Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

with tag "marketing"
Blog post
16 Des'22

CRM, Strategi Loyalnya Custom…

Pernahkah Anda ketika selesai berbelanja online di suatu aplikasi e-commerce atau web marketplace, kemudian  menerima notifikasi berupa informasi pesanan Anda sedang diproses?, atau notifikasi berupa promo? Jika iya maka Anda telah terkena strategi CRM (Customer Relationship Management). Sebenarnya apa itu CRM? Mari kita simak penjelasan berikut! Pengertian CRM Dikutip dari Populix, CRM adalah strategi bisnis bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya di berbagai aspek dengan melakukan proses olah data pelanggan menggunakan bantuan aplikasi. Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan CRM dibidang marketing semakin fleksibel dan dinamis sesuai target customer yang dituju. Di era yang tech-savvy ini, untuk mengakomodasi kebutuhan CRM yang kompleks disediakan berbagai  tool CRM yang disebut e-CRM. e-CRM digunakan oleh beberapa perusahaan besar untuk mengetahui intensi, minat serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa e-CRM yang dapat meningkatkan profit bisnis Anda: Salesforce Zoho SugarCRM HubSpot CRM Vtiger Freshsales Qontak Dan sebenarnya masih banyak lagi tools CRM yang lain baik berbayar atau bahkan free services yang dapat Anda gunakan. Hubungan Marketing Funnel Dengan CRM CRM tidak bisa lepas dari Marketing Funnel, yang menjelaskan beberapa tahapan bagi audiens sebelum melakukan transaksi atau pembelian produk/jasa yang ditawarkan. Proses tahapan-tahapan inilah yang nantinya akan dideskripsikan lebih detail di Customer Lifecycle Journey.  Marketing Funnel tipe AIDA   Jika Anda perhatikan, gambar marketing funnel di atas merupakan marketing funnel tipe AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yang sebelumnya pernah dibahas sebelumnya di artikel: Memahami Marketing Funnel Kurang Dari 5 Menit! Dalam gambar berbentuk corong tersebut, diketahui bahwa 1000 leads yang diperoleh nantinya akan terus berkurang sesuai dari intensi kebutuhan audiens. Nah, menjaga “intensi audiens” inilah yang harus dipertahankan agar audiens mau membeli produk Anda dengan cara membuat campaign. Jadi, dalam bentuk marketing funnel di atas CRM berfungsi sebagai strategi campaign yang mampu mengkonversi traffic audience yang diperoleh hingga menjadi loyal customer. Sistem Kerja CRM Sistem kerja CRM seringkali digambarkan dalam bentuk diagram alur yang dikenal dengan Customer Lifecyle Journey. Pada dasarnya, proses tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu reach, acquisition, conversion, retention, dan loyalty. Singkatnya, Customer Lifecycle Journey dapat menguraikan secara lengkap langkah-langkah yang akan diambil pelanggan saat mereka masuk ke flow penjualan sesuai 5 proses yang sudah disebutkan. Ini tentu akan membantu tim marketing perusahaan dalam menentukan (decision making) campaign, produk, promo, dan konten apa yang sesuai dengan behavior dan kebutuhan pelanggan.   Customer Lifecycle Journey   Gambar di atas merupakan contoh simulasi siklus CRM perusahaan X (katakanlah) RedDoorz berupa flowchart yang saya buat, mari kita urai satu-persatu: 1. Awareness Tahapan awareness disini merupakan salah satu proses dari Reach. Untuk mendapatkan Reach, tentu kita butuh traffic audience dari berbagai channel, seperti social media ads, Google ads, social media organic, dan blog. Umumnya untuk bisnis yang baru, menjalankan social media secara organik (feed Instagram, FB, artikel blog) sudah cukup untuk menarik calon customer apabila strategi konten Anda tepat dengan kebutuhan audience. 2. Consideration (Leads) Reach menjadi tidak berguna apabila Anda tidak berusaha menggaet pelanggan (acquire). Oleh karenanya, dibutuhkan semacam ajakan atau call to action di iklan Anda. Pada gambar di atas tahapan consideration hingga leads merupakan proses dari Acquisition untuk memperoleh potential customer. Berdasarkan gambar diatas, sebelum audience memasuki fase consideration, strategi perusahaan adalah dengan menjalankan ads berupa promo first time offer bagi audience yang belum mengenal RedDoorz. Setelah memasuki tahap consideration, audience baru akan mendapatkan push notification penawaran dari promo tersebut sehingga sebagian audience nantinya akan melakukan sign up dan menjadi leads (potential customer). 3. Buyer Setelah menjadi leads (mengisi form nama, email, dll) audience pasti akan mendapatkan kiriman email berupa “welcome email” atau mungkin email yang berisi keuntungan apabila menggunakan aplikasi RedDoorz . Email-email tersebut berfungsi untuk mendorong audiens melakukan Conversion dan menjadi buyer. Tahap ini mulai dibutuhkan yang namanya menjaga hubungan dengan pelanggan. Pastikan pelanggan puas dengan produk dan jasa Anda, pastikan Anda untuk meminta feedback dari pelanggan untuk meng-improve produk dan layanan Anda. 4. Loyal Fase ketika audience sudah menjadi buyer atau new customer, dibutuhkan strategi marketing berkelanjutan untuk mendorong pelanggan tersebut melakukan transaksi kembali, proses inilah yang disebut Retention. Contohnya adalah seperti menawarkan membership subscription supaya mendapatkan penawaran promo terbaik dan email special offer untuk transaksi selanjutnya. Catatan, tentu dalam membuat campaign penawaran harus didukung dengan copy yang menarik dan sesuai interest pelanggan, jika tidak, tentu saja pelanggan akan tidak peduli dengan offer yang Anda berikan.  Setelah pelanggan merasa tertarik dengan campaign retention yang ditawarkan dan merasa puas akan produk atau layanan yang Anda berikan, maka akan tercipta “Loyalty” dari customer. Loyalty akan sangat amat terasa penting karena akan membuat pelanggan tetap menggunakan produk Anda setelah melakukan konversi. 5. Churn Rate Churn rate lebih dikenal sebagai pelanggan yang tidak melakukan aktivitas apapun terhadap produk dan layanan yang Anda tawarkan selama beberapa waktu lamanya. (tergantung jenis bisnis dan umumnya 3 bulan sejak transaksi terakhir). Tahapan ini sebenarnya terpisah dari 5 proses penting CRM yang sudah kita pelajari. Namun, churn rate sangat berguna sebagai database pelanggan yang pernah menggunakan atau melakukan transaksi di bisnis Anda. Ketika pelanggan sudah tidak aktif, maka akan fatal apabila Anda hanya melepasnya saja. Ya, Anda harus melakukan pendekatan dengan treatment khusus untuk pelanggan yang sudah tidak terhubung dengan bisnis Anda. Seperti menawarkan fitur layanan baru, special offer, atau seperti kasus gambar diatas kita bisa menawarkan diskon re-book rooms untuk user yang pernah menggunakan aplikasi RedDoorz. Itulah beberapa hal fundamental terkait penggunaan CRM sebagai strategi marketing yang ampuh untuk menciptakan sebuah loyalitas pelanggan. Selanjutnya mungkin kita akan membahas lebih advance dan spesifik terkait e-CRM dan media yang digunakan seperti SMS, email, push notif, dan WhatsApp.  Jadi bagaimana? Apakah Anda telah menerapkan CRM untuk bisnis Anda?   Sumber: Startup Studio Indonesia                Glints                Hubspot

