Klikfranchise

Klikfranchise.com - Tempat


Our Blogs

with tag "tips"
Blog post
18 Apr'23

Wajarkah Target Sales-nya?

Makin maraknya penawaran peluang waralaba dengan figur Influencers dan tokoh-tokoh yang piawai membangun personal branding, seolah menjadi lanjutan fenomena bisnis kue para artis yang mulai hilang keriuhannya.  Lakukan investigasi dan observasi. Jangan percaya begitu saja pada informasi yang dicetak di brosur-brosur penawaran. 1. Misal target sales brosur, per bulan Rp250 juta, dengan rata-rata rupiah transaksi Rp25.000,-. Kita cari target jumlah (frekuensi) transaksinya. 2. Lakukan observasi untuk menemukan fakta lapangan. Kunjungi salah satu outlet yang ciri-ciri lokasi atau wilayahnya mirip lokasi Anda. 3. Bedakan antara "akhir minggu" dengan "hari biasa". Ambil contoh untuk akhir minggu Anda cek hari sabtu, untuk hari biasa Anda cek hari senin. Atau Anda observasi senin dan rabu, lalu ambil rata-ratanya (dibagi dua). Misal hasilnya seperti ini: 4. Kesimpulan: 1800 dibagi 7, rata-rata per hari 257.14 transaksi. 5. Perbedaan rupiah target sales dengan hasil observasi:   *Idealnya memang ada laporan keuangan sehingga tidak perlu observasi. Tapi bila Anda meragukan laporan itu langkah-langkah tersebut adalah salah satu cara verifikasi-nya.

Read More (512 views)
Blog post
16 Jan'23

Too Good To Be True, But Coul…

Pertanyaan apa saja yang harus Anda tanyakan bila menemukan penawaran-penawaran yang terlihat "too good to be true" seperti ini? *Catatan: "too good to be true" can be true, but usually IT IS too good to be true. Berikut ini 3 (tiga) pertanyaan yang paling mendasar: 1. Angka-angka ini diambil dari outlet di lokasi yang mana? 2. Outlet di lokasi itu sudah berjalan berapa tahun? 3. Minta kejelasan lagi mengenai outlet di lokasi tersebut: Berapa omsetnya setahun, Berapa profitnya, Berapa "total modal" yang dibutuhkan kalau buka outlet baru dengan kondisi seperti yang di lokasi itu. Selanjutnya, bila benar ada lokasi yang kinerjanya sesuai dengan klaim tersebut, Anda harus memeriksa karakteristik lokasi yang hendak Anda ajukan, apakah memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi mereka. Cara terbaik untuk meminimalkan risiko kegagalan adalah membuka cabang di lokasi yang memiliki "banyak kemiripan" dengan contoh lokasi yang sudah TERBUKTI sukses. Sedikit tambahan, bila jawaban untuk pertanyaan nomor 2 adalah sudah lebih dari 5 tahun, Anda perlu cek omset outlet mereka yang baru buka 1-2 tahun, jangan-jangan omsetnya beda jauh.  

Read More (865 views)
Blog post
07 Okt'22

Sales Naik Tapi Profit Turun?

Diskon promosi merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan. Namun demikian, bila tidak cermat akan terjadi fenomena “sales naik, profit turun”. Sales & Profit Saat membicarakan target sales, kita harus selalu melengkapinya dengan target profit. Hal tersebut untuk mencegah “salah fokus” dalam upaya meningkatkan profit dengan promosi dan/atau diskon penjualan gede-gedean yang menyebabkan gross profit tergerus signifikan. Contoh (Perhatikan tabel di bawah!): Bila HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah 45% dari kita sebut juga gross sales, atau harga semula atau price list. Tabel kiri menjelaskan jika tidak pernah diskon. Tabel kanan menunjukkan dampak dari diskon 20% all items, apabila net sales tidak ada peningkatan. Gross profit semula yang mencapai Rp5,5 juta turun menjadi Rp4,375 juta Menarik untuk disimak, bahwa nilai gross sales (yaitu volume atau quantity produk terjual) yang sudah meningkat 25% agar nilai net sales bisa tetap sama dengan kondisi net sales ketika tidak ada diskon. Namun peningkatan gross sales ini tidak mampu mengembalikan nominal gross profit yang semula adalah Rp5,5 juta. Peningkatan gross sales bermakna “peningkatan quantity” produk yang terjual, bila tidak ada praktik menaikkan harga semula alias price list sebelum memberikan diskon promosi. Itu sebabnya, HPP di sebelah kiri adalah Rp4.500.000,- dan HPP di sebelah kanan adalah Rp5.625.000,-. Hal ini dikarenakan persentase HPP dihitung dari gross sales (price list) produk yang terjual. Hati-hati dengan perhitungan persentase HPP dari net sales. Ketika ada diskon 20%, maka HPP terhadap net sales ikut meningkat persentasenya. Di tabel sebelah kiri HPP vs net adalah 45%, namun di sebelah kanan HPP vs net menjadi 56,25% Target Sales Ketika Diskon Promosi Kita harus menemukan nilai nominal net sales minimum (saat diskon promosi 20%) yang mampu memberikan kontribusi gross profit senilai Rp5,5 juta. Ternyata nominal net sales yang sudah 120% dari nominal net sales bila tidak ada diskon belum mampu menghasilkan kontribusi gross profit Rp5,5 juta tersebut. Net sales perlu naik menjadi 126% (dari Rp10 juta menjadi Rp12,6 juta), dan secara quantity peningkatan penjualan yang dibutuhkan ternyata 57,5% (dari Rp10 juta menjadi Rp15,75 juta). Strategi Diskon Promosi Strategi diskon promosi biasanya dilakukan untuk menjaga pencapaian penjualan ketika trend pola konsumsi sedang menurun. Kadang peningkatan target quantity penjualan (berdasarkan angka gross sales) bisa dicapai, kadang tidak. Masalah klasik terkait diskon promosi ini adalah berapa omset (net sales) yang dapat diraih kalau tidak ada diskon promosi?, Seberapa anjlok net sales ini? Jadi, strategi diskon promosi kadang memang “harus” dilakukan, dan untuk menjaga nilai gross profit. Selain upaya upselling & cross selling, biasanya dilakukan diskon terbatas pada produk tertentu, atau waktu tertentu. Tujuannya adalah, agar nilai % diskon promosi keseluruhannya menjadi lebih kecil dari 20%.   Baca Juga: Beda Up Selling vs Cross Selling                     Cross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan Semoga informasi tersebut di atas dapat membantu kita untuk menjaga profitabilitas bisnis kita semua.

Read More (1431 views)
Blog post
25 Sep'22

Ciri-Ciri Autopilot Yang Suks…

Istilah “autopilot” telah menjadi trend dalam gimmick untuk menjual waralaba. Akhir-akhir ini cukup banyak pihak yang menawarkan peluang bisnis yang autopilot, dalam pameran franchise maupun social media seperti facebook dan Instagram. Autopilot tersebut diberi makna, “ketika Anda jalan-jalan, bisnis Anda bisa tetap beroperasi.” Apa saja yang perlu Anda ketahui tentang “autopilot” ini?   Franchisor yang Berpengalaman Istilah “autopilot” ini mungkin cocok untuk bisnis yang operated by franchisor (dijalankan oleh franchisor). Dalam hal ini, kualitas autopilot ini sangat bergantung pada jam terbang franchisor. Autopilot ini sebenarnya memiliki konsekuensi yang lumayan tinggi bagi franchisor yang menjadi operator-nya. Akurasi laporan keuangan merupakan salah satu konsekuensi logis dari janji autopilot. Di sisi lain, rendahnya kualitas pengawasan bisa berakibat pada terjadinya kehilangan barang, rendahnya mutu pengelolaan stok barang, hingga perilaku tidak disiplin dari para pegawai. Franchisor yang menjanjikan autopilot harus mampu meminimalkan terjadinya hal-hal tersebut. Saat artikel ini ditulis, ada banyak “fraud” dalam penggunaan istilah autopilot terkait waralaba dan penghasilan pasif. Pihak yang menawarkan “iming-iming” autopilot ternyata tidak memiliki jam terbang, dan masih sedang melewati kurva belajar alias trial and error. Akibatnya pemilik modal yang jadi korban, karena harus menyuntikkan dana tambahan ketika bisnis yang dijanjikan autopilot dengan passive income ini mengalami kerugian.   Masa Kritis 2 Minggu Pertama Seorang pebisnis restoran yang cukup berpengalaman mengatakan bahwa dua minggu pertama setelah pembukaan gerai merupakan masa kritis. “Anything can happen,” ia menjelaskan. Artinya sebaik apapun persiapan opening atau launching itu, seringkali terjadi hal-hal yang tidak terduga, sehingga keputusan yang cepat dan tepat harus segera diambil saat “peristiwa luar biasa” itu terjadi.  Untuk itu, ia akan melakukan pengawasan ketat selama dua minggu pertama. Hal ini ia lakukan dengan hadir secara fisik maupun dengan meminta laporan setiap hari dari manager yang bertugas, atau mengawasi melalui internet CCTV. Ada pula minimarket yang bercerita bahwa pada saat opening yang disertai promo besar-besaran biasanya mereka menyediakan tambahan mesin kasir (POS) dan SDM, serta team leader. Jadi kehadiran atau keterlibatan langsung tim manajemen yang memiliki jam terbang tinggi sangat dibutuhkan dalam 2 minggu pertama setelah opening.   Masa Kritis 1-2 Tahun Ada pendapat bahwa suatu bisnis memerlukan waktu 1-2 tahun untuk menemukan konfigurasi tim kerja yang tepat. Dalam 1-2 tahun pertama ini biasanya terjadi keluar masuk pegawai. Hal ini dapat terjadi karena pegawai yang tidak disiplin, tidak memenuhi target kinerja penilaian, pegawai tersebut digantikan, mengundurkan diri, atau bahkan ia menghilangkan diri alias kabur begitu saja. Saya menyebut ini sebagai masa kritis 1-2 tahun. Dalam konteks autopilot, tentu masa kritis ini harus mendapatkan perhatian lebih. Sistem yang baik tidak bisa berjalan tanpa SDM yang tepat.   Turbulence Masa kritis tersebut di atas bisa berulang kembali, jika konfigurasi tim yang sudah baik ini berubah karena dibajak pihak lain atau leader dan/atau salah satu dari mereka mengundurkan diri. Situasinya mungkin menjadi lebih sulit ketika anggota baru susah masuk ke dalam ‘lingkungan’ tim lama yang suah solid itu. Kondisi masa sulit susulan ini diibaratkan turbulence dalam suatu penerbangan, di mana pilot biasanya harus mengambil alih kendali dari autopilot kembali ke tangan pilot. Kalau dibiarkan autopilot, maka risiko atau bahaya menjadi sangat besar.   Kebocoran Ada pula pendapat bahwa perusahaan yang besar, yang seolah sudah autopilot melalui kepemimpinan para profesional, seringkali banyak kebocoran dan korupsi di dalamnya. Hal kebocoran tersebut bisa saja benar, kalau sistem autopilot itu tidak memiliki prosedur kontrol dan budaya melaksanakan audit yang ketat. Sistem autopilot yang baik biasanya memiliki titik-titik crosscheck yang cermat, ketat dan komprehensif, untuk mengantisipasi hal-hal negatif ini. Pesawat dengan autopilot dilengkapi dengan dashboard yang harus diperhatikan oleh pilot, agar intervensi pilot bisa segera dilakukan ketika dashboard terlihat tidak wajar. Jadi, jangan sembarangan menawarkan autopilot dan jangan sembarangan percaya lalu membeli penawaran autopilot.

Read More (1618 views)
Blog post
02 Jun'22

Mau Beli Franchise? Tanyakan …

Langsung saja, berikut ini 8 pertanyaan cerdas yang wajib anda tanyakan kepada franchisor sebelum membeli franchise. Sudah punya berapa outlet? Butuh modal berapa rupiah? Dengan modal segitu, omset rata-rata sebulan berapa rupiah? Dengan omset segitu, “profit bersih” nya bisa berapa rupiah? Yang bisa mencapai omset dan profit segitu lokasinya di mana? Ada berapa lokasi yang omsetnya bisa segitu? Butuh waktu berapa bulan untuk outlet-outlet itu mencapai omset segitu? Apakah ada franchisee yang boleh saya ajak bicara? (minta contact-nya) Kalkulator Franchise Untuk bisa menggunakan kalkulator franchise, sebenarnya diperlukan informasi tambahan sebagai berikut: Berapa nilai rupiah HPP atau COGS atau harga modal untuk omset segitu? Berapa nilai rupiah biaya operasional-nya bila tidak termasuk depresiasi? Berapa nilai rupiah rata-rata setiap transaksinya? Bila angka-angka itu valid, seharusnya Omset – HPP – Biaya Operasional = Profit Bersih. Masukkan angka-angka itu ke dalam kolom form kalkulator franchise di klikfranchise.com, maka Anda dapat memeriksa kewajaran klaim omsetnya, demikian juga dengan balik modalnya. STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba) Bisnis yang ditawarkan sebagai franchise di wilayah Indonesia, wajib punya STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba), dan wajib memberikan waktu sekitar 2 minggu kepada calon franchisee-nya untuk mempelajari prospektus penawaran waralaba. Bila tidak memiliki STPW, biasanya mereka istilah legal yang digunakan untuk perjanjian kerja sama adalah kemitraan. Suka Keseharian Bisnisnya Satu hal lagi yang penting, bila franchise-nya bukan investor pasif, maka Anda harus suka keseharian bisnisnya. Hobi saja tidak cukup, tapi Anda harus menyukai keseharian bisnisnya, jangan sampai bosan, apalagi stress. Keseharian bisnis ini contohnya adalah menyangkut mengelola pegawai dan menangani keluhan pelanggan.

Read More (983 views)
Blog post
30 Mei'22

Cara Daftar HKI Merek Secara …

Cara Daftar HKI - Salah satu syarat yang harus dipenuhi apabila hendak mewaralabakan bisnis adalah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang terdaftar atau minimal sedang dalam proses. Untuk itu dalam artikel kali ini, Klikfranchise akan membagikan kepada Anda bagaimana melakukan pendaftaran HKI merek secara mandiri. Langkah-Langkah Mendaftar HKI Registrasi akun dengan menekan tombol “Daftar” di laman https://merek.dgip.go.id/. Pada tahap ini, Anda dapat memilih Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah pada pilihan “Jenis Pemohon”, kemudian sisanya dapat Anda isi sesuai data diri dan usaha Anda. “Aktivasi Akun” lewat email yang Anda daftarkan. Setelah “Login”, Anda akan sampai pada dashboard DGIP. Anda dapat memilih “Permohonan Online” yang dilanjutkan dengan memilih menu “Tambah” untuk melakukan permohonan online. Akan muncul pop-up yang menanyakan apakah Anda sudah memiliki Kode Biling atau belum. Anda dapat memilih “Belum” untuk mengisi kelas apa saja yang Anda daftarkan dan mengisi form di laman https://simpaki.dgip.go.id/. Apabila Anda telah selesai mengisi form tersebut, Anda akan mendapatkan Invoice Pembayaran yang harus langsung Anda bayar untuk melanjutkan pendaftaran ke tahap berikutnya. Sebagai informasi, jumlah biaya yang Anda bayarkan nantinya akan bergantung pada berapa banyak Jumlah Kelas yang Anda pilih. Dashboard Permohonan Online HKI Merek Tahap terakhir adalah tahap pengisian seperti pada gambar di atas. General: Berisi mengenai data pembayaran yang akan otomatis terisi jika kode billing Anda terverifikasi sudah melakukan pembayaran. Pemohon: Formulir pendaftaran yang berisi data diri & usaha. Kuasa: Berkaitan dengan pendaftaran melalui pihak lain (Notaris, Konsultan Merek, Dll). Anda bisa melewati tahap ini jika memang tidak memakai jasa pihak ketiga. Prioritas: Ini adalah kolom opsional, Anda bisa mengisinya bila pernah mendaftar merek ke luar negeri. Jika tidak, Anda bisa langsung lewati tahap ini. Merek: Berisi data mengenai merek Anda dan logo. Kelas: Berisi kelas yang Anda ajukan. Informasi mengenai kelas bisa dilihat di http://skm.dgip.go.id/. Lampiran: Berisi form yang meminta Anda untuk melampirkan dokumen pendukung dan ttd. Resume: Merupakan ringkasan dari semua tahap yang Anda isi sebelumnya. Submit Permohonan Online. Selain secara mandiri, anda juga bisa meminta bantuan pihak ketiga (third party) untuk melakukan pendaftaran HKI merek. Secara umum, kelemahan jika Anda memakai pihak ketiga adalah biaya yang lebih besar dari seharusnya, namun kelebihannya adalah Anda mendapatkan saran dari profesional supaya pengajuan Anda lancar dan tidak ditolak. Sekian, semoga berhasil dengan pengajuan merek Anda! 

