Proyeksi Keuangan - Proyeksi dan simulasi keuangan dengan skenario “pesimis, moderat, dan pesimis” sangat lumrah kita jumpai dalam suatu penawaran kerjasama waralaba dan kemitraan. Dalam hal ini, sangat lumrah pula kita menjumpai beberapa kesalahan berikut ini: Jumlah SDM Simulasi yang oversimplified biasanya tidak melakukan penyesuaian jumlah SDM, dan hal ini berarti tidak ada penyesuaian “biaya” SDM. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan jumlah SDM untuk skenario optimis biasanya lebih banyak daripada skenario pesimis. Memang ada beberapa bisnis yang tidak membutuhkan penyesuaian jumlah dan biaya SDM untuk skenario optimis dan pesimis, tapi jarang sekali. Jadi diperlukan pemahaman mengenai kapan saatnya, atau pada omset berapa harus menambah pegawai, atau sebaliknya mengurangi pegawai pada skenario pesimis. Misal omset pesimis suatu restoran adalah Rp150 juta sebulan, sedangkan omset optimis adalah Rp450 juta sebulan. Jumlah pegawai untuk omset Rp150 juta ini mungkin 5 orang, sedangkan untuk omset Rp450 juta mungkin dibutuhkan 7 orang agar para pelanggan bisa terlayani dengan baik. Jadi perlu diingat, harus ada penyesuaian jumlah dan biaya SDM sesuai omsetnya. Biaya dan Persentase Terhadap Omset Tidak semua biaya bisa secara proporsional dianggarkan sebagai persentase dari omset. Ada biaya-biaya tetap yang memiliki angka minimum, misal: sewa tempat, iuran lingkungan, biaya listrik, dan biaya SDM minimum sampai dengan omset tertentu. Misal kinerja historis menunjukkan pencapaian omset rata-rata suatu bisnis gerobakan adalah Rp30 juta sebulan dengan biaya sewa Rp1 juta sebulan di depan mini market. Ini berarti persentase nilai sewa ini adalah 3,33% dari omset. Bila kemudian asumsi omset pesimisnya adalah Rp15 juta, tentu biaya sewanya tetap Rp1 juta alias 6,67% dari omset. Sebaliknya, bila omset optimisnya adalah Rp45 juta, maka biaya sewanya menjadi 2,22% dari omset. Karena kemungkinan bervariasinya persentase ini, maka klaim “net profit sekian persen dari omset” adalah sesuatu yang kurang tepat. Mengapa? Karena persentase ini ternyata sangat tergantung pada nilai nominal sales yang dicapai.   Optimisme Semu Saya menyebutnya sebagai optimisme semu, karena skenario omset yang optimis ini bisa jadi ternyata sangat mustahil dicapai. Apa artinya? Skenario omset yang optimis harus memperhitungkan kapasitas gerai outlet Anda. Bila bisnis Anda adalah bisnis kuliner, jumlah kursi akan menentukan batas maksimal omset Anda. Bila Anda memanfaatkan sales channel takeaway/delivery, Anda dapat menambahkannya ke dalam target sales, namun tetap harus dalam batasan angka yang wajar. Angka yang wajar ini terkait dengan kinerja historis. Biasanya saya menggunakan data kinerja historis untuk mendukung asumsi target suatu penawaran kerja sama waralaba/kemitraan. Namun demikian, data kinerja historis ini harus memperhitungkan pula faktor penting yang mungkin mempengaruhi kinerja penjualan, misal: usia outlet. Kinerja historis suatu outlet yang sudah belasan tahun beroperasi dan sudah dikenal luas biasanya tidak bisa digunakan sebagai asumsi target penjualan gerai baru. Jadi perlu dilakukan penyesuaian, misalnya 50% atau 70% dari kinerja outlet yang sudah belasan tahun beroperasi itu. Akan lebih baik lagi bila kinerja historis diambil dari kinerja outlet yang baru berusia 1-2 tahun, di lokasi yang umum - bukan lokasi khusus seperti tempat tujuan wisata.