinkan.   Related ArticlesCross Selling, Teknik Meningkatkan PenjualanBeda Up Selling vs Cross Selling Referensi ClickFunnels HubSpot Koinworks Massilah Salesforce

Read More (1202 views)
Blog post
20 Des'21

Beda Up Selling vs Cross Sell…

Walaupun terlihat mirip dengan cross selling, up selling adalah teknik yang berbeda. Kesamaan pada up selling dan cross selling hanya terletak pada tujuannya, yaitu meningkatkan nilai penjualan. Teknik up selling biasa disebut juga suggestive selling yang dapat ditemui di restoran cepat saji. Saat memesan makanan, biasanya pramusaji akan menawarkan pesanan yang berukuran lebih besar atau lebih banyak dengan harga satuan yang terlihat lebih murah. Arti Up Selling Dikutip dari Investopedia, up selling adalah teknik penjualan di mana seorang pelayan bertanya pada pembeli apakah mereka menginginkan pembelian dengan ukuran atau jumlah yang lebih besar. Biasanya teknik ini dipadukan dengan potongan harga, sehingga terdengar lebih masuk akal dan menggiurkan bagi pelanggan. Up selling digunakan untuk meningkatkan nilai penjualan. Alasan utama mengapa up selling efektif adalah proses menjual (dari nol) merupakan bagian tersulit yang harus dilakukan. Sehingga, menawarkan atau merekomendasikan ukuran atau jumlah yang lebih banyak kepada pelanggan yang sudah menyatakan niat membeli suatu item produk dapat memberi potensi kenaikan nilai transaksi dengan usaha yang lebih kecil. Ditulis dalam GrooveHq, peluang menjual ke prospek yang sudah ada sebesar 60-70%, sementara peluang ke prospek yang baru (masih berupa lead) hanya sebesar 5-20%. Hal ini menjadikan up selling sebagai teknik yang efektif. Penerapan up selling dapat Anda lihat pada beberapa contoh berikut: Penawaran burger yang berukuran lebih besar atau lebih premium kepada pembeli. SPG yang memberi rekomendasi smartphone dengan spesifikasi yang lebih tinggi dibanding dengan yang dicari pembeli. Biaya berlangganan Spotify atau aplikasi serupa yang lebih murah apabila berlangganan untuk setahun dibandingkan dengan satu bulan atau satu hari. Setelah memahami up selling dengan baik, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menerapkan up selling dengan efektif? Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan: Pastikan pelanggan senang dengan pelayanan yang diberikan dan jangan pernah melakukan up selling pada pelanggan yang sedang terburu-buru, marah, kesal, dan kecewa. Apabila dilakukan, hal itu akan membuat pelanggan enggan untuk kembali. Pastikan ada alasan yang kuat dan masuk akal untuk disampaikan pada pelanggan, sehingga akan meningkatkan peluang keberhasilan up selling Anda. Beri harga yang masuk akal, sangat disarankan Anda bisa memberi potongan harga. Jangan memaksa dan jangan bersifat agresif, hal tersebut akan memberi kesan negatif, karena akan mengakibatkan ketidaknyamanan di pihak pelanggan.   Related ArticlesStrategi Down Selling, Agar Terjadi Pembelian Referensi Glints GrooveHq Investopedia