Read More (1127 views)
Blog post
15 Des'22

Mengenal Kosakata Digital Mar…

Apa yang Anda harapkan dari bisnis Anda? Ya seringkali ketika kita membuka bisnis terutama waralaba satu hal yang terbesit adalah menghasilkan revenue (pendapatan) semaksimal mungkin. Namun, bagaimana cara Anda untuk mencapai tujuan tersebut? Salah satu caranya adalah “Digital Marketing”, dengan arus perkembangan teknologi yang cepat dan maraknya penggunaan internet mengubah behavior masyarakat dalam mencari informasi dengan menggunakan smartphone/android. Maka dari itulah strategi digital marketing dibutuhkan untuk memasarkan produk/service yang Anda tawarkan. Sebelum belajar lebih jauh tentang Digital Marketing, alangkah baiknya Anda kenali terlebih dahulu kosakata berikut yang beberapa dikutip dari RevoU : A Ads/Iklan - Cara pemasaran yang dilakukan dengan mengiklankan (ads) produk/layanan dari brand. A/B Testing - Metode perbandingan 2 versi (campaign, ads dll) satu dengan yang lainnya untuk menentukan performance mana yang lebih baik. Affiliate Marketing - Model advertising dimana perusahaan membayar pihak ketiga untuk menghasilkan traffic dan membawa audiens ke produk perusahaan. B Backlink - Link dari suatu website yang merujuk ke halaman website lain/website Anda.  Brand Awareness - Istilah marketing yang menggambarkan sejauh mana konsumen mengenali suatu produk atau merek. Browser - Software yang mengakses dan menampilkan halaman atau file yang ada di World Wide Web.  Buyer Persona - Gambaran semi-fiksi pelanggan ideal yang diciptakan berdasarkan market research dan data riil terkait pelanggan yang sudah ada. C Call to Action (CTA) - Kalimat ajakan kepada audiens untuk melakukan suatu tindakan yang kita inginkan. Campaign - Aktivitas untuk mempromosikan produk brand dalam jangka waktu tertentu. Carousel - Fitur di media sosial yang memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto atau video dalam satu postingan. Click-through Rate (CTR) - Presentase seseorang yang mengeklik link ads. (Formula: Jumlah klik/Impression)  Content Pillar - Pondasi agar konten perusahaan memiliki identitas dan menjadi keseluruhan strategi konten media sosial bisnis. Conversion - Audiens yang telah melakukan tindakan berdasarkan Call to Action (CTA) yang telah Anda buat. Cost per Click (CPC) - Biaya yang dibayarkan setiap seseorang mengeklik iklan. (Formula: Total Biaya ads/klik)  Cost per Lead (CPL) - Biaya yang dibayarkan setiap mendapatkan leads atau user potensial baru. (Formula: Total biaya ads/Total Leads) Cost per thousand Impressions (CPM) - Biaya yang dibayarkan setiap seribu impression dari ads. (Formula: (Total biaya ads/Impressions) x 1000) Crawl - Proses bot atau spiderbot mengunjungi website, mengambil konten, dan mengindeks sehingga situs web tersebut dapat dengan mudah ditemukan di Search Engine. Customer Journey - Seluruh pengalaman yang dialami customer saat berinteraksi dengan perusahaan/brand dan membantu perusahaan dalam memahami customer lebih baik. D Direct Marketing - Pemasaran yang dilakukan dengan memanfaatkan jalur komunikasi dan distribusi langsung ke konsumen tanpa perantara. Domain - Bagian dari alamat web (URL) yang digunakan untuk mencari lokasi suatu website atau halaman dari website. E Email Marketing - Salah satu strategi yang memanfaatkan media email untuk mempromosikan produk serta digunakan dalam menarik pelanggan. Endorse - Strategi marketing yang melibatkan publik figur dan orang-orang terkenal seperti content creator serta influencer dengan basis pengikut yang masif. Engagement Rate -  Persentase pengguna yang berinteraksi dengan sebuah konten. G Google Ads - Layanan online advertising yang disediakan Google untuk menargetkan audiens, mengarahkan traffic ke website, dan meningkatkan kunjungan in-store. I Impression - Jumlah beberapa kali konten atau iklan muncul. K Key Performance Indicator (KPI) - Serangkaian metrik pengukuran kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan.  Keywords - Kata-kata yang ditargetkan pemilik website, bisa berupa ads/organik. L Landing Page - Salah satu laman web yang ditargetkan untuk menarik audiens agar melakukan tindakan tertentu. Leads - Orang-orang yang tertarik dengan produk/jasa brand dan memiliki potensi besar untuk menjadi pelanggan. Lead Generation - Kegiatan dan proses yang dilakukan untuk menemukan calon pelanggan dan informasi kontak mereka (nama, email, alamat, perusahaan, dll) M Metrics - Indikator untuk mengukur dan melacak keberhasilan usaha digital marketing brand. O Organik - Cara pemasaran yang dilakukan secara gratis atau tanpa ada biaya. P Personal Branding - Proses menciptakan citra atau image diri seorang individu. Platform - Hardware atau software yang menggerakkan suatu aplikasi atau layanan. R Reach - Total jumlah orang yang melihat sebuah konten/iklan. Return On Investment (ROI) - Ukuran kinerja yang digunakan untuk menghitung efisiensi atau profitabilitas suatu investasi bisnis. S Search Engine Marketing (SEM) - Salah satu channel marketing berbayar yang juga menggunakan platform search engine seperti SEO. Search Engine Result Page (SERP) - Halaman web yang ditampilkan search engine (seperti Google, Bing, dsb) setelah pengguna mengetik query di platform mereka. T Trendjacking - Strategi dengan memanfaatkan kejadian atau meme yang sedang viral untuk promosi/komunikasi yang berbeda kepada audience. Traffic - Jumlah total pengunjung website U User Experience (UX) - Keseluruhan perjalanan yang dilalui pengguna saat mereka menggunakan suatu produk. User Interface - Elemen visual yang berguna untuk menghubungkan pengguna (user) dengan sistem teknologi. Beberapa istilah di atas merupakan istilah yang sering diucapkan di bidang digital marketing, saat ini banyak perusahaan B2B maupun B2C berlomba-lomba dan berinvestasi di dunia digital marketing, sudah saatnya bagi Anda untuk berinvestasi di bidang ini.   Sumber: Revoupedia