Read More (968 views)
Blog post
19 Mei'22

8 Cara Kreatif Naikkan Omset

Ada 8 cara menaikkan omset, beberapa mungkin belum Anda ketahui. Meski diharapkan akan meningkatkan profit, sesungguhnya fokus dari 8 cara ini adalah meningkatkan omset, bukan profit. Kita akan bahas terpisah mengenai cara meningkatkan profit.   Tambah Belanjaan Tambah belanjaan sering disebut sebagai upselling. Ketika kita hendak membeli paket hemat di KFC, kita ditawari tambahan sup atau perkedel, atau es krim, bahkan CD musik bukan? Ketika kita selesai dengan makanan utama, pelayan restoran menawarkan hidangan pencuci mulut seperti pudding atau es krim. Di apotek pun bisa terjadi upaya upselling. Ketika Anda membeli obat flu misalnya, pegawai apotek mungkin menawarkan Vitamin C kepada Anda. Pelayan yang pasif, atau pedoman operasional yang tidak mengupayakan upselling, mencerminkan kurangnya perhatian dalam upaya meningkatkan omset. Tambah Produk Bila produk yang dimiliki sangat terbatas, maka perlu dipikirkan untuk menambah produk baru. Gerai-gerai kopi tampaknya memahami kebutuhan menambah produk ini. Starbucks, Janji Jiwa, Fore dan beberapa merek lainnya menambahkan produk makanan untuk meningkatkan omset gerai mereka. Tambah Outlet Selain menambah produk, menambah jumlah outet atau buka cabang adalah salah satu cara yang paling sering dijumpai dalam upaya meningkatkan omset. Dalam hal ini waralaba dan kemitraan merupakan cara untuk menambah outlet ketika menghadapi kendala keterbatasan modal. Penambahan outlet berpotensi meningkatkan omset lebih besar daripada penambahan produk, karena potensi omset 1 gerai memang cukup tinggi (bila tidak ada kekeliruan dalam memilih lokasi dan mempersiapkan SDM nya). Tambah outlet zaman now tentu saja bisa diterapkan dengan penambahan channel penjualan di dunia maya: affiliate, reseller, dropshipper, atau membuka toko sendiri di marketplace dan direct selling di website korporat.   Tambah Volume Konsumsi Apakah Anda ingat iklan Yakult yang mendorong konsumsi 2x sehari? Atau Kratingdaeng yang mengkampanyekan bahwa produknya mana dikonsumsi hingga 3x sehari? Iklan dari dua produk tersebut merupakan contoh upaya meningkatkan volume konsumsi agar penjualannya bisa meningkat. Orang-orang yang semula hanya mengkonsumsi 1x sehari bisa tergerak ingin meningkatkan konsumsinya. Manfaat Tambahan Contoh mengenai manfaat tambahan ini adalah produk abon. Ketika muncul trend bahwa produk abon digunakan untuk topping produk bakery, maka omset produsen abon meningkat, bahkan konon harga jual abon pun meningkat seiring bertambahnya permintaan akibat manfaat barunya sebagai topping produk bakery. Pilihan Packaging Yang satu ini mungkin agak kontroversial. Konon penggunaan packaging tube plastik dapat mendorong penjualan lebih tinggi karena konsumen tidak dapat menggunakan isi produk di dalam tube plastik itu sampai habis, bila dibandingkan dengan kemasan tube aluminium. Memang ada sekelompok konsumen yang penasaran dan memotong tube plastik untuk bisa memanfaatkan sisa produk di dalam tube tersebut sampai tuntas habis. Tapi tampaknya kelompok ini tidak terlalu banyak jumlahnya. Diskon Penjualan Yang terakhir ini bisa berhasil, tapi bisa juga gagal dalam upaya menaikkan omset. Ketika menerapkan program diskon penjualan, dibutuhkan jumlah transaksi dan/atau upaya upselling supaya target penjualan dari program diskon penjualan ini memberikan hasil yang maksimal, tidak mencederai kinerja penjualan sebelumnya, juga tidak mencederai margin keuntungan yang biasa diperoleh tanpa program promosi yang menawarkan diskon penjualan. Diskon penjualan dapat bermakna program bundling (paket hemat, PDP atau pembelian dengan pembelian), diskon untuk pembelian dalam jumlah besar (bulk purchasing), dan sebagainya. Tambah Frekuensi Kunjungan Belanja Meningkatkan frekuensi kunjungan pelanggan biasanya terkait dengan program promosi diskon penjualan. Misal Anda diberi voucher senilai 20% dari nilai belanja Anda, untuk kunjungan berikutnya, tapi berlaku sampai akhir bulan saja. Artinya Anda harus berkunjung lagi sebelum akhir bulan. Sekalipun semula Anda tidak berencana berkunjung lagi.

Read More (854 views)
Blog post
28 Apr'22

5 Langkah Mudah Menjadi Franc…

Ingin punya bisnis tapi belum memiliki pengalaman? Anda bisa memilih franchise sebagai alternatifnya. Model bisnis ini cocok bagi Anda yang belum memiliki pengalaman karena dapat memperkecil tingkat risiko. Mengapa tingkat risikonya lebih kecil? Karena model bisnis franchise memungkinkan Anda menjalankan bisnis milik pihak lain yang sudah berhasil berikut dengan merek dan sistemnya. Selain itu, franchisor (pemilik merek) juga akan memberi support dan pelatihan kepada franchisee (pihak lain yang menggunakan merek franchisor). Jadi, jika anda adalah seorang: Yang ingin berbisnis namun belum mempunyai pengalaman Karyawan yang ingin memiliki pendapatan sampingan Calon pensiunan yang ingin memiliki pendapatan tambahan di masa pensiun Maka Anda wajib mengikuti terus artikel kali ini untuk mengetahui bagaimana caranya menjadi franchisee. #1 Cari Peluang Franchise/Kemitraan yang Anda Minati Salah satu miskonsepsi terbesar tentang industri franchise adalah banyak yang mengira industri ini hanya berisi makanan & minuman. Nyatanya hal tersebut keliru karena di Direktori Franchise, Anda bisa menemukan 2000+ penawaran franchise & kemitraan dari berbagai sektor, mulai dari makanan & minuman, retail, laundry, beauty & healthy, ekspedisi, bahkan sampai pendidikan. Usahakan memilih bisnis franchise yang memang Anda minati dan ketahui basic knowledge-nya. Sehingga anda tidak terlalu buntu dan memiliki landscape besarnya yang akan membantu beradaptasi lebih cepat. Anda bisa mendapatkan informasi mengenai penawaran franchise & kemitraan dari berbagai platform di internet, salah satunya Klikfranchise. Di sini anda akan menemukan beragam penawaran franchise/kemitraan beserta data hak kekayaan intelektual, biaya, sampai kontak personnya, lho! #2 Screening Franchise Sesuai Budget Setelah menemukan beberapa franchise yang anda minati dari segi produk dan bidang usahanya. Maka tahap berikutnya, yaitu sesuaikan dengan budget Anda. Sebagai calon franchisee, yang harus anda persiapkan tidak hanya modal untuk membeli franchise, tetapi ada beberapa komponen biaya lainnya. Antara lain: Biaya sewa lokasi di tempat yang sudah ditetapkan Modal operasional, paling tidak harus mencukupi untuk membiayai 3 bulan operasional bisnis Dana darurat bisnis paling tidak untuk meng-cover tiga kali biaya operasional #3 Screening Proyeksi Keuangan Franchisor Langkah ketiga ini menjadi isu yang penting karena berkaitan dengan masa depan gerai franchise Anda. Seringkali ditemui penawaran kemitraan yang berusaha mengecilkan biaya awal supaya bisa menjangkau calon konsumennya. Selain itu, proyeksi penjualannya juga sering ditemui tidak masuk akal dan cenderung sulit dicapai. Lebih parahnya lagi, ada bisnis yang baru beroperasi beberapa bulan namun langsung menawarkan peluang usaha kemitraan kepada pihak lain. Alangkah baiknya anda memeriksa kembali proyeksi keuangan franchisor tersebut. Anda bisa membaca artikel sebelumnya untuk mengetahui cara sederhana kroscek proyeksi keuangan franchisor ataupun menggunakan fitur Kalkulator Franchise untuk mendapat gambaran proyeksi keuangan dengan lebih obyektif. Dari sana Anda dapat memutuskan apakah proyeksi keuangan tersebut wajar & achievable atau justru menyesatkan. #4 Pelajari Perjanjian Waralaba Tahap ini cukup penting sebelum Anda mulai “mengeksekusi” bisnis franchise. Pastikan sebelum menandatangani perjanjian waralaba, anda telah membaca dan mempelajarinya dengan seksama, sehingga di masa yang akan datang tidak ada miss pada detail yang penting. Mengapa perjanjian waralaba penting? Karena perjanjian waralaba sendiri berisi tentang kesepakatan hak & kewajiban kedua belah pihak, yaitu franchisor dan franchisee dalam masa waktu tertentu. Oleh karena itu, kedua belah pihak wajib memiliki pemahaman yang sama supaya tidak ada konflik nantinya. Mengutip Majalah Franchise, hal-hal yang termuat dalam perjanjian waralaba antara lain: Jangka waktu Teritorial Hak & kewajiban Hak kekayaan intelektual Biaya-biaya Dukungan dari franchisor Batasan-batasan (Do & Don’t) Exit strategy #5 Jalankan Bisnis & Evaluasi Setelah semua sudah dilakukan, saatnya  menunggu franchisor melakukan set-up di gerai Anda dan bisnis siap beroperasi! Saatnya Anda mulai berbisnis, jalankan SOP dari franchisor dan jangan menyimpang. Penting untuk melakukan evaluasi berkala supaya bisnis franchise anda mengalam progres positif. Anda juga dapat menerapkan prinsip pareto dan filosofi kaizen supaya perkembangan yang berkelanjutan bisa terjadi di bisnis franchise anda. Walaupun nantinya bukan anda yang terjun langsung ke bisnis, tetapi tak ada salahnya mengikuti pelatihan yang diberikan oleh franchisor. Hal tersebut dimaksudkan supaya Anda mengetahui sampai ke hal detail di gerai Anda. Bukankah keputusan yang baik datang dari informasi yang tidak setengah-setengah? Perlu menjadi perhatian, menjalankan bisnis franchise tidak semata-mata menghilangkan keseluruhan risiko. Itu karena bisnis franchise hanya akan meminimalkan risiko yang ada, tidak menghilangkan. Semoga bermanfaat dan sukses di gerai pertama Anda!

Read More (798 views)
Blog post
18 Apr'22

Apa itu Master Franchise?

Pernahkah anda terpikir bagaimana perusahaan sebesar dan sejauh McDonald’s, KFC, 7-Eleven, Burger King, dan Starbucks yang berasal dari AS mengelola keseluruhan gerainya? Padahal letaknya sangat jauh & jumlahnya amat banyak. Well, salah satu jawabannya adalah master franchise. “Master franchise adalah pihak yang menjadi perpanjangan tangan franchisor dalam menawarkan dan/atau menjalankan merek franchise di wilayah tertentu.” Anda dapat menganggap master franchise adalah “franchisor-nya” wilayah tertentu atau mini franchisor. Hal itu karena, franchisor memberikan hak & kewajiban “khusus” kepada master franchise untuk menjadi cloning-an mereka. Hak & Kewajiban Master Franchise Master franchise berkewajiban menjalankan system & operational franchise seperti franchisor, meliputi recruiting franchisee, memberi support & pelatihan, mengkoordinir kegiatan marketing, dan sebagainya. Sebagai gantinya, master franchise berhak mendapatkan biaya-biaya yang seharusnya franchisee berikan ke franchisor seperti franchise fee, management fee/royalty fee/marketing fee, bahkan merchandising fee. Selain franchisor diuntungkan karena sudah punya cloning-an dirinya di tempat yang sulit dijangkau dan sudah pasti meringankan pekerjaannya, franchisor juga berhak mendapat master franchise fee sesuai kesepakatan. Karena kewajiban master franchise yang berat dan hampir sama dengan franchisor, maka franchisor harus benar-benar jeli dan teliti dalam memilih siapa master franchise-nya. Karena berbeda dengan memilih franchisee yang masih diperkenankan untuk pebisnis pemula, memilih master franchise haruslah mereka yang sudah berpengelaman dan kompeten. Jangan sampai franchisor memilih pihak yang hanya mengejar keuntungan saja dan tidak kompeten, hal tersebut tentu membahayakan perkembangan merek. Master Franchise vs Area Deevelopment Dalam pelaksanaannya, franchisor dapat memilih pengembangan merek di lokasi yang jauh dengan master franchise ataupun strategi area development. Pembeda utama diantara keduanya adalah subfranchising dan biaya. Subfranchising diketahui adalah hak yang dimiliki master franchise untuk dapat menawarkan peluang franchise kepada masyarakat umum. Jika tidak menawarkan peluang franchise kepada masyarakat umum dapat kita sebut strategi area development. Sementara itu, area development adalah strategi pengembangan franchise di mana adanya perjanjian kerja sama untuk memiliki lebih dari satu unit franchise (multi-unit franchise) antara franchisor dengan mitra di suatu wilayah (area developer). Hal ini adalah yang dilakukan oleh PT Rekso Nasional Food sebagai pemegang jaringan McDonald’s di Indonesia. Selain persoalan hak subfranchising, perbedaan master franchise dan area development juga terletak pada struktur biaya. Area development diketahui memiliki struktur biaya yang lebih “ramping” karena laba usaha hanya dibagi ke dua pihak, yaitu franchisor dan area developer. Sementara master franchise dibagi ke tiga pihak, yaitu franchisor, master franchise, dan subfranchisee (franchisee dari master franchise). Mengapa Perlu Strategi Master Franchise dan Area development? Seperti yang sudah disinggung sebelumnya jarak yang jauh, jumlah gerai, budaya yang tentunya memengaruhi “taste”, regulasi, bahasa, mata uang, sampai zona waktu turut menjadi pertimbangan penting dalam memilih strategi ini. Selain itu, bagaimanapun juga pengembangan franchise harus diperkuat dengan pemahaman “lokal” yang kuat, sehingga merek dapat beradaptasi dengan baik. Seperti contoh McDonald’s Indonesia berinovasi dengan membuat menu nasi dan fried chicken yang sebelumnya tidak ada di McDonald’s asalnya. Referensi Finansialku Franchise Info Majalah Franchise

Read More (1632 views)
Blog post
07 Apr'22

5 Manfaat Quality Control

Dalam bahasa Indonesia Quality Control (QC) dikenal dengan sebutan kendali mutu. QC merupakan gabungan antara dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu quality dan control. Dikutip dari Investopedia, Quality Control adalah suatu cara yang dilakukan supaya kualitas produk dapat dipertahankan atau ditingkatkan. QC sering digunakan dalam dunia bisnis. Umumnya, perusahaan atau usaha yang sudah “mapan” cenderung menerapkan QC dengan standar yang lebih tinggi dan ketat terhadap produknya. Dalam dunia otomotif, QC perlu dilakukan untuk menjaga kualitas spare part yang dihasilkan agar berfungsi sesuai dengan kualitas yang ditentukan dan presisi. Dalam bisnis resto, penerapan QC untuk memastikan rasa makanan tetap sama atau tidak menurun. Sementara untuk franchise, QC sering disandingkan dengan SOP yang ditetapkan franchisor supaya pelayanan dan kualitas produk dari masing-masing gerai yang satu dengan yang lainnya sama. Manfaat Menerapkan QC QC menjadi sedemikian penting untuk menjaga kualitas produk. Pertanyaan selanjutnya adalah manfaat apa saja yang didapatkan apabila menerapkan QC dengan baik? Dilansir dari Hkqcc, beberapa manfaat menerapkan QC antara lain: Kepuasan Konsumen Seperti pepatah mengatakan, “pembeli adalah raja.” Apabila usaha Anda menerapkan QC dengan baik, maka konsumen akan diuntungkan dan hal tersebut dapat membuat mereka lebih loyal. Meningkatkan Nama Baik Konsumen yang selalu puas dengan produk atau pelayanan akan memiliki penilaian yang positif terhadap usaha Anda. Lambat laun, nama baik Anda akan meningkat dan itu adalah hal yang sangat berharga. Dalam ilmu akuntansi, nama baik masuk menjadi intangible asset usaha. Menurunkan Biaya Produksi Penerapan QC juga dapat menurunkan biaya produksi, karena Anda yang mendefinisikan sendiri kualitas seperti apa yang hendak dijadikan kualitas produk. Karena proses produksi yang sudah terstandarisasi akan menghasilkan biaya yang lebih efisien dan minim pemborosan. Pemanfaatan Sumber Daya Karena telah melakukan pengujian dan standarisasi mutu. Maka, dengan menerapkan QC dapat memastikan bahwa alokasi sumber daya yang digunakan telah maksimal. Mempertemukan dengan Konsumen yang Tepat QC dapat membuat konsumen yang memiliki “standar” tertentu bertemu dengan produk Anda. Konsumen yang seperti ini biasanya akan berpotensi menjadi konsumen yang loyal.

