Beberapa waktu lalu media dikejutkan dengan penangkapan beberapa “influencer” yang kerap kali melakukan flexing di media sosial. Para tersangka tersebut didakwa atas dugaan kasus penipuan berkedok investasi. Pada artikel kali ini, kita tidak akan membahas tentang pentingnya pengawasan diri agar tidak menjadi korban flexing. Namun dari sisi yang lain, yaitu flexing as a marketing strategy. Pertama-tama, perlu kita ketahui apa arti dari kata flexing. Sebenarnya flexing sendiri merupakan kosa kata yang sudah lama ada, yaitu sejak tahun 1990-an. Saat itu, flexing digunakan oleh masyarakat kulit hitam untuk “menunjukkan keberanian” atau “pamer”. Berlanjut ke saat ini, flexing menurut Merriam-Webster adalah menunjukkan sesuatu atau memamerkan sesuatu secara mencolok. Seiring berkembangnya media sosial, flexing menjadi kegiatan yang mudah dan sering kita lihat, sehingga hal tersebut tidak lagi “tabu”. Flexing di sini bisa memamerkan banyak hal, seperti kekayaan, pencapaian, kredibilitas, dan sebagainya.   Apakah flexing bisa menjadi strategi marketing? Terlepas dari tujuannya benar ataupun salah, flexing dapat digunakan sebagai strategi marketing. Hal ini juga diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis UI, Rhenald Kasali. Menurutnya, kasus First Travel yang heboh beberapa tahun lalu juga berhasil menipu customer-nya karena pemilik bisnis (pelaku) seringkali memarekan kekayaannya di media sosial. “Flexing itu ternyata marketing untuk membangun kepercayaan dan menunjukkan kepada customer. Akhirnya, customer percaya dan menaruh uangnya untuk ibadah umrah, walau akhirnya banyak yang tidak berangkat" jelas Rhenald Kasali. Selain itu, dari kasus penipuan berkedok investasi beberapa waktu lalu, kita juga sadari bahwa flexing memiliki impact yang signifikan. Bahkan salah seorang diantara pelaku tersebut mengakui, alasannya membuat konten flexing karena konten tersebut mendapat feedback yang sangat signifikan dari audiens. Followers-nya meningkat pesat dalam waktu singkat, sehingga namanya makin melejit yang mengundang brand berdatangan. Meski perlu diakui, feedback audiens-nya ada yang positif dan banyak pula yang negatif (memberi hujatan). Dari beberapa kasus tersebut kita belajar bahwa flexing dapat menjadi strategi yang tepat untuk bisnis tertentu. Karena dengan kegiatan flexing yang notabene “mencolok” dapat lebih kuat menarik perhatian audiens dan menyampaikan pesan. Namun perlu dipahami, jika ingin melakukan flexing untuk keperluan marketing harus tahu batas-batasnya, jangan sampai melakukan flexing dengan kebohongan. Referensi Merriam-Webster Tirto