Read More (1241 views)
Blog post
24 Mar'22

4 Hal Mendasar dalam Influenc…

Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, influencer marketing adalah salah satu strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Di dalam influencer sendiri, terbagi dari nano sampai mega influencer, bergantung pada seberapa besar pengaruh dan jumlah followers-nya. Artikel ini akan fokus membahas 4 hal mendasar dalam menerapkan strategi tersebut agar efektif. 1. Influencer yang Sesuai Dengan Target Market Mengutip Econsultancy, 73% menyatakan bahwa bagian tersulit dari influencer marketing adalah memilih influencer yang tepat. Memilih influencer sama dengan memilih representasi dari produk Anda, yang akan menjadi perpanjangan tangan. Anda dapat melakukan riset sebelumnya, pastikan untuk memilih influencer yang sesuai dengan target market. Tidak mungkin melakukan promosi makanan cepat saji yang cenderung tinggi kalori menggunakan influencer yang fokus pada healthy life style. Jangan hanya berfokus pada jumlah followers, fokus juga pada relevansi influencer dengan bidang bisnis Anda. Bahkan, 72% menyatakan relevansi lebih penting dibanding jangkauan. 2. Jangan Anggap Remeh Micro Influencer Banyak yang berpikir bekerja sama dengan influencer yang memiliki “nama besar” adalah jalan terbaik. Hal tersebut tidak selamanya benar, terkadang bekerja sama dengan micro influencer juga dapat memberi dampak yang lebih signifikan. Penelitian yang dilakukan MYSOCIAL, terhadap 1 juta influencer menunjukan, engagement rate influencer dengan followers <100 ribu lebih besar hingga lima kali dibanding influencer dengan >100 ribu followers. Dari hasil yang demikian, Anda bisa mengefektifkan strategi dengan memilih beberapa influencer yang potensial dibanding hanya satu influencer besar saja. 3. Konsultasi Dengan Influencer Langsung Melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan influencer yang bersangkutan bukanlah pilihan yang buruk. Karena bagaimanapun juga, yang lebih mengetahui karakteristik followers-nya dengan lebih detail adalah influencer itu sendiri. Dengan melakukan konsultasi dan mendiskusikan ide akan berpeluang menghasilkan “jalan ketiga” yang mungkin jauh lebih efektif. 4. Evaluasi Hasil Evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana progres yang telah dicapai. Dengan melakukan evaluasi dapat memperjelas tipe influencer mana yang cocok untuk bisnis Anda kedepannya. Mengutip GLINTS, evaluasi dapat dilakukan dengan memantau pertambahan followers, kenaikan visitor (pengunjung) dalam website ataupun langsung, penjualan, serta engagement dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Referensi ECONSULTANCY GLINTS MYSOCIAL