Read More (790 views)
Blog post
24 Mar'22

4 Hal Mendasar dalam Influenc…

Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, influencer marketing adalah salah satu strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Di dalam influencer sendiri, terbagi dari nano sampai mega influencer, bergantung pada seberapa besar pengaruh dan jumlah followers-nya. Artikel ini akan fokus membahas 4 hal mendasar dalam menerapkan strategi tersebut agar efektif. 1. Influencer yang Sesuai Dengan Target Market Mengutip Econsultancy, 73% menyatakan bahwa bagian tersulit dari influencer marketing adalah memilih influencer yang tepat. Memilih influencer sama dengan memilih representasi dari produk Anda, yang akan menjadi perpanjangan tangan. Anda dapat melakukan riset sebelumnya, pastikan untuk memilih influencer yang sesuai dengan target market. Tidak mungkin melakukan promosi makanan cepat saji yang cenderung tinggi kalori menggunakan influencer yang fokus pada healthy life style. Jangan hanya berfokus pada jumlah followers, fokus juga pada relevansi influencer dengan bidang bisnis Anda. Bahkan, 72% menyatakan relevansi lebih penting dibanding jangkauan. 2. Jangan Anggap Remeh Micro Influencer Banyak yang berpikir bekerja sama dengan influencer yang memiliki “nama besar” adalah jalan terbaik. Hal tersebut tidak selamanya benar, terkadang bekerja sama dengan micro influencer juga dapat memberi dampak yang lebih signifikan. Penelitian yang dilakukan MYSOCIAL, terhadap 1 juta influencer menunjukan, engagement rate influencer dengan followers <100 ribu lebih besar hingga lima kali dibanding influencer dengan >100 ribu followers. Dari hasil yang demikian, Anda bisa mengefektifkan strategi dengan memilih beberapa influencer yang potensial dibanding hanya satu influencer besar saja. 3. Konsultasi Dengan Influencer Langsung Melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan influencer yang bersangkutan bukanlah pilihan yang buruk. Karena bagaimanapun juga, yang lebih mengetahui karakteristik followers-nya dengan lebih detail adalah influencer itu sendiri. Dengan melakukan konsultasi dan mendiskusikan ide akan berpeluang menghasilkan “jalan ketiga” yang mungkin jauh lebih efektif. 4. Evaluasi Hasil Evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana progres yang telah dicapai. Dengan melakukan evaluasi dapat memperjelas tipe influencer mana yang cocok untuk bisnis Anda kedepannya. Mengutip GLINTS, evaluasi dapat dilakukan dengan memantau pertambahan followers, kenaikan visitor (pengunjung) dalam website ataupun langsung, penjualan, serta engagement dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Referensi ECONSULTANCY GLINTS MYSOCIAL

Read More (746 views)
Blog post
14 Mar'22

Mengenal Strategi Influencer …

Influencer Marketing - Setiap hari kita melihat fenomena seseorang yang melakukan ulasan terhadap makanan & resto, endorse suatu produk, traveling ke banyak obyek wisata, sampai menjadi brand ambassador suatu merek. Fenomena tersebut adalah aktivitas marketing yang diberi nama influencer marketing. Influencer marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan jasa influencer. Influencer sendiri artinya seseorang yang memiliki "influence" atau pengaruh cukup besar dan memiliki jumlah followers yang banyak di media sosial. Pada awalnya, influencer hanya berasal dari public figure, blogger, ataupun youtuber. Seiring perkembangannnya, "orang biasa" yang memiliki fokus pada suatu bidang dan memiliki banyak followers sudah dapat dikatakan sebagai influencer. Mengutip Glints, yang menjadi kekuatan utama seorang influencer adalah kemampuannya dalam meng-influence. Oleh sebab itu, banyak pemilik merek yang melihat keunggulan tersebut dan mengajak bekerja sama dengan influencer yang ada. Di industri waralaba & kemitraan, pelaku bisnis dapat menggunakan strategi ini untuk memasarkan mereknya. Tak jarang, dari kalangan influencer juga turut meramaikan dengan memiliki bisnisnya ataupun menjadi brand ambassador merek yang bersangkutan. J&T Express, Burger Bross, Geprek Bensu, Ngikan dan sebagainya adalah contoh-contoh bisnis yang terdapat campur tangan influencer di dalamnya. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk dapat memahami strategi influencer marketing. Memperbesar Pasar            Keunggulan ini erat kaitannya dengan jumlah followers dari influencer. Misalnya, Anda menggunakan jasa influencer untuk review makanan. Semakin banyaknya jumlah followers dari influencer akan meningkatkan peluang makanan Anda dilihat oleh calon konsumen. Katakanlah akun media sosial bisnis Anda memiliki 3000 followers. Dengan menggunakan jasa influencer yang memiliki 200 ribu follower, maka bisnis Anda akan mengalami peningkatan visibility. Membangun Kepercayaan Biasanya orang-orang mengikuti influencer di media sosial karena memiliki ketertarikan pada minat yang sama, bahkan ada yang cenderung menjadikannya ‘idola’. Hal ini dapat menjadi keuntungan apabila merek bekerja sama dengan influencer tersebut. Karena, peluang merek mendapat kepercayaan akan meningkat sebab dipromosikan oleh idolanya. Beberapa waktu lalu ada merek bisnis minuman yang bahkan produknya belum rilis, tetapi akun resmi instagramnya sudah memiliki ratusan ribu followers. Hal itu dapat terjadi karena bisnis tersebut adalah milik salah seorang influencer. Fenomena ini menjelaskan kepada kita, bahwa influencer sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan target market. Mencapai Target Audiens Tepat Sasaran Umumnya influencer datang dengan bidang dan ciri khas tersendiri. Hal tersebut bisa dimanfaatkan pemilik bisnis untuk menyesuaikan dengan spesifik audiens seperti apa yang cocok dengan bisnisnya. Misal, seorang pebisnis dalam bidang kuliner kekinian dapat menggunakan jasa influencer yang sering melakukan review makanan kekinian (food blogger). Meningkatkan Brand Awareness Bekerja sama dengan influencer dapat meningkatkan brand awareness produk lebih cepat. Seperti yang sudah disinggung pada poin pertama, jumlah followers di media sosial tersebut dapat menjadi “batu loncatan” agar produk Anda lebih banyak dilihat untuk kemudian dikenali. Biaya yang Lebih Terjangkau Dibandingkan dengan medium iklan melalui TV ataupun papan baliho, menggunakan influencer relatif jauh lebih terjangkau. Biasanya masing-masing influencer mempunyai biaya yang berbeda-beda, mulai dari yang gratis (hanya memberi produk saja) sampai ke influencer “papan atas” dengan biaya yang besar. Hal ini memberi pilihan bagi Anda untuk dapat menyesuaikan influencer yang sesuai dengan budget marketing yang ada. Apakah Anda tertarik menerapkan influencer marketing? Referensi GLINTS REDCOMM TOKOPEDIA __________________________________________________________________________________________ Baca seputar pengembangan bisnis lainya, di sini!

Read More (879 views)
Blog post
07 Mar'22

4 Sumber Passive Income di Pa…

Pernah membayangkan Anda tidak melakukan apapun namun mendapat pemasukan? Pemasukan itulah yang dinamakan passive income! Setidaknya, terdapat dua jenis income dilihat dari bagaimana memperolehnya, yaitu active income dan passive income. Active income mengacu pada pendapatan yang diterima karena Anda terlibat aktif di suatu aktivitas sehingga mendapat balas jasa. Gaji, keuntungan usaha, komisi penjualan, dan tip adalah contoh paling mudah untuk menggambarkan active income. Sementara itu, passive income adalah pendapatan yang bisa Anda dapatkan tanpa harus terlibat aktif seperti active income. Passive income biasanya berasal dari investasi yang menghasilkan return. Passive income ini erat kaitannya dengan financial freedom, karena memiliki passive income adalah tahapan yang harus dilewati sebelum mencapai financial freedom. Pada artikel kali ini akan fokus membahas instrumen yang bisa memberikan passive income dari pasar keuangan. Apa saja itu? Simak selengkapnya! Deposito Deposito memungkinkan kita untuk menyimpan uang di bank dan menahannya sampai jangka waktu yang telah ditentukan. Dari hasil kita menahan uang tersebutlah bank dapat “memutarkannya” dengan memberi pinjaman kepada pihak lain yang membutuhkan. Kita sebagai seseorang yang menahan uang di bank tersebut akan mendapat balas jasa berupa bunga deposito yang besarannya berbeda-beda di tiap bank. Berinvestasi di deposito tergolong aman, karena kemungkinan gagal bayarnya kecil sekali. Mungkin hanya jika bank tempat kita menaruh deposito bangkrut, barulah deposito kita benar-benar akan hilang. Sebenarnya tidak benar-benar hilang, karena ada peranan LPS. Risiko tersebut juga dapat diminimalisir dengan menaruh uang untuk deposito hanya di bank-bank “raksasa” yang kemungkinan bangkrutnya kecil. Pada saat artikel ini ditulis, besaran suku bunga deposito bank di Indonesia berada di rentang 1 – 8%  per tahun. Reksadana Reksadana merupakan “wadah” yang dibuat oleh manajer investasi untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen keuangan, seperti deposito, saham, dll. Manajer investasi yang mengelola dana masyarakat tadi adalah badan hukum dan wajib mendaftarkan dirinya ke OJK agar dapat diawasi.  Profil risiko di reksadana juga beragam, mulai dari yang kecil hingga besar dan bergantung pada jenis reksadana apa yang dipilih. Jadi, risiko tersebut dapat dipilih sesuai jenisnya: Reksadana Pasar Uang (RDPU), Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), Reksadana Saham, dan Reksadana Campuran. Return yang bisa didapatkan dari reksadana ini beragam namun lebih tinggi sedikit dibanding deposito. Obligasi Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan penerbit obligasi, baik pemerintah ataupun swasta kepada pemegang obligasi. Obligasi dianggap salah satu instrumen investasi yang cocok untuk jangka menengah (1 – 5 tahun), karena memang jangka waktu obligasi tidak ada yang pendek (<1 tahun), meski ada pula jenis obligasi yang dapat diperdagangkan (tradable). Perlu diketahui, ada return fixed rate dan floating with floor di dalam obligasi. Fixed rate berarti kupon bulanan yang dijanjikan tetap, seperti ORI021. Sementara floating with floor berarti kupon yang dibagikan berubah-ubah namun tetap memiliki batas bawah. Contoh obligasi yang kuponnya floating with floor ini adalah SBR010. Berinvestasi di obligasi terbilang low risk (risiko rendah), terlebih jika obligasi yang dibeli adalah obligasi pemerintah. Keuntungan yang didapat dari obligasi bernama kupon, yang dapat diterima tiap bulan oleh pemegang obligasi. Kisaran return obligasi, yaitu setara atau di atas deposito, bergantung jenis obligasi yang dipilih. Saham Diantara semua instrumen investasi yang disebutkan di artikel ini, saham adalah salah satu yang paling high risk high return. Saham merupakan surat yang menjadi bukti kepemilikan suatu perusahaan. Di Indonesia, saham diperjual-belikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh para investor. Perusahaan yang dapat memperjual-belikan sahamnya di BEI adalah perusahaan terbuka (go-public). Sebagai informasi, perusahaan terbuka ditandai dengan tulisan “Tbk.” dibelakang namanya. Keuntungan saham dapat dibagi menjadi dua, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain didapat dari selisih harga beli dengan harga jual. Sementara itu, dividen adalah keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada investor yang umumnya dibagikan setahun 0 – 2 kali dengan besaran 0 – 10%. Terima kasih telah menyimak sampai akhir! Terdapat satu kutipan yang sangat cocok untuk menggambarkan betapa pentingnya memiliki passive income. “If you don’t find a way to make money while you sleep, you will work until die.” – Warren Buffet, Oracle of Omaha

Read More (801 views)
Blog post
24 Feb'22

Cara Mudah Memeriksa Proyeksi…

Seringkali kita melihat penawaran waralaba dan kemitraan dengan proyeksi keuangan yang “mencengangkan”. Misalnya bisnis kuliner yang menjanjikan balik modal hanya dalam waktu 3 bulan saja. Tentu kita yang masih awam dengan bisnisnya bertanya-tanya, apakah proyeksi tersebut nyata? Lalu, bagaimana memastikan proyeksi keuangan tersebut benar atau salah? Dengan kata lain, kita ingin membuktikan realistis atau tidaknya proyeksi keuangan tersebut. Salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah dengan mendiskusikan langsung ke ahlinya, yaitu konsultan bisnis dan waralaba. Namun tidak semua orang memiliki “akses” kesana karena beberapa alasan, bisa jadi karena dana, koneksi, dsb. Oleh karena itu, Klikfranchise merangkum beberapa hal berikut yang bisa Anda gunakan setidaknya sebagai “filter awal” dalam menyeleksi bisnis yang Anda minati. # Periksa “Definisi” Balik Modalnya Biasanya kekeliruan ini terjadi pada “franchisor” yang menghitung balik modal menggunakan akumulasi nilai pendapatan, bukan dari akumulasi laba usaha. Dalam pengelolaan bisnis, menghitung balik modal bukanlah dari pendapatan karena masih “bruto” (belum menghitung pengeluaran operasional, dll). Perhitungan balik modal yang tepat adalah menggunakan akumulasi laba usaha. Sehingga operasional bisnis tidak akan terganggu jika uang modal awalnya diambil. Umumnya franchisor yang keliru ini adalah pelaku bisnis kemitraan dan paket usaha, bukan franchisor sungguhan. # Gunakan Logika Sederhana Cari tahu lebih jauh bisnsinya, kapan pertama kali bisnis tersebut berdiri. Jika proyeksi keuangan mereka menjanjikan balik modal dalam waktu 3 bulan, logika sederhana akan bilang: “Bisnis tersebut sudah berdiri sekian tahun. Jika 3 bulan sudah bisa balik modal, pasti mereka bisa buka cabang sendiri dan boleh jadi cabangnya sudah banyak.” Bila nyatanya bisnis tersebut sudah lama dan jumlah cabangnya belum banyak (jika dibandingkan balik modal yang hanya 3 bulan). Maka, Anda sudah tahu harus percaya atau meragukannya. # Apakah Penjualannya Masuk Akal? Lebih lanjut, Anda bisa melihat berapa jumlah penjualan yang ditargetkan. Berdasarkan pengalaman penulis, ada kemitraan yang mematok jumlah penjualan masih “tidak masuk akal”. Sebut saja bisnisnya adalah minuman Thai Tea kekinian. Ia membuat proyeksi penjualan 5000 cup dalam waktu satu bulan, yang berarti sekitar 166-167 cup dalam satu hari. Walaupun terdengar masih masuk akal, tetapi penulis memilih untuk meragukannya. Penulis tidak yakin penjualan sebanyak itu akan bisa achieve. Boleh jadi memang achieve, tetapi mungkin tidak di semua gerai. Potensi achieve-nya kecil, hanya di gerai-gerai unggulan saja. # Bagaimana Jika Informasi Balik Modal Tidak Diinformasikan? Kebalikannya, jika informasi berapa lama balik modalnya justru tidak diinformasikan. Anda dapat menggunakan Kalkulator Franchise. Fitur inovatif ini dibuat oleh Klikfranchise untuk mempermudah Anda dan calon franchisee lainnya untuk mengetahui kapan waktu balik modal suatu penawaran bisnis. Keempat cara diatas akan berguna untuk filter awal Anda bila mendapat informasi mengenai waralaba dan kemitraan tertentu. Ada satu ungkapan yang cocok dalam bahasan kali ini:  “If it too good to be true, it is too good to be true” Meski ungkapan tersebut tidak selamanya benar. Tetapi, jika memang sesuatu itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, maka waktunya anda menjadi konservatif!