Read More (1277 views)
Blog post
02 Nov'21

Ada 3 Skenario Penting Busine…

Dalam mengevaluasi kinerja bisnis untuk keperluan rencana ekspansi (outlet)-nya, saya menerapkan simulasi keuangan dengan tujuan menemukan 3 skenario penting yang juga penting dalam menyusun business plan: Omset berapa agar gross margin di outlet baru tersebut mampu menutup biaya operasionalnya? Omset berapa agar gross margin di outlet baru tersebut mampu menghasilkan laba yang sehat? Bila gross margin tidak mampu menutup biaya operasionalnya, berapa lama kita akan bertahan dan apa solusi alias exit strategy-nya. Gross Margin = Biaya Operasional Ini adalah makna BEP atau break even point yang sebenarnya, karena penggunaan BEP dalam konteks balik modal adalah istilah awam yang sebenarnya bukan istilah baku. “Gross margin sama dengan biaya operasional” bisa memiliki pengertian yang berbeda, karena ada yang melihat dari sudut Laporan Laba/Rugi dan ada yang melihat dari sudut arus kas. Laporan Laba/Rugi ini merupakan kondisi fundamental bisnis yang sebenarnya, tapi bisa berbeda dalam konteks arus kas. Dalam Laporan Laba/Rugi ada biaya-biaya yang tidak mempengaruhi arus kas, seperti (i) sewa dibayar di muka, (ii) pembelian bahan baku penjualan dan penjualan dengan metode pembayaran mundur (termin pembayaran tertentu, kredit/cicilan), (iii) biaya depresiasi/amortisasi. Berikut ini tabel sebagai ilustrasi untuk menjelaskan perbedaan mengenai sudut pandang Laporan Laba/Rugi dengan Arus Kas, saya highlight 2 hal saja: yaitu depresiasi dan sewa bayar di muka. Tabel Laporan Laba/Rugi dengan Arus Kas    Dapat dilihat dalam ilustrasi tersebut bahwa target sales bisa berbeda cukup signifikan. Tentu saja target sales dari sudut pandang Laporan Laba/Rugi lebih riil dibandingkan dengan berdasarkan Arus Kas. Tapi untuk rasa aman tahun pertama mungkin target menurut Arus Kas masih bisa diterima, dengan alasan “tidak tekor” alias tidak bleeding secara arus kas. Di sini perlu dipahami pula bahwa bila ada pembelian aset tambahan yang didepresiasikan (bukan langsung jadi biaya) akan memengaruhi arus kas, maka yang dicatat dalam Laporan Laba/Rugi adalah nilai depresiasi tahun pertamanya. Selain itu, bila ruang usaha atau bangunan adalah milik sendiri, maka perlu dianggarkan biaya sewa menurut harga pasar agar perhitungan biaya operasional tersebut lebih riil ditinjau dari sisi fundamental bisnisnya. Tentu saja pengeluaran tersebut tidak benar-benar terjadi dari sisi arus kas. Jangan lupa juga membiayakan gaji kita, bila kita terlibat dalam keseharian bisnisnya. Bila administrasi dilakukan terpusat, harus ada pos biaya jasa administrasi kantor pusat, dan/atau biaya SDM tenaga administrasi di outlet nantinya, meski saat ini semua admnistrasi dikelola oleh pusat. Laba yang “Sehat” Laba yang “sehat” tentu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Ekspektasi jangka waktu balik modal akan memengaruhi angka ini. Biasanya saya melakukan simulasi untuk menemukan 2 skenario jangka waktu balik modal, yaitu 30 bulan dan 20 bulan. Mengapa 30 dan 20 bulan? Mungkin ini subyektif saja, Anda bisa ubah sendiri kalau memiliki file simulasinya. Aspek lain mungkin jadi pertimbangan adalah jumlah laba yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita yang jadi pemilik bisnis. Bisnis gerobakan misalnya. Kalau modalnya hanya Rp10 juta dan disebutkan balik modal dalam 5 bulan, itu berarti laba usahanya sebulan hanya Rp2 juta. Bila angka Rp2 juta tidak cukup atau tidak memuaskan karena kebutuhan hidup anda Rp6 juta sebulan, berarti Anda harus buka 3 gerobak yang ketiganya minimal harus mencapai jumlah penjualan yang dibutuhkan untuk memberikan laba usaha Rp2 juta sebulan. Kondisi “Saat Ini” Yang tak kalah penting tentu saja kita harus memahami kondisi atau kinerja saat ini. Berapa omsetnya, berapa laba kotornya, berapa laba operasionalnya, berapa EBITDA nya. Dari sini kita dapat memperkirakan seberapa masuk akal target-target penjualan untuk skenario-skenario tersebut #1 dan #2 tersebut. Exit Strategy Dalam bisnis, kita tidak harus mengadopsi konsep membakar jembatan yang sudah kita lewati. Apalagi kalau sumber daya keuangan kita sangat terbatas. Kita perlu plan B, dan beberapa rencana lain (pivot) bila memungkinkan, sebelum memutuskan untuk menutup dan melakukan likuidasi (menjual peralatan dan perlengkapan, jika bukan bisnisnya) kepada pihak lain.    Related ArticlesBiaya Operasional, Apa Saja?Jangka Waktu Balik Modal ("BEP")

Read More (1043 views)
Blog post
26 Okt'21

Strategi “Buka - Jual - Buka”

Salah satu strategi waralaba yang menarik untuk diterapkan adalah strategi “Buka - Jual - Buka”. Bayangkan Anda memulai bisnis yang butuh belanja modal sebesar Rp300 juta, Setelah 8 bulan beroperasi, bisnis ini menghasilkan laba bersih Rp50 juta per bulan, dan stabil. Bisnis seperti ini dapat Anda tawarkan sebagai waralaba atau kemitraan kepada pihak lain dengan harga Rp800 juta. Mengapa? Asumsi saya dari Rp50 juta tersebut, kita anggap kita bisa ambil Rp10 juta sebagai biaya bulanan (biaya royalti dan/atau biaya supervise & konsultasi).  Dengan demikian pihak pembeli masih dapat memperoleh Rp40 juta sebulan. Ini berarti Rp800 juta tersebut masih bisa balik modal dalam waktu 20 bulan. Penghasilan ini ekivalen 5% sebulan, atau 60% setahun bila dibandingkan dengan investasi yang Rp800 juta tersebut. Kalau kemitraan atau waralabanya menggunakan skema pasif, alias pembeli cukup duduk manis dan semuanya dikelola oleh Anda, maka bisa saja Anda mengambil Rp20 juta sehingga potentially pembeli dapat menerima Rp30 juta sebulan. Dengan demikian, Rp800 juta ini bisa balik modal dalam waktu 27 bulan. Ini ekivalen sekitar 3,4% sebulan alias 40,8% setahun! Bagi Anda sendiri, bisnis dengan modal Rp300 juta, dalam waktu 8-12 bulan Anda bisa menjualnya dengan nilai Rp800 juta. Ini hasil yang luar biasa. Dari Rp800 juta tersebut, kalau digunakan untuk buka lagi, maka Anda dapat membuka 2 outlet lagi, dan masih ada sisa Rp200 juta. Catatan: Uraian di atas menggunakan perhitungan payback period dan EBITDA. Untuk arus kas akan ada perbedaan, tergantung faktor-faktor yang menyertainya. Sebagai contoh, sewa di mall tentu memiliki konsekuensi arus kas yang berbeda dengan sewa di ruko.

Read More (917 views)