Read More (746 views)
Blog post
21 Mar'22

Memahami Marketing Funnel Kur…

Marketing Funnel - Apakah penjualan yang selama ini terjadi di dalam bisnis adalah sebuah kejadian random yang berulang? Atau mereka memiliki pola? Bisakah kita memahaminya sebagai suatu kejadian yang direncanakan? Well, jika Anda memiliki pertanyaan tersebut, maka Anda perlu berkenalan dengan istilah marketing funnel! Menurut Neil Patel, marketing funnel adalah sebuah representasi visual dari langkah-langkah yang dilalui pengunjung dari pertama hingga terjadinya konversi. Hal tersebut berarti marketing funnel merupakan term yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan pelanggan (customer journey) dari sebelum mengenal merek sampai ke tahap pembelian atau lebih. Marketing funnel ini terbagi ke beberapa tahapan. Di mana masing-masing tahap diharapkan akan menuntun customer untuk dapat berlanjut ke tahap berikutnya, yang semakin berlanjutnya tahapan tersebut membuat leads-nya semakin sedikit. Hal inilah yang membuat visualisasi marketing funnel tampak seperti corong. Umumnya marketing funnel tiap bisnis berbeda, karena profil market dan produknya pun berbeda. Oleh karena marketing funnel yang berbeda, penggunaan istilahnya pun juga berbeda-beda. Dari yang masih umum sampai mendetail. Contoh di atas adalah simulasi marketing funnel yang masih umum, Anda dapat merincikannya lagi supaya semakin jelas dalam memahami pelanggan dan memaksimalkan tiap bagiannya. Mari kita simulasikan contoh di atas. Katakanlah ada pemilik resto ayam goreng yang melakukan campaign di Instagram. Dari campaign tersebut, ada 1000 akun yang melihat iklannya, dengan 150 diantaranya tertarik dan menjadi visitor akun. Dari 150 akun yang “mampir” dan memutuskan untuk melihat-lihat, 75 diantaranya menginginkan namun belum membeli dengan alasan yang belum diketahui. Pada akhirnya, hanya 25 diantaranya melakukan pembelian dengan menekan link yang menuju aplikasi food delivery. Tanpa disangka, 20 diantaranya ternyata sangat menyukai! Sehingga beberapa hari kemudian mereka melakukan pembelian lagi. Kurang lebih seperti itulah marketing funnel, memahami calon pembeli dari yang tidak mengenal sampai melakukan pembelian. Tentu masih banyak lagi media promosi lainnya, tidak harus dengan Instagram. Menanyakan pertanyaan yang tepat adalah 50% dari penyelesaian masalah, rasanya ungkapan tersebut cocok sekali dalam pembahasan kali ini. Untuk dapat memaksimalkan kinerja marketing bisnis, masing-masing tahapan di atas dapat ditelusuri lebih lanjut. Mengapa dari 1000 calon customer yang melihat iklan, hanya 150 yang menjadi visitor? Apa yang membuat pengunjung tidak melanjutkan ke tahap berikutnya? Mengapa pengunjung yang sudah melihat-lihat tidak melakukan pembelian? Bagaimana karakteristik pengunjung yang akan menjadi pembeli? Mengapa pengunjung yang sudah membeli tidak melakukan repeat order (retention)? Dsb Selain itu, supaya marketing funnel berjalan maksimal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dioptimasi agar memiliki konversi yang besar. Beberapa diantaranya dengan melakukan optimasi ads, desain/tampilan, copywriting, promo produk, dan sebagainya.

Read More (785 views)
Blog post
17 Mar'22

Hati-hati: MLM mengaku Warala…

Akhir-akhir ini muncul kembali fenomena Multi Level Marketing (MLM) yang menggunakan istilah “Franchise Individu” dalam melakukan rekrutmen anggota. Meski waralaba dan MLM sama-sama merupakan suatu penawaran peluang bisnis, keduanya tidak persis sama. Franchisee tidak wajib melakukan kegiatan rekrutmen member yang menjadi karakteristik MLM. Dari segi dana investasi, untuk bisa menjadi Franchisee dibutuhkan dana yang relatif tinggi karena terkait dengan membangun suatu bisnis yang lengkap dengan sistem administrasi dan fungsi-fungsi bisnis lainnya seperti pemasaran lokal, penjualan, serta keberadaan suatu gerai dengan ketentuan adanya stok barang. Untuk menjadi anggota MLM dana yang dibutuhkan relatif rendah, karena tidak perlu membangun gerai, tidak perlu membangun sistem administrasi. Semuanya disediakan oleh perusahaan penyelenggara MLM tersebut. Meski ada yang membangun gerai, misal pada level stockist, umumnya anggota MLM menjalankan secara perorangan tanpa gerai (outlet). Yang dibutuhkan hanya dana untuk membayar biaya harga paket produk awal, joining fee dan atau annual fee. Produk tidak harus distok. Pembelian produk ke penyelenggara MLM bisa dilakukan setelah ada pesanan. Karena berbasis gerai, dalam waralaba dikenal istilah proteksi wilayah waralaba yang berarti di dalam suatu wilayah geografis tertentu Franchisor menjamin tidak ada gerai dengan merek dan model bisnis yang sama. Proteksi dalam MLM adalah dalam bentuk struktur jaringan pemasaran berjenjang (biasa disebut upline dan downline) yang disimpan dalam database perusahaan penyenggara MLM untuk keperluan perhitungan bagi hasil. Pelatihan dalam MLM berfokus pada pengetahuan produk dan rencana bisnis berdasarkan pengembangan jaringan atau struktur berjenjang. Pelatihan dalam waralaba format bisnis lebih terarah pada cara mengelola dan pelaksanaan operasional sehari-hari gerai waralaba. Pelatihan dalam waralaba merek dagang bisa berupa pengetahuan produk dan atau penyelenggaraan operasional sehari-hari gerai waralaba serta strategi pemasaran, termasuk kepuasan pelanggan. Dari segi penyalahgunaan, dalam MLM bisa terjadi penyalahgunaan dalam bentuk struktur piramid dan money game. Money game di sini dapat juga dikamuflase atau ditutupi dengan paket produk yang dijual dengan harga sangat tinggi (tidak normal) sehingga sesungguhnya yang dilakukan adalah member-get-member belaka, bukan konsumsi dan/atau penjualan produk. “Kenakalan” dalam waralaba biasanya dalam bentuk proyeksi keuangan dan asumsi-asumsi yang tidak realistis, biaya-biaya waralaba (biaya awal waralaba dan royalti) yang terlalu tinggi sehingga Franchisee mustahil meraih keuntungan yang wajar dalam menjalankan bisnisnya, serta tidak seriusnya penyelenggaraan dukungan konsultasi operasional sehari-hari dari pihak Franchisor kepada pihak Franchisee. Salah satu ketidakseriusan yang sangat merugikan Franchisee adalah tidak mengelola mereknya dengan benar, termasuk di antaranya tidak mengawasi standar kualitas produk dan layanan pada jaringan gerai waralabanya.  