Read More (902 views)
Blog post
21 Feb'22

4 Hal yang Sebaiknya Jangan D…

Dalam artikel kali ini, akan membahas hal-hal yang seharusnya jangan disepelekan pebisnis. Sebagai pebisnis, ada banyak aspek yang akan Anda hadapi, mulai dari keuangan, operasional, sampai ke pemasaran. Aspek-aspek tersebut datang bersamaan dengan pilihannya masing-masing. Berikut 4 hal yang sebaiknya jangan anda sepelekan: Menggabungkan Rekening Bisnis dengan Rekening Pribadi Kesalahan ini biasanya dilakukan oleh bisnis yang masih berskala mikro. Menggabungkan rekening bisnis dengan rekening pribadi dapat membuat kerancuan dalam perhitungan keuangan dan berpotensi terpakainya uang bisnis. Jika dilakukan terus-menerus hal ini akan berdampak negatif pada pengembangan bisnis. Tidak Memiliki Rencana Keuangan yang Jelas Perencanaan keuangan sering menjadi sesuatu yang luput dari perhatian pebisnis, apalagi pebisnis yang masih kecil dan pemula. Dengan alasan “bisnisnya masih kecil, untungnya belum seberapa”, perencanaan keuangan dirasa belum perlu dilakukan. Padahal perencanaan keuangan yang tidak jelas bisa menyebabkan progres tidak terukur dan arah bisnisnya menjadi tidak jelas. Perencanaan keuangan penting dilakukan karena memiliki banyak manfaat, seperti: Mengantisipasi kemungkinan terburuk Memiliki tolok-ukur kemajuan bisnis Mengetahui alokasi investasi yang sesuai Membantu meraih tujuan jangka panjang Menghabiskan Laba Usaha Memang benar laba usaha adalah bagian keuntungan bisnis yang berhak digunakan oleh pemilik. Namun, akan menjadi kekeliruan apabila seluruh keuntungannya dihabiskan yang dapat membuat pertumbuhan bisnis tidak maksimal. Sebagai pemilik bisnis, Anda mungkin harus menerapkan “delaying gratification” dan fokus untuk meningkatkan alokasi laba usaha yang lebih besar. Dengan begitu, potensi bisnis Anda scale-up akan menjadi lebih besar. Pelayanan yang Kurang Baik Disadari atau tidak, salah satu alasan kuat yang membuat customer melakukan repeat order adalah kualitas pelayanan. Misalnya pada bisnis online, Anda mungkin sering melihat customer yang memberi komentar terkait pelayanan si penjual, mulai dari kecepatan balas pesan, cara membalas, cara memperlakukan customer, dll. Dimana hal tersebut memberi pengaruh yang signifikan pada customer experience. Jika tidak di maintenance dengan baik, besar potensinya pembeli Anda tidak menjadi pelanggan. Hal tersebut juga belaku di bisnis konvensional, bagaimana pelayanan resto dan kecepatan penyajiaannya akan memberi andil besar terhadap kepuasan pengunjung. Jika quality of product is the king, maka service is the queen.

Read More (736 views)
Blog post
17 Feb'22

Gerai Flagship Boleh Rugi?

Gerai Flagship adalah gerai yang lokasinya sangat strategis, banyak dilihat orang. Lokasi seperti apa yang biasanya menjadi gerai flagship? Di lokasi non-tradisional: bandara, stasiun kereta api, lokasi wisata Ruko di jalan raya utama, atau jalan protokol Di dalam mall, di titik lokasi yang strategis Selain high traffic, gerai flagship seyogyanya juga memiliki kriteria high visibility alias mudah terlihat oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Gerai flagship harus mempertimbangkan pula profil target pasarnya. Traffic tinggi sebaiknya mayoritas merupakan target pasarnya. Gerai flagship, karena faktor lokasi dan ukuran yang sengaja dibikin lebih luas dari biasanya, kadang terlalu mahal harga sewanya, sehingga sulit mencapai skala ekonomis yang dibutuhkan, bahkan tak jarang franchisor merugi. Namun karena lokasinya yang strategis, franchisor menganggap keterlambatan pengembalian modal (bahkan kerugian) ini sebagai biaya promosi. Bila sudah mempertimbangkan profil traffic dan profil target pasar alias profil pelanggan, meski labanya tidak terlalu tinggi, seyogyanya gerai flagship ini tidak sampai terlihat sangat sepi. Omset Lumayan Tinggi, Laba Rendah? Salah satu ujian mental terkait gerai flagship ini adalah omset sudah lumayan tinggi tapi labanya tergolong rendah. Misal untuk omset yang sama di gerai biasa labanya bisa 20%, di gerai flagship hanya 10%. Hal ini dikarenakan selisih biaya sewa (sekali lagi, ini faktor lokasi dan ukuran luas gerai) dan service charge atau iuran lingkungan, mungkin juga faktor biaya utilities-nya. Faktor lain mungkin biaya pajak reklame, karena signage Anda relatif lebih besar dari biasanya di gerai flagship ini. “Capeknya sama, hasilnya dikit,” mungkin pernyataan seperti ini yang jadi keluhan di dalam hati Anda. Bila hal ini Anda alami, ingat bahwa ada unsur “promosi gratis” yang Anda nikmati dalam hal gerai flagship Anda. Bahkan bila Anda mengalami kerugian (tipis) di situ, anggap saja sebagai biaya promosi. Lokasi, Ukuran, Penampilan Selain unsur lokasi dan ukuran luas, kadang gerai flagship juga memiliki penampilan yang lebih wah. Maklum, tujuannya adalah pencitraan alias membangun image yang positif. Bila Anda belum punya gerai flagship, dan bila arus kas bisnis Anda memungkinkan, silakan dipertimbangkan untuk membangun gerai flagship ini. tambahan, gerai flagship sebaiknya merupakan gerai milik franchisor, bukan franchisee.

Read More (785 views)
Blog post
14 Feb'22

6 Langkah Financial Freedom V…

Financial freedom atau kebebasan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang tidak perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan pernyataan tersebut kriteria kondisi financial freedom akan tercapai apabila: Memiliki aset yang menghasilkan pendapatan yang memadai (sesuai dengan yang ditargetkan) Pendapatan dari aset tersebut cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus menurunkan standar hidup Tentu saja, tidak perlu bekerja lagi That’s sounds too good to be true, kan? Percayalah hal tersebut masih mungkin terjadi. Walaupun, dalam mewujudkannya perlu kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan. Anthony Robbins adalah salah seorang motivator terbaik kelas dunia dan penulis buku best seller, “membocorkan” langkah-langkah untuk mencapainya.  Berikut beberapa langkah yang dibocorkan Anthony Robbins untuk mencapai financial freedom: 1. Buat Target (Nominal) Bagaimana Anda mendefinisikan financial freedom? Untuk mencapai tujuan, tentu kita harus dapat mendefinisikan tujuan dengan jelas. Dengan mengetahui berapa jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai financial freedom akan mempermudah Anda dalam menyusun strategi, investasi, dan berbagai persiapan lainnya. Detailkan target sampai Anda tahu berapa nominal uang yang dibutuhkan dalam sebulan. Dalam penetapan target, perlu dipertimbangkan biaya hidup, pengeluaran tak terduga, dan lain lain supaya tidak ada kekhawatiran yang diakibatkan oleh faktor finansial. 2. Hentikan Ketakutan Tentang Uang Ketakutan pada aspek finansial dapat memengaruhi siapapun, tak terkecuali orang yang sudah memiliki banyak uang. Meski terlahir dan besar dari keluarga yang tidak kaya (tidak berkecukupan), jangan pernah berpikir Anda tidak akan mencapai financial freedom. Hilangkan pembatas tersebut, serta bebaskan diri dari rasa takut dan kekhawatiran. Sebaliknya, ganti semua itu dengan afirmasi positif seperti: Saya kompeten, sehingga keberlimpahan akan menghampiri Saya pandai memanfaatkan peluang, jadi saya akan cepat sampai pada tahap ini Dan sebagainya 3. Cermati Keuangan Posisi ini adalah tahap dimana Anda melakukan tracking dan mengidentifikasi keuangan Anda. Apakah ada hutang, cicilan, atau kewajiban lainnya? Jika memang iya, Anda perlu membuat strategi untuk menutup “lubang-lubang” tersebut. Anthony Robbins menyarankan tentang pengalokasian bonus untuk dijadikan solusi, serta menggugunakan metode bola salju untuk menyelesaikannya. Maksudnya bola salju adalah mulai melunasi semua kewajiban dimulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. 4. Buat Strategi Jangka Pendek Setelah selesai dengan ember bocor, kini saatnya untuk membangun benteng perlindungan Anda. Mulailah menyiapkan dana darurat dan mulailah menabung. Menurutnya, memiliki dana darurat sampai 6x biaya hidup bulanan bagus untuk kesehatan mental. Hal itu karena, Anda akan lebih berani dalam “meng-iyakan” tantangan-tantangan baru. Terlebih lagi, jika Anda terbuka terhadap tantangan-tantangan baru akan mendatangkan peluang lebih banyak lagi. 5. Buat Mesin Langkah ini adalah salah satu langkah terpenting yang harus dilakukan, dan boleh jadi menjadi proses paling berat diantara yang lain. Mulai buatlah “mesin” Anda. Mulailah berinvestasi di high income skills dan buat uang Anda bekerja lewat berbagai instrumen investasi. Selain itu, Anthony Robbins menyarankan untuk membagi keuangan kita ke dalam tiga pos, yaitu: Pos Keamanan: Pos ini berbicara tentang pengeluaran yang Anda tidak bisa hidup jika tidak ada, seperti semua tagihan dan biaya hidup. Jangan lupa untuk menyertakan juga dana darurat pada pos ini. Pos Risiko/Pertumbuhan: Disini adalah tempat uang Anda akan tumbuh, alias investasi. Beberapa pengalokasiannya, seperti portfolio investasi Anda yang memiliki risiko moderat – tinggi. Pos Impian: Pos ini ditujukan untuk bersenang-senang. 6. Evaluasi dan Buat Perubahan Perhatikan proses-prosesnya, lakukan evaluasi rutin dan ganti alokasi investasi bila return yang diberikan jauh lebih kecil dibanding yang ditargetkan. Usahakan Anda menerapkannya dengan cermat dan konsisten agar dapat tercapai. Enam langkah di atas adalah langkah-langkah yang diberikan oleh seorang yang berpengaruh di dunia, Anthony Robbins. Hal yang harus dipahami adalah definisi jumlah uang yang harus dimiliki untuk mencapai financial freedom tiap orang sudah pasti berbeda, bergantung pada tujuan, nilai-nilai, dan standar hidup. Dengan mengetahui standar financial freedom versi Anda akan membuatnya lebih berpotensi terwujud. Walau terdengar kurang praktikal, setidaknya beberapa langkah tersebut akan berguna menjadi referensi untuk menentukan “grand design”  anda menuju financial freedom. Terima kasih telah membaca! Refferensi Santoso, Edwin. 15 Tips Jitu Mencapai Financial Freedom. (2016). Jakarta: Grasindo. Tony Robbins

Read More (911 views)
Blog post
28 Jan'22

Metode SMART dalam Mencapai T…

Metode SMART - SMART merupakan akronim dari Spesific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Timebound. Metode ini adalah metode penetapan tujuan yang sering digunakan untuk keperluan personal ataupun organisasional bisnis. Dikutip dari Akseleran, metode ini sudah muncul sejak tahun 1981 dan ditemukan oleh George T. Doran. Berikut penjelasan tiap elemen metode SMART yang akan kita detailkan dari contoh ini: Meningkatkan Laba bersih menjadi 240 Juta tahun ini! 1. Specific (Spesifik) Spesifik dalam konteks di sini adalah tujuan harus didefinisikan dengan jelas dan spesifik. Dalam tujuan pada contoh ini, elemen spesifik diwakili oleh kata  “laba bersih”. 2. Measurable (Terukur) Terukur pada poin ini dimaksudkan untuk membuat perhitungan “jarak” Anda saat ini dengan tujuan. Dalam contoh tujuan yang dipakai pada tulisan ini, measurable terletak di kata “240 Juta”. 3. Achievable (Dapat Tercapai) Target yang dibuat sebaiknya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, supaya semangat dan konsistensi Anda tetap terjaga. Lebih baik progres yang tidak terlalu besar namun konsisten, dibanding progres besar namun tidak berkelanjutan. Pada tulisan ini achievable diwakili kata “meningkatkan”. Jika diimplementasikan dalam contoh ini, maka Anda harus melihat kondisi sebelumnya. Apabila laba sebelumnya 200 Juta per tahun, dan target tahun ini menjadi 240 Juta per tahun. Maka, pebisnis tersebut hanya perlu meningkatkan laba bersih sekitar 20% tahun ini. Hal ini masih masuk akal untuk bisnis dalam level ini, karena target tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kecil pula. 4. Relevant (Sesuai) Pada poin ini relevant memiliki arti sebaiknya target tersebut sejalan dengan visi-misi. Sehingga, pertanyaan “Layak, kah target tersebut diperjuangkan?”  akan dapat terjawab. Poin relevant pada contoh tujuan ini diwakili oleh keseluruhan kata, yang berarti poin relevant menekankan pada makna kalimat. Penjelasan relevant pada poin: Apakah memiliki laba bersih 240 Juta layak diperjuangkan? Anda dapat menjawabnya dengan yakin, misalnya, “Dengan laba bersih 240 Juta per tahun, maka saya dapat mengalokasikan 40 Juta lebihnya untuk membuka cabang baru. Yang mana cabang baru tersebut dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Hal tersebut sesuai dengan mimpi saya.” 5. Timebound (Batas Waktu) Batas waktu merupakan batas toleransi waktu yang diberikan pada tiap langkah dalam mencapai tujuan. Batas waktu akan membuat Anda lebih fokus dan semakin terpacu untuk mengejar tujuan. Jika mengacu pada contoh ini, maka batas waktunya terletak pada kata  “tahun ini”.  Sebagai perencana yang baik, kita tinggal mendefinisikan batas waktu tersebut pada tanggal dan bulan apa di tahun tersebut. Lebih baik lagi, jika Anda memberi batas waktu secara berkala di tiap bulannya agar evaluasi berkelanjutan dapat dilakukan. HighlightAgar dapat mempermudah Anda dalam memahami metode SMART ini, berikut penyederhanaannya. S: Laba bersih M: 240 JutaA: masuk akal, meningkat 20% (bukan 200%)R: Diwakili oleh seluruh kata atau dalam kalimat tersebut dan merupakan jawaban dari pertanyaan: “apakah tujuan tersebut sudah sejalan dengan visi-misi?”T: Tahun ini!

