IKEA masuk ke Indonesia melalui PT Hero Supermarket Tbk. Ya, perusahaan yang menutup puluhan gerai hypermarket GIANT ini seolah melakukan pivot dan mengerahkan sumber dayanya ke IKEA. Menarik sekali kehadiran waralaba IKEA ini, karena saya mengikuti liku-liku dan perdebatan yang berkembang, mulai dari permasalahan sengketa mereknya hingga kekhawatiran terjadinya dominasi pasar alias monopoli, dan besarnya arus impor produk yang akan dijual di jaringan raksasa retail mebel dan perlengkapannya ini. Dilansir dari berita Tempo, penandatanganan kesepakatan antara IKEA dan HERO dilakukan pada tanggal 22 Maret 2012. Tapi pembukaannya 15 Oktober 2014. Sengketa Merek IKEA Dilansir dari laman Januar Jahja & Partners, Inter IKEA Systems B.V. mengajukan pendaftaran merek IKEA di Indonesia untuk kelas 20 dan 21. Pada tanggal 9 Oktober 2006 persetujuan untuk kelas 21 diperoleh, namun entah mengapa persetujuan untuk kelas 20 didapat empat tahun kemudian, yaitu pada tanggal 27 Oktober 2010. Diduga karena khawatir ada masalah dengan tidak adanya kegiatan usaha terkait merek ini sejak pendaftaran mereknya, maka pada bulan Maret 2012 IKEA mengajukan pendaftaran kembali merek ini di kelas 20 dan 21, yang kemudian mendapat persetujuan di bulan September 2014. Di tahun 2013 ternyata ada gugatan terhadap sertifikat merek yang telah mendapat persetujuan di tahun 2006 dan tahun 2010 tersebut oleh PT Ratania Khatulistiwa yang hendak mendaftarkan merek “IKEA INTAN KHATULISTIWA ESA ABADI”. Meski PT Ratania memenangkan gugatannya, IKEA Indonesia tetap memperoleh persetujuan atas merek yang didaftarkan pada tahun 2012 tersebut. Operasional IKEA akhirnya menggunakan dasar hukum persetujuan merek yang didaftarkan di tahun 2012 dan diperoleh persetujuannya di tahun 2014 itu. Banjirnya Produk Impor Kekhawatiran terhadap banjirnya produk impor selalu menjadi issue yang menarik untuk digaungkan dalam menghadapi rencana kehadiran merek kuat global yang berpotensi mendominasi salah satu segmen pasar di suatu negara (yup, bukan hanya Indonesia, tapi India juga menjadi negara yang sulit diterobos oleh merek ini). IKEA butuh waktu 5 tahun persiapan dan negosiasi untuk bisa masuk ke India. Salah satu drama di balik jalan terjal di negara ini adalah target jumlah 30% produk lokal dari seluruh produk yang dijual di IKEA India. Pada tahun 2020, IKEA India yang buka di tahun 2018 ini mengaku akan berupaya untuk belanja sampai 50% tapi tidak dijelaskan target waktunya (sumber: India Times). Melansir berita di India Times, pada tahun 2015 belanja IKEA mencapai 3% dengan nilai 315 juta Euro. Mereka menargetkan peningkatan 2x lipat, yaitu menjadi 630 juta Euro pada tahun 2020. IKEA mencoba meyakinkan pemerintah, IKEA sudah membeli produk dari Indonesia sejak 1990-1992. Dari laman Tempo tahun 2012, diberitakan bahwa produsen yang menjadi pemasok IKEA ada yang berlokasi di Solo (sejak 2007). Selain itu ada pula pemasok dari kota Semarang. Mungkin ada pula dari kota-kota lainnya. Pada tahun 2017, IKEA menyampaikan kepada Tempo bahwa total belanja IKEA dari Indonesia mencapai 8% dari total belanja jaringan IKEA di seluruh dunia (belum saya temukan informasi nilai nominalnya). Kekuatiran Produsen Lokal & Kemitraan Kehadiran merek global memang selalu membuat produsen lokal ketar-ketir menghadapi persaingan. Biasanya pemerintah mendorong merek global untuk membina mitra UMKM menjadi pemasok yang memenuhi kualitas sesuai persyaratan. IKEA India membina pengrajin karpet level rumahan hingga menjadi skala industri, sebagai pemasok toko mereka. Hal serupa dilakukan oleh KFC Indonesia yang membina kemitraan dengan para peternak ayam sebagai pemasok KFC. Tentu kemitraan di sini berbeda dengan kemitraan yang digabung-gaungkan sebagai alternatif dari pola kerja sama waralaba yang belum memenuhi persyaratan waralaba.