Read More (1008 views)
Blog post
14 Mar'22

Mengenal Strategi Influencer …

Influencer Marketing - Setiap hari kita melihat fenomena seseorang yang melakukan ulasan terhadap makanan & resto, endorse suatu produk, traveling ke banyak obyek wisata, sampai menjadi brand ambassador suatu merek. Fenomena tersebut adalah aktivitas marketing yang diberi nama influencer marketing. Influencer marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Influencer sendiri artinya seseorang yang memiliki "influence" atau pengaruh cukup besar dan memiliki jumlah followers yang banyak di media sosial. Pada awalnya, influencer hanya berasal dari public figure, blogger, ataupun youtuber. Seiring perkembangannnya, "orang biasa" yang memiliki fokus pada suatu bidang dan memiliki banyak followers sudah dapat dikatakan sebagai influencer. Mengutip Glints, yang menjadi kekuatan utama seorang influencer adalah kemampuannya dalam meng-influence. Oleh sebab itu, banyak pemilik merek yang melihat keunggulan tersebut dan mengajak bekerja sama dengan influencer yang ada. Di industri waralaba & kemitraan, pelaku bisnis dapat menggunakan strategi ini untuk memasarkan mereknya. Tak jarang, dari kalangan influencer juga turut meramaikan dengan memiliki bisnisnya ataupun menjadi brand ambassador merek yang bersangkutan. J&T Express, Burger Bross, Geprek Bensu, Ngikan dan sebagainya adalah contoh-contoh bisnis yang terdapat campur tangan influencer di dalamnya. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk dapat memahami strategi influencer marketing. Memperbesar Pasar            Keunggulan ini erat kaitannya dengan jumlah followers dari influencer. Misalnya, Anda menggunakan jasa influencer untuk review makanan. Semakin banyaknya jumlah followers dari influencer akan meningkatkan peluang makanan Anda dilihat oleh calon konsumen. Katakanlah akun media sosial bisnis Anda memiliki 3000 followers. Dengan menggunakan jasa influencer yang memiliki 200 ribu follower, maka bisnis Anda akan mengalami peningkatan visibility. Membangun Kepercayaan Biasanya orang-orang mengikuti influencer di media sosial karena memiliki ketertarikan pada minat yang sama, bahkan ada yang cenderung menjadikannya ‘idola’. Hal ini dapat menjadi keuntungan apabila merek bekerja sama dengan influencer tersebut. Karena, peluang merek mendapat kepercayaan akan meningkat sebab dipromosikan oleh idolanya. Beberapa waktu lalu ada merek bisnis minuman yang bahkan produknya belum rilis, tetapi akun resmi instagramnya sudah memiliki ratusan ribu followers. Hal itu dapat terjadi karena bisnis tersebut adalah milik salah seorang influencer. Fenomena ini menjelaskan kepada kita, bahwa influencer sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan target market. Mencapai Target Audiens Tepat Sasaran Umumnya influencer datang dengan bidang dan ciri khas tersendiri. Hal tersebut bisa dimanfaatkan pemilik bisnis untuk menyesuaikan dengan spesifik audiens seperti apa yang cocok dengan bisnisnya. Misal, seorang pebisnis dalam bidang kuliner kekinian dapat menggunakan jasa influencer yang sering melakukan review makanan kekinian (food blogger). Meningkatkan Brand Awareness Bekerja sama dengan influencer dapat meningkatkan brand awareness produk lebih cepat. Seperti yang sudah disinggung pada poin pertama, jumlah followers di media sosial tersebut dapat menjadi “batu loncatan” agar produk Anda lebih banyak dilihat untuk kemudian dikenali. Biaya yang Lebih Terjangkau Dibandingkan dengan medium iklan melalui TV ataupun papan baliho, menggunakan influencer relatif jauh lebih terjangkau. Biasanya masing-masing influencer mempunyai biaya yang berbeda-beda, mulai dari yang gratis (hanya memberi produk saja) sampai ke influencer “papan atas” dengan biaya yang besar. Hal ini memberi pilihan bagi Anda untuk dapat menyesuaikan influencer yang sesuai dengan budget marketing yang ada. Apakah Anda tertarik menerapkan influencer marketing? Referensi GLINTS REDCOMM TOKOPEDIA __________________________________________________________________________________________ Baca seputar pengembangan bisnis lainya, di sini!

Read More (879 views)
Blog post
27 Des'21

6 Tips Sukses Bisnis Kuliner

Bisnis Kuliner - Pemilik bisnis kuliner selalu dihadapkan dengan persaingan yang ketat. Pasalnya, bisnis kuliner menjamur di mana-mana, dari kuliner dengan resto besar sampai kuliner gerobakan pun semuanya bersaing. Meski secara teknis bisnisnya tidak menjual makanan yang sama, tetapi mereka semua tetap bersaing. Banyaknya bisnis kuliner yang bermunculan bukan tanpa alasan, sebab bisnis kuliner memiliki banyak keunggulan seperti: Makanan merupakan kebutuhan pokok Perputaran uang cepat Dapat dijalankan dengan modal relatif kecil Keuntungan lebih besar dibanding bisnis di bidang lain Bisa dimulai dengan jumlah pegawai yang sedikit Membangun Bisnis Kuliner Lima tahun awal suatu bisnis berdiri adalah masa kritis yang harus dihadapi untuk bisnis dapat bertahan. Berikut beberapa tips yang mungkin dapat Anda terapkan untuk membangun bisnis kuliner yang sukses: 1. Fokus Pada Makanan Bagaimanapun tampilan bisnis atau pelayanannya, yang membuat pembeli menjadi langganan adalah rasa dari makanan. Investasikanlah waktu sebanyak mungkin untuk membuat menu terbaik kuliner Anda. Karena, rasa makanan adalah satu-satunya alasan bisnis kuliner yang berada di dalam gang terpencil tetap memiliki banyak pengunjung dan tetap ramai. 2. “Tes Ombak” Validasi terbaik yang bisa didapatkan adalah berdasarkan penjualan dan feedback dari pembeli. Anda bisa saja mengklaim makanan Anda enak, namun, apakah target market mengatakan demikian? Mulailah dengan menjual ke kenalan dan orang-orang terdekat (circle), kemudian mintalah feedback. Setelah mendapat feedback dari circle Anda, cobalah untuk terus melakukan pengujian kualitas rasa masakan dengan bertanya ke lebih banyak pembeli diluar circle Anda. Ingat, data adalah alat terbaik untuk mengambil keputusan dengan tepat. Semakin banyaknya tester yang menyatakan puas, maka akan semakin tervalidasi dan objektif penilaiannya. 3. Maksimalkan Media Sosial Makanan enak akan menjadi percuma jika tidak banyak yang mengetahui dan belum ada informasi. Peran pemasaran dalam hal ini diperlukan. Anda dapat menggunakan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll untuk memasarkannya. Anda juga dapat menggunakan jasa food blogger untuk mengulas makanan Anda di akun media sosial mereka. Selain itu, tampilan media sosial Anda haruslah terlihat menarik dan sesuai dengan tema yang diusung supaya visitor menjadi lebih betah di laman media sosial Anda. 4. Pemasaran Offline Walaupun dunia telah canggih dengan adanya internet, namun pemasaran offline masih tetap relevan untuk bisnis kuliner. Banyak cara yang dapat dilakukan bisnis kuliner dengan pemasaran offline, seperti mengikuti event tertentu yang open tenant, menyebarkan brosur promosi ke lingkungan sekitar, membagikan makanan gratis di hari tertentu dan banyak cara lainnya. 5. Lokasi yang Tepat Selain kualitas makanan dan pemasaran, hal yang tidak kalah penting adalah lokasi. Jika membicarakan peluang, lokasi bisnis yang terdapat di pertigaan atau perempatan jalan tentu akan memiliki lebih besar peluang untuk didatangi, dibanding dengan yang terletak di dalam gang. Tidak harus di pinggir jalan raya karena kemungkinan biaya sewanya akan tinggi. Paling tidak, pastikan letak bisnis dekat dengan keramaian. Anda dapat mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi usaha di artikel Jenis Lokasi Usaha. 6. Menu Andalan Menu andalan ini nantinya dapat dijadikan fokus apabila ingin melakukan promosi atau beriklan. Seringkali pembeli datang karena menu andalan yang dipasarkan, selanjutnya mereka akan mencoba menu lainnya apabila Anda melakukan teknik cross selling. Lebih lanjut mengenai teknik penjualan di sini.   Related ArticlesSeleksi Lokasi RestoJenis Lokasi UsahaPrinsip Pareto, Fokus Lebih Sedikit dengan Hasil MaksimalCross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan

Read More (735 views)
Blog post
13 Des'21

Cross Selling, Teknik Meningk…

Cross Selling - Menurut HubSpot, cross selling adalah mendorong pembelian yang masih ada kaitannya dengan produk utama. Cross selling dilakukan penjual untuk meningkatkan penjualan. Hal tersebut meliputi menawarkan produk yang masih relevan dengan produk utama yang dibeli, menawarkan diskon pada produk yang berkaitan, dan bundling. Beberapa contoh penerapan cross selling: Pelayan kasir yang menawarkan gula sebagai pelengkap teh atau kopi. Penawaran kentang goreng atau minuman pada saat membeli hamburger di restoran cepat saji. Fitur related product dan bundling product yang berada di toko online untuk meningkatkan pembelian konsumen. Jadi, ketika Anda hendak membeli satu barang ke minimarket dan saat pulang membawa banyak barang yang berbeda, itu berarti Anda terkena cross selling dari pelayan minimarket. Jika dilakukan dengan tepat sasaran, cross selling dapat menjadi teknik yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan. Karena, memberi rekomendasi tambahan produk dibanding menjual dari nol, akan lebih sulit menjual dari nol. Hal yang harus diperhatikan, jika cross selling dilakukan dengan agresif dan terkesan mementingkan diri sendiri, akan berpotensi membuat pelanggan merasa tidak nyaman dan sungkan untuk kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana melakukan cross selling yang efektif agar penjualan meningkat? Berikut tiga cara yang dapat diterapkan ke dalam teknik cross selling Anda: 1. Pertimbangkan Harga Harga adalah elemen penting dalam keputusan pembelian. Memberi harga terbaik pada produk atau paket bundling cross selling akan meningkatkan kemungkinan produk tersebut laku terjual. Pastikan harga yang diterapkan “win-win solution” untuk Anda dan pembeli. 2. Kenali Pembeli Mengenali pembeli adalah mengetahui tujuan dan latar belakang dari pembelian. Dengan mengenali pembeli, dapat memungkinkan Anda untuk memberi saran tambahan produk yang lebih relevan. Anda dapat mengenali pembeli dengan memerhatikan kebiasaannya, mulai dari menu apa yang dipesan, berapa lama waktu yang dihabiskan, kapan biasanya mereka berkunjung, dan sebagainya. 3. Ketahui Kapan Menawarkan Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan cross selling, akan dapat meningkatkan peluang keberhasilan. Pastikan untuk mengetahui waktu yang tepat tersebut sesuai dengan karakteristik bisnis. Sebagai contoh, apabila bisnisnya minimarket, maka Anda dapat menerapkan teknik cross selling ketika pembeli berada di kasir untuk membayar. Contoh lainnya, pramusaji dapat menawarkan tambahan pesanan lainnya pada saat; pengunjung kafe selesai memutuskan menu yang dipilihnya ataupun pada saat proses memilih menu. Setidaknya terdapat dua teknik penjualan selain cross selling, yaitu up selling dan down selling.  Jadi, bagaimana penerapan cross selling di bisnis Anda? Referensi Business2Community Glints HubSpot Investopedia