Read More (1022 views)
Blog post
24 Jan'22

Franchisor, Antisipasi Risiko…

Waralaba (setidaknya skema mirip waralaba) sering dijadikan alternatif untuk pebisnis melakukan ekspansi. Skema waraba dipilih karena memungkinkan ekspansi dilakukan tanpa perlu modal yang besar. Hal ini karena seluruh biaya dan permodalan dalam suatu gerai ditanggung franchisee sepenuhnya. Selain itu, franchisee juga harus membayar biaya-biaya waralaba (franchise fees). Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi risiko bagi franchisor. Berikut kami ‘sajikan’ risiko-risiko yang perlu Anda antisipasi bila hendak menjadi franchisor: 1. Risiko Bisnis Ditiru Risiko ini adalah risiko yang paling sering terjadi, di mana bisnis franchisor seringkali di copy. Entah itu oleh franchisee atau bukan, keterbukaan informasi yang disampaikan franchisor pada saat merekrut mitra untuk menjadikannya franchisee, merupakan salah satu potensi empuk bagi orang-orang (bahkan oleh yang bukan calon franchisee) untuk dapat memahami model bisnis Anda. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, biasanya informasi terkait bisnis yang difranchise-kan diberikan bertahap, jadi tidak langsung diberikan terinci. Bila sudah menjadi franchisee, biasanya ada klausul non-kompetisi dalam Perjanjian Waralaba. 2. Risiko Pencurian Kekayaan Intelektual Level lebih ekstrim dari risiko nomor 1 dan mungkin jarang terjadi, ada risiko pencurian kekayaan intelektual. Katakanlah Anda menemukan sebuah resep baru masakan, yaitu Ayam Goreng Bawang Bombai. Dari bisnis tersebut Anda memiliki beberapa franchisee yang kemudian salah satu darinya membuat bisnis lain tanpa sepengetahuan Anda, menggunakan nama kerabatnya. Tips dari Utomo Njoto: Untuk mengantisipasi hal ini, selain melalui klausul non-kompetisi, biasanya ada klausul kerahasiaan dalam Perjanjian Waralaba. Tentu saja aturan hitam di atas putih ini harus disertai pula dengan strategi seleksi yang cermat. Tidak semua kandidat harus Anda setujui permohonannya untuk menjadi franchisee. 3. Risiko Menurunnya Mutu Mutu tidak hanya berbicara mengenai kualitas produk, tetapi juga pelayanan. Mutu merupakan sesuatu yang penting dan menjadi identitas suatu merek waralaba. Misalnya konsumen memiliki pengalaman buruk di suatu gerai, maka konsumen tersebut akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menyamaratakan kualitas di semua gerai merek tersebut. Biasanya jumlah franchisee yang terlalu banyak dan franchisor yang ‘belum siap’ adalah salah satu penyebab risiko ini terjadi. Tips dari Utomo Njoto: Menurunnya mutu tidak dapat dihindari, tapi bisa dikelola. Anda harus mengelola menurunnya mutu ini jangan melewati batas yang bisa diterima oleh pelanggan. Kaum perfeksionis mungkin sulit menerima kenyataan ini, tapi percaya atau tidak, faktanya memang demikian. Itu sebabnya ada pebisnis yang tidak mau buka cabang, tidak mau melakukan franchising. Itu sah-sah saja, karena franchising adalah pilihan. 4. Risiko Menjadi Bisnis “Samudera Berdarah” Risiko ini terjadi ketika merek Anda berhasil melakukan ekspansi di bidang yang sepi pemainnya. Kehadiran banyaknya gerai bisnis Anda akan memancing minat para pemain lainnya. Anda bersama para franchisee telah menunjukkan ukuran kue atau volume pasar yang semula kurang dilirik pemain lain. Bidang bisnis Anda tiba-tiba menjadi sangat kompetitif dan beragam persaingan (harga dan non-harga) terjadi. Secara ekonomi, apabila bisnis telah masuk zona “red ocean” (samudera berdarah) dengan tingkat persaingan yang semakin ketat, maka laba normal akan semakin sulit didapat. Contoh yang sedang trending saat ini adalah bisnis binatu, alias Laundry Kiloan, Laundry Coin, dan sejenisnya. Tips dari Utomo Njoto: Menjadi yang red ocean juga sulit dihindari karena di luar kendali. Peran brand pun kadang sulit untuk diandalkan ketika nilai manfaatnya kurang terlihat. Hanya ada dua pilihan: (1) menjadi yang pertama atau tercepat dalam melakukan ekspansi dengan tetap memperhatikan tingkat laba yang dibutuhkan walaupun menjadi tipis, atau (2) melakukan inovasi yang memiliki nilai manfaat nyata yang relevan sehingga tidak terjebak di dalam samudera yang berdarah-darah itu. Contoh-contoh di atas adalah beberapa risiko yang harus diantisipasi ketika bisnis Anda menjadi waralaba dengan baik. Para franchisor yang hanya berniat menjual unit bisnis (kios, gerobak) sebanyak-banyaknya tanpa peduli pada konsistensi mutu, citra kualitas, kinerja, dan survival para franchisee-nya mungkin tidak peduli juga dengan risiko-risiko tersebut.

Read More (725 views)
Blog post
13 Jan'22

Continous Improvement, Agar K…

Continuous Improvement - Pemilik bisnis tentunya tidak ingin bisnisnya stuck atau tidak bertumbuh. Bisnis harus mengalami pertumbuhan kinerja agar terus dapat bersaing dan relevan di pasar. Terdapat filososfi bisnis dari Jepang dikenal dengan nama “Kaizen” atau yang biasa disebut dengan continuous improvement. Apa itu Continuous Improvement? Continuous improvement adalah usaha atau upaya berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan, maupun proses. Continuous improvement bertujuan untuk mendapatkan bentuk terbaik dari improvement yang dihasilkan. Konsep continuous improvement mencakup segala hal dalam perbaikan terus-menerus, mulai dari internal sampai ke eksternal. Meliputi, lingkungan kerja, prosedur, karyawan, membuat pekerjaan jadi lebih memuaskan, quality control, dan sebagainya. Continous improvement banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan, membuatnya menghasilkan kualitas yang unggul dan menghasilkan kepuasan pelanggan. Dikutip dari Investopedia, salah satu contoh perusahaan yang menerapkannya adalah Toyota. Toyota menjadikan konsep Kaizen sebagai nilai inti perusahaan dan menamakannya “Kaizen Blitz” untuk mengidentifikasi solusi. Langkah-langkah Menerapkan Continuous Improvement Setidaknya terdapat beberapa langkah untuk menarapkan Continuous Improvement, antara lain: 1. Tetapkan Masalah Terdapat banyak masalah yang ada pada bisnis, namun Anda harus menentukan masalah mana yang paling urgent ditangani dan fokuslah pada masalah tersebut. 2. Pengumpulan Data Kumpulkan data terkait masalah yang telah ditentukan. Data tersebut bisa didapat melalui banyak sumber, seperti data perusahaan, sampai kepada “bisik-bisik” antar karyawan. 3. Mencari Akar Masalah Mencari akar masalah dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan memilih memanggil orang-orang tepat yang berkaitan dengan masalah. 4. Cari Alternatif Perbaikan Setelah menemukan akar masalah, segera rumuskan alternatif perbaikan. Usahakan untuk memiliki lebih dari satu pilihan perbaikan. 5. Menjalankan Solusi Terapkan solusi yang telah didapat sesuai dengan masalah yang ada. Kemudian, evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang siginifikan atau tidak. 6. Analisa Hasil Pengukuran Lakukan analisa pada solusi yang telah diterapkan. Apabila belum berhasil silahkan kembali ke tahap tiga untuk mulai menemukan akar masalah yang ada dan sesuai. 7. Standarisasi Buat standarisasi berupa SOP apabila masalahnya dapat terselesaikan dengan baik. 8. Mencari Masalah Baru (Continuous Improvement) Jika langkah 1 sampai 7 berhasil, Anda dapat mulai mencari masalah baru untuk diselesaikan. Ini adalah esensi dari continuous improvement. Referensi Investopedia Sentral Sistem

Read More (705 views)
Blog post
10 Jan'22

5 Tips Memperkecil Biaya Pada…

Tips Memperkecil Biaya - Setidaknya terdapat dua cara untuk meningkatkan laba bersih (keuntungan) pada bisnis restoran. Bisa dilakukan dengan memperbesar pendapatan ataupun memperkecil biaya. Meningkatkan pendapatan berarti meningkatkan penjualan ataupun menaikan harga jual pada menu. Namun, hal tersebut akan sulit dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang memang penjualan sedang merosot. Oleh sebab itu, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah memperkecil biaya. Memperkecil biaya dapat dilakukan dengan memperkecil biaya operasional ataupun memperkecil biaya bahan baku menu. Dengan memperkecil biaya, apabila pendapatan restorannya tetap, maka keuntungannya akan meningkat. Cara ini telah banyak dilakukan oleh pelaku usaha di bidang restoran. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memperkecil biaya pada bisnis restoran: 1. Pencatatan Inventaris Bahan Baku Hal ini penting untuk dilakukan supaya bahan baku yang dipesan sudah sesuai dan secukupnya. Sehingga bahan baku yang basi dapat diminimalisasi dan membuat biaya bahan baku mengecil. Lakukanlah pencatatan secara rutin dan akurat supaya ketika ada keputusan penting terkait bahan baku harus dilakukan, datanya sudah lengkap. 2. Lacak Harga Bahan Baku Melacak harga bahan baku menu penting dilakukan untuk mengetahui menu mana yang sebaiknya dilakukan pengurangan stok dan menu mana yang seharusnya ditingkatkan. Dengan melacak harga bahan baku, dapat membuat Anda siap dengan alternatif pengganti ketika salah satu harga bahan baku melonjak naik. Anda juga dapat meningkatkan stok ketika harga bahan baku tersebut turun. 3. Networking Sesama Pebisnis Kuliner Networking yang dilakukan ke sesama pebisnis kuliner dapat bermanfaat sebagai media sharing informasi masing-masing pebisnis. Dengan demikian, peluang untuk menemukan vendor kebutuhan restoran yang lebih terjangkau akan lebih besar. 4. Usahakan Buat Sendiri Jika memungkinkan untuk membuat sendiri bahan baku yang dibutuhkan, Anda dapat melakukannya. Pastikan sebelum melakukannya, Anda sudah memperhitungkan biaya waktu, biaya tenaga kerja, dan biaya kesempatan. 5. Ubah Menu Evaluasi menu yang ada di restoran untuk disesuaikan dengan minat pembeli. Kemudian, berfokuslah pada menu dengan penjualan terbaik dan memiliki bahan baku yang mayoritas sama. Anda juga bisa menghapus atau mengurangi menu yang menghasilkan penjualan paling minim dengan bahan baku paling cepat membusuk. Ingat Prinsip Pareto! Referensi Restaurant Engine Upserve

Read More (825 views)
Blog post
03 Jan'22

Sering Diabaikan: Dana Darura…

Dana Darurat - Tidak hanya penting dalam pengelolaan keuangan pribadi, dana darurat juga diperlukan dalam pengelolaan bisnis. Seperti penggunaan dana darurat pribadi, memiliki dana darurat pada bisnis akan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman. Sesuai namanya, dana darurat mengacu pada uang atau aset simpanan yang dapat digunakan pada saat terjadinya hal-hal di luar kendali terkait kesulitan keuangan. Aset yang menjadi dana darurat haruslah likuid agar dapat digunakan kapanpun. Selain dari kontribusi pemilik, dana darurat untuk bisnis dapat berasal dari pengelolaan arus kas (laba bisnis yang ditahan). Hal tersebut mengartikan, setiap laba dari bisnis tersebut tidak dihabiskan untuk ekspansi, dibagikan ke investor, ataupun insentif karyawan, tetapi disimpan dalam kas perusahaan sebagai dana darurat. Banyak pendapat mengenai jumlah yang ideal dana darurat untuk bisnis. Biasanya angka ini berada pada rentang 3x sampai 12x biaya operasional bulanan. Semua bergantung pada Anda, setidaknya memiliki dana darurat minimal 3x biaya operasional bulanan bisnis akan lebih baik daripada tidak memilikinya. Berkshire Hathaway dari Warren Buffet diketahui memiliki dan menjaga ketersediaan dana tunai sebesar 20 miliar dolar. Ini jumlah yang sangat besar. "Buffett says that it’s this sort of Buffett family thinking that explains why Berkshire Hathaway customarily has at least $20 billion on hand".   Berikut alasan mengapa dana darurat untuk bisnis itu penting: 1. Pertahanan Saat Kondisi Darurat Kondisi ke depan adalah ketidakpastian, namun melakukan persiapan adalah kewajiban. Apakah akan terjadi krisis, muncul pesaing baru yang tangguh, atau hal lainnya. Apapun bisa terjadi. Asuransi memang dapat digunakan untuk keamanan, namun tidak semua kondisi dapat di cover oleh asuransi. Memiliki dana darurat menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko yang muncul. 2. Memperkecil Kemungkinan Hutang Dana darurat dapat menjadi alternatif pilihan apabila kesulitan keuangan sedang melanda. Seperti kondisi terdesak, kekurangan anggaran, ataupun keinginan untuk menangkap peluang. Apabila suatu bisnis tidak memiliki dana darurat, maka pilihan yang dapat dilakukan hanyalah hutang. 3. Memberi Rasa Aman Seperti yang telah disinggung sebelumnya, memiliki dana darurat dapat meningkatkan rasa aman. Hal tersebut karena bisnis sudah bisa menghadapi kemungkinan terburuk (prepare for the worst scenario). Lain halnya jika tidak memiliki dana darurat, akan sulit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. 4. Persiapan Menangkap Peluang Bisnis yang Muncul Tiba-tiba Dana darurat bukan hanya untuk mencegah kemungkinan buruk yang terjadi, tetapi juga untuk menangkap peluang yang muncul tiba-tiba. Meski kurang disarankan, namun memiliki dana darurat dapat meningkatkan potensi Anda untuk bisa mengambil peluang yang ada. Apakah Anda sudah memiliki dana darurat untuk bisnis Anda? Referensi: Finansialku Monevator

Read More (746 views)
Blog post
27 Des'21

6 Tips Sukses Bisnis Kuliner

Bisnis Kuliner - Pemilik bisnis kuliner selalu dihadapkan dengan persaingan yang ketat. Pasalnya, bisnis kuliner menjamur di mana-mana, dari kuliner dengan resto besar sampai kuliner gerobakan pun semuanya bersaing. Meski secara teknis bisnisnya tidak menjual makanan yang sama, tetapi mereka semua tetap bersaing. Banyaknya bisnis kuliner yang bermunculan bukan tanpa alasan, sebab bisnis kuliner memiliki banyak keunggulan seperti: Makanan merupakan kebutuhan pokok Perputaran uang cepat Dapat dijalankan dengan modal relatif kecil Keuntungan lebih besar dibanding bisnis di bidang lain Bisa dimulai dengan jumlah pegawai yang sedikit Membangun Bisnis Kuliner Lima tahun awal suatu bisnis berdiri adalah masa kritis yang harus dihadapi untuk bisnis dapat bertahan. Berikut beberapa tips yang mungkin dapat Anda terapkan untuk membangun bisnis kuliner yang sukses: 1. Fokus Pada Makanan Bagaimanapun tampilan bisnis atau pelayanannya, yang membuat pembeli menjadi langganan adalah rasa dari makanan. Investasikanlah waktu sebanyak mungkin untuk membuat menu terbaik kuliner Anda. Karena, rasa makanan adalah satu-satunya alasan bisnis kuliner yang berada di dalam gang terpencil tetap memiliki banyak pengunjung dan tetap ramai. 2. “Tes Ombak” Validasi terbaik yang bisa didapatkan adalah berdasarkan penjualan dan feedback dari pembeli. Anda bisa saja mengklaim makanan Anda enak, namun, apakah target market mengatakan demikian? Mulailah dengan menjual ke kenalan dan orang-orang terdekat (circle), kemudian mintalah feedback. Setelah mendapat feedback dari circle Anda, cobalah untuk terus melakukan pengujian kualitas rasa masakan dengan bertanya ke lebih banyak pembeli diluar circle Anda. Ingat, data adalah alat terbaik untuk mengambil keputusan dengan tepat. Semakin banyaknya tester yang menyatakan puas, maka akan semakin tervalidasi dan objektif penilaiannya. 3. Maksimalkan Media Sosial Makanan enak akan menjadi percuma jika tidak banyak yang mengetahui dan belum ada informasi. Peran pemasaran dalam hal ini diperlukan. Anda dapat menggunakan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll untuk memasarkannya. Anda juga dapat menggunakan jasa food blogger untuk mengulas makanan Anda di akun media sosial mereka. Selain itu, tampilan media sosial Anda haruslah terlihat menarik dan sesuai dengan tema yang diusung supaya visitor menjadi lebih betah di laman media sosial Anda. 4. Pemasaran Offline Walaupun dunia telah canggih dengan adanya internet, namun pemasaran offline masih tetap relevan untuk bisnis kuliner. Banyak cara yang dapat dilakukan bisnis kuliner dengan pemasaran offline, seperti mengikuti event tertentu yang open tenant, menyebarkan brosur promosi ke lingkungan sekitar, membagikan makanan gratis di hari tertentu dan banyak cara lainnya. 5. Lokasi yang Tepat Selain kualitas makanan dan pemasaran, hal yang tidak kalah penting adalah lokasi. Jika membicarakan peluang, lokasi bisnis yang terdapat di pertigaan atau perempatan jalan tentu akan memiliki lebih besar peluang untuk didatangi, dibanding dengan yang terletak di dalam gang. Tidak harus di pinggir jalan raya karena kemungkinan biaya sewanya akan tinggi. Paling tidak, pastikan letak bisnis dekat dengan keramaian. Anda dapat mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi usaha di artikel Jenis Lokasi Usaha. 6. Menu Andalan Menu andalan ini nantinya dapat dijadikan fokus apabila ingin melakukan promosi atau beriklan. Seringkali pembeli datang karena menu andalan yang dipasarkan, selanjutnya mereka akan mencoba menu lainnya apabila Anda melakukan teknik cross selling. Lebih lanjut mengenai teknik penjualan di sini.   Related ArticlesSeleksi Lokasi RestoJenis Lokasi UsahaPrinsip Pareto, Fokus Lebih Sedikit dengan Hasil MaksimalCross Selling, Teknik Meningkatkan Penjualan

Read More (735 views)
Blog post
23 Des'21

Strategi Down selling, Agar T…

Down selling merupakan strategi penjualan yang berfokus pada terjadinya transaksi pembelian. Walau terdengar asing di telinga, sejatinya down selling sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Ketika ingin membeli tas, namun budget Anda kurang, maka penjual yang dapat membaca situasi tersebut akan memberi alternatif pilihan tas yang serupa dengan harga yang lebih terjangkau. Bisa juga ketika Anda berada di restoran cepat saji dan anda terlihat merasa harga kentang goreng terlalu mahal, maka pramusaji akan menawarkan kentang goreng dengan ukuran yang lebih kecil dan harga yang lebih murah. Itulah down selling. Arti Down Selling Dikutip dari HubSpot, down selling adalah strategi untuk menghadapi pelanggan yang terkendala harga dengan cara menawarkan produk serupa tapi dengan harga yang lebih terjangkau. strategi ini juga bisa digunakan pada pelanggan yang tidak tertarik untuk membeli. Jadi, bila cross selling dimaksudkan agar meningkatnya nilai penjualan, maka down selling ditujukan supaya tidak kehilangan penjualan. Menurut Salesforce, down selling memiliki beberapa manfaat penting, antara lain: Pelanggan tidak akan pulang dengan tangan kosong, alias tetap terjadi penjualan. Jika pelanggan tidak membeli produk premium, menawarkan produk yang lebih terjangkau akan meningkatkan loyalitas mereka terhadap merek Anda. Sekali lagi, poin utama dilakukannya strategi down selling adalah agar tetap terjadi penjualan, ketika pelanggan terlihat memiliki kendala anggaran, ataupun pelanggan yang terlihat tidak tertarik untuk membeli. Pelanggan akhirnya membeli, karena nilai transaksinya terlihat tidak terlalu tinggi. Terdapat beberapa tips yang dapat Anda terapkan untuk memaksimalkan strategi down selling, di antaranya: Siapkan penawaran down selling dengan harga terbaik. Jangan langsung melakukan diskon pada penawaran pertama. Tawarkan produk yang berbeda dengan harga yang lebih rendah ketika pelanggan menolak tawaran pertama. Tawarkan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah, berikan diskon apabila masih memungkinkan.   Related ArticlesCross Selling, Teknik Meningkatkan PenjualanBeda Up Selling vs Cross Selling Referensi ClickFunnels HubSpot Koinworks Massilah Salesforce

Read More (1202 views)
Blog post
20 Des'21

Beda Up Selling vs Cross Sell…

Walaupun terlihat mirip dengan cross selling, up selling adalah teknik yang berbeda. Kesamaan pada up selling dan cross selling hanya terletak pada tujuannya, yaitu meningkatkan nilai penjualan. Teknik up selling biasa disebut juga suggestive selling yang dapat ditemui di restoran cepat saji. Saat memesan makanan, biasanya pramusaji akan menawarkan pesanan yang berukuran lebih besar atau lebih banyak dengan harga satuan yang terlihat lebih murah. Arti Up Selling Dikutip dari Investopedia, up selling adalah teknik penjualan di mana seorang pelayan bertanya pada pembeli apakah mereka menginginkan pembelian dengan ukuran atau jumlah yang lebih besar. Biasanya teknik ini dipadukan dengan potongan harga, sehingga terdengar lebih masuk akal dan menggiurkan bagi pelanggan. Up selling digunakan untuk meningkatkan nilai penjualan. Alasan utama mengapa up selling efektif adalah proses menjual (dari nol) merupakan bagian tersulit yang harus dilakukan. Sehingga, menawarkan atau merekomendasikan ukuran atau jumlah yang lebih banyak kepada pelanggan yang sudah menyatakan niat membeli suatu item produk dapat memberi potensi kenaikan nilai transaksi dengan usaha yang lebih kecil. Ditulis dalam GrooveHq, peluang menjual ke prospek yang sudah ada sebesar 60-70%, sementara peluang ke prospek yang baru (masih berupa lead) hanya sebesar 5-20%. Hal ini menjadikan up selling sebagai teknik yang efektif. Penerapan up selling dapat Anda lihat pada beberapa contoh berikut: Penawaran burger yang berukuran lebih besar atau lebih premium kepada pembeli. SPG yang memberi rekomendasi smartphone dengan spesifikasi yang lebih tinggi dibanding dengan yang dicari pembeli. Biaya berlangganan Spotify atau aplikasi serupa yang lebih murah apabila berlangganan untuk setahun dibandingkan dengan satu bulan atau satu hari. Setelah memahami up selling dengan baik, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menerapkan up selling dengan efektif? Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan: Pastikan pelanggan senang dengan pelayanan yang diberikan dan jangan pernah melakukan up selling pada pelanggan yang sedang terburu-buru, marah, kesal, dan kecewa. Apabila dilakukan, hal itu akan membuat pelanggan enggan untuk kembali. Pastikan ada alasan yang kuat dan masuk akal untuk disampaikan pada pelanggan, sehingga akan meningkatkan peluang keberhasilan up selling Anda. Beri harga yang masuk akal, sangat disarankan Anda bisa memberi potongan harga. Jangan memaksa dan jangan bersifat agresif, hal tersebut akan memberi kesan negatif, karena akan mengakibatkan ketidaknyamanan di pihak pelanggan.   Related ArticlesStrategi Down Selling, Agar Terjadi Pembelian Referensi Glints GrooveHq Investopedia

Read More (1277 views)
Blog post
13 Des'21

Cross Selling, Teknik Meningk…

Cross Selling - Menurut HubSpot, cross selling adalah mendorong pembelian yang masih ada kaitannya dengan produk utama. Cross selling dilakukan penjual untuk meningkatkan penjualan. Hal tersebut meliputi menawarkan produk yang masih relevan dengan produk utama yang dibeli, menawarkan diskon pada produk yang berkaitan, dan bundling. Beberapa contoh penerapan cross selling: Pelayan kasir yang menawarkan gula sebagai pelengkap teh atau kopi. Penawaran kentang goreng atau minuman pada saat membeli hamburger di restoran cepat saji. Fitur related product dan bundling product yang berada di toko online untuk meningkatkan pembelian konsumen. Jadi, ketika Anda hendak membeli satu barang ke minimarket dan saat pulang membawa banyak barang yang berbeda, itu berarti Anda terkena cross selling dari pelayan minimarket. Jika dilakukan dengan tepat sasaran, cross selling dapat menjadi teknik yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan. Karena, memberi rekomendasi tambahan produk dibanding menjual dari nol, akan lebih sulit menjual dari nol. Hal yang harus diperhatikan, jika cross selling dilakukan dengan agresif dan terkesan mementingkan diri sendiri, akan berpotensi membuat pelanggan merasa tidak nyaman dan sungkan untuk kembali. Pertanyaannya sekarang, bagaimana melakukan cross selling yang efektif agar penjualan meningkat? Berikut tiga cara yang dapat diterapkan ke dalam teknik cross selling Anda: 1. Pertimbangkan Harga Harga adalah elemen penting dalam keputusan pembelian. Memberi harga terbaik pada produk atau paket bundling cross selling akan meningkatkan kemungkinan produk tersebut laku terjual. Pastikan harga yang diterapkan “win-win solution” untuk Anda dan pembeli. 2. Kenali Pembeli Mengenali pembeli adalah mengetahui tujuan dan latar belakang dari pembelian. Dengan mengenali pembeli, dapat memungkinkan Anda untuk memberi saran tambahan produk yang lebih relevan. Anda dapat mengenali pembeli dengan memerhatikan kebiasaannya, mulai dari menu apa yang dipesan, berapa lama waktu yang dihabiskan, kapan biasanya mereka berkunjung, dan sebagainya. 3. Ketahui Kapan Menawarkan Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan cross selling, akan dapat meningkatkan peluang keberhasilan. Pastikan untuk mengetahui waktu yang tepat tersebut sesuai dengan karakteristik bisnis. Sebagai contoh, apabila bisnisnya minimarket, maka Anda dapat menerapkan teknik cross selling ketika pembeli berada di kasir untuk membayar. Contoh lainnya, pramusaji dapat menawarkan tambahan pesanan lainnya pada saat; pengunjung kafe selesai memutuskan menu yang dipilihnya ataupun pada saat proses memilih menu. Setidaknya terdapat dua teknik penjualan selain cross selling, yaitu up selling dan down selling.  Jadi, bagaimana penerapan cross selling di bisnis Anda? Referensi Business2Community Glints HubSpot Investopedia

Read More (1287 views)
Blog post
29 Nov'21

Franchising Agar Pegawai Heba…

Saya menyebut ini sebagai “Program Internal Franchising”. Beberapa perusahaan belum banyak yang sudah mulai mempertimbangkan langkah ini. Para pegawai internal yang akan pensiun dibekali pengetahuan tentang operasional gerai bisnis yang akan diwaralabakan kepada mereka. Karena untuk pegawai internal, maka biasanya diberi pula program pembiayaan (financing) dalam arti modalnya bisa dicicil oleh pegawai tersebut. Tentu saja program seperti di atas diberikan kepada pegawai yang baik dan berpotensi sukses sebagai franchisee. Selain bagi pegawai yang pensiun, program ini tak jarang diberikan kepada pegawai yang sudah tidak bisa mendapatkan promosi karir lebih lanjut di dalam perusahaan tersebut. Dengan menjadi franchisee alias entrepreneur, seyogyanya ini merupakan promosi terbaik yang bisa ia peroleh. Bagi perusahaan, program ini bermanfaat pula untuk mencegah pegawai tersebut masuk atau pindah ke perusahaan kompetitor ketika karirnya mentok. Bila alasannya hanya untuk keperluan internal franchising, maka waralabanya akan terbatas dan tidak ditawarkan kepada umum. Hanya sistemnya berdasarkan waralaba, tapi waralabanya tidak ditawarkan kepada khalayak ramai. Bagaimana, apakah Program Internal Franchising ini menarik untuk dipertimbangkan di perusahaan Anda?

Read More (806 views)
Blog post
18 Nov'21

5 Tips dalam Menerapkan Refer…

5 Tips Menerapkan Referral Marketing - Setelah kita memahami dan mengetahui pentingnya menerapkan referral marketing. Maka pada artikel ini akan membahas tips bagaimana menerapkan referral marketing. Menerapkan referral marketing mirip seperti berinvestasi, di mana “sistem” akan dibuat dan kemudian menunggu hasil sambil terus mengevaluasi sistem. Dalam referral marketing, yang paling utama adalah menjaga kualitas (barang/jasa dan pelayanan). Walaupun telah memiliki kualitas yang baik, tidak menjamin kinerja program referral marketing akan optimal. Anda mungkin memerlukan tips berikut agar mencapai kinerja referral marketing yang optimal. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 1. Menetapkan Tujuan Sebelum mulai melakukan program referral marketing, pastikan untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Menetapkan tujuan sangat penting dilakukan untuk mengukur kemajuan usaha, supaya mengetahui “before/after” penerapannya. Menetapkan tujuan mempermudah untuk mendeteksi penyebab apabila terjadi perlambatan penjualan. Target bisa berarti banyak hal, misal meningkatkan penjualan sampai 60%, 80%, bahkan 100% atau target lain di luar penjualan. 2. Mintalah Penelitian dari Texas Tech menunjukkan bahwa 83% pelanggan yang puas bersedia memberi “referral” ke orang lain. Namun, hanya 29% yang benar-benar melakukannya, salah satu penyebabnya mungkin karena mereka tidak pernah diminta. Artinya, peluang untuk direferensikan akan lebih besar ketika mereka diminta. Sampaikan bahwa referensi dari mereka akan sangat berharga. 3. Waktu yang Tepat Meminta pelanggan untuk mereferensikan pada saat pertama kali membeli bukanlah ide yang bagus. Biarkan mereka mengenal dan merasakan produk Anda, setelah muncul kenyamanan, barulah waktu yang tepat meminta untuk mereferensikan. Ada baiknya observasi dilakukan untuk mengetahui kriteria pelanggan yang akan bersedia mereferensikan. Sehingga Anda dapat menemukan “pola” yang nantinya bisa dijadikan sistem referral ini. 4. Prioritaskan Pelayanan Secara sederhana, pelanggan akan terdorong mereferensikan apabila Anda memang memiliki pelayanan yang baik secara konsisten. Selain kualitas produk, usahakan untuk memiliki pelayanan diatas rata-rata, sehingga membuat pelanggan mengingat dan lebih mudah untuk mereferensikan Anda. Ingat, pelanggan memerlukan validasi sosial, oleh karena itu jadilah bernilai. 5. Insentif yang Sesuai Pada Program Referral Program referral dapat membuat pelanggan terdorong untuk memikirkan seseorang yang dapat mereka referensikan. Dalam membuat program, insentif yang sesuai akan membuat mereka merasa dihargai dan termotivasi. Apabila insentif yang Anda tawarkan terlalu kecil (tidak sesuai), dapat berpotensi membuat mereka merasa tidak perlu untuk mereferensikan. Beberapa contoh program referral yang dapat diterapkan seperti memberi potongan harga, gratis layanan selama periode tertentu, ataupun memberi kupon yang nantinya dapat ditukar dengan produk. Program referral marketing dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung pada lokasi dan bidang usaha. *catatan: Referral marketing dapat diterapkan dalam penawaran waralaba/kemitraan. Meminta kesaksian franchisee yang puas dengan layanan atau support dari franchisor, meminta nama-nama teman dan rekan bisnis yang menurut franchisee berminat mengikuti jejaknya menjadi franchisee anda, akan menciptakan peluang mendapatkan franchisee yang keberhasilan lebih tinggi. Referensi Entrepreneur.com Forbes.com Getambassador.com

Read More (874 views)
Blog post
11 Nov'21

Hindari 3 Kesalahan Proyeksi …

Proyeksi Keuangan - Proyeksi dan simulasi keuangan dengan skenario “pesimis, moderat, dan pesimis” sangat lumrah kita jumpai dalam suatu penawaran kerjasama waralaba dan kemitraan. Dalam hal ini, sangat lumrah pula kita menjumpai beberapa kesalahan berikut ini: Jumlah SDM Simulasi yang oversimplified biasanya tidak melakukan penyesuaian jumlah SDM, dan hal ini berarti tidak ada penyesuaian “biaya” SDM. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan jumlah SDM untuk skenario optimis biasanya lebih banyak daripada skenario pesimis. Memang ada beberapa bisnis yang tidak membutuhkan penyesuaian jumlah dan biaya SDM untuk skenario optimis dan pesimis, tapi jarang sekali. Jadi diperlukan pemahaman mengenai kapan saatnya, atau pada omset berapa harus menambah pegawai, atau sebaliknya mengurangi pegawai pada skenario pesimis. Misal omset pesimis suatu restoran adalah Rp150 juta sebulan, sedangkan omset optimis adalah Rp450 juta sebulan. Jumlah pegawai untuk omset Rp150 juta ini mungkin 5 orang, sedangkan untuk omset Rp450 juta mungkin dibutuhkan 7 orang agar para pelanggan bisa terlayani dengan baik. Jadi perlu diingat, harus ada penyesuaian jumlah dan biaya SDM sesuai omsetnya. Biaya dan Persentase Terhadap Omset Tidak semua biaya bisa secara proporsional dianggarkan sebagai persentase dari omset. Ada biaya-biaya tetap yang memiliki angka minimum, misal: sewa tempat, iuran lingkungan, biaya listrik, dan biaya SDM minimum sampai dengan omset tertentu. Misal kinerja historis menunjukkan pencapaian omset rata-rata suatu bisnis gerobakan adalah Rp30 juta sebulan dengan biaya sewa Rp1 juta sebulan di depan mini market. Ini berarti persentase nilai sewa ini adalah 3,33% dari omset. Bila kemudian asumsi omset pesimisnya adalah Rp15 juta, tentu biaya sewanya tetap Rp1 juta alias 6,67% dari omset. Sebaliknya, bila omset optimisnya adalah Rp45 juta, maka biaya sewanya menjadi 2,22% dari omset. Karena kemungkinan bervariasinya persentase ini, maka klaim “net profit sekian persen dari omset” adalah sesuatu yang kurang tepat. Mengapa? Karena persentase ini ternyata sangat tergantung pada nilai nominal sales yang dicapai.   Optimisme Semu Saya menyebutnya sebagai optimisme semu, karena skenario omset yang optimis ini bisa jadi ternyata sangat mustahil dicapai. Apa artinya? Skenario omset yang optimis harus memperhitungkan kapasitas gerai outlet Anda. Bila bisnis Anda adalah bisnis kuliner, jumlah kursi akan menentukan batas maksimal omset Anda. Bila Anda memanfaatkan sales channel takeaway/delivery, Anda dapat menambahkannya ke dalam target sales, namun tetap harus dalam batasan angka yang wajar. Angka yang wajar ini terkait dengan kinerja historis. Biasanya saya menggunakan data kinerja historis untuk mendukung asumsi target suatu penawaran kerja sama waralaba/kemitraan. Namun demikian, data kinerja historis ini harus memperhitungkan pula faktor penting yang mungkin mempengaruhi kinerja penjualan, misal: usia outlet. Kinerja historis suatu outlet yang sudah belasan tahun beroperasi dan sudah dikenal luas biasanya tidak bisa digunakan sebagai asumsi target penjualan gerai baru. Jadi perlu dilakukan penyesuaian, misalnya 50% atau 70% dari kinerja outlet yang sudah belasan tahun beroperasi itu. Akan lebih baik lagi bila kinerja historis diambil dari kinerja outlet yang baru berusia 1-2 tahun, di lokasi yang umum - bukan lokasi khusus seperti tempat tujuan wisata.