Read More (1287 views)
Blog post
09 Des'21

8 Alasan Mengapa Lebih Baik B…

Sebelumnya perlu digaris bawahi, waralaba yang dimaksud pada artikel ini adalah waralaba yang “mapan”. Mapan dalam arti waralaba tersebut memang dirancang dengan baik dan terkelola. Waralaba sama seperti bisnis pada umumnya. Berinvestasi di waralaba juga memiliki potensi risiko; beberapa mungkin ada yang berhasil, gagal, dan biasa saja. Seringkali calon franchisee terkecoh dengan waralaba yang memiliki pertumbuhan jumlah gerai yang pesat. Seakan faktor tersebut adalah penentu kesuksesan. Berikut adalah 8 alasan mengapa Anda harus membuka gerai waralaba (yang mapan) berdasarkan pengalaman Michael Seid, seorang konsultan dan lawyer franchise, pengarang buku “Franchise for Dummies”. 1. Menjadi Entrepreneur Menjadi franchisee mungkin tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Salah satu pembeda franchisee dan entrepreneur adalah proses pengambilan keputusan. Seorang entrepreneur memiliki keputusan sepenuhnya di tangan mereka. Tetapi jika Anda adalah seorang franchisee, dalam beberapa kasus, akan ada arahan keputusan dari franchisor. Dengan begini, Anda tidak sepenuhnya menjadi entrepreneur. Namun, ketika gerai Anda berprestasi ataupun gagal, Anda tetap yang akan merasakannya. Oleh karena itu, menjadi franchisee mirip seperti entrepreneur disisi lain. 2. Berinvestasi Pada Sistem yang Telah Terbukti Dalam sistem waralaba yang mapan, biasanya franchisor akan memberikan fasilitas yang cukup dan mumpuni. Franchisor yang mapan akan memberi pelatihan awal dan berkelanjutan yang dirancang dengan baik untuk para franchisee-nya. 3. Merek Waralaba Memiliki Brand Recognition Biasanya merek franchisor akan membuat bisnis anda lebih mudah dikenal dan lebih cepat mendapatkan pelanggan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui “kekuatan merek” sebelum berinvestasi di waralaba, apakah merek itu kuat di wilayah tertentu atau memang merek telah dikenal di seluruh negeri. 4. Kesalahan Potensial “Dibayar” oleh Franchisor Seperti melakukan bisnis pada umumnya, kesalahan tidak bisa dihindari. Franchisor yang telah berpengalaman, umumnya telah menemukan formula untuk menghadapi permasalahan atau kesalahan tersebut. Anda tidak perlu melewati kesalahan yang bisa saja sangat mahal, yang mungkin telah dialami oleh franchisor. 5. Dukungan Awal & Berkelanjutan Franchisor umumnya memiliki tim profesional untuk menyiapkan gerai dan maintenance selanjutnya. Anda akan mendapat bantuan mulai dari pemilihan lokasi sampai ke pengembangan. Sebelum menjadi franchisee, Anda perlu mengetahui ruang lingkup dukungan dari tim sebelum dan sesudah launching. 6. Networking Sesama Franchisee Umumnya, franchisor akan melaksanakan pertemuan, baik itu nasional, regional, ataupun lokal. Disana Anda akan bertemu sesama franchisee, dan menyadari bahwa masing-masing dari franchisee adalah bagian dari sistem. Pertemuan tersebut dapat menjadi ajang sesama franchisee untuk berbagi pengalaman yang sangat berguna dalam meningkatkan kinerja gerai bisnis Anda. 7. Exit Value Bisnis Bisa Lebih Tinggi Salah satu keistimewaan Anda mungkin saja mendapat “exit value” yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri yang serupa. Hal ini tentu saja bergantung pada merk dan kinerja franchisor.   Namun, bila Anda hendak membeli suatu bisnis waralaba yang sudah berjalan, sebelum melakukan take over pastikan untuk memeriksa isi perjanjian waralaba dengan cermat. 8. Tingkat Keberhasilan Pernyataan ini bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Pernyataan ini sering disalah artikan bahwa “berinvestasi di waralaba memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding bisnis mandiri”. Tingkat sukses 2 merek waralaba yang berbeda biasanya berbeda, demikian juga dengan tingkat keberhasilan industri waralaba secara umum. Jadi, apabila Anda adalah seorang investor dan ingin menjadi franchisee, maka hal yang bisa dilakukan adalah mengamati beberapa franchisee dari merk waralaba yang hendak Anda beli, dan tanyakan beberapa pertanyaan berikut: Apakah mereka berhasil? Apakah mereka mendapat return yang wajar? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan, apakah waralaba tersebut memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi atau tidak. (terinspirasi dari tulisan Michael Seid)

Read More (789 views)
Blog post
22 Nov'21

Fokus Pada Lebih Sedikit Hal …

Prinsip Pareto - Dilansir dari Investopedia, prinsip pareto adalah mengenai bagaimana mengidentifikasi aset terbaik yang Anda miliki untuk dapat dipergunakan secara efisien dan menghasilkan output yang maksimal. Tantangan sulit yang harus dihadapi dalam prinsip pareto adalah mengidentifikasi aset yang dimaksud. Oleh karena itu, data-data dan intuisi yang tajam diperlukan dalam analisis pareto. Highlight Hal penting tentang prinsip pareto yang harus diingat: Prinsip pareto menyatakan, 80% output dihasilkan dari 20% Dalam prinsip pareto, Anda memprioritaskan 20% faktor yang akan menghasilkan hasil terbaik. Hal penting dalam prinsip pareto adalah mengidentifikasi “aset” input Prinsip pareto adalah ajaran, bukan hukum matematika yang mutlak. Angka yang dimaksud dalam prinsip ini tidak harus selalu 80% dan 20%, bisa saja mendekati, seperti 90% dan 10%, ataupun 70% dan 30%. Prinsip pareto dapat diadopsi untuk keperluan bisnis. Para eksekutif menggunakan prinsip pareto untuk mempersempit fokus mereka dan mengidentifikasi masalah-masalah yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi di departemen atau perusahaan mereka. Penerapan Prinsip Pareto dalam Bisnis Restoran Dalam implementasi sederhana, prinsip pareto dapat digunakan untuk melakukan penyaringan terhadap menu di sebuah restoran. Dengan mengetahui data masing-masing item menu secara akurat, prinsip pareto dapat dipergunakan untuk memilah menu yang menghasilkan penjualan minim dan menambah beban karena bahan bakunya basi atau busuk. Kemudian, pengelola dapat lebih fokus meningkatkan kualitas dan kuantitas menu yang memiliki penjualan terbaik. Hal tersebut yang dilakukan restoran McDonald’s pada awal berdirinya. McDonald’s mengurangi menu dengan penjualan paling kecil diantara semua menu, sehingga MC Donald’s dapat fokus pada menu dengan penjualan terbaik, yaitu hamburger, kentang goreng, dan minuman.