Read More (1977 views)
Blog post
09 Nov'21

Strategi Referral Marketing

Strategi Referral Marketing - Terdapat banyak strategi marketing yang dapat digunakan, satu yang terbukti efektif adalah Strategi Referral Marketing. Dari konsumen Anda sebelumnya, mungkin Anda memiliki database kenalan mereka untuk Anda hubungi dan tawari produk Anda. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka bersedia untuk Anda hubungi dan merasa nyaman? Lebih dari itu, apakah mereka akan percaya? Referral marketing memiliki asal kata referensi. Menurut Bradley J. Sugars dalam bukunya Instant Referrals, referral marketing adalah rujukan calon pelanggan yang Anda dapat dari teman atau kenalan Anda. Jadi, walaupun calon pelanggan tersebut belum mengenal Anda sebagai pemilik bisnis, mereka tetap dapat percaya. Ini menjadikan referral marketing sangat berguna untuk Anda dalam mendapatkan pelanggan baru. Mengutip Id.Oberlo.com, Tidak ada strategi marketing yang lebih baik dari strategi referral marketing. Hal ini karena strategi referral marketing merupakan kondisi win-win solution dari tiga pihak: Anda mendapat keuntungan karena usaha Anda dipasarkan, Pelanggan Anda mendapatkan validasi sosial karena merekomendasikan sesuatu yang bernilai, Dan kenalannya mendapatkan rekomendasi dari sumber yang terpercaya. Mayoritas pelaku usaha menggunakan referral marketing karena memiliki banyak kelebihan. Dilansir dari Socialmediatoday.com, berikut adalah 4 alasan mengapa strategi referral marketing itu penting: 1. Kualitas Leads Leads adalah calon pembeli atau orang yang memiliki ketertarikan pada produk Anda. Berbeda tipis dengan leads dari pameran dagang dan special events sebagai pemasukan utama marketer, sebagian besar marketer setuju bahwa kualitas leads dari referral marketing adalah yang paling efektif kedua. Sekitar 78% B2B Marketers menyatakan, leads yang didapat melalui referral memiliki potensi pembelian yang tinggi. Hal tersebut karena leads mendapatkan referensi dari orang yang mereka sudah kenal. Namun, yang perlu diingat, mendapatkan leads barulah setengah perjalanan. 2. Meningkatkan Jumlah Leads Kemudian, 60% marketers mengatakan referral marketing menghasilkan volume leads yang lebih banyak. Referral marketing yang baik akan membuatnya bekerja untuk Anda. 3. Biaya Per Leads yang Lebih Murah 54% Marketers mengatakan referral marketing memiliki biaya per leads yang lebih murah. Hal tersebut tentu menguntungkan, karena dengan biaya marketing yang lebih kecil akan menghasilkan ROI yang lebih tinggi pada usaha Anda. 4. Semua Orang Menggunakannya Setiap jenis bisnis menerapkan referral marketing bukan karena tren, tetapi karena referral marketing memang terbukti efektif dan menambahkan saluran pertumbuhan ke bisnis Anda yang dapat menambahkan sumber pendapatan baru ke dalam bisnis Anda, strategi referral marketing bekerja untuk Anda. **Mengenai tips referral marketing dapat Anda baca di sini Referensi Id.oberlo.com Socialmediatoday.com Sugars, Bradley J. Instant Referrals. (2013). Jakarta: Kesaint Blanc.

Read More (893 views)
Blog post
26 Okt'21

Strategi “Buka - Jual - Buka”

Salah satu strategi waralaba yang menarik untuk diterapkan adalah strategi “Buka - Jual - Buka”. Bayangkan Anda memulai bisnis yang butuh belanja modal sebesar Rp300 juta, Setelah 8 bulan beroperasi, bisnis ini menghasilkan laba bersih Rp50 juta per bulan, dan stabil. Bisnis seperti ini dapat Anda tawarkan sebagai waralaba atau kemitraan kepada pihak lain dengan harga Rp800 juta. Mengapa? Asumsi saya dari Rp50 juta tersebut, kita anggap kita bisa ambil Rp10 juta sebagai biaya bulanan (biaya royalti dan/atau biaya supervise & konsultasi).  Dengan demikian pihak pembeli masih dapat memperoleh Rp40 juta sebulan. Ini berarti Rp800 juta tersebut masih bisa balik modal dalam waktu 20 bulan. Penghasilan ini ekivalen 5% sebulan, atau 60% setahun bila dibandingkan dengan investasi yang Rp800 juta tersebut. Kalau kemitraan atau waralabanya menggunakan skema pasif, alias pembeli cukup duduk manis dan semuanya dikelola oleh Anda, maka bisa saja Anda mengambil Rp20 juta sehingga potentially pembeli dapat menerima Rp30 juta sebulan. Dengan demikian, Rp800 juta ini bisa balik modal dalam waktu 27 bulan. Ini ekivalen sekitar 3,4% sebulan alias 40,8% setahun! Bagi Anda sendiri, bisnis dengan modal Rp300 juta, dalam waktu 8-12 bulan Anda bisa menjualnya dengan nilai Rp800 juta. Ini hasil yang luar biasa. Dari Rp800 juta tersebut, kalau digunakan untuk buka lagi, maka Anda dapat membuka 2 outlet lagi, dan masih ada sisa Rp200 juta. Catatan: Uraian di atas menggunakan perhitungan payback period dan EBITDA. Untuk arus kas akan ada perbedaan, tergantung faktor-faktor yang menyertainya. Sebagai contoh, sewa di mall tentu memiliki konsekuensi arus kas yang berbeda dengan sewa di ruko.

Read More (917 views)
Blog post
12 Okt'21

Karyawan Membeli Franchise Pa…

Membangun bisnis sambil menjadi karyawan bukanlah hal yang mudah. Bagi seorang karyawan yang ingin membangun bisnis, tentu akan menghadapi berbagai kesulitan. Kesulitan yang dihadapi bisa beragam, mulai dari ide, pelaksanaan, ataupun dalam meluangkan waktu. Membeli franchise dapat menjadi alternatif untuk karyawan dalam menambah saluran pendapatan (revenue stream). Mungkin terbesit di benak Anda, kalau beli franchise bagaimana mengelolanya nanti? Well, jika itu yang terpikir di benak Anda saat ini, mungkin Anda perlu berkenalan dengan franchise pasif. Kalau franchise adalah hubungan kontrak kerja sama antara franchisor (pemilik merek franchise) dengan franchisee (pengguna merek franchise) meliputi penggunaan merek dan sistem bisnis. Maka, secara umum franchise pasif adalah kontrak kerja sama antara franchisor dengan franchisee di mana pihak franchisee tidak perlu terlibat ke dalam bisnis. Konsep franchise pasif mirip seperti berinvestasi saham, uang yang diinvestasikan 100% dari investor dan dikelola oleh perusahaan. Anda tetap memiliki perusahaan. Dalam franchise pasif, pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada franchisor, sedangkan investor tidak perlu melakukan apapun. Investor hanya perlu menunggu laporan keuangan bulanan dan pembagian keuntungan. Tommy Andri Wardhana adalah salah satu penggagas dan pelaku franchise pasif. Dilansir dari Viva.co.id, Tommy yang pernah menjadi manajer franchise Alfamart mengatakan “franchise sebetulnya adalah sebuah sistem freedom dalam hal mengolah usaha apapun di mana pada dasarnya pemilik waralaba atau franchisor akan memberikan ‘know how business’ kepada pelaku usaha waralaba atau franchisee”. Menurutnya, banyak pengusaha perlu untuk mempertahankan rantai keberhasilan usahanya dengan tetap mengontrol dan memegang kendali tanpa harus menghilangkan esensi dari bentuk franchise murni tersebut. Dari hal tersebut, tercetuslah ide franchise pasif yang telah di gunakan Alfamart sejak tahun 2001. Tommy menilai, dengan menggunakan model franchise pasif ini akan menduplikasi bisnis 10 kali lebih cepat dari biasanya dan bisa meminimalkan potensi bubble economy. Risiko Anda pun dapat di minimalisasi, karena yang menjalankan bisnis Anda adalah pemiliknya langsung (secara tidak langsung). Semua kembali kepada penilaian Anda. Setiap sistem akan tetap memiliki kelemahan, dalam franchise pasif pun memiliki kelemahan. Misalnya adalah, dibanding dengan saham, berinvestasi pada franchise pasif biasanya membutuhkan dana awal yang relatif lebih besar. Apakah Anda tertarik mengalokasikan dana di franchise pasif? Referensi Finansialku.com Viva.co.id   Related ArticlesFranchised Managed (by Franchisor)Waralaba untuk Pensiunan  

Read More (842 views)
Blog post
13 Sep'21

4 Tips Grand Opening yang Suk…

Grand Opening - Biasanya pemilik bisnis sebelum membuka usaha baru ataupun membuka usaha di lokasi yang baru melakukan grand opening. Grand opening atau pembukaan perdana adalah pengumuman bahwa sebuah bisnis baru telah resmi untuk dibuka secara umum dan dapat dinikmati oleh publik. Sementara itu, sebelum melakukan grand opening umumnya dilakukan soft opening terlebih dahulu. Adapun tujuan diadakannya soft opening untuk memperkenalkan bisnis kepada orang-orang tertentu dan mendapat masukan tentang bisnis yang akan dijalankan. Dalam bisnis restoran sangat perlu untuk dilakukan grand opening. Berikut beberapa manfaat melakukan grand opening untuk bisnis restoran: Mengenalkan konsep restoran Menarik pelanggan baru Menarik perhatian media Mendapat publikasi Memicu rasa penasaran Menjalin hubungan baik dengan bisnis lain Masih banyak lagi manfaat grand opening, namun utamanya adalah untuk meningkatkan awareness. Selain itu, melakukan grand opening juga tidak menjadi jaminan bahwa suatu bisnis akan berhasil. Akan tetapi, dengan diadakannya grand opening akan memberi peluang lebih kepada bisnis untuk berhasil. Grand opening dapat menjadi “batu loncatan” bagi restoran untuk menaikan traffic. Perlu ada kiat-kiat yang dilakukan supaya grand opening dapat sukses, sehingga akan mengundang ketertarikan konsumen untuk datang lagi. Berikut 4 tips yang bisa Anda terapkan untuk grand opening yang sukses:   Buat Grand Opening dalam Jangka Waktu Seminggu Panjangnya waktu grand opening akan memberi dampak yang lebih besar, membuat banyak orang disekitar lebih memiliki banyak waktu untuk mengunjungi grand opening Anda. Selain itu, dengan membuat grand opening yang lebih panjang juga dapat meningkatkan hype dan bisa memperkenalkan restoran dengan lebih menyeluruh. Anda dapat menggunakan tema yang berbeda setiap hari selama seminggu ataupun membuat sesuatu yang berbeda di setiap harinya.   Undang Komunitas Undang komunitas, terutama yang berada dekat dengan lokasi restoran (komunitas lokal). Karena, nantinya komunitas tersebut akan berpotensi menjadi pelanggan. Anda bisa mengundang secara langsung ataupun melalui sebaran brosur. Selain mengundang komunitas lokal, sebaiknya Anda juga mengundang bisnis di sekitar. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjalin hubungan baik dengan lingkungan dan mendapat citra yang positif.   Berikan “Perbedaan” Pada Grand Opening Grand opening adalah hari yang istimewa dalam sejarah restoran Anda. Pastikan terdapat sesuatu yang berbeda dalam grand opening Anda. Misalnya dengan mengadakan pertunjukan musik, DJ, atau membukanya dengan pentas tarian tradisional. Apapun itu, buat suatu perbedaan yang positif.   Tawarkan Insentif Gratis atau Diskon Ini merupakan hal yang lumrah dan seringkali dilakukan dalam grand opening. Dengan memberikan insentif seperti minuman gratis atau diskon yang menggiurkan dapat memberi dorongan pada pengunjung untuk mencoba berbagai macam menu yang ada.   Referensi Chron MarketingCraft RestaurantClicks ___________________________________________________________________________________________________________________________ ALERT! Baca artikel berkualitas lainnya dari KLIKFRANCHISE: All about franchising! Artikel terbaru! Aneka tips! Pengembangan bisnis!

Read More (16611 views)
Blog post
10 Sep'21

Waralaba untuk Pensiunan

Waralaba untuk pensiunan - Karena faktor usia, orang-orang yang menjelang pensiun cenderung menghindari risiko tinggi. Bila berinvestasi, mereka memerlukan penghasilan yang relatif stabil. Hal ini sangat penting, terutama bagi pensiunan yang belum memiliki pundi-pundi pengaman untuk kebutuhan rutin harian mereka. Waralaba sangat berpotensi membantu mereka untuk mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan rutin mereka. Waralaba Risiko Rendah Waralaba dengan risiko kegagalan yang rendah biasanya dapat ditelusuri dari sejarah dan perkembangan bisnis waralabanya. Jam terbang sangat menentukan di sini. Jadi yang perlu diperhatikan antara lain informasi mengenai kapan mulai berdiri, kapan mulai diwaralabakan, berapa jumlah gerai waralabanya, berapa yang berhasil dan berapa yang tutup, berapa yang beralih kepemilikan. Beralihnya kepemilikan perlu dicermati, meski tidak mutlak menunjukkan kurang baiknya manajemen dari waralaba tersebut. Namun dari sana kita bisa mencari jejak penyebab kegagalannya apa saja, apakah Anda dapat menghindarinya atau Anda melihatnya sulit dihindari?, Bertanya kepada pewaralaba mengenai kunci sukses dan faktor penyebab kegagalan juga sangat dianjurkan. Bertanya kepada pihak-pihak yang pernah menjadi terwaralaba juga patut dipertimbangkan, meski Anda harus hati-hati agar tidak termakan kekecewaan yang belum tentu karena kesalahan pewaralaba. Beberapa terwaralaba mengalami kegagalan karena salah kelola di pihak terwaralaba itu sendiri. Hobi  Hobi seringkali disebut sebagai petunjuk untuk menemukan minat dan hasrat (passion) anda. Kalau Anda hobi masak, ambil waralaba restoran. Bila Anda hobi mengajar, ambil waralaba pendidikan. Pernyataan tersebut separuh benar. Faktanya, hobi tidak identik dengan minat dan hasrat. Ada banyak detail lain yang harus diperhatikan, yaitu keterampilan, dan kemampuan menikmati rutinitas keseharian bisnis tersebut. Hobi mengajar juga harus memperhatikan tambahan mengenai rentang usia anak didik. Beberapa orang lebih dapat menikmati mengajar usia SMP dan SMA dibandingkan mengajar anak-anak usia balita , TK dan SD. Keterampilan Bila Anda bukan membeli waralaba yang menjadikan Anda investor pasif (model waralaba dari Indomaret dan Alfamart adalah investor pasif), maka anda harus punya ketrampilan kepemimpinan dan komunikasi dengan bawahan. Anda juga harus siap mental dalam menghadapi perilaku para pegawai Anda nantinya. Kesiapan mental, keterampilan kepemimpinan dan keterampilan komunikasi merupakan modal dasar Anda menjalani kesibukan rutinitas keseharian bisnis waralaba Anda. Bila Anda membutuhkan pelatihan mengenai keterampilan tertentu, tanyakan kepada pewaralaba untuk mengatasi kebutuhan Anda terkait keterampilan tersebut. Kecukupan Modal Informasi jumlah modal dari pewaralaba yang biasa dicantumkan dalam brosur seringkali dikecil-kecilkan untuk menarik minat calon investor. Komponen cadangan tunai awal yang biasanya dibutuhkan untuk menjaga arus kas hingga 6 bulan pertama seringkali tidak dicantumkan, demikian juga dengan biaya sewa. Bahkan beberapa waralaba tidak mencantumkan biaya renovasi, bila dianggap menggunakan ruko milik sendiri atau di garasi rumah. Pastikan Anda memiliki informasi yang jelas dan dana yang anda miliki benar-benar cukup untuk keperluan operasional 6 bulan pertama seandainya omset penjualan dalam 6 bulan pertama itu kurang memuaskan. Jangan sampai di tengah jalan, misal bulan ketiga, anda kehabisan modal sehingga harus menggadaikan mobil anda untuk menutup arus kas negatif. Waralaba itu meminimalkan risiko tapi tidak menihilkan risiko. Harapan saya, tulisan ini membantu para pensiunan dan calon pensiunan dalam memilih waralaba, juga bagi para pewaralaba dalam menyeleksi dan mengarahkan pensiunan untuk menjadi terwaralaba yang berhasil. Kecukupan modal di sini berarti pula masih ada cadangan tunai untuk kebutuhan pribadi, termasuk untuk kebutuhan darurat yang mendadak, dalam bentuk tabungan dan deposito. Juga, jangan letakkan telur dalam satu keranjang. Artinya selain investasi di waralaba, miliki pula investasi lainnya seperti reksadana, logam mulia, dan sebagainya. *Artikel ini pernah dimuat di Majalah Franchise Indonesia tahun 2015

Read More (788 views)
Blog post
18 Agu'21

Peluang & Risiko

Masih banyak orang yang sering bertanya kepada saya, “Franchise mana yang bagus sekarang?”   1.  Bagus itu Relatif Saya sering mengatakan bahwa “Franchise yang bagus belum tentu bagus untuk Anda, terutama untuk lokasi Anda.” Mengapa demikian? Suatu bisnis yang bagus di satu lokasi belum tentu bagus di lokasi lain. Dalam ilmu marketing kita mengenal segmentasi, target dan positioning. Masyarakat di sekitar lokasi Anda, orang yang lalu lalang di lokasi Anda, bisa jadi berbeda 180 derajat dengan STP (segmentasi, target dan positioning) franchise yang bagus itu. Relatif juga bisa terkait dengan “time frame”. Ada bisnis yang dulu bagus tapi sekarang tidak lagi. Ada banyak faktor, bisa karena disrupsi teknologi, bisa juga karena tim manajemen franchisor yang berubah menjadi kurang kompeten dalam menghadapi persaingan, atau memang para pesaing menjadi lebih pintar dari franchise yang dulu terlihat bagus itu.   2.  Transparansi Risiko Bagi saya franchise yang bagus itu adalah franchise yang bersedia transparan terkait risiko-risiko bisnisnya. Risiko ini bisa terkait komitmen mengenai hal-hal yang harus dikerjakan pihak investor dan tidak mungkin ditangani oleh franchisor, contoh: mencari pegawai. Jadi jangan hanya mengobral peluang profit saja. Ada pepatah yang mengatakan, “Di mana ada masalah, di sana ada peluang.” Dalam dunia investasi dan bisnis kita mengenal, “Di mana ada peluang, di sana ada risiko.” Bagaimana dengan bisnis musiman yang diwaralabakan (baca: dikerjasamakan seperti franchise). Bila investor mendapat informasi yang cukup terkait risikonya, bahwa bisnis ini mungkin musiman, jadi harus mengejar balik modal dengan cepat, sebaiknya di lokasi yang seperti apa ... bagi saya sah-sah saja menawarkan kerjasama seperti itu.   3.  Motif Persoalan besar muncul ketika motif yang menawarkan kerjasama memang hendak meraup keuntungan dengan menjual franchise, dan menutup-nutupi informasi terkait risiko bisnisnya.  Lebih parah lagi kalau niatnya sejak awal memang hendak menipu. Jual semurah-murahnya supaya banyak yang sanggup invest ... dan ketipu.   4.  Legal vs Moral Mereka yang punya motif menipu kadang sudah membentengi diri dengan pagar-pagar hukum yang menurut saya tidak elok secara moral. Akhirnya semua kembali ke hati nurani para pelaku bisnis. Kita menjadi pelaku bisnis bertanggung jawab secara moral (selain legal formal).

Read More (799 views)
Blog post
18 Agu'21

Jenis Lokasi Usaha

Berikut ini beberapa jenis lokasi usaha yang perlu Anda pahami karakteristiknya. 1.  Non-Tradisional Lokasi yang masuk kelompok non-tradisional antara lain lokasi-lokasi khusus dengan keramaian yang khas seperti bandar udara (bandara), stasiun kereta api, pelabuhan, kampus, dan tempat-tempat wisata seperti Ancol, Taman Safari, dan sebagainya. Karakteristik lokasi ini adalah captive market dari lokasi tersebut. Biasanya biaya sewa tempat-tempat ini relatif tinggi, tapi harga jual produk kita di sana bisa lebih tinggi pula daripada lokasi lainnya. Karena pasarnya captive dan yang melewati area tersebut pasti banyak, maka biasanya tidak dibutuhkan biaya tinggi untuk beriklan di media massa. Kalaupun omset tidak cukup untuk menutupi biaya operasional, kadang “rugi tipis” di lokasi-lokasi “high traffic” ini dianggap sebagai biaya beriklan. Di tempat-tempat seperti ini akan diperoleh paparan untuk meningkatkan awareness terhadap produk dan merek yang dijual. Tentu saja perlu diperhatikan apakah profil orang yang lalu lalang cocok dengan profil target market Anda.   2.  Pusat Kota Yang dimaksud dengan lokasi Pusat Kota adalah lokasi di pusat keramaian kota. Biasanya ada banyak ruko yang berderet di sepanjang jalan tersebut, dan ini bisa berarti kompleks ruko pula. Contohnya adalah deretan ruko (di Jakarta) di sepanjang jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sawah Besar, Mangga Besar, atau Kompleks Ruko ITC Roxy, Kompleks Ruko Puri Niaga, dan sebagainya. Lokasi Pusat Kota juga menjanjikan high visibility (tingkat keterlihatan yang sangat tinggi) dari orang-orang dan kendaraan yang melintas (bila ruko Anda menghadap jalan raya). Lokasi yang menghadap ke jalan raya ini tentu lebih mahal harga sewa atau harga beli propertinya. Kendala dari lokasi ini adalah area parkir yang terbatas. Pelanggan tak jarang mengalami kesulitan mencari tempat parkir untuk kendaraannya. Untuk lokasi di dalam Kompleks Ruko, bila lokasi Anda tidak menghadap ke jalan raya maka yang akan menjadi tantangan adalah visibility (keterlihatan) ruko gerai Anda. Anda harus mencantumkan peta atau denah lokasi bila Anda hendak mendistribusikan brosur promosi.   3.  Strip Centre Sedikit berbeda dengan kompleks ruko yang dimaksud di atas, strip centre adalah deretan ruko yang berada dalam suatu kompleks (bukan di dalam mal) yang memiliki anchor tenant seperti Carrefour (contoh di sekitar ITC BSD dan Grand ITC Permata Hijau) di gedung utamanya. Gedung utama ini bisa berupa mal atau plaza, atau sekedar gedung anchor tenant tersebut. Memiliki bisnis di lokasi Strip Centre ini kadang tidak dapat bergantung sepenuhnya pada anchor tenant, terutama bila titik lokasinya tidak terlalu dekat dengan pintu masuk dan keluar dari anchor tenant. Jadi bila merasa membutuhkan traffic dari anchor tenant, maka carilah lokasi yang dekat atau dilalui oleh orang-orang yang menuju lokasi anchor tenant tersebut.   4.  Mall & Trade Centre Yang dimaksud dengan mall adalah bangunan yang tidak dijual kepada penghuni atau tenant. Para tenant pada umumnya menyewa kepada pemilik atau manajemen gedung.  Sebaliknya, trade centre biasanya dijual kepada penghuninya. Itu sebabnya, perawatan mall biasanya lebih berkelas dibandingkan dengan trade centre. Bangunan yang lebih kecil dari mal, tapi statusnya juga sewa, biasanya disebut plaza. Meski demikian adapula bangunan sekelas mal yang disebut plaza. Keuntungan dari berada di mall tentu saja parkir yang luas. Ketika cuaca hujan maka mal dengan fasilitas parkir di basement biasanya menjadi pilihan yang disukai karena akses dari parkir menuju mal yang nyaman di kala hujan. Berada di dalam mall biasanya memiliki konsekuensi tidak boleh tutup di hari Minggu maupun hari libur nasional. Renovasi di mal biasanya dilakukan di malam hari, sehingga biayanya lebih tinggi karena ongkos pekerjanya lebih mahal. Terkait biaya opeasional, ada mal yang relatif murah biaya service charge-nya, tapi kemudian mahal di biaya gas (LPG/LNG), atau di biaya listrik dan airnya. Jadi ketika survey harus mengumpulkan data selengkap-lengkapnnya.   5.  Stand-Alone Suatu gerai disebut stand-alone bila berdiri sendiri, tidak berada di kompleks ruko atau deretan ruko yang memberi kesempatan “pelanggan tetangga” untuk tahu dan mampir ke tempat Anda, serta tidak berada di lokasi “tempat umum” yang memberikan captive market seperti bandara, stasiun dan kampus. Tentu saja gerai stand-alone ini memiliki tantangan besar, yaitu harus bisa mendatangkan pelanggan tanpa bergantung pada pihak-pihak lain. Contoh stand alone yang cukup sering kita jumpai adalah gerai McD, KFC, Pizza Hut, Dunkin Donuts, Boncafe, Bon Ami, dan ayam goreng Richeese Factory. Related ArticlesSeleksi Lokasi RestoChecklist Pertimbangan Lokasi

Read More (963 views)
Blog post
18 Agu'21

Seleksi Lokasi Resto

Ada 5 (lima) faktor penting untuk dipertimbangkan dalam memilih lokasi untuk bisnis restoran. Namun sebelum itu, kita perlu memastikan lebih dulu konsep restoran seperti apa yang hendak kita jalankan. Dari konsep ini kita harus memahami profil market atau pelanggan yang kita sasar. 1.  Kecukupan Pasar Salah satu hal yang selalu menjadi isu penting sebenarnya adalah kecukupan pasar, terkait dengan konsep restoran kita. Menjual makanan dengan harga tinggi, tapi masuk ke dalam mall kelas menengah, itu seperti melakukan tendangan gol bunuh diri. Menjual jenis makanan Eropa seperti pasta sebaiknya jangan di dalam wilayah masyarakat yang mayoritasnya lebih menyukai masakan tradisional Indonesia. 2.  Kecukupan Parkir Sudah menjadi rahasia umum bahwa lokasi di dalam mall memiliki keuntungan berupa kecukupan parkir yang berlimpah, meski ada mall yang super-crowded pada hari-hari akhir minggu. Tentu saja kemewahan kecukupan parkir ini memiliki konsekuensi biaya sewa yang tinggi. Karena mall cenderung memiliki jumlah pengunjung atau traffic tinggi, maka biaya sewa yang tinggi ini terobati dengan tingginya angka penjualan. Kecukupan parkir ini tentu bisa juga dimiliki tanpa harus berada di mall. Beberapa restoran yang terlihat menyediakan lahan parkir yang luas tanpa harus berada di dalam mall antara lain RM Sederhana dan Boncafe. Sementara itu, di sekitar Jalan Senopati Jakarta Selatan, kekurangan lahan parkir disiasati dengan jasa valet gratis (bayar sukarela). Meski demikian tentu tidak semua orang merasa nyaman melepas kunci mobil kepada petugas valet. Catatan: belum ada data yang pasti mengenai dampak taksi online terhadap aspek kecukupan parkir ini. Hingga sekarang para pengusaha restoran masih mengakui bahwa kecukupan parkir merupakan aspek penting yang menjadi pertimbangan mereka. 3.  Akses ke Lokasi Pengertian akses ke lokasi ini tentu saja kemudahan mencapai lokasi tersebut. Hal ini bisa berarti dilalui trayek kendaraan umum, letak putar balik (u-turn), kedekatan dengan lokasi tujuan wisata (misal: Ancol), juga kedekatan dengan sekolah bila profil pelanggannya adalah orang tua yang menjemput anak-anak mereka. 4.  Keterlihatan Keterlihatan atau visibility berarti titik lokasinya. Misal bila di dalam kompleks ruko dan berada di bagian dalam kompleks, apabila traffic tidak tinggi di sebelah dalam ini, maka keterlihatannya akan menjadi sangat rendah dan peluang mendapat pelanggan banyak juga lebih rendah dibandingkan dengan ruko di dalam kompleks tersebut yang posisinya menghadap ke jalan raya. Fakta yang sering kita jumpai, keberadaan pohon besar dan rimbun di depan ruko kadang juga bisa mengganggu keterlihatan bisnis kita, dan mengganggu peluang mendatangkan banyak pelanggan. 5.  Keamanan & Kenyamanan Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dan diteliti adalah faktor keamanan dan kenyamanan. Lokasi yang banyak preman, gangguan parkir, dan rawan kejahatan tentu harus dihindari. Related ArticlesJenis Lokasi UsahaChecklist Pertimbangan Lokasi

Read More (896 views)
Blog post
17 Agu'21

Checklist Pertimbangan Lokasi

Berikut ini 12 checklist dalam mempertimbangkan suatu lokasi: 1. Biaya Sewa dan Biaya Terkait (Iuran Lingkungan, dsb) – Pastikan sesuai anggaran. 2. Luas Lantai – Ketersediaan luas lantai yang dibutuhkan harus dipertimbangkan pula, karena mengurangi luas lantai akan mengurangi potensi omset penjualan Anda. 3. Daerah Tujuan – biasanya membuka usaha kuliner di lokasi yang sudah jadi pusat jajan merupakan pilihan yang lebih baik daripada berdiri sendiri; namun untuk bisnis laundry kiloan mungkin lebih baik menghindari lokasi yang sudah penuh sesak dan terjadi perang harga sehingga margin menjadi tidak sehat lagi. 4. Tempat Parkir – Bila target market Anda pengguna mobil, maka kecukupan tempat parkir perlu mendapat perhatian khusus, meski kekurangan lahan parkir ini dapat disiasati dengan layanan valet gratis seperti yang kita jumpai di Jalan Senopati Jakarta yang sudah jadi pusat kulineran. 5. Mudah Terlihat (High Visibility) – Apakah mudah terlihat saat berjalan kaki melintas, atau dari dalam mobil dan dari atas motor yang sedang melaju. 6. Kemudahan Akses – Apakah mudah dicapai dari segala arah; kadang ada lokasi yang kurang mudah dicapai hanya karena u-turn (putaran balik) terlalu jauh dan hal ini mempengaruhi potensi pencapaian omset. 7. Traffic Generator – Lokasi yang sudah punya “penarik traffic” seperti Bank BCA, McD, Indomaret, Alfamart bisa juga menjadi pertimbangan. Meski demikian traffic mereka harus sesuai dengan profil target market Anda. 8. Jumlah Traffic – Beberapa pelaku bisnis melakukan observasi satu minggu penuh untuk menghitung jumlah orang yang lewat dan yang masuk toko sekitar setiap harinya, sambil mencatat peak hours (jam-jam ramai). 9. Jumlah Pelanggan Potensial – Memahami profil pelanggan merupakan langkah awal yang harus ditindaklanjuti dengan memahami posisi pelanggan berada, apakah lokasi yang Anda survei berpotensi mendatangkan pelanggan dalam jumlah yang cukup. Bila target pelanggan Anda kelas menengah, hindari mall yang profil pengunjungnya kelas atas (kecuali Anda pernah membuktikan bahwa bisnis Anda tidak terpengaruh oleh klasifikasi mall seperti itu). 10. Kemudahan Mencari Pegawai – Konon ada beberapa lokasi yang sulit mencari pegawai, karena perkampungan di sekitarnya sudah habis digusur. Memang hal ini bisa disiasati dengan pegawai dari daerah dan “tinggal di dalam” (bila memungkinkan). 11. Keamanan – Nah yang satu ini perlu jadi pertimbangan juga. Ketidaknyamanan akibat banyak preman yang mengganggu pelanggan akan mengganggu omset Anda pula. 12. Zoning – Di beberapa lokasi Anda perlu memahami zoning. Kalaupun aparat tidak ketat terkait peruntukan bangunan, beberapa bisnis yang butuh menurunkan barang dari truk container harus memeriksa apakah lokasinya dapat dilewati truk container. Franchising itu “cloning sistem bisnis secara keseluruhan” dan “cloning lokasi dengan karakteristik yang sudah terbukti sukses”. Jadi, jam terbang dan pengalaman Anda turut menentukan dalam mengambil keputusan terkait lokasi ini. Kecuali franchisee nya paham dan siap dengan risiko kegagalan yang lebih tinggi, saya biasanya menyarankan klien saya untuk membuka sendiri lebih dahulu, kalau karakteristik lokasinya berbeda dengan pengalaman sukses mereka. Setelah terbukti karakteristik lokasi seperti itu juga bisa berhasil, karakteristik lokasi tersebut dapat ditawarkan kepada franchisee. Related ArticlesSeleksi Lokasi RestoJenis Lokasi Usaha

Read More (1406 views)