Read More (845 views)
Blog post
18 Nov'21

5 Tips dalam Menerapkan Refer…

5 Tips Menerapkan Referral Marketing - Setelah kita memahami dan mengetahui pentingnya menerapkan referral marketing. Maka pada artikel ini akan membahas tips bagaimana menerapkan referral marketing. Menerapkan referral marketing mirip seperti berinvestasi, di mana “sistem” akan dibuat dan kemudian menunggu hasil sambil terus mengevaluasi sistem. Dalam referral marketing, yang paling utama adalah menjaga kualitas (barang/jasa dan pelayanan). Walaupun telah memiliki kualitas yang baik, tidak menjamin kinerja program referral marketing akan optimal. Anda mungkin memerlukan tips berikut agar mencapai kinerja referral marketing yang optimal. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 1. Menetapkan Tujuan Sebelum mulai melakukan program referral marketing, pastikan untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Menetapkan tujuan sangat penting dilakukan untuk mengukur kemajuan usaha, supaya mengetahui “before/after” penerapannya. Menetapkan tujuan mempermudah untuk mendeteksi penyebab apabila terjadi perlambatan penjualan. Target bisa berarti banyak hal, misal meningkatkan penjualan sampai 60%, 80%, bahkan 100% atau target lain di luar penjualan. 2. Mintalah Penelitian dari Texas Tech menunjukkan bahwa 83% pelanggan yang puas bersedia memberi “referral” ke orang lain. Namun, hanya 29% yang benar-benar melakukannya, salah satu penyebabnya mungkin karena mereka tidak pernah diminta. Artinya, peluang untuk direferensikan akan lebih besar ketika mereka diminta. Sampaikan bahwa referensi dari mereka akan sangat berharga. 3. Waktu yang Tepat Meminta pelanggan untuk mereferensikan pada saat pertama kali membeli bukanlah ide yang bagus. Biarkan mereka mengenal dan merasakan produk Anda, setelah muncul kenyamanan, barulah waktu yang tepat meminta untuk mereferensikan. Ada baiknya observasi dilakukan untuk mengetahui kriteria pelanggan yang akan bersedia mereferensikan. Sehingga Anda dapat menemukan “pola” yang nantinya bisa dijadikan sistem referral ini. 4. Prioritaskan Pelayanan Secara sederhana, pelanggan akan terdorong mereferensikan apabila Anda memang memiliki pelayanan yang baik secara konsisten. Selain kualitas produk, usahakan untuk memiliki pelayanan diatas rata-rata, sehingga membuat pelanggan mengingat dan lebih mudah untuk mereferensikan Anda. Ingat, pelanggan memerlukan validasi sosial, oleh karena itu jadilah bernilai. 5. Insentif yang Sesuai Pada Program Referral Program referral dapat membuat pelanggan terdorong untuk memikirkan seseorang yang dapat mereka referensikan. Dalam membuat program, insentif yang sesuai akan membuat mereka merasa dihargai dan termotivasi. Apabila insentif yang Anda tawarkan terlalu kecil (tidak sesuai), dapat berpotensi membuat mereka merasa tidak perlu untuk mereferensikan. Beberapa contoh program referral yang dapat diterapkan seperti memberi potongan harga, gratis layanan selama periode tertentu, ataupun memberi kupon yang nantinya dapat ditukar dengan produk. Program referral marketing dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada lokasi dan bidang usaha. *catatan: Referral marketing dapat diterapkan dalam penawaran waralaba/kemitraan. Meminta kesaksian franchisee yang puas dengan layanan atau support dari franchisor, meminta nama-nama teman dan rekan bisnis yang menurut franchisee berminat mengikuti jejaknya menjadi franchisee anda, akan menciptakan peluang mendapatkan franchisee yang keberhasilan lebih tinggi. Referensi Entrepreneur.com Forbes.com Getambassador.com

Read More (874 views)
Blog post
15 Nov'21

Make the Brand Better, Not Ju…

Larry Light, konsultan dan mantan Chief Marketing Officer McDonald’s, menyingkap fakta bahwa ketika ia bergabung dengan McDonald’s di bulan September 2002, harga saham perusahaan ini anjlok dari nilai tertinggi USD 45.31 di bulan Maret 1999 menjadi USD 17.66. Harga saham ini terus merosot hingga sekitar USD 13 pada bulan Maret 2003. McDonald’s saat itu (terutama sekitar tahun 2001 hingga 2002) seperti burung unta yang menyembunyikan wajahnya ke lubang dalam tanah. Evaluasi berkala menunjukkan adanya penurunan kinerja dan kualitas brand experience yang tak kunjung berhasil diperbaiki. Bukannya terus berupaya memperbaiki kinerja dan terus mengukurnya, yang mereka lakukan justru meniadakan evaluasi tersebut. Konon alasannya adalah agar keseluruhan sistem tidak mengalami demoralisasi. Penurunan penjualan di masing-masing gerai disiasati dengan memperbanyak dan melakukan percepatan pembukaan gerai. Bahkan dalam satu periode disebutkan bahwa proyeksi pertumbuhan McDonald’s nyaris ekuivalen dengan pembukaan satu gerai setiap 4 jam! Larry Light dengan gamblang menyebutkan bahwa saat itu tidak ada upaya serius untuk memperbaiki buruknya pengelolaan merek yang sudah besar ini, dan strategi waralaba yang digunakan sangat mengabaikan strategi branding yang baik. Fokus mereka pada promosi, iklan, dan menciptakan traffic atau kerumunan pelanggan melalui harga murah namun mengorbankan faktor kualitas produk. Akibatnya, kinerja setiap gerai mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Branding bukan sekedar kegiatan periklanan maupun pemasaran. Branding merupakan strategi bisnis secara keseluruhan. Gejala McDonald’s ini merupakan “perangkap” yang senantiasa mengintai setiap bisnis waralaba. Banyak merek waralaba yang dibangun menjadi besar melalui pertumbuhan jumlah gerai namun gagal menjaga kinerja masing-masing gerai,  kualitas produk dan pelayanannya. Larry Light menyebut perangkap ini, “making the brand bigger, but not making the brand better”. *Artikel pendek ini terinspirasi oleh buku “Six Rules for Brand Revitalization” dari Larry Light.   Related ArticlesMcDonald's: Bisnis Burger atau Properti?Bagaimana McD Menjadi Bisnis Properti

Read More (847 views)